
Bab 4
Badan yang terbujur kaku bagai jasad yang tak bernyawa. Padahal saat tragedi bagi Josette, yang di lakukan oleh lelaki yang terbujur kaku ini, saat itu begitu perkasanya dia melakukannya, walau Josette tahu itu di luar kehendaknya, di luar kendalinya.
Terbukti , usai kejadian tersebut wajah penuh sesal tercermin dari roman dan ekspresi nya melalui ekspresi roman wajah sesalnya yang tak terhingga, tangisnya pun meluap di sertai ucapan permintaan maaf, kalimat akhir yang terlontar dari lisannya,
" Bukan saja aku telah berbuat dosa terhadap Tuhan Ku., tetapi juga kepadamu Josette." Ucap Aji saat itu.
Dan saat ini ," Aji., aku ingin mendengar kembali kalimat yang engkau ucapkan saat itu ." dengan desah lirihnya. Josette , larut dalam keharuan, tanpa bisa di bendung, air matanya deras mengalir di kedua pipinya.
Tidak lama kemudian rombongan awak Kapal yang tadi bertemu di meeting room di kantor Don Bosco tiba di sana. Namun oleh pihak RSU, mereka hanya di ijinkan untuk melihat Aji melalui kaca isolasi, bagi mereka sudah cukup puas masih mendapat izin , untuk bisa melihat bagaimana kondisi Aji terkini.
Don Bosco menghubungi Josette melalui telepon genggam nya, mengucapkan ikut prihatin dengan kondisi Aji, walau dia belum kenal apalagi bertemu muka, hanya dengan melihat sikap Josette, dia maklum bagaimana perasaan anak gadis itu sebenarnya
Pendapat yang lebih mirip diskusi, telah berhasil tercapai seperti apa yang diharapkannya, karena dengan tidak melanjutkan masalah ini, buka saja Josette pribadi yang merasa di untungkan, Kapten Bossman pun merasa lega, karenanya.
Pertama, fihak management di kantor pusat cukup memberi perhatian yang positif dengan ikut andil menyediakan sejumlah dana yang di pinta berupa tuntutan, kalau tidak terpenuhi, konon hampir saja masuk ke dalam proses Pengadilan, namun atas kesadaran semua fihak, tuntutan itu di cabut oleh Josette melalui kuasa hukum yang ditunjuknya. Tanpa kehilangan jumlah finansial yang akan dia peroleh nya, sesuai dengan jumlah yang dia tuntut.
Yang kedua, Sang Kapten Kapal, Bossman Van Dijk juga yang akan menggunakan waktu cutinya yang istimewa kali ini, sesuai dengan rencana keluarga, merayakan pesta besar pernikahan putri tunggalnya, yang telah dipersiapkan dengan pembayaran dimuka kepada semua panitia yang ikut terlibat dalam pesta pernikahan putrinya ini, sudah tunai.
Berapa akan sangat kecewanya seluruh keluarga nya di Belanda, bilamana dalam kasus yang hampir menjeratnya untuk tinggal lebih lama di tempat perkara kejadian, yang bisa dipastikan rencana pesta pernikahan akan mengalami kegagalan, paling tidak mengalami penundaan.
Jumlah yang telah di setujui oleh perusahaan, dan harus di bayarkan, dianggap masih jumlah yang rasional, tinggal bagaimana tehnis pembayarannya, itu nanti akan di bicarakan secara terperinci melalui kuasa hukumnya.
Don Bosco mengaku pantas untuk salut kepada seorang Nakhoda seperti Kapten Hendrik Bossman Van Dijk, walau tidak terucapkan oleh lisannya. Sangat pantas baginya walau di usia nya yang 70 tahun, tetapi sekaliber Pemilik FSO MT.Formosa, masih mengakuinya dengan masih mengaktifkan nya bekerja, bahkan belum lama ini dinobatkan sebagai Kapten senior dan teladan di perusahaan.
