
Bab 5
Sementara Anggi menanyakan kepada adiknya, siapa yang bertemu dengannya sewaktu mengantar Shinta, berobat kepada Ibu Sarinah.
Belum sempat menjawab pertanyaan yang Anggi Ajukan, dia merasa ada sesuatu yang dingin menyerap ke hampir seluruh kaki bagian atas, dan terasa seperti cairan, menjalar hingga ke bagian dalam pakaian bawahnya.
" Kak.., seperti ada air di kursi yang aku duduki ini,"
" Oh iya itu tadi ada kucing masuk naik ke meja makan dan bikin tumpah air di Cangkir di atas meja, mungkin tumpah ke ke Jok kursi yang kau duduki.
Nah...! itu pertanda Celana Yang kau pakai dari kemarin, sudah minta di ganti." Timpal Anggi.
" Benar juga kak Anggi, aku ganti baju sekalian lah kak, sudah selesai kan pembicaraan kita ? Tinggal sisa pertanyaan Kakak, di sana aku bertemu siapa, itu saja kan?" serunya.
" Ya ..itu tapi ganti saja dulu Bajumu itu."
" Siap kak." Sahut Aji, dari kamar yang biasa di tempati nya, setiap saat dia menginap disana.
Ketika dia melepas celana jeans yang di pakainya. dari kantung belakang celana itu, terlihat menyembul ujung selembar kertas berwarna putih, setelah dikeluarkan benda tersebut ternyata selembar amplop yang tertutup rapat oleh lemnya.
Dia periksa dengan membolak-balikkan amplop tersebut, termasuk diterawang nya dengan lampu baca yang terdapat di atas meja kamar. Juga dia raba. Kira-kira satu mili meter tebal isi amplop itu.
Dia merasa heran, seingatnya dia tidak pernah memasukkan benda berharga dalam bentuk apapun kedalam saku belakang celana Jeans nya.
Bukan tanpa alasan. Sebab apalagi ?....Kalau bukan untuk menghindari perbuatan oknum yang bertangan panjang.
Dia buka amplop itu, yang pertama terlihat, sebuah tulisan dengan menggunakan spidol kecil dengan ketebalan setengah milimeter.
" Untuk mu Aji. " belum di temukan siapa yang menulisnya, dan untuk maksud apa.
Selanjutnya dia temukan selembar Cek Giro dengan nilai yang tertera Lima juta Rupiah, beserta dua lembar kertas dengan serentetan tulisan rapi, juga ditujukan kepada Aji.
Setelah di baca dengan acak dan sepintas tulisan tersebut, baru dia paham, begitu di akhir tulisan dan di paling bawah setelah kosong oleh spasi, terbaca nama jelas di bawah sebuah tanda tangan. Membuat dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lembaran kertas tersebut, menguraikan siapa Wanita yang bernama Sarinah.
Ada apa dan kenapa yang menulis di kertas ini yang tidak lain dari Shinta, mendatangi kediaman ibu Sarinah.dengan sengaja menempuh jarak yang lumayan jauh.
Lebih jauh lagi Shinta bercerita, sakit yang di deritanya adalah, adanya gangguan keseimbangan Hormon pada tubuhnya.
__ADS_1
Keluhan Itu di deritanya, pasca statusnya yang resmi menjadi seorang Janda, hanya dirinya sendiri yang tahu dia asli seorang " Janda kembang."
Yang artinya mutlak, perangkat pribadinya belum terusik oleh jamahan apalagi terobosan benda tumpul yang sering di sebut-sebut pada berita di media cetak ataupun elektronik. Dalam pemberitaan terjadinya kasus kekerasan Seksual, yang memprihatinkan.
" Tragisnya lagi, korban kekerasan itu di beritakan meninggal.
setelah melalui pemeriksaan yang seksama terhadap jasad korban, hasil otopsi maupun uji forensik oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini petugas dari institusi kepolisian, menyimpulkan, korban meninggal di akibatkan oleh benda tumpul.
Tidak lupa, Shinta membeberkan latar belakang kehidupan Ibu Sarinah. Yang konon memiliki talenta sebagai sebuah karunia yang di terimanya sejak beliau masih kecil.
Berupa kesanggupan menyembuhkan banyak orang yang mempunyai keluhan di seputar dalaman isi perut menyeluruh.
Pasiennya pun bukan hanya yang datang dari negeri sendiri, tapi dari manca negara.
Menurut kisah tentang Ibu Sarinah sendiri, dimana kedua orang tuanya, semasa dia belum terlahir ke Alam Dunia.
Ayahnya yang berulang kali bermimpi yang sama, dan di setiap Hari Kamis malam Jum'at, dan terjadinya selalu percis pada jam 24:00 kalaupun kurang, hanya selisih dalam hitungan satu atau dua detik saja dari waktu tersebut.
