
Bab 1
Di beranda utama gedung RSU kota pelabuhan laut di Santos Brazil.
Seorang pasien yang duduk di sebuah kursi roda yang sedang di bantu mendorongnya oleh seorang suster menuju taman bagian depan dari RSU tersebut, melalui bangsal tempat pasien rawat inap dengan tingkat penderita sakit berat.
Sedangkan pasien yang duduk di kursi roda itu tidak terlihat sebagaimana layaknya orang yang sedang mengidap satu penyakit.
Saat salah seorang suster perawat yang berjalan, dan berpapasan dengannya, yang tidak lain dari seorang laki-laki muda usia itu, melempar senyum ramah kepadanya dan di balasnya dengan senyuman yang tidak kalah ramahnya, senyumnya tidak tampak aneh. Terlihat wajar.
Akan terlihat lain, sikap dari orang yang sakit ingatan misalnya., lantas mengapa dia duduk di kursi roda,?
Setelah di perhatikan dengan saksama, ternyata laki-laki itu belum kuat untuk berdiri, apalagi untuk berjalan. Bukan karena dia penderita Lumpuh, tetapi akibat trauma yang disebabkan oleh Obat yang di konsumsinya melebihi takaran." begitu keterangan diagnosis dari Dokter yang bertanggung jawab menanganinya.
Sudah hampir dua Hari dia tinggal di rumah sakit ini, dengan mendapatkan perawatan yang intensif dan di perkirakan besok sudah akan di nyatakan sehat dan bisa melanjutkan terapi di rumah.
Kantor perwakilan keagenan di Santos, yang mewakili perusahaan yang berpusat di Delaware, New York City, USA, menugaskan salah seorang staffnya, untuk secara berkala memantau sejauh mana perkembangan kesehatan salah satu awak Kapalnya, yang sekarang sedang di rawat di RSU kota pelabuhan Santos, issue ini sudah sampai ke meja direksi di kantor pusat kota di New York City.
Adapun mengenai seorang Kapten senior yang telah rela mengorbankan sebagian harta pribadinya, oleh karena 3 alasan yang berdasarkan ilmu sabar, pertama dan yang utama ;
* Atas dasar kemanusiaan.
* Yang kedua ; Reputasi perusahaan dan juga dirinya.
* yang ketiga, dan terakhir ; Perhelatan Akbar Resepsi pernikahan putri tunggalnya yang akan di gelar di mana bukan karena biaya biaya yang tidak sedikit yang telah keluar.
Undangan sudah disebarkan, kalau oleh masalah yang terjadi saat ini, Acara tersebut di atas sampai gagal, Tidak bisa di bayangkan, ibarat pepatah sudah jatuh, tertimpa tangga pula.
" Biarlah jatuh, tetapi tidak tertimpa tangga.," demikian ucapan yang terlontar. dari lisan Kapten Hendrik Bossman Van Dijk.
Sepantasnya lah, kalau perusahaan , yang sebesar itu, menyematkan tanda jasa kepadanya, telah lebih dari 20 Tahun, dia mengabdi pada perusahaan tersebut, sejak dirinya masih menjabat sebagai 3rd Engineer officer , dengan pengalaman berlayar inter insuler ( Pelayaran lokal ). Dan ijazahnya pun masih basah tintanya..hingga sekarang sudah bersertifikat
Internasional di New York.
__ADS_1
Saat itu perusahaan belum sebesar dan mendunia seperti sekarang.
Perusahaan milik penyandang Nama Ludwig Emad Al Dagistani , yang konon dulunya salah seorang imigran Amerika kebangsaan Israil garis keturunan Yahudi berdarah campuran Syria, yang telah membangun dan membesarkan usahanya hingga mencapai puncak kejayaannya di Dunia Pelayaran di Amerika.
Semua ini tercipta berkat Donasi dari beberapa orang dengan berbagai macam keahlian di bidangnya masing-masing, Salah satu dari mereka itu adalah Kapten Hendrik Bossman Van Dijk. yang loyal terhadap perusahaan dan berdedikasi tinggi, bukan sekadar julukan.
Tercermin dari bentuk perhatiannya.terhadap anak buah Kapalnya., Kapten Hendrik setiap hari dalam dua hari ini, dia menyempatkan ikut turun ke darat, untuk melihat anak buahnya.
⚓⚓⚓
Beralih ke lain tempat, yakni di jantung kota Brazil, Rio De Janeiro.
Seorang Dokter wanita yang masih Muda bernama Josette Maria Cardoso sedang menjalani Modelling, mempertahankan karya tulis ilmiahnya di hadapan para ilmuwan bidang kedokteran, di Kampus Fakultas Kedokteran negeri setempat.
( di sini tidak penulis kisahkan , jalannya pertanggungjawaban Josette atas karya tulisnya di bidang Anastesi. Di depan para penguji tingkat Doktoral ).
