Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Nyaris "


__ADS_3

Bab 3


Tidak terlalu banyak memakan waktu bagi mereka berdua untuk sampai ke Kantor Imigrasi yang letaknya tidak jauh dari jalan raya Yos Sudarso, Jakarta Utara.


Tidak berselang lama, dari pelataran depan kantor tersebut yang merangkap tempat parkir berbagai kendaraan dari aneka jenis kendaraan roda empat maupun dua, terparkir dengan teratur dan tertib, padahal disana tidak ada pelayanan dari juru parkir.


mereka berdua keluar dari kendaraannya dan berjalan mengarah ke pintu utama Kantor yang dituju.


Setelah mereka berada di dalam ruangan bagian pelayanan untuk urusan perizinan bepergian ke luar negri, salah satunya syarat di antara syarat lainnya, adalah permohonan pembikinan buku Pasport.


Dengan terlebih dahulu mengisi data pribadi pada mesin registrasi melalui system pendaftaran di komputer yang tersedia, sebagai bagian dari bentuk pelayanan terbaik, dan telah mengikuti kebutuhan akan tuntutan layanan mutakhir.


Begitu usai mengisi data pribadi, dengan sendirinya, keluarlah nomor urutan daftar pada secarik kertas yang bertuliskan angka sebagai nomor urutnya.


Beberapa orang yang sudah mendapat panggilan, dan beberapa saat berselang, orang tersebut keluar meninggalkan ruangan dengan wajah berseri.


Melinda mendapat nomor urut penggilan sembilan.


Baru saja terdengar panggilan untuk nomor urut ke 6


Itu artinya, dia hanya tinggal menunggu dua nomor di depannya.


Dengan cara sabar dan mengajak ngobrol, banyak topik yang jadi bahasan utama, yang erat sangkut pautnya dengan perihal, seakan wajib bagi Melindari untuk ikut serta, pergi mendampingi pria ini menghadiri resepsi sebuah acara pernikahan yang konon sebuah perhelatan Akbar.


Melindari jadi merasa dirinya punya hak untuk tahu, walau tidak seluruh permasalahan yang sedang di hadapi oleh pria ini, Batinnya.


Seperti di ketahui, Maemunah yang mempunyai tingkat kecerdasan lebih di bandingkan dengan saudara kembarnya, Maemanah.


Kendati kondisinya demikian, Maemunah tetap dalam kendali Melindari, jadi bisa diukur betapa lebihnya kecerdasan Melindari, maka beralasan kalau seorang wanita secerdas Melindari, yang mempunyai pendirian dan mengambil sikap.


Tanpa di beri imbalan apapun, dirinya siap dan bersedia di ajak pergi untuk ikut serta dalam urusan yang sedang di hadapi pria itu.


Tetapi pria itu tetap akan dia pintai untuk memberi tahu kepadanya apa alasan sebenarnya, kenapa seakan dirinya wajib untuk ikut serta dan dibawa sebagai wanita pendamping.


Menurut nalarnya, tidak mungkin sikap seperti itu di lakukan pria ini tanpa sebab yang mendasar.


Sementara ingatannya yang sedang menerka-nerka apa gerangan penyebab semua ini, namun belum ditemukan jawabannya.


Tiba-tiba, terdengar suara melalui pengeras suara, di ruangan tunggu itu.

__ADS_1


" Saudari Melindari Wahyu Ningtias, di loket tiga!."


Suara panggilan untuk dirinya yang tidak terlalu nyaring namun cukup jelas di pendengarannya.


diapun segera bangkit dari duduknya, dan bergegas menuju ke loket yang di sebutkan di suara panggilan tadi.


" Ya..., ada !" Jawabnya.


Diapun berjalan menuju loket pengambilan nomor Tiga.


Terlihat dari tempat duduknya, Aji melihat Melinda mengangguk anggukkan kepalanya, tidak lama berselang, dia menerima satu bundel berkas seperti kumpulan soft Copy, yang diserahkan kepadanya.


Bundel tersebut dianggap sudah tidak di perlukan lagi karena urusan sudah selesai, terlihat lagi Melindari menerima sebuah buku bersampul warna Biru.


Sebelum wanita itu beranjak pergi meninggalkan Loket pengambilan, Aji menghampiri Melindari yang masih berdiri di depan Loket tersebut, dan mengingatkannya untuk melihat kelengkapan dan Visa tinggal, dapat perizinan berapa lama untuk bisa tinggal di sana.


Setelah di lihat dengan seksama, tidak ada, yang perlu di pertanyakan kepada petugas di loket pengambilan. mereka berdua membalikkan badan dan berlalu pergi menuju keluar dari ruangan tersebut.


" Tidak melebihi permohonan yang umum, lumayan di beri lebih satu hari dari rencana semula.


Lumayan bisa lebih leluasa melihat- lihat tempat yang khas Negri eksotik ini." Papar Aji kepada Melindari.


Aji segera mengirimkan melalui e-mail Copy dari lembaran halaman yang di anggap persyaratan yang harus di penuhi sebagai penunjang untuk dapat booking tiket penerbangannya.


