Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Ambisi yang Tertunda "


__ADS_3

Bab 3


Mungkinkah Jawaban atas rasa heran yang luar biasa bisa ditemukannya tanpa petunjuk dari orang lain?" muter isi kepalanya merenungi pertanyaan dan mengharapkan jawabannya.


Ketika dia larut dan hanyut dalam renungannya, terdengar suara seseorang menyapanya, dengan mengucapkan uluk salam, di balas olehnya dengan jawaban, " Wa alaikum Salaam warahmatullaah wa barokatuh." dan laki-laki paruh baya itupun mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


" Bapak lihat dari tadi, si Aa duduk sendirian, sudah bertemu dengan Bu Sarinah nya .?" tanya nya.


" Alhamdulillah sudah pak " , jawab Aji


belum lagi pembicaraan berlanjut, terdengar suara rintihan dari arah bagian dalam rumah ibu Sarinah, membuat laki-laki paruh baya itu celingukan memastikan benarkah suara itu datangnya dari dalam rumah ibu Sarinah.?


Mungkin demikian pertanyaan yang ada di dalam benak bapak paruh baya itu.


Termasuk Aji yang belum yakin dengan suara rintihan itu, namun keburu menghilang.


Kembali Hening mewarnai suasana menjelang petang itu..


Suara yang tadi menghilang, untuk kali ini kembali terdengar, kali ini lebih nyaring dari suara rintihan yang pertama tadi, suara itu terdengar lebih panjang dan jelas sekali itu adalah suara dari Shinta yang sedang kesakitan.


Lelaki yang kedua yang Aji temui ditempat itu, nampaknya tidak jauh berbeda dengan bapak tua yang dipundaknya memikul karung, memandang Aji dengan raut wajah menaruh curiga.


Lelaki paruh baya itu mengangguk- anggukkan kepalanya dan bertanya siapa yang suaranya terdengar merintih kesakitan, apakah ada hubungannya dengan Aji?" itu pertanyaan yang terlontar dari lisan bapak itu, yang dijawab oleh aji dengan gaya seorang yang piawai dalam berdiplomasi.


" Dia kakak saya, belum lama menjalani operasi di bagian perutnya ada Tumor, dia tidak mau lagi berhubungan dengan Dokter, dia ingin berobat dengan cara tradisional." Papar Aji.


Padahal dia sekenanya saja dalam menjawab, dan tebak-tebakan. Dia sendiri belum tahu siapa ibu Sarinah dan di bidang apa keahliannya


Suara erangan tanda seseorang sedang merasa kesakitan kembali terdengar walau hanya sebentar, untuk kemudian senyap, tidak ada lagi kebisingan yang di karenakan oleh suara yang sedang kesakitan.


Sunyi suasana di sepanjang jalan di depan rumah ibu Sarinah seiring dengan jatuhnya rintik hujan yang halus seperti kelapa di parut.

__ADS_1


Jalan yang semula sepi menjadi semakin sepi, karena tidak ada satu orangpun yang terlihat lewat di jalan itu.


Laki-laki separuh baya yang kedua, yang Aji temui di tempat ini, seperti sehati dan sependirian dengan lelaki yang pertama. Kendati di bawah jatuhnya air hujan walaupun jatuh dengan ukuran yang halus dan tidak langsung membuat basah kuyup bagi yang terkena siramannya. lelaki itu masih kekeh berdiri dan bertanya lebih jauh kepada Aji.


Dia menanyakan tentang, " dari mana, lantas, kenal dengan bapak Haji Imanudin?" pertanyaan yang terakhir, menanyakan wanita yang sedang mendapat perawatan dari ibu Sarinah, siapa nya Aji?"


Setelah di jawab dengan apa adanya oleh Aji, lelaki paruh baya itu pucat lantas membaca istighfar, dan dengan terburu-buru dia pamit, untuk kemudian pergi dari hadapan Aji dengan tergopoh-gopoh.


Kejadian yang pertama tadi, kini terulang untuk kedua kali inilah yang membuatnya merasa heran, dan memicu timbul rasa ingin tahunya, demi mendapatkan dua orang tua, yang begitu terlihat teramat kaget.


" Apa disebabkan oleh Aji yang menyebutkan jati dirinya, sebagai salah satu anak dari seorang pejabat daerah yang jelas dikenal sampai ke daerah Cimanuk ? Dan juga bukan kebetulan, Ayahnya Aji memang asli kelahiran Cimanuk.


Beliau melewatkan masa kecilnya disana, seperti itu cerita Nenek dari pihak Ayah, cerita yang masih melekat di dalam ingatannya.


Atau bisa saja dua orang tua tadi kenal kepada ayahnya, bahkan mungkin saja mereka itu teman sepermainannya di masa kecil.


" Atau ada sesuatu yang Shinta sembunyikan kepadanya ?" Celoteh di dalam batinnya.


