Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Dua sisi yang berbeda "


__ADS_3

.Bab 2


Di saat libur sekolah seperti sekarang, ingin rasanya dia pergi jauh, untuk menikmati waktu berliburnya ke tempat yang belum pernah di lihat dan di kunjunginya.


Seperti yang telah saudara sepupunya ceritakan kepadanya kemarin.


* Semua terekam di dalam ingatannya, menjadi pemicu obsesi yang semakin kuat yang mulanya hanya muncul bagaikan tunas pada sebuah lembaga dari buah yang jatuh dari tangkai sebuah pohon, lantas dia terhempas jauh dari pohonnya sebagai sumber mula adanya Buah tersebut.


...*********...


Masa-masa itupun sudah lama berlalu, kini dirinya sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa dalam fisik maupun kejiwaannya.


Namun obsesi saat dia masih sebagai Aji kecil, sudah kadung tertanam lekat baik pada pemikiran maupun di dalam Sanubarinya.


Sejalan hari yang berganti Minggu, kemudian berganti Bulan, membuat keinginannya semakin menggebu untuk mewujudkan cita-citanya.


Setiap kedatangan kakaknya yang pelaut dan bekerja di salah satu kapal charter yang di operasikan oleh salah satu perusahaan pelayaran milik putra Bangsa, singgah dan berlabuh di salah satu pelabuhan laut Nusantara.


Dia pasti berupaya meluangkan waktunya, untuk dengan sengaja mendatangi dimana Kapal yang bernama " KM.LENGKUAS " itu berada.


Kali ini baru saja dia sampai di tempat tujuannya, menyambangi kakaknya di Kapal Motor LENGKUAS, yang baru saja tiba di pelabuhan laut Tanjung Priok yang sudah sandar pada salah satu Kade nya disana.


Kesan di benaknya akan tingkah laku awak kapal yang di jumpai nya, menyiratkan kesan yang baik, jauh dari perilaku urakan, kasar atau arogan.


walaupun penampilan fisik dari beberapa awak kapal ada yang terlihat sangar, dengan wajah yang kurang ramah, dengan kulit badannya yang legam dan di penuhi Tato di hampir seluruh anggota tubuhnya, plus orangnya memang tidak banyak bicara.


Tapi itu hanya lah tampilan luarnya saja, ketika ada kesempatan bicara, ternyata orang tersebut lumayan ramah. Demikian kesan yang di temukannya.


Sangat bertolak belakang dengan cerita yang beredar, Pelaut yang dia jumpai begitu santun, saling menghargai satu sama lain, juga menghargai dia sebagai Tamu yang mereka hormati.


" Hore....!! om Aji datang, Papa aku mau main dengan om Aji saja ya Pap?!" Suara dua anak kembar usia balita, menghambur kearahnya dengan Berebutan minta di gendong.


" Dona...Doni ! Jangan minta di gendong semuanya kasihan om nya berat kamu itu, mana berdua!" Sahut bapak dari kedua anak kembar tersebut.


" gak apa-apa bung Roby, aku tidak merasa keberatan koq,!" Jawabnya


"Aji,....kau selalu datang tepat pada waktunya, kapan kau datang Ji ?" Tanya salah seorang anak buah kapal yang kamarnya satu Deck dengan Bagus Suryadi Kakaknya.

__ADS_1


Mereka satu departemen kegiatan nya sama-sama bekerja di kamar Mesin.


" Baru saja Bung Rob." Jawabnya


" Nanti kita ngobrolnya ya Ji,! Waktu kami singkat bongkar muatannya hanya sedikit, besok sore Kapal sudah harus bertolak menuju Medan." pungkasnya.


" Siap Bung, selamat bercocok tanam!" Aji menanggapi ikut irama yang ada.


Sudah umum di kapal KM.LENGKUAS bagi yang mendapat kunjungan keluarga, maka istilah disana kebersamaan Pasutri adalah berkebun.


" Dona..., Doni, kalian ikut dengan Om Aji ke ruang permainan ya anak-anak. Papi mau bantu Mamie mu tanam singkong !" Teriaknya kepada kedua putra kembarnya.


":ya Piii !" Jawab kedua anak itu berbarengan.


" Anak papi memang pintar-pintar." Sambil pergi menuju kamarnya dan menghela istrinya yang berjalan di sampingnya. Tidak lama berselang, pintu kamar nya tertutup, terdengar suara kunci diputar dari arah dalam.


" Wah...Bung Robby, jadi juga tanam Singkongnya. He...,he.., he." Tanggap Aji, santai.


Bagus Suryadi tahu adiknya sedang mengasuh anak kembar rekan kerjanya yang tidak terlihat selepas jam istirahat minum kopi, pagi.


" Sedang Kemana Papi anak-anak itu Ji !" Ujar Bagus.


"Iya ada tuh di atas ." Jawab kakaknya mungkin asal tunjuk saja, untuk menghindari pertanyaan yang bisa timbul dari adiknya, nanti bisa panjang bahasannya perihal Singkong dan cara menanamnya.


Momen kebersamaan yang dilihatnya tidak pernah berkurang, kadarnya. Apalagi berubah.


