
Bab 6
Maemunah yang tadi sudah menghantarkan kudapan berikut kopi Asli dari Medan kesukaan Tuannya, juga tamunya yang dia panggil Om Aji ini.
Di tinggalkannya tamu majikannya itu, untuk selanjutnya dia melangkah pergi ke dapur, karena di sana telah menunggu beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan nya, sebelum Majikannya datang dan meminta makanan kesukaannya.
Yang rencananya semula, mau di olah dengan kecekatan tangan Maemunah, yang pernah ikut nyonya Gawa, Mami dari Tuan muda Haruki yang handal memasak berbagai macam penganan kesukaan Tuan Gawa. Papinya Haruki.
Yang sudah di fahami betul oleh Mae, akan kebiasaan majikannya itu, kalau mendadak pergi ketempat kerjanya, tidak lebih dari tiga jam sudah pulang kembali ke rumah, untuk nanti berangkat bekerja lagi pada lepas tengah hari, dan bekerja seperti biasa hingga sore, barulah akan kembali berada di rumah
Namun demi mendengar sebuah nama di sebutkan oleh Om Aji ini. Dia berbalik, dan datang mendekat ke kursi tempat duduk Aji.
" Kamu Maemanah kan .? Tanya Aji sekali lagi.
Maemunah bukannya menjawab pertanyaan Aji, malah dia balik bertanya. " Om koq tahu Maemanah, ?"Ujarnya
Aji tidak langsung menjawab, di dalam hatinya dia berkata ;
" Bukankah kamu yang bernama Maemanah,? kita pernah bertemu, kamu yang menghantarkan penganan dan air cangkir di nampan yang kamu bawa tumpah, itu terjadi belum satu tahun berlalu." Sorot matanya mewakili kalimat yang tidak terucap lewat lisannya.
" Maaf Om, mungkin yang di maksud Om bukan saya, itu mah saudara kembar saya yang namanya Maemanah, dia di Pandeglang, seperti saya bekerja rumahan." Sahutnya, maksudnya bekerja seperti dirinya.
Aji terlalu fokus kepada penuturan akan nama Maemunah dan Maemanah, yang belakangan membuatnya bingung sejak kemarin bertemu dengan orang yang disangka satu orang saja dengan nama Maemanah. Sekarang teka-teki itu terjawab sudah.
...*******...
Bisa jadi suara alunan Murotal yang sejak pertama dia datang dan didengarnya berasal dari ruangan dalam, sempat membias oleh sebab bahasan nama Maemanah dan Maemunah tadi.
Sekarang suara merdu Muratal Al-Quran itu semakin jelas dan membuatnya tertegun dan merenung, membayangkan dari suaranya, menurut imaginasinya tercetus di dalam angannya ;
" Semenarik apa wanita yang mempunyai suara semerdu ini ya ?"
sepintas ketika dilihatnya Maemanah akan beranjak meninggalkannya.
" Mae., boleh aku minta tolong mu ?" Pintanya.
" Boleh Om ." Jawabnya.
" Tolong dong, suara Televisi nya bisa sedikit di besarkan ?"
" Owwhh..,Su....suara itu Om ?" Jawab gadis itu tergagap.
" Ya.., suaranya di besarkan sedikiiit lagi saja." pinta Aji.
" Baik Om ." Jawab Maemunah sambil berlalu dari hadapan Aji.
__ADS_1
" Kalau Haruki ada disini, aku sendiri yang masuk dan membesarkan volume Televisi itu," Batinnya.
Begitu dirinya telah berada di ruangan dalam, sempat sesaat tertegun, " Bagaimana cara aku membesarkan Volume suara ngajinya teh Meli ? Aaakh... Ada-ada saja si Om nih, sok tahu juga tuh orang!"
Di dalam kebingungannya dia teringat pernah melihat majikan mudanya, Haruki dia temukan menulis pada secarik kertas, dia yang di pinta untuk memberikannya lembar kertas itu kepada Melindari yang ketika itu sedang mengaji, mirip.kejadiannya seperti sekarang.
Kertas yang Haruki tujukan kepada adik sepupunya yang sedang mengaji di waktu dan tempat yang seperti sekarang ini. Bertuliskan, " Mel., bisa di ganggu sebentar, Abang ada perlu "
Dan lembar kertas itu, di temukan tergeletak di sudut kamar Melindari ketika Mae bekerja rutin membereskan seluruh ruangan, termasuk kamar tidur Melindari.
