Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Fatamorgana "


__ADS_3

Bab 1


Sifat dan adat yang turun temurun dari kakek buyutnya hingga entah keturunan yang ke berapa yang hidup di abad medsos ini berlangsung, mereka bersikukuh mewarisi dan menyandang budaya leluhurnya dengan begitu kuat.


Dimasa Banten belum menjadi Propinsi, Kabupaten Lebak alias Rangkas Bitung, Pandeglang dan Serang.


Tiga kota itulah yang menyandang sebutan Banten. karena kala itu Tangerang belum terhitung masuk Banten.


Penduduknya pun bisa di sebut sudah selangkah lebih maju kebudayaan nya, dari pada umumnya penduduk di tiga kota yang tadi di sebutkan.


Bisa jadi juga, di sebabkan karena letaknya yang berdekatan dengan Jakarta.


Orang yang datang dari tiga kota tadi, identik dengan pemegang atribut Jawara.


Image semacam itu pun, sudah lama terkikis oleh budaya kekinian, dimana generasi penerus sudah kurang animo terhadap apa yang disebut ilmu kedigjayaan, alih-alih belajar menekuninya, memperbincangkannya saja sudah tidak ada minat.


Itulah sebabnya di hampir setiap ada keributan yang di sebabkan oleh anak muda, hampir bisa di pastikan korban yang di temukan dengan kondisi memprihatinkan di akibatkan oleh tindakan Pengeroyokan.


Sudah tidak ada lagi sifat kesatria pada diri anak muda didalam menghadapi sebuah persoalan pribadi, yang seyogianya di selesaikan secara pribadi pula.


Istilah jawara itu. Di sematkan bukan oleh sang Jawara itu sendiri terhadap dirinya, namun dengan sendirinya seorang calon Jawara atau lebih dekat dengan kuping orang Banten adalah Jaro.


Dan di antara sesama para Jaro, mereka saling menghargai satu sama yang lainnya.


Konon yang bisa di katakan populer di Antero Banten, dan menyandang Sebutan Jaro di sana.


Yaitu Jaro Karis, Jaro Pelen, Jaro Tubagus Gelar dari Cimanuk. Tempatnya ibu Sarinah, konon beliau buyutnya Aji dari garis keturunan ayah,.


Jaro Ahyar kakek Fitrie dari garis keturunan Kyai Sahamah, hidupnya satu generasi di bawah Tubagus Gelar dari Cimanuk. Dan banyak lagi yang lainnya.


Seorang Jaro bisa dipastikan dia adalah seorang yang menduduki jabatan kepala Desa, atau istilah lain nya dan populer di sana dengan sebutan Kepala Dusun.


Ketika pencalonan kursi Kepala Desa, syarat mutlak disamping dasar pendidikan, ilmu Agamanya harus memadai, minimal setaraf kedudukannya dengan ilmu kedigjayaan nya, yang tidak mustahil manakala seorang calon Kades yang di belakang hari terpilih melalui jalur yang benar, untuk kemudian resmi duduk sebagai pejabat


Ternyata ada seseorang yang diam-diam berambisi untuk jabatan tersebut, namun yg bersangkutan dianggap tidak memenuhi persyaratan maju sebagai calon, dari satu bidang saja dia tidak menguasai, yaitu bidang Agama. Yg tidak bisa membaca kitab suci Alqur'an nul karim dalam kriteria yang minim sekalipun misalnya, alias jeblok istilah kasarnya.


Orang tersebut kecewa, merasa iri dan sakit hati, dengan sebuah alasan yang masuk akal, yaitu turut bersuka cita atas terpilihnya pejabat Lurah yang baru, belum lagi seminggu seusai pelantikan, Lurah tersebut di beritakan meninggal Dunia.

__ADS_1


Penyebab kasat mata kematiannya adalah, di karenakan, Sang Lurah menghadiri undangan perayaan untuknya, dari si calon Lurah gagal.


