Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Nyaris "


__ADS_3

Bab 1


Setibanya di Rumah Anggie, kakak perempuannya yang cukup dekat hubungan emosional dengannya.


di dapatinya lampu ruang tamu di rumah itu terlihat olehnya masih hidup dengan sinarnya yang terang, pertanda penghuninya belum pergi ke peraduan.


Dia tahu kebiasaan kakaknya sekeluarga, setiap malam menjelang waktu untuk tidur telah tiba, hampir seluruh lampu yang menurut penilaian mereka tidak perlu untuk tetap menyala, mereka matikan.


Kelopak matanya sudah terasa seperti ada pasir yang mengganjal, sejak masih di rumah Haruki, tapi dia berusaha untuk tidak terlihat oleh Melindari dengan cara menahan rasa kantuknya.


Ketika putus harapannya akan Haruki yang segera pulang, hingga Adzan panggilan shalat isya telah terdengar di mesjid-mesjid terdekat tapi yang ditunggunya tidak kunjung datang.


Andaikan Haruki datang tadi, saat dia masih di sana.


Tidak perlu dia menginap, paling sedikit dia hanya numpang tempat sekadar untuk memejamkan matanya tiga puluh menit saja, sudah lebih dari cukup untuk menghalau rasa kantuk yang hampir tidak bisa di tahannya itu.


Dengan mengambil air wudhu, dan dilanjutkannya shalat Isya berjamaah bersama kedua wanita yang ada di rumah itu, terasa sedikit berkurang rasa kantuk yang tadinya begitu hebat menyerangnya, hingga dia merasa tidak yakin untuk bisa pulang dengan mengemudikan mobil.


Tidak ingin rasa kantuknya datang lagi, mumpung kondisi terasa olehnya yakin bisa, maka diapun.


menyegerakan untuk pergi, lantas diapun berangkat.


Rasa syukur yang tidak terkira, dia telah sampai ke tempat tujuan dengan selamat, sebagaimana niat semula di tengah perjalanan tadi, dia merencanakan, begitu tiba, mau langsung tancap Tidur.


Setelah mobilnya dia masukkan ke halaman rumah, dan di parkirkan ditempat yang terlindungi oleh atap Kanopi, bebas dari curahan air hujan, di musim penghujan seperti saat ini..


Dengan langkah gontai dia dekati pintu masuk utama di rumah itu, lalu dipijtnya Bell yang terdapat di kusen pintu masuk yang kemudian terdengar suara Bell yang bunyinya Uluk Salam.


" Wa Alaikum salam." Jawab seseorang dari arah dalam rumah, terdengar langkah seseorang mendekati pintu dan di susul oleh suara anak kunci diputar, " Klik " jelas dan bening suaranya.


" Oh ..Kau rupanya Ji..!" Sahut orang tersebut yang tidak lain dari Anggie. Si empunya rumah. Kakak perempuannya.


" Ya ., aku kak ." jawabnya singkat.


Anggie tidak ingin banyak bertanya kepada adiknya, yang terlihat kondisinya kusut seperti yang di lihatnya tatapan mata adiknya yang tidak Fokus.


" Aji, Kakak sarankan tidak perlu kau ngomong apapun, Kakak kasih unjuk untuk kau ya Ji...! letak kamarmu, dari sini kau jalan lurus 8 meter ke arah belakang rumah, lantas disana kau belok ke kiri." ujar Anggie memberi tahu dengan isyarat telapak tangannya, bergaya seorang Pramugari saat memandu penumpang pesawat yang di awaki nya.


" Uffhh...Kak Anggie, emangnya aku sedang mabuk? Itu kan kamar WC." Tukas Aji, sambil tersenyum kecut, senyumnya seorang yang menahan kantuk berat.


" Owh.., Kakak kira kau sudah benar-benar kolaps Ji, ternyata belum ya?"


" Maafin aku ya kak, memang aku ngantuk, tapi masih hafal letak ruangan- ruangan di rumah ini, aku mau langsung bobok saja ya kak ?" Ujarnya.

