
Bab 5
Suara sirene Ambulance sudah menjauh dan hilang dari penglihatan dan pendengaran orang yang tadi berkerumun di sekitar rumah.
Shinta beserta keluarga mengiringi dari belakang dengan kendaraan sendiri.
Setiba di Rumah Sakit swasta 'Angka Mulya ', dengan sigapnya petugas RS Bagian IGD menyambut kedatangan mobil Ambulance dengan gerakan yang terlatih.
Pasien sudah berada di ruangan IGD dengan terlebih dahulu mendapat penanganan tindakan medis dari Dokter jaga.
* Tidak di kisah kan disini bagaimana penanganan selanjutnya oleh fihak medis di RS ' Angka Mulya '.
Singkat cerita, karena di anggap bukan kejadian yang masuk kategori sakit serius, setelah melalui berbagai analisa sesuai prosedur dengan terlebih dahulu management RS mewakili kebijakan Dokter yang menangani pasien saat itu, meminta persetujuan lebih dahulu kepada fihak keluarga pasien untuk melakukan general test terhadap pasien.
Mulai dari air seni, pengambilan contoh darah, hingga photo Rontgen, telah di laluinya.
Maka Pasien dengan nama yang tertera pada label RS Angka Mulya yang di kenakan di pergelangan tangannya dengan nama Tuan Arjen, di nyatakan bisa di bawa pulang setelah kembali siuman dari pingsannya yang hanya beberapa jam saja itu.
Atas permohonan tertulis dari fihak keluarga, dan fihak RS.Angka Mulya tidak menahannya untuk tetap tinggal bagi pasien yang di nyatakan layak untuk bisa di bawa pulang oleh keluarganya. Setelah melewati MCU nya terlebih dahulu.
Begitulah yang telah berlangsung terhadap Arjen. Dia telah kembali kerumah.
Kegiatan pun berjalan kembali seperti biasa hingga satu minggu telah berlalu.
Namun entah dari sebab apa, ketika suatu hari menjelang waktu Subuh, kedapatan dia tergeletak di kamar mandi, namun untuk kejadian kali ini, dia telah memperlihatkan kepasrahannya dan berkata sebagaimana layaknya orang yang akan pergi jauh.
" Maafkan semua kesalahanku Shinta, aku yang telah merenggut kebahagiaan masa remajamu,"
desahnya terengah-engah.
" Bang Arjen. Jangan berkata seperti itu, tidak ada yang harus Shinta maafkan., tidak ada." sahut Shinta dengan mata berkaca-kaca.
Percakapan mereka hanya sampai di situ setelah dia berwasiat tentang Nadiya, dan di tutup oleh kalimat tahlil yang biasa di wiridkan nya di setiap usai melaksanakan shalat Wajib lima waktunya.
Kejadian yang kail ini, dia ditemukan terjatuh di kamar mandi, untuk keperluan mengambil air wudhu, dia berniat akan melaksanakan shalat wajib Subuhnya.
Dia bersikeras menolak untuk di bawa ke RS. Angka Mulya, ketika di evakuasi oleh beberapa anggota keluarga dari kamar mandi ke tempat tidur di kamarnya.
Untuk kali ini Arjen masuk kamar dan tidur untuk selamanya. Terdengar dari tangisan Shinta yang memilukan siapapun yang mendengarnya.
Itulah peristiwa yang membekas bagi Shinta, hingga saat sebelum bertemu dengan Budi, dia begitu merasa paling berdosa atas kejadian yang menimpa suaminya ini.
Semenjak peristiwa itu, dia terlihat seperti selalu menghindar manakala ada indikasi seseorang mencoba untuk mendekatinya baik secara langsung oleh yang bersangkutan, maupun dengan melalui orang lain.
Dia terlihat seakan ingin menutup pintu hati atas kehadiran seorang insan berjenis Pria sebaik apapun, pria itu.
Dia seolah merasa telah berdosa dan dosa itu sulit untuk di pintai ampunannya.
* Kembali ke Kisah semula..........
Ketika Shinta terlena dalam bayangan akan masa kebersamaannya dengan mendiang Arjen dimana libido pada hormon pengaturan seksualnya sudah berada di puncak tertinggi.
