Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Fatamorgana "


__ADS_3

Bab 3


Emah berpesan bukan hanya kepada Aji saja, namun kepada Fitrie pun sama, beliau sempat mengingatkan.


" Neng Fitrie, harus ekstra hati-hati, dari orang yang berada di sekitar Neng," Sarannya.


"Ya Mah, terimakasih, memangnya bentuk kehati-hatian yang di maksudkan seperti apa misalnya Mah?" Tanya Fitrie


" Seperti., jangan terlalu percaya kepada orang lain, misalnya menawarkan jasa baiknya untuk mencari kutu di rambut Neng Fitrie."


" Memangnya dengan rambut bisa membuat kita celaka Mah ?" tanya Fitrie, naif


" Bisa dan mungkin sekali terjadinya Neng.."


" Seperti apa dan akan bagaimana jadinya itu Mah?"


" Kalau sampai rambut yang terambil oleh sisir serit itu di kumpulkan oleh orang yang memang sudah punya niat, sebagaimana persyaratan dalam amalan ilmu klenik, berapa helai yang harus di ambil.


Untuk kemudian, melalui sarana rambut si Eneng tadi, orang yang berniat tidak baik itu, bisa berbuat banyak Neng !" Tutur Emah, yang membuat Fitrie tercengang dan merinding bulu kuduknya.


" Masya Allah !!" Pekik Fitrie tanpa terasa.


"'bisa membuat Neng di gantung waris, misalnya." Ungkap Emah lebih lanjut


" Apa itu di gantung waris, Mah ?"


" Di gantung waris itu kalau ada orang yang suka dan naksir ke Neng Fitrie, lalu Eneng menolak.


Kalau dia legawa, urusan selesai sampai disitu. Yang repot kalau Eneng ketemu yang tidak legawa, yaitu orang yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain.


Sudah bisa dipastikan dia merasa kecewa, yang semula mempunyai rasa suka, kemudian berbalik jadi rasa benci.


Akhir dari semua itu, dia ingin mencelakakan Eneng, dia buat sedemikian rupa untuk tidak terlihat bahwa itu adalah perbuatannya." Papar Emah lagi.


" Apa yang akan Aku alami dengan di gantung waris itu Mah ?" Tanya Fitrie, lebih lanjut lagi...


" Dalam hal perjodohan yang Eneng jalani, bilamana ada pria yang berniat ke Neng Fitrie, maka Neng Fitrie yang mundur,

__ADS_1


karena dari tampilan Fisik pria itu akan terlihat oleh Eneng, sesuatu yang paling tidak Neng Fitrie sukai ada padanya.


Kebalikannya pun demikian, serupa yang Eneng Lihat, pria itupun melihat kekurangan pada Eneng dan kekurangan itu amat tidak dia sukai.


Tapi itu hanya di dalam penglihatan Eneng saja. Orang lain yang melihat biasa saja, malah beberapa orang mengatakan Eneng terlalu selektif, pernah mendengar pepatah orang Bijak? Yang bunyinya begini : " Pipilih hayang anu leuwih koceplak meunang anu pecak "


( Bahasa Sunda \= Pilih-pilih berharap dapat yang lebih, alih-alih dapat nya yang buta ).


Itu sesuatu banget, Neng ," ujar Emah, dan lebih lanjut...


" Ketika Neng ada minat ke pada pria lain, justru Pria tersebut, timbul rasa tidak minat terhadap Neng Fitrie, karena dia juga melihat si Neng punya kekurangan yang hanya dia melihatnya seperti itu.


wajah si Neng terlihat oleh dia Bopeng, totol-totol hitam, padahal sesungguhnya tidak." Pungkas Emah.


" Sihir atau perbuatan apa seperti itu teh Mah.?" Ucap Fitrie.


" Emah kurang Faham, tapi kejadian itu pernah di alami oleh kenalan dekat keluarga kami, seorang Wanita yang lumayan cantik, namun hingga akhir hayatnya dia masih melajang, akibat di gantung Waris." Kenang Emah.


Masih banyak tempat-tempat yang dipercaya sebagai tempat yang tidak boleh di sepelekan keberadaannya di lereng Gunung Karang. Ada Jembatan bernama Lawang Taji , berada diatas sebuah sungai bernama Ciraden, yang alirannya menuju ke kota Pandeglang melalui pedesaan bernama Cihaseum. di kaki Gunung Karang.


Lawang Taji sendiri, adalah sebuah jembatan tua yang terbuat dari kayu, di sepanjang bentangan pijakan jembatan, diatasnya di naungi oleh atap yang terbuat dari anyaman bahan pelepah daun kelapa.


...********l...


Mereka tidak pernah mengusik aktivitas manusia yang tinggal di perkampungan sekitarnya, seperti terhadap penduduk kampung Canggoang, Pasir Peuteuy, maupun Desa Cengkel. Atau Pasir Angin.