Diambilnya lembar kertas yang tersedia di Atas meja televisi berikut Ballpoint nya.
Dia tulis ;" Teh Meli, Tamunya bapak minta suara mengajinya di keraskan sedikit." tanpa mengganggu apalagi sampai Melindari menghentikan bacaannya.
( Mae memanggil Melindari dengan "Teteh" Meli , atas permintaan Melindari ).
Murotal Surat-surat pendek pada Al-Qur'an yang sedang di laksanakan oleh Melindari, tidak terganggu oleh Maemunah yang masuk dan menyerahkan lembar kertas itu.
" Masya Allah...., kalau saja ada Haruki, aku akan masuk kedalam, dan ingin melihat langsung siapa sih Qori yang tampil dengan suara merdu ini ?" Batin Aji.
Aji mencoba membuka aplikasi Televisi pada HP nya, namun dia tidak menemukan satu pun stasiun televisi yang menayangkan acara pembacaan surat-surat pendek tersebut.
Merasa di tantang dengan tidak ditemukannya acara pembacaan Surat-surat pendek, dengan suara Qori yang jarang dia temui sebagus ini, membuat semakin greget dan gemas, hingga terdengar suara gemeretak gigi bagian bawah yang dia gesek-gesekkan ke gigi atasnya. Seakan sedang mengunyah sesuatu.
Dalam kondisi yang tidak nyaman baginya, terdengar suara knalpot Megaphone sebuah motor gede yang memasuki halaman rumah itu, dengan suara khasnya, dan pengendaranya memarkirkan Moge nya itu di depan Pintu masuk sedikit menyamping, membuat Aji merasa Heran, siapa orang itu yang berani-beraninya masuk dengan Motor gede nya dan langsung parkir persis di depan pintu, lagi ?! Ow Lala.. Ini orang minta di tegur oleh Haruki." Batin nya.
Yang paling membuat Aji pangling MOGE nya itu, karena sepanjang dia kenal Haruki, hampir tidak pernah melihat sohibnya ini mengendarai motor, apalagi ini Motor Gede.
Dia menghambur keluar dari ruang tamu dimana dia sedang menikmati hidangan Kopi Favoritnya, begitu dia yakin betul, anak muda yang mengendarai Moge itu adalah sang sohib.
" Weyyyy Ruki, sumpah aku kira bukan kau! Sorry.. tadinya aku tidak akan keluar, mau aku awasi terus apa maunya anak Funk ini !... Dan itu suara knalpot yang kelewat bising telah membuat mati mendadak siaran Televisi, polusi suara tuh !, kalau peraturan lalu lintas di jalankan sepenuhnya, sudah kena kau Ruki !" Tegur Aji, mengingatkan, walau di sertai dengan derai tawa nya.
" Begitu ya..!? Untung bukan Luh yang Polantas nya,
Makanya luh gak ke terima, dulu kita ikut tes masuk, ketika ada penerimaan lowongan penerimaan untuk calon polisi.
.
Habis cita-cita nya mau menyapu bersih, segala bentuk pelanggaran termasuk Sohib, tidak pandang bulu.. Sorry ya, gua tadi pergi, mendadak ada panggilan dari Bengkel, ada beberapa unit mobil servis rutin Tahunan. Gua balik lagi ke bengkel ntar habis Shalat Dzuhur." Tutur Haruki.
" Ada sesuatu hal yang spesial kah pagi ini Ji ? Gua perhatiin raut wajah Luh kurang asyik untuk di pandang," Ujar Haruki.
" Ada., Program Telepon genggamku selalu ikut perkembangan dan perubahan, tapi kenapa di cari-cari di Aplikasi siaran TV koq tidak bisa nangkap siaran Televisi seperti Televisi di rumahmu Ruki ?". Tutur Aji merasa ada sesuatu yang kurang memuaskannya.
" Mangnya, Luh kepengen nonton tayangan acara apaan sih di Televisi ,? setahu gua ya...Luh tuh paling anti nonton acara hiburan di TV, selain hanya nonton berita. Acara Bola luh kagak demen." Goda Haruki, kepada Sohibnya.
__ADS_1
Setelah di jelaskannya kepada Haruki, semua yang tadi telah terjadi, termasuk Maemunah dan Maemanah, selama dia belum datang.
Juga termasuk begitu suara knalpot yang mengganggu ketenangan Atmosphere dan Polusi suara, tayangan yang menarik baginya mendadak mati, sama sekali langsung " Srettt mati !! .
