Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Trauma masa lalu "


__ADS_3

Bab 1


Para Alumni Sanggar White Horse, demikian Meyriska menyebut mereka yang telah keluar dari tempat di bawah pengawasannya dengan berbagai alasan mereka masing-masing


Namun begitulah dinamika Kehidupan sebagaimana kehadiran bayi yang lahir, disambut dengan penuh sukacita.


Sementara, di lain tempat dan di waktu yang hampir bersamaan, atau mungkin bersamaan. Ada tangis pilu di karenakan sedang kehilangan atas kepergian sanak keluarga, untuk selamanya.


Meyriska dalam menyikapi kejadian anak asuhnya yang dengan berbagai macam versi, ada yang pergi tanpa pesan, tapi itupun hanya pernah terjadi satu kali saja selama dia menggeluti bidang yang di istilahkan nya, " Bisnis Kesenangan luar dalam ".


Yang pergi dan yang datang, bagai penyeimbang timbangan perjalanan Hidup anak cucu Adam AS. Hingga ke buyut cicit bahkan entah apalagi sebutannya bagi manusia yang saat ini se usia Meyriska.


Seperti yang sedang berlangsung saat itu, di sebuah ruangan khususnya. Meyriska sedang melakukan siklus kehidupan dalam menjalani, menerima kedatangan sang pengganti bagi mereka yang telah pergi dan berkata : " Selamat tinggal White Horse "


" Liza, kamu duduk dulu, yang santai saja ya mbak !" Ujar Meyriska dengan kelembutannya yang pastinya memukau.


" Ya Mie." Jawab LIza singkat


" Santai ya.., sandarkan punggungmu ke kursi yang sedang kamu duduki, lantas tanganmu yang mana saja sesukamu, angkat dan luruskan kearah depan sejajar bahumu." Anjur Meyriska yang di ikuti oleh Liza, di lakukannya anjuran Meyriska tanpa beban.


" Ya ..sudah Mie.."


" Anak Pintar, wow !, ternyata kamu pilih tangan yang sebelah kanan ? berarti kamu biasa mendahulukan bagian kanan, kebiasaan yang bagus itu Liza.!


Nah.... Sekarang, pejamkan kedua matamu dan kosongkan pikiranmu dari segala masalah, kalau ada.


Tujukan pikiranmu hanya kepada apa yang sedang dalam genggaman jemarimu.


Mulai pegang oleh kelima jemarimu siku pada tangan kananmu itu, lantas remas-remas dengan perlahan. Ayo mulai...!" Anjur Meyriska.


Tanpa membantah atau bertanya, Liza dengan patuh melaksanakan anjuran yang lebih pas kalau di sebut itu Perintah nya Meyriska.


Hanya berlangsung beberapa detik saja, seperti yang telah diperkirakan nya, " Apa sih maksudnya Mamie," seakan luapan ketidakmengertian akan yang dia perbuat, itupun Liza lakukan dengan rasa bingung bercampur sungkan kepada Meyriska.


Meyriska bukannya menanggapi dengan sikap tidak senang apalagi marah, justru malah kebalikannya, dia menyambutnya dengan tersenyum ramah, malah teramat ramah.


" Liza, Mamie tidak akan banyak bertanya lebih jauh kepada kamu, kamu Mamie nyatakan Lulus dalam uji kejujuran dan pembuktian siapa diri kamu, sekarang kamu boleh keluar dan suruh masuk Lucy atau Onah, yang mana saja yang duluan, suka-suka mereka." Pungkas Meyriska kepada Liza, sesaat kemudian


" Maaf Mie, aku yang duluan Onah masih V-call dengan keluarganya di kampung" Papar Lucy, yang serta Merta masuk keruangan tempat tadi Adiknya di wawancara, " Koq begitu cepat apa yang telah di tanyakan oleh si Mamie kepada adikku ya ?" Batin Lucy.

__ADS_1


" Lucy berapa tahun usiamu sampai dengan hari ini,? Tanya Meyriska membuka percakapan.


" Aku Harinini 27 Tahun 2 Bulan Mie.!" Jawabnya lantang, tanpa ada mimik sungkan atau takut di wajahnya.


" Owh ... 27 Tahun ya... sudah pernah bekerja? Dan dimana ." sambil bertanya, matanya melihat dengan penuh ketelitian, data pribadi Lucy di selembar kertas yang dalam genggamannya.


Percakapan mereka berdua lumayan panjang dan menyita waktu, sehingga tiba waktu yang Meyriska sudah tidak sabar menunggunya.


Seperti yang dilakukan kepada Liza, demikian pula di perbuat nya hal itu kepada Lucy, untuk hal yang telah Liza tanggapi, Lucy pun berbuat yang sama seperti yang adiknya lakukan.


namun...dengan kondisi matanya masih terpejam, dia tersenyum-senyum sendiri, sesaat kemudian sembari tertawa dia menanggapinya, " Ah.., Mamie ada-ada aja iyyh Mamie...Mamie ha...,ha...,ha!" dia akhir dengan spontan bangkit dari posisi tidurnya Sambil mencubit lengan Meyriska, membuat Meyriska kaget, berakhir dengan derai tawanya hingga terbahak-bahak.


Entah apa yang ada di dalam benak sang Mamie yang sudah berpengalaman dalam melihat dan menilai khususnya kaumnya sendiri, yang datang kepadanya dengan berbagai kondisinya.


Khusus untuk Lucy.. terdengar suara Meyriska lirih


" Anak ini sudah Hafal ", dengan senyum sekilasnya.


