
Bab 3
Bukan tanpa alasan kalau Josette yang senantiasa menyanjung Aji setinggi langit, fakta yang berkata bahwa dia memang pantas untuk di sebut lelaki sejati, Itu yang pertama.
Ada satu lagi fakta lainnya, Aji bukan sebangsa dan senegara dengannya.
Dalam sikap dan karakter, Alfonso lelaki idamannya bagai pinang di belah dua dengan Aji, tapi jikalau boleh diibaratkan mereka berdua adalah Rumput, maka akan berlaku peribahasa, ' Rumput tetangga terlihat lebih hijau'. Namun baginya Aji dengan Alfonso sama hijaunya.
Dengan penilaian yang Adil dan Jujur, pada saat tragedi yang menimpanya, dia tidak mendapatkan sensasi apapun yang di rasakan saat kejadian itu berlangsung, selain rasa sakit pada bagian Piranti lunaknya yang tidak pernah kedatangan satupun benda asing yang mengunjunginya, terlintas sekilas fikiran dalam bayangannya. Bagaimana seandainya kejadian tersebut pelakunya adalah Alfonso ?
tidak bisa di bandingkan untuk kejadian itu diantara keduanya laki-laki yang sama dan sebangun. Bukan dari fisik, tapi perilaku termasuk sikap dan tanggung jawab, cermin seorang lelaki yang membuat wanita siapapun dia, akan merasa aman dalam pelukannya.
Bukan merupakan sebuah rahasia lagi. Dari dahulu hingga era milenial, tidak sedikit laki-laki yang bersikap bagaikan Hero di hadapan pujaan hatinya, di saat memadu manisnya kasih. Tapi.., ketika khilaf menjadi sebab rontok dan gugurnya keteguhan iman yang dimiliki. Dan muncullah Aib yang tak dapat lagi bersembunyi maupun di sembunyikan.
Berujung, di serahkannya semua akibat buah perbuatan mereka berdua hanya kepada sang 'Dewi' yang dengan terpaksa menerima semua akibat, untuk di pikul sendiri.
Sedangkan sang ' Dewa ' yang dulu di puja dan di pujinya, kini terbang dengan sayap ' Pengecut nya '. Menghilang entah kemana, itulah kejamnya Dunia. ( demikian kata Pujangga ).
...ΩΩΩΩΩ...
" Aji, masih jauh kita ke tempat tujuan ," Shinta mengingatkan.
" Iya Teh, sebaiknya kita berangkat sekarang saja." Timpal Aji.
Dengan mempergunakan jasa Ojeg milik penduduk setempat yang kebetulan sedang beroperasi dan mangkal di sekitar tempat itu, mereka berdua berangkat dengan menyewa dua Ojek, ketika Shinta menyebutkan nama seseorang sebagai tujuan perjalanannya, kedua pengojek itu saling tatap satu sama lain. Tapi tanpa terucap kata sepatah pun dari keduanya.
Walau mereka tinggal di Desa, orang Desa, namun dalam bekerja, mereka teguh dalam menjaga kode etik profesionalnya. Mereka pun berangkat.
Tidak memakan waktu yang lama, mereka sudah tiba ke tempat tujuan, setelah selesai dengan pembayaran uang jasa ojeknya, mereka berdua bergegas memasuki halaman rumah yang pagarnya tidak di kunci.
__ADS_1
Dimasukinya halaman yang memberi kesan resik dengan rumput pendek terhampar bak permadani berwarna hijau, terdapat tanaman hias yang sedang berbuah. Seperti pohon Sirsak, Jambu Batu, dan pohon Pepaya Bonsai, dan banyak macam lagi
Sedangkan, ditengah hamparan rumput berwarna hijau itu, berdiri kokoh sebuah rumah model lama, dengan atap sirapnya.
Dindingnya dari bahan Bambu yang di anyam. Tiang utama maupun tiang penunjangnya, semua dari kayu yang di lapisi Vernis, di teras bagian bawah di tanam batu-batu yang sengaja di bentuk persegi empat dan di tanam setengah badan batu nya. Dengan jarak kira-kira lima sentimeter dari batu yang satu ke batu yang lainnya. Di fungsikan sebagai tempat berpijak.
Batu yang paling ujung tertanam di tanah yang letaknya percis di ujung teras untuk masuk ke pintu utama rumah tersebut. Penataan yang bukan tanpa pemikiran dan rancangan yang matang.
Sengaja sebagai jalan dengan menapaki batu itu bagi siapapun tamu yang berkunjung ke rumah itu.
Dengan melalui pagar hidup berupa tanaman perdu yang ditata bersusun, sehingga berbentuk pegar berlapis, dengan warna hijau yang merata.
Shinta dan Aji melangkah dengan melewati pagar hidup tadi, dan juga batu-batu pijakan hingga akhirnya sampai langkahnya ke teras rumah.
