Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Dua sisi yang Berbeda "


__ADS_3

Bab 1


Terpukau Aji oleh syair lagu yang terdengar di telinganya membuat sukmanya seperti berkelana.


Tatapannya hampa, lurus kedepan seperti menembus dinding yang ada di hadapannya.


" Ehem....ehemm, " Suara batuk yang di sengaja dari Haruki, yang sudah berdiri di sampingnya.


" Owh..., Ruki, aku kira siapa. Tadi kau pergi kedalam aku kira masih disana." Ujar nya.


" Dari tadi Ji !...gua udah keluar, berdiri di mari, lama banget ah..!! ngelamunnya, hati-hati Luh, Ayam di rumah sebelah ngelamuuun aja.


GPL, cuma semalam besoknya kedapatan mati." Ujar Haruki, dengan mimik muka serius ( GPL \= Gak Pake Lama ).


" Berapa lama tadi nungguin aku melamun, Sohibku yang super sabar,? lagian ngapain juga orang ngelamun di tungguin." Sahut Aji.


" Gua kepengen tahu ending dari lamunan luh. Kalau boleh gua tebak, yang luh lamunin tadi, dari puser ke atas kan ?! gua lagi mencoba melempar Manggis, siapa tahu kalaupun tidak dapat manggisnya, ya dapat mangga mudanya, boleh lah." Kilah Haruki


" Melamar Gadis, paling naas ya..., dapat Janda Mudanya lah..., he...he..he " Suara batinnya.


Pantun di atas, biasa di baca oleh penduduk Jakarta keturunan suku Betawi asli.


Haruki banyak bergaul dengan penduduk Tanjung Priok, pendatang dari Tambun atau Bekasi dan sekitarnya, dia tahu pantun sedikit-sedikit dari mereka.


" Negatif Sohib!, tebakanmu meleset," Padahal di dalam hatinya, Aji mengakui, memang benar, yang baru saja Haruki ucapkan itu bukan kebetulan.


" Boleh juga blasteran Jepang ini !!.. Dia seakan tahu isi kepalaku, jujur tadi aku sedang berfikir keras, bagaimana cara membuktikan Melindari yang akan di perkenalkan ini tidak ber tahi Lalat? dia kan pakai hijab, walau dari bahan yang tipis dan jarang.


Tapi untuk yang satu ini sudah terbukti, memang dia tidak ber tahi Lalat.


Lantas, bagaimana cara untuk pembuktian akan Tompel nya ? Mana keberadaannya di tempat yang terproteksi oleh B.. ha..ha..ha..ha..ha lagi.?!" Membatin hal yang ini, dia tersenyum sendiri walau di kulum.


" Nah....Tebakan gua bener..!" Haruki sotoy.


" Negatif Sohibku, ngotot amat sih? !" Timpal Aji.


" Luh kagak mau jujur Ji.! Kalau negatif?, kenapa Luh barusan cengengesan sendirian?!" Haruki nyolot.


" Ketawa tiba-tiba, aku ingat Cak Lontong.." Kelit Aji.


" Nah, Tuh ? apa urusannya dengan cak lontong Ji ! Ini pertanda Luh sudah cape berfikir, sudah serahin urusan kontes calon pendamping luh, ke gua." Saran Haruki.


" Ya., siap."


" Nah begitu dong, coba dari kemarin-kemarin, sudah beres urusan."

__ADS_1


Tidak berselang lama dari Haruki menyampaikan usulannya, sunyi suasana di sekitar mereka.


Terdengar suara alas kaki yang bahannya dari benda keras seperti kayu atau sejenis itu.


Mulanya suara langkah kaki yang menginjak lantai di bagian dalam rumah terdengar samar di pendengaran mereka berdua.


Suara langkah itu semakin mendekat, mendekat, dan.


":Assalaamu Alaikum wa Warahmatullahi wa Barokatuhu !" Suara pemilik kasut yang muncul dari balik tirai pintu yang ber gorden itu, yang tidak lain dari wanita bernama Melindari.