" Rupanya itu ya ? yang telah terjadi dan membuat Sohib gua seperti menyesali kejadian yang kagak diharapkan dan itu penyebabnya adalah Suara Moge gua, begitu kan ?!.... Luh kenal gua Ji.. Pantang sampai bikin Sohib bersedih, gua akan tanggung jawab... sekarang tersenyum dong untuk Haruki..he..he..he." Godanya dan lanjutnya lagi...
" Aji.... Aji..! Sejak Luh dapat duit transferan dari Brazil, lantas Luh jadi terobsesi untuk bisa membawa pendamping dan datang kesana hadir di resepsi yang luh bilang Akbar itu ya kan Sohib ?! Tanya Haruki seperti mencemooh. Dan sambungnya lagi...
" Popeye sedang galau, di tinggal Olive ..menikah he..he..he." sembari ditepuk-:tepuk pundak sohibnya itu.
" Kau undang aku untuk datang, walau terlambat, toh aku datang, tapi hanya untuk di olok-olok ?" Sergahnya dengan nada sedikit naik daun, yang di jawab oleh Haruki dengan nada datarnya.
" O..ya gua tahu, jujur aja bilang ke gua, Luh tuh Ji... udah kebelet kepingin buru-buru gua temuin dengan yang gua janjikan, sekalian mau gua kenalin ma Luh itu kan ?! ngaku Luh !! ...". Masih dengan selorohnya.
" Ya...iya Aku ngaku.. Ambil... kau menang Ruki !' suara Aji seperti merajuk.
" Ji... Gua kenal dengan beberapa orang yang bekerja di stasiun-stasiun Televisi, itu kan mereka yang membikin tayangan program siarannya.
Beberapa stasiun Televisi di Jakarta, mobil operasionalnya langganan servis di Bengkel gua.
Jadi.. Masalah Luh suka ma yang Luh bilang ngajinya Ajib dan menghipnotis Luh.. Gampang, ntar gua kenalin.. Siapa tahu itu yang akan Luh ajak ke Brazil sebagai pendamping luh Ji..!"
" Benar ini Ruki ?!" tanya Aji bersemangat.
" Satria Negri matahari terbit pernah membohongi Luh ? kalau pernah, sebutkan !" Sahut Haruki serius..
Padahal di saat itu hatinya terenyuh melihat Wajah sohibnya yang menyambut begitu antusias menyambut yang sebenarnya itu adalah sebuah kebohongan, yang tujuannya untuk menghibur dan membesarkan hati sahabatnya.
Jauh di dalam hatinya, haruki terharu, untuk
dua orang dekatnya, satu yang berada di dalam rumahnya, yang satu lagi orang yang ada di hadapannya saat ini.
Yang berada di dalam, yang dia tahu persis, Cinta nya yang Murni hanya untuk lelaki yang dipuja, di sanjung dan dirindukannya, dia siap untuk berkorban jiwa raga sekalipun untuk lelaki yang sekarang sedang membutuhkan seseorang yang salah satu obsesinya yaitu wanita bersuara merdu yang di kiranya seorang Qori di tayangan sebuah stasiun Televisi yang sedang mengudara. Jelas artinya wanita itu bukan dirinya.
Wanita yang berada di dalam, mengikuti pembicaraan dua pria yang kedua-duanya bukan orang yang tidak pernah berdekatan dengannya.
Yang satu, jelas dia adalah Haruki kakak sepupunya.
Dan yang satunya lagi, dia yang pernah melihat seluruh badan utuhnya tanpa terhalang oleh selembar benangpun sebagai hijab.
Saat itu dia rela dan sepenuh keikhlasannya berniat menyerahkannya, bukan karena jumlah Finansial sebagaimana kepada lainnya entah berapa jumlah orang lainnya itu. yang dia harapkan untuk menambah semakin gemuknya pundi-pundi di rekening pribadinya.
Tidak lain juga tidak bukan.dia ikhlaskan dirinya saat ini untuk di ajak ke ujung belahan dunia manapun oleh lelaki yang dia dengar suaranya saja telah mampu membuat Gelora Api Cinta di dalam sanubarinya berkobar. seakan mau membakar hangus jiwa dan raganya.
Matanya memerah namun bukan karena amarah.. Dia perhatikan pada cermin di hadapannya sekarang dia berdiri.
__ADS_1
akan tetapi karena menahan tangis dan menahan jatuhnya air mata tanda Cinta melanda.