Di tempat tinggal nya, dengan biaya yang tidak sedikit, juga itu ditanggungnya


Ketika dalam acara yang lumayan meriah, hingga tiba pada acara ramah tamah tuan rumah dengan sang Lurah.


Sang Lurah.pun merasa bangga mendapat kehormatan dari warganya, dalam kesempatan menikmati kopi khas Banten dengan beberapa macam hidangan Kudapan khusus ala Banten.pula, di barengi oleh kopi yang masih mengepulkan asap dengan aroma khasnya yang mengundang selera.


Namun ketika gelas kopi itu dipegang oleh sang Lurah, terasa oleh Indra raba kulit telapak tangannya, gelas itu dingin.


Kejanggalan itu sudah pasti hanya beliau seorang yang mengetahuinya, bilamana kopi itu tidak jadi di minumnya, itu akan jadi masalah yang serius dan berita santer akan merebak ke seluruh pelosok Desa bahkan hingga tingkat kecamatan. bahwa ;


Pemimpin Desa periode ini adalah seorang Cawene ( istilah sebutan bagi pria yang ke wanita-wanitaan ).


Hal tersebut terlihat sepele, namun akan berakibat rasa hormat masyarakat terhadap pejabat Lurah semacam itu akan luntur, tidak ada lagi martabat dan kewibawaan nya seorang kepala Desa.


Tidak akan ada lagi bahkan dianggap tidak ada pada sosok Seorang kepala Desa yang Cawene berupa ; Tiga Sima yang disematkan oleh masyarakat pada dirinya, yaitu " Sima Syarat, Sima Sorot, dan terakhir yaitu Sima Sirit".


Masyarakat akan melecehkan kepada pemimpinnya yang hanya bermodalkan Sima Sirit semata. ( bahasa Banten Sirit \= Alat reproduksi kaum Adam ).


* Sima Sorot adalah : Aura kewibawaan karena kedigjayaan.


" Nah , sengaja hal ini Emah ceritakan kepadamu Aji, tidak lain agar supaya kau lebih berhati-hati. dengan terus berdzikir kepada yang maha Kuasa.


Terutama jangan pernah lupa untuk tidak memakai alas kaki, yang biasa di jumpai ada di mesjid-mesjid untuk jamaah mengambil air wudhu.


Satu saat engkau bertamu di Pandeglang dan sekitarnya, tidak mustahil orang-orangnya Aceng Koswara mengincar kelengahan mu." Tutur Emah.


" Apa maksud Emah lengah dan apa hubungannya dengan sandal di mesjid?" Sambut Aji tidak mengerti.


" Di sandal mesjid yang engkau pakai, disana akan tertinggal bekas telapak kakimu.


Hanya cukup dengan menandai di sandal yang bekas engkau pakai, berupa Tapak Jalak ( Tanda Silang ) dan di beri nya Cengek ( bahasa Banten \= Cabe rawit ) pada lima titik tapak jalak itu, dan di bacakannya Peperenian ( bacaan semacam jampi-jampi serupa mantera ).


Seusai di bacakan amalan itu, di simpannya sandal tersebut di satu tempat, selama Rawit Itu masih terletak sempurna pada posisi semula saat di bacakan mantera.


Selama itu.pula orang yang di tuju akan merasakan mulas di perut yang hebat dengan terus menerus. Dan Sakit Itu bukan Dokter yang mengobati.

__ADS_1


Terkecuali Sandal tersebut ada orang yang menemukan, untuk di pakai mengambil wudhu, atau ada binatang seperti Kucing atau Tikus, menyenggol nya dan rawit tersebut tidak utuh lagi Formasinya. Maka serta Merta, sasaran pun Auto akan sembuh seketika itu juga.


" Oo Begitu ya Mah..koq Emah bisa tahu sejauh itu ?... Lantas buyut Tubagus Gelar pernah kah beliau mengalami peristiwa seperti almarhum Lurah yang meninggal baru seminggu di lantik ?!". Sergah Aji Kepo.