Dengan mendapat kan balasan ucapan Salam pula dari kedua Sahabat karib yang memang sedang menunggu kedatangannya untuk sebuah pembicaraan yang erat kaitannya dengan maksud kedatangan Aji ke rumah itu khusus untuk.....


" Nah.., Sekarang yang kita omongin dari kemarin, sudah ada, tinggal Luh Ji, omongkan aja apa yang Luh mau dari dia." Sahut Haruki


" Dari..! pilih aja dimana posisi yang kira-kira enak buat luh duduk." Ujar Haruki.


" Terima kasih Bang Ruki, di mana-mana saja lah Bang." Jawab wanita itu.


" Nah., sekarang kalian berdua sudah bertemu muka langsung, mulai aja dari yang berkepentingan. Aji untuk keperluan apa sih, dan kenapa harus kemari untuk kepentingannya itu, Ayo Ji, di mulai saja di omongin langsung ke yang bersangkutan." Saran Haruki.


" Terimakasih Ruki," hanya kata itu yang keluar dari lisannya, untuk selanjutnya kembali dia terdiam


suasana seperti ini yang malah membuat Aji kehilangan pemikiran, bagaimana cara untuk memulai mengatakan kepada wanita Itu, maksud dan tujuannya dia minta kepada Haruki di pertemukan dengannya.


Sementara ini, Melindari yang seharusnya, sudah tidak asing lagi baginya.


" Ini harus di mulai,! kalau tidak sekarang, mau kapan lagi untuk memulai, Robbis Rohli sodri wa yasir li Amri wahlul ukdatam.millisani yafqohu qouli."


Dengan membaca Do'a yang di pergunakan oleh Nabiyullah Musa AS dalam menghadapi maha di Raja Fir'aun, dia memulai membuka percakapan yang harus di sampaikannya


" Terimakasih, sekali lagi aku ucapkan kepada saudaraku Haruki bin Gawa, karena Mamie mu, kan asli orang Serang, Banten. Ya Ruki? Jadi tidak salah dong, kalau aku menyebut Haruki bin Gawa." Ujar Aji.


Baik Haruki maupun Melindari tidak ada yang protes dengan usulan Aji itu.


Setelah semua yang harus di ketahui oleh Melindari telah di bahas dengan rinci, termasuk proses perpanjangan masa berlakunya paspor kepunyaan wanita itu, yang sudah kadaluarsa masa berlakunya.


Harus di perpanjang, atau membuat buku baru. Itu akan di beritahu oleh petugas di kantor keimigrasian di Jakarta Utara.


Untuk Melindari, agar lebih mudah dalam proses pembuatannya, kalau memang harus di buat baru, data dan persyaratan kelengkapan penunjang kepunyaannya bisa dipastikan sudah tersimpan dan kemungkinan besar di arsip kan oleh Bagian Arsip Data, di Kantor imigrasi Jakarta Utara.


Dengan tidak lupa di dalam bahasan itu di tanyakan lagi kepada Melindari, untuk yang kedua kalinya.


" Betulkah Melindari bersedia untuk pergi ke Tempat tujuan, Brazil untuk mendampingi aku ?" Ucap Aji.


" wanita dengan busana Muslimah dan berhijab itu menjawab.

__ADS_1


" Aku bersedia kak Aji, tetapi untuk memperkenalkan diriku hingga hal yang sekecil-kecilnya, aku tidak bersedia kalau harus di lakukan sekarang.." Ucap wanita bernama Melindari.


" Alhamdulillah sudah bersedia ikut dan mau menjadi pendampingku saja, sudah sebagai hadiah yang tidak bisa di nilai dengan ukuran materi, aku sangat berterimakasih kepadamu, Melindari." Ujar Aji


Hingga disitu Aji maupun Haruki, tidak mempersoalkan atas ketidak setujuan Melindari untuk mengatakan jati dirinya, saat ini.