Tanpa bisa Lucy untuk menebaknya, dan apakah hasilnya nanti..akankah dirinya oleh Meyriska diperkenankan untuk bergabung membantu membuat Sanggar White Horse lebih semarak, dengan kedatangan Orang Baru.?, yakni dirinya dengan Onah berdua, karena konon untuk Liza kemungkinan akan di beri tugas di bagian Dapur." seperti itu pertanyaan Lucy di benaknya.


Jam terbang mu sudah kau tunjukkan kepadaku Lucy, mau ngomong apalagi engkau!, tinggal satu lagi yang masih teka-teki, dan asset ku yang pasti dua orang ini. Biarlah Liza bagian mengurus Rumah, sebagai assisten dari mbok Yem. Menggantikan si Ontohod " Meri ", dari namanya saja sudah gak cocok bekerja sebagai ART di tanah air.. Cocoknya di LN, itu buktinya, hanya Dua Bulan bekerja sudah minta naik Gaji....heuh...!" Gerutu Meyriska kesal.


Memang semula Meri tidak tahu kegiatan apa yang di geluti Meyriska yang dalam penglihatannya Tetangganya itu, di Jakarta telah sukses dan hidup berkecukupan walau tidak terlihat berlebihan.


Itulah yang membuatnya tertarik untuk menimba ilmu di rantau di tempat tinggal Meyriska di Ibukota Indonesia, Jakarta.


Berakhirnya hubungan kerja antara Meri dan Meyriska dengan kesan yang baik, karena Meyriska sudah dikenal dan terbukti, kebaikannya dalam sikap maupun tutur katanya, mungkin sulit mencari orang yang pernah hatinya tersakiti olehnya.


Disini tidak di kisahkan bagaimana proses yang di katakan Evaluasi akhir terhadap wanita bernama Onah menurut cara Meyriska.


Meyriska bukan wanita sekejam Harimau yang sedang lapar atau singa yang sudah beberapa hari tidak bertemu mangsa, namun dia seorang Mucikari yang masih mempunyai Nurani dan Etika juga budaya Timur yang tercermin dari perilaku dan tindak-tanduk kesehariannya.


Bagaimana nasib kelanjutan dari tiga wanita itu, tidak dituturkan dalam episode ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩ...


Kembali ke Aji yang merencanakan akan bepergian ke daerah Banten demi menemui pujaan Hatinya, Fitrie.


Hari hampir menjelang senja,dengan tergopoh, Aji menghantarkan Melindari pulang kerumahnya dan memberitahukan Haruki, bahwa dirinya masih memerlukan kendaraan yang di pinjamkan kepada nya untuk sekarang akan dia pakai ke Banten.

__ADS_1


Tidak dikisahkan bagaimana kondisi dan situasi Aji di sepanjang perjalanannya.


Singkat cerita dia telah tiba dengan selamat sampai di tempat tujuannya, dan dapat berjumpa langsung dengan Fitrie.


Seperti biasanya setiap tiba disana, tidak lain yang Fitrie tanyakan kepadanya, berkisar seputar, Apa Khabar, jam berapa berangkat dari Jakarta, kepada saja selama di Jakarta dan basa- basi lainnya yang hampir serupa, yang terakhir ditanyakan oleh Fitrie.


Tentang shalat Maghrib nya Aji, karena waktu kedatangannya kesana setelah Maghrib berlalu, dan sekarang, sudah hampir mendekati waktu Shalat Isya.


"Aku melaksanakan shalat Maghrib di Kilometer 5 di daerah Baros, karena kumandang Adzan Maghrib nya percis disana." Papar Aji, bahkan tidak lupa juga disampaikannya tentang dia telah melaksanakan shalat Jamak Takzim Isya yang sekalian di Qashar.


Tidak dengan maksud untuk mendapat pujian, namun, Fitrie menanggapinya dengan senyum.


Tidak lama berselang, masuklah ke ruangan itu seorang wanita sebaya dengan Maemunah yang Aji telah ketahui yang tidak lain dari Saudara kembar dari Maemunah, bernama Maemanah.


Ketika Aji menyapanya, wanita belia itu menanggapinya dengan wajah yang kurang bersahabat, tidak lama kemudian wanita belia itu berlalu, menghilang di balik tembok pemisah ruangan.


Untuk kedua kalinya Maemanah kembali datang, kali ini dengan menyajikan kudapan yang disuguhkan kepada Aji, dengan meletakkannya di atas meja di hadapannya.


Untuk yang kali ini, Aji menyapanya. Namun walau menjawab, Maemanah memperlihatkan mimik wajah yang tidak bersahabat. yang lebih parah lagi dia memalingkan wajahnya dari tatapan Aji.


Ini membuatnya bertanya walau masih sebatas di dalam Hati.


" Ada apa ya.? Apa ada yang salah dengan kedatanganku yang kali ini kerumah ini ?!" Batinnya.


Walau sikap seperti itu bukan dari Tuan Rumah yang lebih berhak atas tempat tinggal yang sedang di sambanginya.


" Kenapa anak gadis tersebut bersikap seperti tadi kepadanya?"


Memang bisa saja di abaikan, toh dia hanya seorang anak kecil, yang barangkali sedang mempunyai masalah besar. Hiburnya di tujukan kepada dirinya sendiri.


Selang beberapa saat kemudian, muncullah Fitrie dengan mengucapkan uluk salam kepada Aji. Yang sudah lumayan lama berselang waktu.


Fitrie yang kali ini keluar lagi setelah tadi masuk ke ruangan dalam rumah untuk tidak kurang dari Lima Menit, yang konon untuk sebuah keperluan. mendadak.


Sontak memperlihatkan mimik wajah yang tidak jauh berbeda dengan roman Wajah yang tadi ditunjukkan Maemanah kepadanya.


Aji ingin mengklarifikasi suasana yang tidak nyaman ini, tetapi dari mana dia harus memulainya? Batinnya.


"

__ADS_1


__ADS_2