__ADS_1


" Ya sudah Bobok sana !, jangan lupa baca Do'a boboknya, sudah cuci kaki belum.? Ujar Anggie yang sengaja melucu.


Terlalu berat kantuk yang dirasakannya kali ini, sehingga tidak seperti biasanya setiap dia datang dari bepergian, bisa di pastikan, ada sedikit cerita untuk kakaknya, sebagai oleh-oleh.


Melihat kondisi Adiknya seperti itu Anggie memakluminya, karena dia tahu dan hafal seperti apa perilaku adiknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩ...


Kegiatan Rutin yang biasa di lakukan Aji sudah tidak menjadi hal yang aneh bagi keluarga Anggie, sebelum waktu shalat Subuh tiba, bisa dipastikan dia sudah tidak ada di rumah.


Kemana lagi kalau bukan ke Mesjid yang terdekat, untuk melakukan Itikaf dan melaksanakan tugasnya sebagai salah satu dari beberapa pemuda mesjid yang berperan sebagai Muadzin.


Tidak lama berselang, terdengar suara merdunya berkumandang ke seantero lingkungan perumahan, lantunan adzan menyerupai suara adzan yang di lantunkan oleh Muadzin di Mesjid Nabawi Madinah.


" Melanie., tebak suara siapa nih yang lagi Adzan di mesjid " AT- TAUHID" ini.. ?!" ucap seorang cewek ABG di salah satu tempat kumpul anak-anak muda di daerah itu.


" Kalau dengar suaranya sih, bikin Melow ya?! Loh tahu Azza sih Icha? jangan-jangan loh tuh udah lama mengamati, wey... Teman-teman sekalian, ada salah satu dari kita sedang ngeceng, dan mulai menelusuri dari mana dan pemilik suara itu siapa yaaaa?!" ujar cewek yang sedikit Tomboy gaya bahasanya juga cara berpakaiannya, dan di kenal dengan nama Eddow itu.


Entah nama tersebut pemberian dari kedua orang tuanya, atau kah julukan dari lingkungan tempatnya yang sekarang sedang kumpul-kumpul.


" Eiiit.... Dow., gua lihat lengan kiri loh ada gambar,? Noh...di atas siku kiri!" sahut Windy anak cewek sesama anggota geng.


" Wadduh jadi ketahuan nih " Tukas Eddow yang mencoba berkelit dengan menutup kembali lengan kaus tangan pendek yang dikenakannya, tadi sempat tersingkap.


" Kasih lihat kita dong Ed..! Gambar apaan tuh?" sahut Intan anggota Geng yang dikenal paling pendiam, oleh rasa penasarannya, terpancing juga dia untuk berkomentar.


Di gosokkan nya kertas tissue basah itu ke gambar yang mereka kira dari hasil seni Tatto dengan sedikit ditekan, sekali dan keduakalinya terlihat campuran tinta berwarna mulai memudar sebagian meleleh melalui siku lengannya.


Ternyata Tinta itu semacam pewarna spidol yang bisa di hapus dengan aseton atau cukup hanya dengan sabun detergen saja sudah bisa hilang.


Lukisan gambar itu bukan ditanamkan ke balik kulit sebagaimana yang asli di sebut Tatto.


" Tapi jangan salah ya kawan. Bayaran untuk bikin gambar tidak permanen ini lebih mahal dari yang permanen, Luh pasti gak paham, ya kan?" Papar Eddow kepada teman-temannya.


" Wooow....Amazing


" Kalau gambar Sinchan gimana kita gak akan ketawa Dow?! lagian bikin kotor tangan loh yang molig ( baca : Moleh ) itu aja." komentar Windy lagi.


" Semua yang Luh pada omongin benar, tapi gua juga kan ikut apa yang ustadz Tausiyah kan, badan keseluruhan ini milik Allah SWT, kita cuma di pinjemin doang, mana ada hak gua buat coret-coret nih badan, nih Luh pada lihat dekat kesini.


Setelah teman-temannya mendekat dan memperhatikan dengan cermat, ternyata benar apa yang Eddow katakan, gambar yang semula mereka sangka itu hasil Tatto adalah keliru. sudah separuh dari gambar itu terhapus hanya oleh gosokan Tissue yang di basahi oleh Air.


...ΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di pagi hari yang cerah, langit pun berwarna Biru, sedikit awan tipis berarak menuju arah sesuai dengan hembusan kemana angin mengarah.


Aji bersiap-siap untuk pergi dengan tujuan ke Kantor Urusan Keimigrasian di Jakarta Utara.


Anggie menghampiri adiknya, dan...." Aji.., bagaimana dengan pembikinan Buku Pasport yang telah memakan waktu sehari penuh." Ucap Anggie.


" Alhamdulillah sudah kak, malah sudah bisa di ambil hasilnya hari ini." Timpal Aji.dan balik bertanya.


" Kakak kemarin juga kelihatannya sibuk mengurus sertifikat Pembikinan IMB ( Ijin Mendirikan Bangunan ) Rumah yang sekarang kakaknya tempati." Ujar Aji.


" Alhamdulillah Kakak pun sudah selesai, kemarin itu bukan yang pertamakali kakak mengurusnya, justru kemarin itu yang terakhir ." Ucapnya gembira.


" kau mau pergi sepagi ini, emangnya kau ngantor di sana, atau mau membuka pintu gerbang kantor itu Aji ?" Ujar Anggie serius.


" Nggak Kak, sengaja aku pergi agak pagi supaya bisa bertemu dengan Haruki." Timpalnya.


" Ya juga sih, belum lagi ngobrol kalian berdua." ucap Anggie lagi


" kelihatan nya untuk kali ini tidak akan terjadi ngobrol yang tak kunjung reda yang kakak suka tebak, itu." Tukas Aji.


Sejurus kemudian Aji sudah berangkat, setelah terlebih dahulu melakukan kebiasaan di waktu pagi diantaranya sarapan.


Singkat cerita dia telah tiba di tempat tujuannya yang pertama, yaitu tempat tinggal sang Sohib.


Dugaan Anggie, memang benar adanya dan terjadi.


Kalau kedua sahabat Aji dan Haruki bertemu, tidak ada ceritanya satu diantara mereka sampai kehabisan bahan untuk jadi objek cerita di antara mereka berdua.


Obrolan sudah terjadi, dengan dimulai dari haruki yang ingin mengetahui tentang rencana perjalanan yang akan mereka berdua, Aji dan Melindari tempuh tentunya.


Bukan hanya soal Tiket penerbangan saja, tapi perjalanan dari Airport di Rio De Janeiro menuju ke tempat Josette menunggu mereka.


Yang konon Resepsinya tidak di selenggarakan di Rio De Janeiro, tetapi di Santos. Perjalanan dari Airport kesana lumayan jauh.


Tidak cukup pertanyaan yang Haruki ajukan hanya sampai di soal Tiket saja, tapi sampai bagaimana mekanisme penjemputan bagi mereka berdua untuk sampai ke Santos nantinya.


Akan tetapi termasuk juga Akomodasi yang nanti akan mereka dapatkan, semacam sarana inap untuk mereka berdua selama di sana, yang menurut rencana, konon tidak akan kurang dari sepekan.


" Sepekan lho Ji..? Bukan waktu sebentar. Itu sudah ada jaminan kepastian kagak dari Josette ?!" Haruki mengakhiri omongannya, dan mengharapkan jawaban dari Aji.


Demi tuntasnya urusan antara Aji dengan Josette, di segi kelanjutan " Status" calon Bayi yang masih di dalam kandungannya, wajarlah kalau Josette akan berusaha sekuat kemampuannya untuk sesegera mungkin menghadirkan Aji di Brazil.


Brazil adalah termasuk salah satu negara di Amerika Latin yang dijadikan tempat banyak terjadi transaksi di antara dua Gang Mafia.

__ADS_1


Tidak hanya di dalam urusan obat terlarang seperti mariyuana dan daun ganja ataupun Morphin saja, tapi perdagangan wanita juga termasuk agenda mafia disana.


Oleh karena itu, wajar kalau Haruki mencemaskan Akan Melindari, karena dia kerabat dekatnya.


__ADS_2