Mereka Hanya minta, manakala siapapun yang melewati jembatan itu, bersikaplah Santun. Dengan tidak berteriak-teriak atau berkata tidak senonoh


Karena pernah satu saat sekelompok anak muda yang datang dari kota besar entah dari kota besar mana, dengan sikap arogannya tidak mengindahkan peringatan dari penduduk setempat, malah salah satu dari mereka buang air kecil di pinggir Jembatan tersebut sambil bersiul-siul.


Tidak pakai lama, istilah kekiniannya GPL. Bengkak seketika pada bagian terlarangnya, tidak tangung-tanggung, sebesar bola sepak.


Setelah melalui upacara meditasi, maka dilakukan lah acara Ritual, dengan menyembelih seekor Kambing Jantan dan darahnya di siramkan di sekitar tempat jatuhnya air seni dari orang yang melakukan tadi, dan dagingnya di bagikan kepada penduduk Desa terdekat.


Setelah usai ritual dilaksanakan, tidak pakai lama, bengkak pada bagian tubuh pelaku pelanggaran tadi, berangsur namun pasti karena memang dilihat dan di saksikan oleh banyak orang, gelembung sebesar bola sepak itupun kembali normal seperti semula sebelum kejadian.


Itulah sekelumit tentang Pandeglang dengan ke aneka ragaman nya.

__ADS_1


Itu belum termasuk keajaiban Sumur Tujuh yang berada di puncak Gunung tersebut.


Dan, tidak pernah ada beritanya. Orang yang sengaja datang kesana, sampai tidak bisa mandi karena musim kemarau hingga sumur tidak ada airnya.


Demikian panjang lebar Emah menguraikannya kepada Fitrie,


...ΩΩΩΩΩΩ...


Kelihatannya urusan intern di dalam lingkungan keluarga sudah teredam dan dianggap selesai.


Senyum kembali terlihat mengembang di wajah Fitrie, itu artinya Aji sudah bisa kembali pulang ke Jakarta, untuk beberapa urusan lain yang belum selesai.


Semua kejadian ini, bisa menjadi cerita menarik untuk Haruki, sekaligus merupakan oleh-oleh yang menarik baginya.


Haruki sudah tidak butuh, oleh-oleh berupa makanan, maupun Cinderemata dari daerah yang sama, dan sering pula dia kunjungi.


Akan tetapi, dia haus akan berita, bukan yang Hoax juga.Terkadang dia bersikap Kepo walau tidak selalu seperti itu.


Sikap Kepo nya datang di saat dia kedatangan keruhun leluhurnya dari Jepang, konon seperti itu.


Di saat seperti itu, serta Merta mendadak lancar bicara dalam bahasa leluhur, itu pernah terjadi, bahkan berdialog langsung dengan Tuan Gawa, Papi nya, semua yang keluar dari lisan Haruki, sempurna bahasa Jepangnya dengan baik dan benar, menurut Tuan Gawa.


Teringat akan kejadian yang langka dan tidak masuk akalnya, setelah dia pamit kepada Ibunda yang sangat dihormatinya, yakni Emah beserta keluarga yang lainnya, dia pun berangkat dengan arah tujuan yang pasti, Haruki di Jakarta Utara.


Dengan terlebih dahulu menghantarkan Fitrie pulang. Karena memang satu arah, semua itu membuatnya tersenyum sendiri sembari berucap," Ruki....Haruki di zaman medsos merambah, koq masih juga kesurupan-kesurupan segala," gumamnya dalam kesendirian.


Beberapa saat setelah bercengkrama dengan sebagian anggota keluarga Fitrie, Aji langsung berangkat.


Dengan terlebih dahulu membuat kata sepakat bersama Fitrie, untuk mengklarifikasi seluruh kejadian yang masih jadi buah percakapan diantara orang banyak di Pandeglang, baik yang kenal cukup dekat dengan dirinya maupun yang tidak kenal sekali pun.


Fitrie menjanjikan akan menyiarkannya lewat sebuah acara santai bertajuk, Ceramah ala remaja yang bertema kan " Benar apa Fitnah". Acara di Radio remaja Islam yang telah mencapai rating tertinggi ketimbang acara lain di siaran Radio anak remaja gaul Islami di Kota tersebut.


Dengan menempuh cara inilah yang akan Fitrie perbuat, memanfaatkan momen dengan mengulas isi dari surat Teh Shinta, ini atas persetujuan dari Aji sendiri secara langsung, tidak lewat WA atau sarana medsos lainnya.


Dengan harapan nama baik keluarga dari Aji, juga Shinta dan tidak ketinggalan ibu Sarinah. Akan menjadi pulih kembali.


Fitrie memasuki pintu Studio Radio Amatir dari Pondok pesantren dengan langkah yang pasti, dan dengan tujuan menebar kebaikan dan mencegah kemungkaran, yang lebih di kenal dengan sebutan di lingkungannya, " Beramal Makruf dan bernahyi Munkar."

__ADS_1


Sebuah kalimat yang mudah untuk diucapkan namun sangat sulit untuk dilakukan.


__ADS_2