Sementara di hari yang sama dengan Josette yang sedang berpikir keras sambil berdoa dalam menghadapi ujian demi merajut cita, meniti karir di bidang kedokterannya.
Di tempat lain , Aji di nyatakan oleh pihak RSU dengan dasar pernyataan lisan dan tulisan dari Dokter Ahli yang menangani penyembuhannya. Sudah boleh meninggalkan Rumah sakit, dengan di perkuat oleh secarik lembaran berupa pernyataan tersebut tadi, akan dia langkahkan kakinya dengan melenggangkan tangannya pergi keluar dari RSU itu.
Secara hitungan jam kerja pun, dia sudah melebihi limit dari yang tertulis di dalam perjanjian kontrak kerjanya. Mestinya dia sudah pulang untuk cuti sejak satu bulan yang lalu. Percis habis masa kontrak kerja di MT.FIRMOSA. Berhubung saat dirinya 5 bulan berada diatas kapal, berbarengan Kapal di Rubah dan di alih Fungsikan dari pengangkut minyak menjadi Kapal Penampungan.
Pikiran yang terpola kontrak kerja 6 bulan di Kapal, dengan sebab di atas, di tambah waktu sakit harus 2 hari di Rumah sakit. Dengan keterbatasan gerak, karena memang tidak ada kuasa untuk berdiri sekalipun, jiwanya berontak, sudah tidak sabar ingin sesegera mungkin terbang , pulang ke Indonesia.
Namun ketika disadarinya siapa dirinya sekarang, di hadapan Wanita yang di cita-citakannya bakal menjadi pendamping hidupnya , Ibu dari anak-anaknya kelak.
Sambil menghela nafas, pikirannya menerawang jauh ke beberapa bulan yang telah silam, ke sebuah kota kecil di Jawa Barat. Nun jauh di sana, satu saat di tempat tersebut.
" Kak Aji., orang orang-orang di sekitar sini bilang, aku harus hati-hati kepada orang yang profesi nya sebagai pelaut , apa betul aku menyikapinya harus semacam itu?, Tanya Fitrie.
" menurut penilaianmu bagaimana, baik dengan penglihatan, maupun dengan perasaanmu, apakah harus begitu?, karena menurut pendapatku pribadi, kepada yang bukan pelaut pun harus hati-hati lho !" jawabnya diplomatis seraya tersenyum.
Percakapan di antara mereka berdua, tidak sebatas perihal itu saja, banyak obyek yang di bahasnya, diantaranya tentang cita-cita beberapa tahun, atau puluh tahun ke depan, sambil tatapan mereka memandang ke depan , yang terdapat sebuah kolam ikan yang cukup panjang dan juga lebar. Airnya yang bening dengan riak kecil Air yang di Terpa angin dan ikan- ikan yang berlompatan, ke atas permukaan air di kolam.
__ADS_1
Begitu asrinya suasana di sekeliling pinggiran kolam,
di tumbuhi pohon perdu yang sengaja di tata oleh tangan yang terampil.
Di setiap sudut lahan yang lumayan luas, berdiri bangunan yang sederhana, dengan jendela nya yang di biarkan terbuka , dan dari dalam salah sebuah kamar dari bagian bangunan itu, terdengar lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an, yang di baca dengan langgam yang merdu.
Ketika Aji berniat untuk menanyakan sesuatu kepada Fitrie yang mendampinginya, di saat Aji minta untuk keliling halaman belakang dari Rumah tempat tinggal gadis tersebut, namun ternyata jawabannya dia temukan sendiri.
Terlihat olehnya di sebuah dinding depan salah satu bangunan itu, terpampang dengan huruf Arab yang jelas bisa terbaca dari jarak saat itu dia berdiri.
Pondok pesantren an NUR
Desa. : Meureunan.
Kecamatan : Naha nya.
Kabupaten : Manaboa
Provinsi. : Jawa Barat.
Akte pendirian : X/ Brt / Ponpes SLF/ 02- 1998.
Pengasuh. : KH. Sahamah.
Tercenung bercampur kagum Aji di buatnya, ketika
membaca huruf demi huruf yang tertulis pada papan nama yang terpampang itu.
Sepanjang yang diketahui nya K.H.Sahamah itu, cukup dikenal di kalangan para ulama pendakwah.
" Bagaimana ini?, kalau satu saat nanti dia bertemu beliau langsung dan beliau bertanya," Nak Aji, sudah bisa membaca Al- Qur'an ?," mungkin sudah standar orang di sana bertanya seperti itu, wadduh bagaimana ini," Celoteh dalam hati nya ," mana beliau itu Ayahnya Fitrie.?"
Penulis cukupkan hingga di sini dahulu ya sahabat..
__ADS_1
kita sambung lagi di Bab yang ke 2 episode berjudul " Transisi " masih di * GARIS TANGAN *.. tunggu ya Gaes ?!