
Bab 4
" Yes...! Sorak Aji di dalam hatinya, gembira dan penuh dengan suka cita.
Dengan mendapat izin dari Umi, maka berangkatlah mereka berdua, setelah berada di dalam mobil.
" Kak Aji, maaf ya, Aku buka kaca jendelanya sedikit, Aku sedang kurang kuat dengan udara AC." Pinta nya.
" Silahkan Fit, bebas mau di buka lebih lagi juga tidak apa-apa, kebetulan udara luar sedang tidak berdebu. Atau berkurang, apa karena habis turun hujan tadi?" Pancing Aji untuk.membuka percakapan.
" Terimakasih Kak." Timpal Fitrie, yang kembali diam.
" Di pandeglang masih banyak makhluk halus ." pancing Aji., namun Fitrie tidak menanggapi celetuk Aji. Entah sebab sungkan atau ada alasan lain yang membuatnya segan untuk bercakap-cakap.
Aji faham dengan kondisi yang kurang kondusif untuk melanjutkan ucapannya yang semula ingin memulai percakapan dengan sebuah candaan ringan, ternyata Fitrie tidak menanggapinya sama sekali.
Keheningan yang berlangsung hanya beberapa saat itupun tidak membuat Aji merasa tidak nyaman atau ada perasaan semacam itu, buktinya dia tenang-tenang saja menghadapi sikap Fitrie seperti itu.
Beruntung nya Aji lantaran perjalanan yang hanya berjarak dua kilometer itu, suasana yang kurang bersahabat bisa saja tersulut oleh selorohnya tadi membuat Fitrie terpancing untuk mengangkat issue yang tengah hangat beredar di tengah masyarakat.
Terutama di kalangan anak muda sebayanya. Mobil sudah tiba di depan rumah orang tua Aji, ini adalah solusi yang kebetulan untuk mereka berdua jadi tidak mempermasalahkannya. Bagi Aji ini adalah
" Yess !".......
Kendaraan yang membawa mereka kerumah orangtua Aji telah memasuki halaman rumah yang di dalamnya ada Ibunda yang senantiasa Aji hormati.
Setelah kendaraan berhenti sempurna, percis dihalaman rumah itu.
Dengan sigap dan cekatan, dia turun untuk kemudian memutar ke bagian depan mobil serta merta mendatangi bagian kiri badan mobil.
Di bukakan nya pintu kiri bagian depan. sebagai bentuk perlakuan baik kaum pria terhadap kaum Hawa, disini adalah Aji terhadap Fitrie.
Ini semua dia lakukan, semata-mata dalam kondisi dia mau menerima dan ikhlas demi perasaan cinta kasih tulusnya kepada wanita di hadapannya.
Itulah sikap nya terhadap wanita idamannya ini.
Dahulu, sekarang, mungkin juga di waktu kedepan, yang akan dia jalani. Niat di hatinya, tidak akan pernah berubah, kendati oleh berjalannya sang waktu.
__ADS_1
Sesaat kemudian mereka berjalan berdampingan menuju arah teras rumah dan selanjutnya memijit tombol Bel yang terpasang di tiang tembok pada ruang teras depan rumah tersebut.
oleh kejadian seperti yang sedang di jalaninya hari ini, disamping dirinya merasa jadi manusia yang hari ini lebih baik dari kemarin, dengan harapan juga, besok akan lebih baik dari hari ini.
Setelah menunggu beberapa saat, ada tanggapan dari tuan rumah, dengan terbukanya daun pintu, dan muncul kepala seorang gadis tanggung membukakan pintu, seraya menjawab ucapan salam dari Aji.
" Eee Om Aji,. Enin.., ada Om Aji !" teriaknya lantang sambil berlari meninggalkan Aji dan Fitrie setelah terlebih dahulu gadis itu Salim kepada keduanya.
Aji tanpa di persilahkan untuk masuk keruangan dalam dari rumah ibunya, dengan sekali lagi mengucapkan uluk salam yang kali ini di tujukan kepada Emah.
" wa Alaikum salam, warahmatullahi wa barokatuh." balas Emah sambil tersenyum dan berdiri dari duduknya.
Aji dan Fitrie bertemu dengan Emah dan juga keluarga lainnya yang kebetulan sedang ada di sana.
" Emah sedang masak apa memangnya.?" Tegur Aji.
" Masak kesukaanmu Ji.. Ee ini Fitrie, kau tidak bilang ke Emah kalau mau datang dengan Fitrie." sela Emah.
"Sengaja nggak sengaja Mah..., kalau kesini sengaja Aji kan merasa ada yang harus di selesaikan, O..ya Mah mumpung ingat, ada salam hormat dari Haruki untuk Emah, dia belum bisa bertandang kemari Mah, sibuk terus sedang rame Bengkelnya." Papar Aji.
" Wa Alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh, iya Haruki terakhir kemari dengan mamie nya. Kebetulan mau Ziarah ke makam syeh Mansur Cikadueun, dia sengaja Mampir kemari, Haruki anak baik." Ujar Emah.
" Untuk Sementara waktu Aji di upayakan jangan dulu datang ke Pandeglang, apapun alasannya, toh ini hanya untuk sementara."
" Aji., sebenarnya Emah ingin tahu sejak dari kemarin - kemarin, ingin menanyakan kepadamu, siapa wanita muda yang engkau bawa kemari tadi malam, mana sedang hujan lebat." ujar Emah tiba-tiba.