Atas permintaan Josette, yang mewanti-wanti pesan jangan sampai Aji menunda jadwal keberangkatannya.


Disini dia juga menjelaskan apa tujuannya meminta Aji untuk lebih awal melakukan keberangkatannya.


" Nanti kau dan Melindari akan melakukan pengukuran untuk pakaian resmi berupa Jas untuk Pria dan Gaun untuk wanitanya, Gaun Cinderella dan Jas para Bangsawan bagi prianya. Akan disamakan dengan Anggota keluarga besar Cardoso." Ujar Josette.


Begitu mereka berjalan berdampingan menuju pelataran dimana mobilnya di Parkir disana.


Melinda sudah tidak sanggup menahan rasa ingin tahunya, di keluarkan nya unek-unek itu.


Bang Aji, kedatanganmu di sana seperti sangat diharapkan sekali, dan Abang seperti mendapat perlakuan yang begitu istimewa, memangnya Bang Aji tidak punya rasa curiga kepada mereka.? Tanya Melindari.


" Entahlah Melin, aku tidak punya perasaan seperti yang kau sangka kan kepada mereka, sedikitpun." ujarnya dengan nada datar.


" Syukurlah kalau demikian, karena Bang, biasanya, pada setiap kejadian, kita suka mendapat firasat.

__ADS_1


Semacam rambu berupa peringatan, begitu kira-kira, kalau di umpamakan ke dalam istilah berlalu-lintas nya Bang.!" Ujar Melindari.


" Mel, tidak ada perasaanku semacam itu, tapi kalau dugaanku ada walau tidak begitu kuat, sepertinya ada sebuah kepentingan yang lebih besar, semacam keuntungan yang akan mereka raih, hanya dalam bentuk apa, itu yang masih di luar jangkauanku.


" Bang Aji yakin,, dengan feeling Abang.?" Dengan mimik wajah yang khawatir.


" Yakin Mel, kalau untuk mencelakakan, aku yakin kepada Josette. Itu tidak akan ada,


betapa naif nya dia kalau sampai berbuat sebodoh itu. Dia akan kehilangan reputasinya. Dia sudah mengatakan kepadaku, kenapa kita harus segera berangkat, di samping menghadapi liburan akhir Tahun. bulan depan sudah masuk musim libur bagi kebanyakan orang, terutama sekolahan.


" Iya ya Bang, pasti imbasnya ke pemesanan Tiket pesawat." Timpal Melindari.


" Bukan itu saja Mel, disana akan diadakan Gladyresik, kita di libatkan di dalam Glady tersebut."


" Ooh begitu ya Bang..., pantesan Josette meminta Abang untuk datang lebih awal.


By the way, jujur aku jadi kepingin segera lihat yang namanya Josette!" ucap Melindari tanpa dapat dia tahan hasratnya tersebut. Keluar lewat lisannya. Aji tidak menanggapinya, bahkan di alihkan nya ke topik lain.


Mulai dia menyampaikan sekelumit kisah :


Petugas dari kantor perwakilan pelayaran, ketika dia mengalami sakit hingga dirawat inap di RSU kota Santos.


Dari petugas tersebut yang sempat menceritakan tentang keluarga Cardoso kepadanya yang terdengar begitu Fenomenal.


sebuah keluarga yang terpandang karena Tuan Cardoso adalah salah seorang Perwira tinggi dari kesatuan Angkatan darat yang memegang teguh kedisiplinan dan di kenal jujur.


Disamping itu, keluarga tersebut aktif di lingkungan Gereja dengan segala kegiatannya.


Jadi, atas dasar info yang tidak dengan sengaja dia menggali atau mencari tahu siapa Orang tua Josette, bagaimana status sosialnya dan lain sebagainya.


Dia jadi punya gambaran, seperti apa perhelatan yang akan di gelar di kota kecil itu, namun bagi Melindari yang belum pernah seumur hidupnya menginjak tanah Negri Samba yang konon negri Tropik yang tidak kalah menarik untuk di kunjungi, terutama bagi pelancong yang dengan sengaja membeli nilai keindahan demi hasrat untuk kepuasan batinnya.


Melindari tidak perlu mengeluarkan uang untuk semua itu, malah dia akan mendapatkannya.


Ini yang disebut kebanyakan orang mendapat Durian runtuh.


Di samping mereka berdua akan mendapat penginapan di Hotel yang terbaik di Kota tersebut, hanya karena mereka dianggap tamu kehormatan dari dua keluarga terpandang di sana, yang sudah cukup dikenal oleh hampir kebanyakan warga kota Santos.


Pernikahan antara Putra dan Putri dua keluarga terpandang, yang dipandang oleh masyarakat karena,

__ADS_1


Yang satu, seorang tokoh masyarakat merangkap petinggi Militer yang dikenal dengan reputasinya yang baik dan bersih, yang akan berbesan dengan seorang pengusaha sukses dan dikenal sebagai seorang Dermawan yang dekat dengan Masyarakat tingkat bawah sekalipun.


__ADS_2