Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Farewell maybe Forever "


__ADS_3

Bab- 3


" Tuan Aji Swakarsa !" ( Dalam bahasa setempat ) panggilan mengikuti Nomor Antrean, bukan kebetulan dia duduk di kursi paling depan, sehingga perawat itu tidak perlu mengulangi panggilannya, Aji segera berdiri dan berjalan menuju pintu masuk ruang pemeriksaan yang ditunjukkan oleh Suster jaga tadi.


Begitu dia masuk ke ruang periksa, pertama yang di jumpainya seorang Dokter wanita yang duduk menghadapi meja kerjanya, di atasnya ada papan nama berikut identitas, jabatan, juga gelarnya.


Senyuman sekilas dari Dokter itu, seraya mengucapkan Selamat datang kepada Aji dalam bahasa Inggris yang Fasih, dia tahu Aji bukan penduduk setempat, diketahuinya dari lembar Kertas biodata Pria dihadapannya, sambil sekali-sekali dia melihat tulisan di lembaran kertas itu. Terbaca tentang riwayat kesehatan, termasuk riwayat yang belum genap satu Minggu kejadian yang pria ini alami, laporan lengkap tentang hasil tes umum menyeluruh di laporkan oleh Dokter yang menangani saat kejadian , tertera dengan jelas dan bisa terbaca nama dari Dokter tersebut , ' Dokter Umum Josette, berikut tujuan utama kedatangannya ke ruangan itu.


Dokter pun menjelaskan, bahwasanya Aji hari ini akan menjalani pemeriksaan bertahap, untuk tahap yang pertama, Dokter wanita yang bernama Bonita Caroline Armando itu, sebagai Dokter umum, yang di tugaskan untuk memeriksa kesehatan pada bagian mana saja, sesuai dengan kewenangannya.


Dimulainya dengan pemeriksaan pada Tekanan Darah , detak Jantung, dan pupil pada Mata, Pendengaran dan Indra lainnya. Hasil sementara di nyatakan dengan lisan, Dokter Bonita mengatakan:


"keseluruhan baik, hanya ada satu temuan, yaitu tensi darah terdeteksi baik oleh alat digital , ataupun dengan cara konvensional, hasilnya ternyata Positif


150 / 95.mmhg.


" Tuan Aji, untuk umumnya orang se usia Tuan, dengan tekanan , seperti ini, kurang baik ," demikian Dokter Bonita katakan.


Berdasarkan pertimbangan dan riwayat yang sudah di sampaikan apa adanya, tanpa di sembunyikan , ditambah dengan hasil Lab dari Dokter Josette, sudah lebih dari cukup di jadikan bahan pertimbangan, pemeriksaan ini harus lebih teliti lagi.


Dokter Bonita menganjurkannya untuk mengambil istirahat sejenak di setiap sesi pemeriksaan tahap berikutnya. Tidak kurang dari 30 menit, Dokter itu menganjurkan Aji istirahat dan akan diperiksa ulang untuk Tekanan Darah dan denyut nadinya. Apabila tes ulangnya, Aji dianjurkan untuk segera pergi ke Poli khusus Mata, pemeriksaan Rontgen, THT juga Gigi, kemudian pengambilan Urine bahkan BAB. dan yang terakhir treadmill .


Kita tinggalkan Aji yang saat itu belum lagi separuhnya dalam menjalani MCU nya. Cukup jauh dari tempat Aji menjalani pemeriksaan kesehatannya.

__ADS_1


Di sebuah ruangan terpisah dari kegiatan para pekerja di Kantor Urusan Administrasi Pelabuhan di pelabuhan Santos. Sehubungan dengan insiden di wilayah kekuasaannya, berdasarkan sebuah surat pengaduan atas nama Dokter Josette Maria Cardoso, selaku pelapor di satu pihak, dan Awak Kapal MV.FORMOSA selaku terlapor di pihak lain. menurut keterangan dari sumber yang dapat dipercaya, surat pengaduan tersebut telah dikirim tembusannya ke kantor kepolisian wilayah setempat.


Suatu kejadian yang tidak mustahil, nantinya akan di proses secara prosedural sesuai Hukum yang berlaku di Negara itu. Tentu di perlukan pengamatan yang pastinya akan memakan waktu yang tidak sebentar.


Hal inilah yang jadi bahan Bahasan di rapat tertutup di ruangan kepala Administrasi Pelabuhan yang di pimpin langsung oleh yang bersangkutan. Don Bosco Gonzales yang sebenarnya, tidak ingin sampai terjadi kasus ini diperkarakan di meja hijau, dengan pertimbangan Khawatir nanti akan menyangkut reputasi sahabatnya... yaitu ayah dari Josette.