Setiap kali kapal masuk ke pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta maupun di Merak Banten. Setiap kali pula dia menemukan kejadian yang langka yang belum pernah ditemuinya di kehidupan nyata , namun bukan di atas Kapal.


Semua itu semakin mempertebal keinginannya bercita-cita untuk jadi salah satu dari mereka yang melanglang buana dengan membelah Samudra.


" SEKOLAH TINGGI ILMU PELAYARAN " Papan yang bertuliskan itulah yang nanti akan di carinya, setelah kelulusannya dari Sekolah Tehnik Menengah Atasnya di Kota Sukabumi, saat ini.


Lamunannya buyar ketika suara lembut dari wanita yang menyapa, tidak lain dari Melindari, yang dari tadi memperhatikan nya, dan membiarkannya untuk beberapa saat lelaki di hadapannya itu larut dalam lamunan.


Setelah Aji terlihat menanggapinya dan Haruki melihat mereka berdua, sudah mulai menjalin komunikasi, dia pun merasa lega.


" Aji dan Mel kalian lanjut ya,! Gua ada keperluan mau pergi ke Bengkel, ada sesuatu yang.harus di tangani segera."

__ADS_1


" Ya Ruki, aku dengan Dari mau melanjutkan percakapan kami." Jawabnya. Dan Haruki pun bergegas untuk pergi ke Bengkel tempat nya bekerja.


Melinda nama Wanita itu, asal kota Serang, Banten. Dari Desa Pakupatan, sebagaimana tertulis di KTP nya.


Yang di perlukan tidak cukup sebatas KTP saja, Aji menanyakan surat Akte kelahiran, surat keluarga dan lain-lainnya yang harus dipersiapkan untuk nanti akan di serahkan kepada keagenan Travel yang sudah Aji tunjuk.


Dari Surat-surat yang di periksa nya untuk saatnya nanti di serahkan, tidak ada data yang tertulis disana berbeda, seperti penyebutan tempat dan tanggal lahir, juga nama yang bersangkutan.baik yang tertulis di Akle Kelahiran dan semua Ijazah yang dimilikinya.


" Melindari." Aji mengeja nama yang tertera pada KTP yang sedang di pegangnya.


" Ya., bang, tapi aku lebih suka di panggil dengan nama kecilku saja, Melin, ketimbang Dari" Ujarnya


Rencana mulanya dia belum mau memberitahukan jati dirinya kepada Aji, namun mengingat waktu yang lelaki itu katakan sangat mepet.


Diapun tidak ada sedikitpun untuk mempersulit urusan bagi lelaki yang di akuinya masih sebagai seorang pria yang dia kagumi.


Kalau tertunda satu hari saja, apalagi kalau sampai dua hari, kemungkinan besar dia akan berangkat lebih dahulu dan sendirian, bisa jadi Melin yang nanti menyusul kemudian.


" Please dong Melin..!" Pintanya penuh harap.


Beruntungnya Melindari masih menyimpan beberapa lembar soft Copy dari surat-surat pentingnya yang masih tersisa, waktu mengajukan lamaran untuk bekerja kepada Dokter Wahyu Teja Diningrat di klinik yang bernama Guna Bakti di Pulau Mas Jakarta Timur.


Yang Aji sebutkan Persiapan, justru bagi Melindari tidak cukup hanya surat-surat yang Aji pinta saja.


Akan tetapi, ada yang lebih memerlukan pemikiran ekstra, yaitu Dokter Teja, mengijinkannya untuk dia mengambil cuti awal, dengan satu syarat yang tidak bisa dia bantah, yaitu dia harus mencari pengganti dirinya selama nanti tidak masuk bekerja.


Yang dirasakan olehnya tidak mudah, asisten Dokter yang menggantikannya harus berijazah dan berpengalaman bekerja tidak kurang dari pengalaman kerja yang dimilikinya.


Dia tidak langsung mengatakan kepada sang Dokter bahwa syarat itu berat. tapi dia lebih yakin akan ucapan Lelaki yang sekarang menawarkan kepadanya untuk pergi ke Brazil.


" Susan....., kalau kau satu saat nanti pergi ke sana ( Brazil ) bukan untuk urusan pusar ke bawah.....dst ..dst..


Sebuah negri yang hanya ada di dalam angannya. Bermimpi saja dia tidak berani untuk dia menginjak Tanah Negri Samba. Tempat pemain Sepak bola idolanya.


Tapi ... Mimpi itu akan menjadi kenyataan.. Apakah ini sebuah anugerah darimu ya Tuhan?! .. Melinda kembali merenungkan..., yang mustahil bagi Manusia... Bagi Yang maha menciptakan Dunia beserta seluruh isinya...Bukan lah hal yang Mustahil.


Butiran air bening dan hangat... Bergulir membasahi pipinya.... Melindari yang bagi lelaki di hadapannya bukan Wanita yang pernah menyandang nama Susan, wanita yang tidak memiliki Tahi Lalat di bawah mata kirinya.

__ADS_1


" Kau menangis Melin....?" Tanya Aji....


__ADS_2