Hek...! Dada nya merasa seakan mendapat sodokan oleh siku siku seseorang tepat di ulu hatinya.
Aji terdiam dan tidak sepatah katapun dia sanggup terlontar dari bibirnya yang terasa seolah ada yang mengganjal di tenggorokannya.
Emah seorang ibu yang cukup banyak tahu, akan sikap anaknya, beliau merasa telah membuat sebuah kesalahan kepada anaknya, yang jelas sulit untuk di ralat.
" Aji.., maksud Emah bertanya seperti itu, bukan ingin mencampuri urusan pribadimu nak," Dengan terbata-bata Emah mengutarakannya.
" Tidak Mah..., tidak mengapa, justru semua masalah harus menjadi jelas duduk persoalannya,"
Papar Aji.
__ADS_1
Maka Aji pun kembali menceritakan kronologis kejadiannya, berawal sejak dia dipanggil oleh Anggi untuk datang ke rumahnya, saat itu dia belum tahu kalau sepeninggalnya dari mengantar Shinta berobat.
Hanya selang satu hari saja tidak sampai, gambar nya dengan Shinta baik ketika dia sedang duduk di ruang teras yang merangkap jadi ruang tunggu di rumah ibu Sarinah, termasuk ketika dia berdiri di pagar rumah berupa pagar hidup dari tanaman pohon perdu, maupun ketika tengah mengobrol dengan dua orang laki-laki separuh baya itu saja.
Semua adegan yang telah berupa gambar hidup, sudah terpampang di layar medsos Tiktok.
Dengan di latar belakangi oleh lagu pop yang liriknya seperti berikut..," Sekali,🎶 engkau bersalah ,🎵 aku maafkan.,🎼🎶 Dua kali engkau bersalah juga aku maafkan.....dan seterusnya... Dan seterusnya.
Yang lebih gila lagi terdapat adegan yang menggambarkan betapa ketika dia berjalan satu payung di bawah curah hujan yang mengguyur deras, semua sudah terpampang di medsos, hingga membuatnya tercenung tidak habis pikir.
" Sudah sejauh itukah tekhnologi merambah dunia nyata, yang dalam genggamannya saat ini adalah sebuah benda kotak segi panjang yang ukuran tebalnya satu centimeter saja pun tidak, dan bisa di masukkan ke kantung baju, namun telah sanggup menyimpan untuk kemudian diperlihatkan kepada khalayak, gambar hidup pada kejadian yang telah berlalu. seolah kejadian tersebut sedang berlangsung saat ini.
...ΩΩΩΩΩ...
Sengaja Aji membahas masalah yang dianggap oleh banyak orang, dirinya telah membuat kasus yang telah membuat keluarga orang tua menjadi Aib dalam pandangan masyarakat hampir seluruh Kota itu, bagi mereka yang telah mengetahuinya.
Tidak tertutup kemungkinan Fitrie pun sudah mengetahuinya akan perihal tersebut.
Apalagi baru saja dia mendengar langsung dari Emah orang yang pantas untuk dia percaya setiap ucapannya, bukan atas pengaduan dari orang lain.
Atau kata seseorang yang mungkin tidak menyukai pria tersebut. yang mungkin saja menggambarkan pria yang sempat merebut hatinya itu dengan gambaran yang negatif.
Pertanyaan yang Emah ajukan kepada Aji.Sudah lebih dari cukup baginya, memperkuat pendirian dan memperkuat keyakinan akan keputusannya yang dulu pernah diambilnya, kala itu masih di sertai oleh keraguan, akan tetapi hari ini tidak akan ada lagi kata maaf apalagi kata ragu. Segalanya sudah jelas. baginya, Pelaut memang seperti itu.!!!
Fitrie.!!!, dengarkan dulu penjelasan ku !", kemarin aku sengaja mampir ke rumah mu Fit, itu memang benar dari Cimanuk, guna menghantar keperluan berobatnya Shinta yang di titipkan oleh Wulan kepadaku....
Namun, semua rangkaian kalimat itu.hanya ada tersimpan didalam dadanya yang mulai terasa sesak, tidak kuasa untuk dikeluarkan lewat tenggorokannya. Ketika memori nya merekap ulang kalimat yang dia ucapkan saat meminta gadis itu untuk turut serta mengantar Shinta ke Serang.
" Fit..., kenalkan, ini Tante Shinta salah satu adiknya Emah yang tinggal di Bandung ".........
Di bawah sorot mata Fitrie yang seperti ada genang tipis air menutupi retinanya, yang semestinya air itu sudah menggenang dan kelopaknya sudah tidak sanggup lagi membendungnya.
Maka bergulir lah air itu jatuh ke pangkuannya dengan melalui kedua belah permukaan pipinya.
Tapi itu terjadinya dulu, ketika baru pertamakali dia merasakan apa yang namanya Kecewa. sekarang hatinya sudah kebal walau perasaan yang sekarang juga tidak jauh berbeda. Hanya saja yang kini dia rasakan berbeda adalah Hatinya..
Dia sendiri bertanya dalam batinnya. Kenapa aku tidak menangis ? sudah mengering kah Air Mata ini, atau hatiku sudah membatu ?.
__ADS_1
Aji terkulai raganya kehilangan semangat untuk meneruskan menuturkan kronologis kejadian yang sebenarnya dan semua sudah dia persiapkan begitu matang dan sempurna pun sirna sudah.
Seiring hilangnya walau setitik harapan untuk mendapatkan kembali permata yang dahulu pernah hilang.