Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Anugrah "


__ADS_3

Bab 2


Aji dan Melindari berjalan berdampingan menuju arah pintu gerbang keluar Bandara, dan terlebih dahulu mereka mengambil troli dan memuatkan Kopor berukuran sedang milik mereka ke atasnya.


Semua prosedur keterkaitan dengan peraturan keimigrasiannya telah mereka lalui dan mereka sudah melenggang dengan tenang, sebagaimana yang mereka berdua rencanakan dan sepakati berdua.


Mencari Coffee shop atau cafe yang nyaman untuk meluruskan punggung yang telah belasan jam duduk di kursi pesawat. Juga sembari menunggu seseorang yang Josette katakan di salam pesan singkatnya orang yang dimaksudkannya untuk keperluan menjemput mereka berdua dari pintu keluar Bandara hingga ke penginapan yang telah di sediakan oleh Tuan Rumah, Josette dan Alfonzo tentunya.


Begitu di lihatnya sebuah cafe yang mereka inginkan, yakni interior ala Amerika Latin dengan aksesori unik namun warna cerah mendominasi ruangan yang hampir keseluruhan lekuk dari ruangan cafe tersebut tidak berkesan kuno. Walau tidak juga kontemporer, begitu kalimat yang terlontar dari lisan Melindari. Yang telah mengundang Aji untuk menanggapinya.


" Melin, kelihatannya kau punya juga pengetahuan tentang interior?" Sela Aji.


" Sedikit tahunya Bang, karena sejak lulus dari sekolah menengah atas di tempat kelahiranku, aku magang di sanggar seni yang ada disana, sekadar mencari untuk memenuhi keperluan jajan dan tidak membebani orang tua." Papar Melindari

__ADS_1


Sambil meneruskan percakapan ringannya, mereka memasuki Cafe tersebut, melihat dan mencari tempat yang kira-kira cocok untuk mereka berdua melanjutkan percakapan yang tertunda karena pas melangkah masuk ke dalamnya langsung mendapat sambutan hangat dari seorang anak muda yang dari penampilannya bukan seperti seorang yang statusnya sebagai pelayan atau orang yang bekerja di cafe tersebut.


Dia menyongsong kedatangan mereka berdua dengan sikap dan ucapan selamat datang yang luar biasa sikap dan ucapannya tersebut terdengar di kuping Aji maupun Melindari, orang tersebut seperti seorang penyanyi yang sedang melantunkan sebuah lagu hasil karyanya dan sekarang sedang mendendangkannya.


" Bang., apakah orang di sini kalau ngomong tuh seperti orang ini kah ?" Tanya Melindari yang baru pertamakali mengunjungi Negri yang dikenal dengan julukan Negri Samba itu.


" Ya., bisa di katakan seperti itu Mel, seperti kebanyakan Orang yang berasal dari Negara India yang menggeleng-gelengkan kepalanya di saat bicara, yang kadangkala membuat jadi bingung orang yang berbicara dengan mereka." Tutur Aji.


" Iya ...., bagaimana tidak membuat bingung, di saat Abang pernah mengalami hal seperti yang Abang katakan tadi, membuat Abang bingung, itu asli benar.!"


" Abang belum mengatakan bingung, oleh sebab apa memangnya Bang.?" Desak Melindari. Dengan mendapat penjelasan, seperti berikut dari Aji.


" Bingung karena mereka punya kebiasaan menggelengkan kepalanya baik ketika mereka sedang bertanya, ataupun sedang menjawab pertanyaan, ketika seseorang bertanya sesuatu kepada mereka, padahal mereka tahu percis apa jawaban dari pertanyaan tersebut. Mereka menjawab dengan benar tapi seraya menggelengkan kepalanya. Apakah sikap seperti itu tidak membingungkan.?" Tanya Aji

__ADS_1


Melinda tersenyum sambil merenung.


" Benar-benar kamus jalan Abang yang satu ini !" Batin Melindari


Aji dan Melindari telah megambil tempat duduk yang tidak tersembunyi dari penglihatan pengunjung lainnya, tapi juga tidak seratus persen terbuka, bagi mereka di saat seperti sekarang, yang penting nyaman dan bisa melihat berseliwerannya para penumpang pesawat, dari tabir kaca transparan pada bagian depan dari ruangan Cafe baik itu mereka yang baru pulang dari bepergian dengan pesawat maupun mereka yang baru akan bepergian.


Secangkir kopi ukuran sedang yang Aji pesan telah di hidangkan oleh pelayan dari cafe itu, sementara Melindari telah menerima minuman rasa jeruk yang hangat yang dipesannya.


Sambil menikmati kopi khas lokal pada tegukan pertamanya, Aji mengirim berita dengan pesan singkat melalui WA kepada Josette sesuai pesannya ketika Aji akan berangkat dari Cengkareng, Jakarta.


" Jangan lupa begitu pesawat kalian tiba di Airport di Brazil, kau segera hubungi nomor Ponsel ini." Seraya di tulisnya nomor ponsel yang di maksudkan nya dan sebuah nama.


Tidak lama kemudian dering tanda panggil pun terdengar dengan jelas pada ponsel milik Aji.

__ADS_1


__ADS_2