⚓⚓⚓
Kesepakatan telah terjadi bukan hanya di lisan, tapi sudah terealisasikan berupa MOU , cara pembayaran yang di sepakati kedua belah fihak, tidak kontan seketika, seperti pembayaran dalam sebuah transaksi dengan jumlah uang kecil, akan tetapi pembayaran tunai dalam Tiga tahap. mengingat jumlah yang tidak sedikit, kendati Kapten Hendrik katakan tuntutan yang masih di batas Rasional. Mungkin itu, alasan kenapa negoisasi ini selesai tanpa konfrontasi.
Sebagai seorang yang menjabat Kapten di sebuah maskapai pelayaran besar, dan management perusahaan pun mengakui loyalitas nya, atau bisa juga atas azas saling menguntungkan sedang berlaku. Karena Kapten Hendrik mengabdi sejak pemilik perusahaan angkutan Laut ini baru memulai membangun bisnisnya, bahkan saat itu, pemiliknya belum lama berimigrasi dari negerinya ke Amerika Serikat sebagai seorang Berkebangsaan Yahudi yang masih mencari mitra kerja.
__ADS_1
Don Bosco ingin menyampaikan berita baik ini kepada Josette, tetapi tidak sekarang ., akan dicarinya saat yang tepat, dia hafal karakter anak itu.
Begitu dia suka menyebut Josette , " anak itu ", saat ngobrol tentang Josette dengan istrinya.
Kondisi dan situasi di RSU tidak memungkinkan bagi Josette untuk berlama-lama di sana. Karena di sana ada seorang Dokter yang kenal baik dengan Alfonso, malah bisa disebut sahabat dekat, untuk tidak menimbulkan sebuah opini di kalangan Dokter disana.
Oleh karena alasan tersebut Josette segera beranjak untuk pulang menuju rumah kediaman Don Bosco, sengaja dia tidak memberi tahukan kedua orang tuanya bahwasanya dirinya masih berada disini. di Sebuah rumah yang tidak asing bagi keluarganya.
Dering telepon genggamnya berbunyi, diangkatnya dan dilihatnya siapa yang menghubunginya, dari seberang sana terdengar," Halo .. Jose, bagaimana Khabar di RSU ? sahut seseorang, dan lebih lanjut,
" Hampir setengah hari kau tidak ada kabar berita," yang ternyata itu suara Don Bosco.
" Baik-baik saja Om," ucap Josette.
" Lantas, kelanjutan si Aji, bagaimana.., apa ada kemajuan ." tanya Don terdengar cemas.
" Sorry Om, untuk saat ini aku sendiri, belum tahu pasti kondisinya seperti apa, nanti aku kasih Tahu Om bukankah kita akan bertemu ?"
" Oke Om, aku segera datang ," sampai di situ pembicaraan mereka. Telepon pun ditutupnya , kembali Josette mengendarai mobilnya , kali ini dia tidak ingin untuk terburu-buru pulang.
Ada berita dari tunangannya, bahwa dia sudah dua hari, pergi ke luar kota untuk urusan persiapan pesta pernikahannya.
Hubungan tetap terjaga diantara mereka, hingga hal tidak begitu penting pun, calon suaminya kabarkan juga sebaliknya, Josette pun selalu melakukan hal yang sama, tapi untuk masalah yang satu ini ?
Biarlah kalau perlu papi dan Mami pun jangan sampai tahu, biar Tuhan saja yang tahu.". gumam Josette.
" Yang sudah tahu, biarlah tahu, yang belum tidak usah tahu." lanjutnya masih di dalam hati.
Dengan fikiran menerawang entah kemana, tidak terasa dia sudah berada di depan rumah Don, Josette memarkirkan mobilnya seperti pertamakali dia datang kemari dua hari yang lalu. Memang Don sekeluarga bukan lagi orang lain baginya, itu yang dia rasakan.