" Ya mengalami, tapi Buyutmu bukan hanya digjaya di sisi ilmu ke jawaraan saja, beliau juga Hafal Al-qur'an 30 Juz. Dan mengamalkan isi kitab yang di hafal nya dalam hidup kesehariannya.


" Kalau mengalami seperti peristiwa pada pak Lurah yang Naas itu, kenapa Buyutku saat itu masih hidup dan konon menjabat hingga dua periode sebagai Lurah, Mah ?" kejar Aji penuh keinginan untuk tahu lebih banyak lagi.


" Buyutmu saat memegang gelas Maut yang berisi kopi khas Banten yang senantiasa dipergunakan sebagai sarana yang ampuh penghantar jampi-jampi Teluh itu. Dalam genggamannya, gelas itu pecah dengan proses bertahap, mulanya gelas yang dalam genggamannya retak, padahal Buyutmu memegang kupingnya pada gelas yang berkuping itu.


Buyutmu, yang tidak hanya makan dan tidur semasa mudanya tinggal di Pesantren. Di Cimande Kebon Jeruk Hilir, juga di Garut, belum di Jampang kulon. Kalau di Banten sendiri sampai ke Cikeusik dan daerah ujung kulon, telah di sisirnya.


Buyutmu memang menjadi seorang Musafir ke berbagai daerah untuk mencari ilmu Dunia dan Akhirat, Aji....! Papar Emah. Yang tahu riwayat cikal bakal kelurga suaminya. Dari penuturan suaminya, yaitu ayahnya Aji.


...ΩΩΩΩΩ...


Penuturan Emah yang seakan terdengar di luar nalar,


namun membuat Fitrie terperangah dan sebetulnya belum ingin Emah mengakhiri ceritanya.


Sekonyong-konyong, seakan baru sadar dari keterlenaan akan penuturan silsilah penduduk Banten terdahulu.


Yang di sebut Lelaki, dikala itu, bukan seperti kaleng Kerupuk, pantas kalau Banten di kenal akan kejadian demi kejadian yang seperti berada di negri antah berantah.


Negri nya Aladin tinggal, dengan mantera yang dibacakannya " Sesame! Buka Pintu !" ketika akan memasuki Gua tempat penyamun menyimpan banyak harta hasil merampok, dan di timbun nya di dalam sebuah gua.


Sampai di sini, kelihatannya Fitrie mulai percaya, dan timbul dengan sendirinya mulai dari pikirannya untuk menepis rumor yang sedang beredar santer selama dia tidak lagi bertemu muka dengan Aji.


Selain malam kemarin dengan membawa seorang wanita bernama Shinta kerumahnya.


Rumor miring yang singgah ke pendengarannya cukup santer, di kalangan kawula muda sebayanya, baik itu di komunitas pengajian anak remaja, tempat nya beraktivitas, maupun di lingkungan keluarga sendiri dan juga para tetangga.


Kuping ini seperti pekak menampung berita yang dia sendiri belum berani memastikan bahwa itu adalah benar.


Jujur untuk menilai Aji, bila dengan dasar rasa suka, maka hasilnya sudah bisa ditebak adalah Subyektif. Namun pepatah berkata " Cikaracak ninggang Batu laun-laun jadi legok" ( air menetas berkelanjutan menimpa batu, perlahan-lahan, batu pun akan berlogak)


Sempat Kepercayaan dirinya terhadap Aji, goyah. Kalau saja hari ini dia tidak bertemu dan mendengar penuturan langsung dari yang bersangkutan, entahlah, mungkin istilah " You and me,.. End !!" akan di berlakukannya, sembari telapak tangannya di kibaskan ke tenggorokan seperti gerakan memotong leher, dengan lidah di julukan keluar.

__ADS_1


__ADS_2