Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* BARIS TANGAN * " Kemenangan Sebenarnya "


__ADS_3

Bab 3


Kedatangan Aji sedang dalam penantian Anggi. karena dia juga ingin tahu Khabar tentang Ibu tercintanya.


Dia tahu Aji akan datang hari ini atas info Barmanto yang saat ini telah ada disana, sengaja menunggu kedatangan adik iparnya, yang jarang bisa dia temui karena kesibukan berangkat bekerja di kapal.


Dia yang semula akan berangkat satu pesawat dengan Budi hingga ke Bandara Ngurah Rai Bali.


Keberangkatannya tertunda oleh sebab cuaca yang tidak mendukung. Kalau Budi memutuskan untuk menginap di Hotel.


Sedangkan, Barmanto lebih memilih untuk kembali ke Rumahnya Anggi.


Padahal fasilitas akomodasi menginap gratis di sediakan dari perusahaan penerbangan. kerinduan akan bertemu dan berkumpul dengan keluarga, mengalahkan kenyamanan yang semestinya dia peroleh.


" Aa Barma ada di sini ?!" ujar Aji yang dikiranya bersamaan dengan Budi menginap di Hotel yang disediakan oleh perusahaan penerbangan.


" A..., kenalkan ini Shinta yang mengantar Kang Budi kemarin seperti aku dan Wulan mengantar Aa Barma yang rencananya terbang satu pesawat ke Bali nya ya kan A..? " Ujar Aji.


" Ya, benar. Kemarin kami sempat mengobrol, saat ada pengumuman penerbangan di tunda. Dia pergi katanya sih untuk beristirahat di Hotel.


Mereka yang di kenalkan, saling menganggukkan kepalanya dengan senyum ramah dari keduanya.


Sebagaimana rencana semula, Aji maupun Shinta , bergantian memanfaatkan waktu yang singkat itu, untuk mandi dan berganti pakaian, sehingga mereka terlihat kembali segar.


...ΩΩΩΩΩ...


" Padahal kalau pada sarapan lebih dahulu, keburu koq, itu si A Barma juga toh mau pergi kesana."


Demi menghormati tuan rumah yang telah dengan susah payah menyiapkan untuk makan pagi, mereka pun menerima tawaran itu.


Sementara mereka menikmati makan pagi yang Anggi telah siapkan, tiba-tiba , " dering panggil pada telepon genggam nya Anggi, berbunyi. " Nada panggil Simfoni lagu tanpa syair yang berjudul


" Song for Ana " lagu klasik tempo dulu membahana ke seluruh ruangan dengan syahdu..


Pada layar monitor muncul nama pemanggil. " Mah Pandeglang ".


( Anggi mengucapkan Uluk salam ), untuk kemudian,


" Ya Halo Mah, oh., ada... baru sampai, iya berdua." percakapan melalui telepon berlanjut antara Mah dengan Anggi.


Di antara sekian banyak yang di bicarakan, ada yang bisa di tangkap permaksudan nya oleh yang ikut mendengar dan menyimaknya.


Sebagai orang tua, Mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua karena, saat berangkat dari rumah Emah sudah cukup malam, saat itu Aji mengatakan akan mampir ke rumah orang tua Fitrie terlebih dahulu.


Yang Aji dengar, walaupun tidak begitu jelas.


Anjuran Emah kepada Aji, untuk sementara ini, sebaiknya jangan dulu datang ke Pandeglang.dan Amanatnya ini Emah tekankan kepada Anggie untuk meneruskan nya kepada Aji.

__ADS_1


Semua yang di sampaikan melalui HP tadi, di anggap oleh Anggi sebuah Amanat yang wajib untuk di sampaikan kepada yang bersangkutan.


Demikian yang sudah berlaku pada Aji, telepon pun telah Emah tutup.


Tidak sedikitpun terfikir oleh Aji. Pesan khusus Ibunya yang disampaikan oleh Anggi, yaitu larangan untuk pulang ke rumah orang tuanya, walaupun ada kalimat " Sementara" di sela-sela pembicaraan Emah dengan kakaknya melalui telepon genggam kepunyaan Anggi,tadi.


" Kenapa ya ? malah semakin membuatku penasaran, ini pasti ada sesuatu...., apa sesuatu itu?" begitu terus yang berputar di benaknya.


Dalam keadaan kalut juga rasa penasarannya, dia teringat akan Haruki yang suka mempunyai pemikiran yang lumayan bagus.


Serta Merta tanpa menunggu waktu lagi, di hubungi nya sahabat kentalnya itu. dengan telepon genggam nya, setelah ada nada sambung dan terdengar diangkat dari ujung telepon di sana.


" Halo..( uluk salam ), dengan Haruka kah ini? ". Ucapnya.


" Halo juga. Betul gua sendiri Ji. Lama sekali gak ada berita, gua kira luh sudah melaut lagi, ada apa nih hari masih pagi, Luh lagi di mana sekarang Ji ?" Seru Haruka, heboh.


" Di rumahnya kak Anggi," Jawab Aji


" Jadi ke Tahlilan keluarga Fitrie ?" sergah Haruki.


" Belum Broo ! "


" Kok Joko ?" Tanya Haruki, berseloroh menandakan dia sedang banyak uang, Aji afal pembawaan


Sahabatnya seperti itu, maksudnya ( Koq begitu? ).


" ya sudah berangkat sana, gua juga lagi sibuk hari ini banyak pasien di bengkel, hati-hati di jalan. Salam buat Emah ya Ji.!" jawab Haruki, dan telepon pun dia tutup.