Tanpa keraguan dia langsung masuk dan melihat berkeliling, yang ditemuinya hanya nyonya Don sedang sendirian, " Hi Tante?" sapa Josette.
__ADS_1
" Hi Jose, tadi Om mu pesan, kau jangan pergi kemana-mana, sebelum dia datang, katanya ada berita gembira buat kau Jose." ucap Margareth dengan wajah yang sumringah.
Josette menanggapinya dengan tersenyum simpul, sementara ingatannya yang masih ke Aji yang entah bagaimana kondisinya saat ini, semenjak dia tinggalkan tadi.
Senja pun tiba, seiring dengan kedatangan Don yang pulang dari kantor, mengambil rehat sejenak, dengan tidak sabar di kisahkan nya semua pembicaraan tadi pagi dengan Kapten Hendrik, hanya berselang beberapa menit kau pergi Jose, Kapten Hendrik menjabat tangan Om." Papar Don, dan lanjutnya lagi,
" Itu sebagai pernyataan tuntutan yang kau ajukan di setujui nya, tanpa harus melalui prosedur peradilan di kantor Pengadilan," pungkas Don., yang di sambut oleh pekik gembira ," YESS !" Josette tanpa bisa ditahannya.
" Selesai sudah masalah yang di kira akan memakan waktu yang panjang." pungkas Josette.
Josette penyampaian rasa terimakasihnya yang tak terhingga kepada Don sekeluarga. Dan diapun pamit untuk segera pergi ke Rio De Janeiro sebagaimana rencananya semula, demi untuk melanjutkan tugas kesarjanaannya yang tertunda.
Adapun mengenai Aji, petugas dari kantor keagenan di Santos, yang mewakili perusahaan tempatnya bekerja, siap mengurusnya.
Sedangkan mengenai info yang didapatnya dari team Medis RSU, Trauma yang dialaminya, tidak akan melebihi dari dua Hari, dan akan pulih seperti semula, hanya tidak di rekomendasikan untuk aktif bekerja paling cepat dua sampai tiga bulan, pasien untuk istirahat total.
Itu artinya, Aji harus resign demi kesehatannya.
Penyelesaian pembayaran yang dirinya Klaim ke awak Kapal FSO MT. FORMOSA sudah di kuasakan nya kepada Don Bosco Gonzales, Dia langkahkan kakinya, menaiki mobilnya untuk pergi meninggalkan
Santos, entah yang ke berapa kalinya dia kunjungi kota itu, tetapi baru kali ini Hatinya merasakan beragam macam perasaan , kenapa ? dia tidak tahu jawabannya.
Ada rasa kasihan, kagum dan kehilangan, meski cintanya hanya untuk Alfonso, walau tidak bisa dipungkiri perasaan kagumnya bukan tanpa sebab, ketika pria itu yang tidak memanfaatkan situasi di saat mendapatkan dirinya tergolek lesu, karena lelaki itu bukan niat berbuat, bahkan tidak ada niat Aji untuk menistakan nya...
Wahai engkau sahabat sejatiku, " Ingatlah daku selalu.., itulah harapanku, tetapi lupakanlah daku bila itu menjadi bebanmu ." Josette bisikkan kalimat itu melalui angin yang berhembus sepoi, untuk di sampaikan kepada Aji yang sedang berbaring, mungkin saatnya nanti dia pulang dengan penerbangan ke Indonesia, berarti tidak akan ada lagi saat untuk dirinya bertemu lagi.
Josette pun masuk ke mobilnya , dan dia lambaikan
tangan kepada Don dan keluarga yang menghantar nya hingga pintu gerbang rumah mereka. di pacunya kendaraannya untuk tujuan Rio De Janeiro.
Penulis cukupkan episode Farewell maybe forever hingga Bab ke 4. dan kita bertemu dan lanjut di episode berikutnya dengan judul " Transisi "
__ADS_1