__ADS_1
Dirinya sudah berada pada kondisi itu, seandainya di saat seperti itu, seseorang menyuruhnya untuk lepas dari dekapan Aji, dan akan di beri kompensasi berupa segepok uang Rupiah bernilai 10 Juta pun, dia akan memilih tetap diam dalam dekapan Lelaki perkasa berotot dan berkeringat yang memabukkannya."
" Persetan dengan 10 Juta Rupiah !" Tanpa sadar dia bermonolog, membuat heran Aji yang mendengarnya dengan jelas, atas kalimat yang baru saja Shinta ucapkan.
Tapi apa yang terjadi kemudian. Bagi Shinta sungguh diluar nalarnya.
Laki-laki itu, malah mengendurkan dan untuk kemudian melepaskan remasan jemarinya yang dari tadi saling bersilang erat dengan jemari Shinta, kemudian berkata dengan suara tanpa ekspresi.
" Teh, Toilet sebelah mana ya ?" bisiknya pada kuping Shinta.
Gedebuk ... hatinya seperti di tonjok oleh benda keras, terasa sesak dan susah untuk bernafas.
Lantas dengan serta-merta Aji berlalu pergi menuju ke tempat yang di maksudkan nya setelah di tunjukkan oleh jemari Shinta tanpa gairah.
...*****...
Atas dasar pertimbangan demi menjaga harga diri dan martabatnya, Shinta tidak mempersoalkan kejadian yang baru saja berlangsung.
Dia pun tidak akan menceritakannya kepada siapapun walau itu kepada adiknya Mety sekalipun.
" Coba kejadian ini bukan terhadap dirinya, akan tetapi kepada si Rachel Zigleinkoff, sahabat dekatnya saat masih duduk di bangku kuliah, dia WNA berkebangsaan Swedia.. Yakin., sudah kena gampar memang pipi kanan kirinya, laki-laki yang bernama Aji Swakarsa ini. Dasar..!" Omel Shinta membatin tanpa terucapkan.
Dirinya orang Asia , berbudaya Asia, dan dia pun berpikir jernih. Sebagai wanita yang bersiteguh pada etika budaya Asia.
Dugaan kuatnya kejadian tadi itu erat kaitannya dengan kejadian tadi siang di Rumah makan Goyang Lidah.
Sehingga kejadian ini, dianggap oleh laki-laki itu sebagai bayaran, atas perlakuan Shinta terhadap dirinya yang telah melontarkan kartu keanggotaan Pelautnya, di Restoran Goyang Lidah, kemarin.
Dikarena kan di saat kejadian itu, disana ada sesama pengunjung Restoran dan pelayan, yang
" Impas sudah!" Baguslah , jadi aku tidak punya hutang," gumamnya menghibur diri.
...ΩΩΩΩΩ...
Mety memang model seorang Istri yang bisa membuat suami betah tinggal di rumah.
Tangannya yang kreatif , sanggup membikin sendiri pernak-pernik dan aksesori Interior rumah, kalau barang itu tidak bisa dibikin nya sendiri, atau dia tidak sanggup untuk mengadakannya, maka dia akan mencari diluar dan membelinya.
Termasuk stok untuk berbagai macam keperluan. Baik itu untuk tamu yang datang dari kalangan keluarga sendiri, maupun relasi dari Suaminya.
Aji saat itu sangat tertolong dengan kondisi yang sedang darurat baginya.
Karena tidak ada rencana baginya untuk bepergian lantas menginap.
Di rumah yang tidak terlalu besar juga tidak mewah, tapi nyaman, tidak terdapat ruangan yang sia-sia.
Andai adapun ruangan yang kosong, itu memang sengaja untuk tidak di pergunakan tapi di manfaatkan untuk keperluan lain.
Dia masuk ke kamar mandi, di sana ada sebuah boks khusus peralatan seluruh keperluan untuk mandi, ada tulisan " Untuk di pakai dan boleh di bawa pulang"
Setelah di lihatnya isi Boks tersebut, disana didapatinya antara lain, CD untuk orang dewasa dengan berbagai ukuran, kaus dalam, Sikat gigi berikut dengan odolnya dengan ukuran Imut Traveling. Semuanya dalam kondisi belum digunakan.
__ADS_1
Dahulu, Mety sekolah di salah satu sekolah tinggi Pariwisata yang ada di Bandung.
Bisa jadi ilmu kepariwisataan yang di peroleh nya di waktu sekolah, dia terapkan ke dalam hidup kesehariannya.