Terutama yang baru saja seakan datang dihantarkan untuk hadir kembali kedalam ingatannya yaitu oleh telepon dari seorang wanita di tempat yang jauh dari pandangan mata, juga belum dekat ke lubuk hatinya, atau mungkin tidak akan pernah menjadi dekat.


Mengejutkan baginya, namun sekaligus ada rasa bahagia, walau menjadi menambah beban fikiran, tapi bisa di jadikan bahan renungan untuk saat ini yang semula belum terpikirkan olehnya, tindakan terbaik seperti apa yang akan ditempuhnya.


Sementara di Brazil sana, Josette. Walau dia seorang Dokter menyandang dua gelar atas dirinya, namun sebagai wanita insan biasa yang bisa mengalami kepanikan, kebingungan dan perasaan lainnya yang dia belum tentu sanggup untuk mengatasinya sendirian.


Harus bagaimana menyikapi dirinya yang telah dinyatakan positif sedang berbadan dua.


Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter ahli kebidanan, dengan segala kemungkinan yang bisa saja dia tempuh kalau dia mau.


Untuk tidak membiarkan jabang bayi itu tumbuh membesar, namun.....


Atas dasar pertimbangan yang menurut keilmuan yang dipunyainya. Juga keyakinan yang dianutnya, mengapa harus di tiadakan.? Oleh sebab perjalanan naturalnya jabang bayi itu harus Hadir dan di tempat yang maha menciptakan pilih sesuai kehendaknya.

__ADS_1


Adapun seorang pria yang selama ini ada di setiap momen yang memerlukan kehadirannya, dia senantiasa akan hadir demi Josette tanpa di pinta untuk kedua kalinya.


Alfonso Franqois de Silva, seorang Arsitek juga pengusaha yang relatif masih amat muda, Energik dan panjang cita-cita, yang pertama dia cita-citakan nya. Sudah berada di ambang mata.


Yakni, memilih dan mempersunting mantan penyandang Miss University di Sebuah perguruan tinggi yang ada di Kota Rio de Janeiro. Yaitu Josette.


sudah diambang pintu, hampir di gapainya.


Cita-cita yang kedua, dia berambisi ingin membangun Bisnis di bidang bahan-bahan infra struktur yang bahannya dia datangkan khusus dari Indonesia.


Yang ketiga dan ini yang utama baginya, keinginan sesegera mungkin mendapat keturunan dari hasil pernikahannya dengan wanita yang di cintainya, yakni Josette Maria Cardoso.


Adapun penerus generasi ' De Silva ' yang dia prioritaskan bila tiba saatnya nanti, anak pertamanya adalah seorang anak laki-laki.


Nampaknya semua keinginannya yang kuat dan tidak ingin sampai gagal untuk menggapainya merupakan sebuah 'Ambisi yang sepertinya akan tertunda'.


Yang dia ingat betul, hampir setiap yang di inginkannya, selalu dia mendapatkannya walau dengan perjuangan yang tidak mudah.


Tapi khusus untuk kasus yang di hadapinya saat ini, ada di dalam hati kecilnya walau sedikit, dia berhasil menyembunyikan perasaan resah nya itu, kepada kedua orang tuanya ataupun kepada kerabat dekatnya. Tapi kepada dirinya ?....


karena ada sesuatu yang dia belum sanggup untuk dia mengatakannya sekarang kepada Josette.


⚓⚓⚓


Alfonso., Cucu dari Antonio De Silva. Garis keturunan dari nenek moyangnya yang di abadikan sebagai salah satu yang masuk daftar pahlawan Nasional, di bidang Infra struktur, telah terukir pada Prasasti yang tersimpan di gudang kantor yang khusus menangani dan mengkoleksi peninggalan situs Sejarah, Sosial dan budaya di Brazil.


Josette, Bukan tanpa dasar akal nalarnya, atau pemikiran yang matang, bilamana terjadi sesuatu yang dianggapnya itu adalah sebuah tragedi, dia akan menanganinya sendiri, tidak ingin dirinya nanti dianggap mencoreng nama baik keluarga Ayahnya.


Yang kadung di kenal sebagai seorang petinggi militer yang kharismatik dan dianggap suri tauladan baik di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya maupun di kesatuan tempatnya berkiprah sebagai militer yang juga dikenal sebagai pemeluk Agama yang taat.


Dia pun tidak berharap belai kasihan orang lain, meskipun hatinya berkata, " Yakin akan kepribadian lelaki yang walau perkenalannya saat berjumpa sekali, itupun dalam situasi yang tidak sesuai seperti yang diinginkannya. Lelaki itu kalau dipinta, pasti akan bertanggung jawab."

__ADS_1


Sebagaimana dia yakin, terlepas dari berbagai macam sebab, kalau memang dia di takdirkan menjalani sebuah kejadian yang tidak terbetik seujung kuku pun di dalam pikirannya, tetap dia harus sanggup untuk menghadapinya.


__ADS_2