Aji melanjutkan sarapannya yang tadi tertunda, hingga selesai, untuk kemudian, dengan bergegas dia siapkan mobil pinjaman dari Haruki, yang dia yakini Mobil itu dalam perawatan yang baik oleh pemiliknya.


Beberapa saat berselang, mereka bertiga sudah berada didalam mobil untuk kemudian bertolak dengan tujuan Halim Perdana Kusuma.


" Kak Anggie aku berangkat dulu ya kak !" Pamit Aji juga Shinta maupun Barmanto.


" Ya..., hati-hati di perjalanan. Aji...salam buat Emah juga untuk Fitrie." Pesannya.


Ketika Kendaraan keluar dari jalan perumahan dan Ban mobilnya mulai menapaki aspal di jalan Raya mereka mendapatkan jalan yang mulai sedikit tersendat, namun Aji meyakinkan kepada kedua orang itu, bahwa mereka tidak akan terlambat tiba di tujuan.


" Aamiin ". Jawab keduanya serempak.


Ternyata benar dugaan Aji, mereka tiba di pelataran Pelabuhan Udara Halim PK. Masih mendapatkan Budi yang sedang berdiri menunggu kedatangan Shinta.


" Kang Budi, Alhamdulillah kita tidak terjebak Macet."


Ujar Shinta membuka percakapan.


" Alhamdulillah, Aku juga sudah selesai Periksa bagasi dan kembali kesini, masih ada waktu, untuk. beberapa saat kita berbincang-bincang. Setelah terlebih dahulu Shinta memperkenalkan Aji Kepada Budi.

__ADS_1


Untuk kemudian mereka berdua, Budi dan Shinta Meminta ijin untuk pergi memisahkan diri untuk hal pribadi diantara mereka berdua.


Di saat yang sama, Barmanto pun pamit kepada Aji untuk langsung masuk ke tempat register Bawaan berupa satu buah koper nomor dua yang dibawanya dan pamit kepada Aji untuk tidak kembali, tetapi akan langsung ke ruang tunggu.


Aji masih berdiri di tempat semula mereka datang ketempat itu, yakni persis berseberangan dengan pintu masuk untuk calon penumpang pesawat.


Waktu bergulir begitu cepat hingga terdengar maklumat untuk para penumpang dengan tujuan Denpasar Bali di harap untuk segera menuju pintu masuk pesawat.


Entah kapan Budi Andika sang tunangan yang konon bersikap Posesif terhadap calon tunangannya yang konon di rencanakan acara pertunangannya pada dua bulan yang akan datang. Di Majalaya.


Telah menghadirkan seorang pria berbadan kekar dengan seorang wanita yang berpotongan Pria. mereka mendekati Aji dan Shinta, dengan diperkenalkan terlebih dahulu oleh Budi Andika, bahwa mereka berdua nanti bakal jadi bukan orang lain bagi Shinta.


" Ini Teh Rini dan yang ini Kang Surya mereka keduanya adalah adik sepupu saya, dan saya sendiri Budi Andika," Sambil mengulurkan tangan nya kepada Aji untuk bersalaman.


Waktu yang terasa begitu singkat, pertemuan dan perkenalannya dengan sosok Budi yang menurut penilaian Aji, pria yang simpati dan sosok yang menarik.


" Semoga Shinta berbahagia berpasangan dengan kang Budi," Doa tulusnya terlontar walau perlahan.


Dalam renungannya, akan calon pasangan bahagia Budi dan Shinta, tiba-tiba ada nada pesan yang dia dengar datang dari telepon genggamnya.


Ketika di lihat, datang nya pesan dari orang yang tidak asing baginya, telah menulis.


" Aji..., gua kemarin baru pulang dari Serang, berita tentang luh dan gambar luh bawa cewek ke tempat dukun pijat yang dulu pernah ada kasus melakukan tindakan Aborsi, dan gagal.


Pasiennya meninggal dunia. Di Cimanuk, Sekarang lagi Viral. Sampai Pandeglang, Serang malah famili gua yang di Cilegon yang kenal ma luh, nanya nya ke gua.


Gila Luh Ji...! Emang itu beneran Luh ?" Tanya Haruki ingin kepastian.


Gua mau nanyain tentang berita ini, gua percaya itu gambar bukan luh sahabat gua.


Gua yakin ini Hoax.


Sampai di situ, Aji tidak ingin melanjutkannya untuk membaca, yang terbayang dalam pikirannya, adalah Emah yang pasti merasa kecewa dengan putranya yang di anggap telah berbuat Aib dan mencemarkan nama keluarga....


Aji hanya bisa beristigfar dan tidak ingin menunda untuk segera pergi kesana.


Biarlah untuk urusan ini dia melangkahi pesan yang Anggi sampaikan kepadanya, kendati itu amanat yang di wanti-wanti oleh Emah, untuk di ikuti oleh Aji, demikian pesannya.


Ketika dia berbalik ke belakang, sudah tidak ada siapa-siapa disana.


Memang tadi diantara mereka sudah saling pamit untuk berpisah dan pergi untuk tujuan dan keperluan masing-masing.


Shinta sudah pergi, dengan dua orang yang di akui oleh Budi sebagai adik sepupunya.


Budi apalagi Barmanto. Juga sudah di dalam ruang tunggu atau mungkin sudah naik dan masuk kedalam pesawat yang sebentar lagi akan mengudara.


Sekarang hanya dia sendiri di sekelilingnya banyak orang tapi tidak satupun dari mereka yang di kenalnya.

__ADS_1


__ADS_2