Tanpa keraguan, Aji mandi dan menggunakan fasilitas yang telah di sediakan oleh tuan rumah.
Aji tumbuh dewasa dan melewatkan hampir seluruh dari masa lajangnya di kota Pandeglang dan Serang membuatnya hafal betul jam berapa Bis angkutan umum dari arah Merak tujuan Jakarta akan masuk ke Terminal kota Serang.
Itu sebabnya pada jam satu tepat dia sudah bangun karena jam 03:00 dini hari Bus yang di maksud oleh Shinta datang dari pelabuhan Feri di Merak sebelum jam tersebut, yang nantinya akan bertolak dari terminal Serang, sesuai dengan jadwal tetap nya.
Baru akan ada lagi nanti jam 07:00 sesuai dengan kedatangan kapal Feri yang berangkat dari pelabuhan Bakaheuni Lampung.
Paling telat mereka harus sudah bersiap-siap berada di terminal Bus Serang sebelum jam Tiga dini hari.
Betul saja, begitu Aji sudah selesai mandi dan sudah rapi. Percis jam 02:30 dia sudah siap untuk berangkat, justru Shinta yang baru mau masuk ke kamar mandi, tetapi tidak untuk mandi, katanya. " Kurang baik untuk badan, kalau badan belum istirahat sama sekali," Dalih Shinta.
Dengan di antar oleh Mety, mereka berangkat ke terminal yang hanya beberapa puluh meter saja dari perumahan karyawan Departemen Perhubungan Darat. Kota madya Serang, Banten.
Bus yang meraka nantikan kedatangannya itu pun tiba dari arah Merak.
Tidak seperti biasanya, kali ini Bus itu hanya akan berhenti untuk beberapa saat saja. Untuk kemudian langsung berangkat menuju Jakarta. Seperti layaknya Bus Patas ( Cepat Terbatas ).
Aji dan Shinta mendapat kursi tempat duduk percis satu bangku di pintu masuk bagian belakang.
Suasana lengang, tidak ada tanda aktivitas dari penumpang lain, semua tertidur lelap.
Begitu mereka berdua duduk, Bus langsung berangkat maju dengan lancar, sebagaimana nama dari Bus itu PO.Maju Lancar.
Aji yang tadi sudah dapat tidur satu jam lamanya tetapi lumayan nyenyak, untuk sementara tidak terpikirkan untuk tidur lagi.
Lain halnya dengan Shinta, yang sama sekali belum tidur sejak kemarin siang berangkat dari Halim Perdana Kusuma menuju Pandeglang, dan saat ini pulang lagi untuk menuju Jakarta.
Begitu dia mendapatkan posisi yang di rasakan nya enak, diapun langsung Take off ke alam mimpi.
Dia sudah tidak peduli lagi dimana dan siapa yang berada di sekelilingnya, saat ini dirinyalah yang merasa paling bahagia.
Bus berguncang dan sesekali berbelok tajam, saat menghindari kendaraan yang datang mendadak dari arah berlawanan.
Di Lain saat Sopir melakukan manuver menyusul kendaraan yang berada di depannya, karena di anggap kecepatannya tidak standar Busnya.
Ini membuat badan Bus meliuk-liuk, dan membuat badan Shinta pun ikut meliuk dan berguling ke arah bahu Aji yang belum berniat untuk tidur.
Tidak lama berselang terulang lagi kejadian serupa,
di betulkan nya lagi posisi tidur Shinta. Seperti itu lah perlakuannya terhadap Shinta.
Namun yang terakhir terjadi lagi, entah sudah yang ke berapa kalinya. untuk yang terakhir ini, di raihnya bahu Shinta dan di sandarannya ke dadanya. Kemudian dia peluk tubuh itu dengan erat untuk tujuan supaya jangan bergerak lagi.
Shinta sempat terbangun dan membuka matanya sekejap, untuk kemudian kembali tidur. Dengan wajah tenang.
Terlihat di bawah temaramnya redup sinar lampu tidur di kabin Bus.
__ADS_1
Dipandanginya wajah Cantik Shinta. Ditelusurinya mulai dari mata indah yang tanpa polesan, alisnya yang bak semut beriring. Bentuk bibir yang tipis dan merekah merah jambu, hampir keseluruhan yang ada pada Shinta begitu mempesona.
Hampir tidak di temukannya cacat maupun cela pada wanita yang kini berada dalam pelukannya.