" Kalau hal itu menjadi syarat mutlak yang harus di penuhi, aku memilih untuk tidak jadi berangkat, bang!" Ucap wanita itu, tanpa ada guratan ekspresi menyesal di wajahnya.


Aji berpegang teguh pada sebuah anjuran yang pernah di dengarnya, dan banyak orang sepakat akan kebenarannya ;


" Tidak ada sebuah penantian yang tidak berujung."


Itu rangkaian kalimat bermakna yang menginspirasi nya untuk tidak mempermasalahkan lebih jauh lagi, hal kecil yang ingin di ketahui, perihal wanita di hadapannya.


Dia tidak berani berspekulasi, memaksa untuk Tahu. Namun dengan imbalan peluang yang sudah berada dalam genggamannya kalau sampai lepas.


Dengan sebab Itulah dia tidak bertanya lebih jauh mengenai jatidiri dari wanita calon pendampingnya tersebut.


Sebagaimana penantiannya di masa lalu, dalam merealisasikan keinginan untuk pergi berkeliling Mancanegara.


Dia tak ingin, kalau hanya untuk sekali atau dua kali saja manakala berkunjung ke sebuah tempat di setiap Negara


Mau Itu Eropa, ataupun Amerika, Asia tenggara, atau kalau perlu sampai ke Mediterania sekalipun akan dia datangi.Tapi tidak cukup hanya satu kali saja.


Obsesi yang muncul dan diam bersemayam di dalam pikirannya. Adalah dengan cara dirinya harus menjadi seorang PELAUT.


Yang timbul bukan tanpa sebab, diri nya merasa Hidup ini bagi Aji kecil sungguh tidak Adil.


ketika Aji Kecil berkunjung beserta seluruh keluarga ke sebuah keluarga dekat dari fihak Ibunda tercintanya, di Jalan Kartini, DKI Jakarta. Tepatnya di kawasan Menteng.


Aji bertemu dan mengobrol sesama anak-anak dengan gaya bahasanya, sambil membuka album kenangan milik keluarga Kerabat, selama anak-anaknya libur kuartal sekolah.


Dia membuka-buka album keluarga yang baru pulang berlibur dari Disney land juga Hollywood, ada sebagian gambar yang memperlihatkan mereka berlibur di dalam Negri, ke Bali dengan pantai Sanur nya juga ada gambar mereka berwisata ke Danau Kalimutu.


Sepulang dari kunjungan itu, dia membayangkan betapa mereka bahagia, anak seusianya saat itu. melihat langsung dan bermain di bawah turunnya Salju, bukan hanya di lihat dari adegan tayangan sebuah Film, sebagaimana yang dirinya dapatkan.


Apa boleh buat, dia yang harus sudah merasa puas dengan kondisinya seperti saat ini.


Di saat lain, dia dapat cerita dari keluarga dekatnya, yang ini, kerabat dari fihak Ayahnya. Yang baru pulang dari Selandia baru. salah satu anaknya yang sebaya dengannya bercerita.


Bagaimana dia menyaksikan di sebuah peternakan Domba, yang di cukur bulunya oleh peternak yang pakar di bidang mencukur dengan mempergunakan alat pangkas mutahir.


Semua momen indah menurutnya, hanya di jangkau nya dengan imaginasi seorang Aji kecil, yang kemudian dia bawa ke dalam tidur lelapnya, di saat setelah kembali ke rumah.


Di dalam mimpinya saat dia tidur pulas, dia kaget, karena dirinya sedang berada di tengah kumpulan Domba-Domba yang siap akan di cukur bulunya, oleh Ahli potong khusus bulu Domba, ternyata dia adalah salah satu dari mereka.

__ADS_1


Hari itu liburan Sekolah. Matahari pagi mengirimkan bias sinarnya masuk menembus, menyeruak ke ruang kamar tidurnya, melalui kaca jendela rumahnya, dia pun terbangun oleh bias sinar itu.


Di dapati dirinya berada di dalam kamarnya, bukan di tempat yang tadi dirasakannya seolah nyata.


__ADS_2