Shinta yang sudah tidak dianggap lagi sebagai
Tanpa rasa ragu, diketuknya pintu tersebut, baru saja satu kali ketukan, pintu pun terbuka untuk kemudian muncul tuan rumah, yang tadinya Aji mengira wanita yang oleh Shinta di panggil dengan nama Ibu Sarinah yang tinggal di pedesaan bernama Cimanuk itu adalah seorang wanita yang tua renta. Jalannya sedikit terbungkus dengan mengunyah sirih di mulutnya.
Demi munculnya sesosok wanita yang tidak muda juga belum begitu tua dari balik pintu rumah itu, dan berpenampilan jauh dari sangkaannya, membuatnya terkesiap, untung penyakit latah yang pernah di idapnya baru beberapa tahun yang lalu sudah tidak pernah kambuh lagi, bahkan bisa di katakan sembuh permanen.
Yaitu, setiap dia berjumpa dengan Makhluk yang namanya wanita, dan kalau menurut penilaiannya wanita itu Cantik, apalagi jika ditambah dengan
' Banget ', maka dengan spontan mulutnya akan menyebut tanpa bisa di cegah atau di tahan. Itu diluar kendali pikirannya.
Meneriakkan dengan cukup kencang kata ," E..la dala la.. dala.." di ulang-ulang. terkadang sampai beberapakali kata itu di sebutnya. Konon dikenal dengan sebutan penyakit ' Latah '.
Tapi itu dulu ketika dia menginjak akil Balig, karena sekarang sudah tidak pernah terjadi lagi.
Tiada lain ini berkat usaha keras kedua orang tuanya, dalam mengobati anaknya untuk kembali seperti semula, dengan jalan berobat secara teratur dan telaten. di sebuah Rumah Sakit yang menyediakan fasilitas untuk menangani siapapun yang mengalami keluhan semacam itu.
__ADS_1
Seiring masa Akil baliknya berlalu, hilang juga kebiasaannya itu, Jujur dia sendiri sungguh sangat tidak menyukainya. Namun dia sendiri tidak pernah ada keinginan untuk bertanya lebih jauh kepada kedua orang tuanya tentang hal itu.
...ΩΩΩΩΩ...
Ibu Sarinah mempersilahkan Shinta untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Aji hanya di hamparkan sehelai tikar anyaman halus dari rotan sebagai alas untuk duduk. Di teras rumah itu sendirian.
Tetapi dia tidak merasa benar-benar sendirian,
karena Bu Sarinah menyambut baik para tamunya, dengan menyediakan beberapa "macam kudapan" khas daerah setempat, sedangkan untuk minumnya, ibu Sarinah terlebih dahulu menanyakan langsung kepada Aji maupun Shinta, "mau minum apa?, Kopi ataukah Air teh hangat ."
" Lumayan ramah ibu Sarinah ini," tutur Aji di dalam hatinya.
Sang waktu bergulir tanpa henti, namun untuk kali ini jarum detik saja terasa begitu lambat oleh Aji, apalagi jarum menit, lebih-lebih lagi Jarum Jam.
Sang waktu akan terasa lambat berganti, itu bagi orang yang sedang menunggu, begitu juga dengan Aji saat ini.
Ketika dia merasa jenuh, duduk sendirian. Di langkahkan kakinya menuju ke depan jalan, dengan niat sekadar untuk melihat-lihat suasana di sekitar nya.
Namun baru sekadar niat yang terbersit, tidak begitu jelas dari mana arah datangnya seorang pria paruh baya dengan memikul karung yang entah apa isinya, melintas di depan rumah ibu Sarinah. Dan menyapanya. " Selamat Sore nak, yang dari mana ya.?" Sapanya ramah....
" Saya dari Pandeglang pak." Jawab Aji dengan tidak kalah ramah.
" Ooh Pandeglang, nak tahu dong bapak Haji Imanudin di Pandeglang?" dan lanjutnya lagi,
" Bapak Lihat tadi, nak datang bersama istrinya ?" pertanyaan dari bapak tua itu yang terdiri dari beberapa paket di satukan sekaligus.
" Alhamdulillah saya kenal, pak, tapi mohon maaf, akan saya jawab pertanyaan bapak satu persatu, saya hanya mengantar, dan itu yang sedang berada di dalam bukan istri saya, dan untuk pertanyaan Bapak yang pertama tadi, beliau adalah Ayah saya ". Jawab Aji lengkap.
Entah oleh sebab apa, bapak tua itu terlihat kaget, serta merta dia pamit dari hadapannya, dengan tergopoh-gopoh dia pergi meninggalkan Aji, yang keheranan tidak berujung pangkal, dan memerlukan jawaban dari pertanyaan yang tak terjawab kan. Selain dia harus mencari jawabannya sendiri.
__ADS_1