Adapun isi mimpinya, dia kedatangan seorang yang berwajah tampan dengan kulit putih bersih, mengaku guru spiritual dari Bapak Presiden pertama NKRI.
Saat itu, ibunya tengah mengandung jabang bayi yang kelak setelah lahir, sosok di dalam mimpi itu mewajibkan bagi sang jabang itu, untuk di beri nama Sarinah, seperti itulah pesannya.
Nama tersebut di abadikan pada sebuah swalayan terbesar se Indonesia saat itu.
Yang berdiri megah di pinggir jalan Raya Mohamad Husni Tamrin yang kini lebih di kenal dengan sebutan singkat Jalan Tamrin. Jakarta.
...ΩΩΩΩΩ...
" Mengenaskan perjalanan hidupmu Shinta." gumam nya.
" Bagaimana Ji, sudah dapat baju untuk salin nya ?!" Tanya Anggi, yang masih menunggu Aji untuk melanjutkan perbincangan yang belum selesai.
Dia tidak segera menanggapi suara Anggi yang setengah berteriak, karena setelah dia melihat dan membacanya.
Di kertas dalam genggamannya ada kata-kata di akhir tulisan yang di buat Shinta, 'makna yang terkandung pada tulisan itu membuat nya, semakin menghargai Wanita itu.
" Aji., waktu kita kemarin sangat singkat dan terasa begitu cepat berlalu.
Namun aku sungguh punya penilaian akan dikau, dan aku sangat berterima kasih, kita telah melewatinya dengan baik.
__ADS_1
Kenyataannya, aku masih tetap Shinta yang belum terjamah, walau aku tahu kalau kau mau, orang lain tidak akan tahu hanya kita saja yang tahu.
Tapi bagiku, ada yang maha melihat dan maha menyaksikan, bahwa Kita telah meraih kemenangan yang sebenarnya !!
Aku kehabisan cara untuk menghargai kebaikanmu itu, jangan melihat jumlahnya, tapi lihat dan bayangkan betapa rasa terima kasih ku yang tidak akan bisa di nilai dengan berapapun jumlah uang yang ada.
Mahkota ku yang selalu aku jaga dan pertahankan, tidak kau sentuh apalagi kau rudapaksa. Itulah yang telah membuat aku merasa tersanjung.
Sekali lagi aku ucapkan terimakasih, semoga Allah membalas semua kebaikanmu kepadaku. Aamiin ya rabbal alamin."
Aji mengecup kertas bertuliskan tinta emas dalam pandangan spiritual nya.... " Inilah tulisan yang terindah yang belum pernah dia temukan dan di bacanya ". Dia membatin.
" Ji.. nggak kesiangan nanti, untuk kau pergi menemui adiknya Shinta di Serang ?" Tegur Anggi. mengingatkan.
" Siap kak...!"
" Nah begitu dong, anak Tentara. walaupun Tentara sudah purnawirawan. Massak sih kalah cekatan sama cewek -cewek yang banyak tuh di kantor tempat dulu Papa ngantor.
Tapi jangan salah... yang ini ada pangkat dipundaknya..ha...ha..ha. maksudku bukan cewek biasa." Anggi berseloroh menggoda adiknya.
" Ya sih kak, itu ada benarnya juga, sampai dimana yang harus aku jawab pertanyaan kakak tadi.?"
" Sampai di pertanyaan bertemu dengan siapa saja kau ketika menghantar Shinta berobat di Ibu Sarinah di Desa Cimanuk.?" Tandas Shinta
" OOO itu Kak .? Seingat Ku hanya bertemu dua orang lelaki setengah baya, tidak lebih dari itu." Timpal Aji.
" Ada pembicaraan diantara kalian.?"
" Ada Kak.. seputar cuaca hari itu.dan dia bertanya kepadaku, seperti lazimnya orang baru bertemu, kak.
Orang tua yang pertama kutemui, dia bertanya kepadaku sedang bertamu ?. Lantas dari mana aku, tidak ketinggalan dia bertanya juga yang sedang merintih karena terdengar hingga keluar tempat dia dan aku berdiri dan berbincang. istriku kah yang terdengar rintihannya itu ? Banyak lagi pertanyaan"
" Kau tahu siapa yang bertanya seperti itu kepadamu." sergah Shinta.
" Tidak kak. Aku tidak merasa ada kepentingan untuk bertanya siapa dia ." Jawab Aji.
' Dia itu yang bernama Onon.. Di kenal dengan sebutan Mang, jadi kemarin kau sempat berjumpa dengan Mang Onon.
Dia itu masih ada kaitan saudara dengan bapak kita, Justru ini awal dari berita yang tersebar luas, kebetulan dia jadi tahu kau adalah anaknya Papa."
__ADS_1
Lantas apa korelasinya dengan aku yang datang kesana mengantar orang yang mau berobat.?