Hal itu yang akan di jadikan bahan diskusi antara kepala Adpel Don Bosco Gonzales dengan Kapten Hendrik Bosman Van Dijk, dengan harapan bisa tercapai kata sepakat dari kedua belah fihak.


Di dalam pembicaraan yang alot dan saling beradu Argumentasi antara mereka berdua, dalam mempertahankan pendiriannya masing-masing.


Don Bosco mengemukakan sebuah Pasal yang tercantum di dalam Kitab Undang-undang Hukum Laut. Dia membacakan dengan suara yang lantang,


" Bilamana sebuah tindakan yang dianggap setara dengan, lalai, ceroboh, dan atau kurang tanggap, yang mengakibatkan hilang atau rusak peralatan yang ada di Kapal, baik Harta/ Property. juga rusaknya lingkungan Laut yang disebabkan oleh salah pengoperasian mesin yang ada di kapal.. dan seterusnya... dan seterusnya.


Demi menyimak Bab Hukum yang di bacakan oleh Don Bosco, Kapten Hendrik terkesiap dan tidak lagi banyak mengemukakan Argumentasinya seperti tadi pertama datang ketempat itu, di tambah lagi demi dilihatnya hasil Lab darah dan urine anak buahnya, yakni Aji, tidak hanya itu saja, Hasil Visum at Revertum atas Josette , maka semakin berat kasus ini, terbayang oleh Kapten Bossman Hendrik Van Dijk. kalau sampai kasus ini dibawa ke meja hijau.


Berhubung kasus ini bisa menyerempet reputasi Perusahaan, juga dirinya, di dalam benaknya mulai timbul rasa khawatir dan tercetus melalui gumaman.


" Gawat ini .! kerja sama yang telah berjalan lancar antara Petro brass sebagai fihak yang men Charter dengan perusahaan pemilik Kapal. Berpotensi untuk di kaji ulang untuk perpanjangan kontrak beberapa Tahun kedepan, berubah pucat wajahnya.


Perubahan itu tidak lepas dari pengawasan Don yang jeli menangkap perubahan tersebut. Membuat percaya dirinya semakin bertambah, membuahkan gumam.


" Kini harapan ku semakin besar, untuk membuat Kapten Hendrik mengakui akan kekhilafan nya, apalagi di perkuat dengan Analisa ilmiah Josette tentang kapasitas jantung Manusia yang jauh di bawah kapasitas dan kemampuan untuk menerima rangsangan pacu jantung yang di akibatkan oleh obat yang bukan peruntukkannya yang bernama

__ADS_1


' Spanish Fly itu ', yang bisa mengancam keselamatan jiwa, ha..ha .ha."


Don Bosco merasa bahagia dan yakin, dirinya berada di atas angin, belum lagi alibi kuat saat kejadian berlangsung sang Kapten turut hadir disana, ini langkah Don Bosco untuk membuat Kapten Hendrik akan semakin tidak berdaya.


Suasana semakin tegang, Kapten Hendrik merasakan ruangan itu menjadi panas dan udara disana menyesakkan nafasnya. Namun dalam situasi yang tegang seperti itu, riba-tiba telepon genggam di tangan Kapten Hendrik berdering, terdengar suara dari seberang yang memberi Khabar, Aji mengalami tidak sadarkan diri, ini terjadi saat menjalani tes Treadmill, bahkan dia sampai muntah-muntah untuk kemudian hilang kesadaran.


Demikian pihak staf medis di RSU tersebut, menjelaskan kepada sang agen. yang kemudian diteruskan oleh agen tersebut kepada Kapten Hendrik, selaku Master on Board, penanggung jawab penuh di Kapal.


Demi mendengar berita itu, Josette pamit kepada semua yang ada di ruang pertemuan, terutama Don Bosco, dia akan pergi lebih dahulu dari yang lain, untuk melihat bagaimana kondisi terkini Aji.


Begitu dia keluar dari gedung Adpel setengah berlari di hampiri mobil di tempat parkir, serta Merta dijalankannya, setibanya di jalan raya, di injaknya pedal gas sedalam dia sanggup, mobil pun melaju, kebetulan jalan yang sedang dilaluinya tidak begitu padat seperti biasanya. Tidak sampai hitungan Jam,


dia sudah tiba di pelataran RSU.


Dimasukinya gedung tersebut, tanpa bertanya dimana tempat Aji dirawat, dia faham betul, karena saat dia praktik kerja lapangan di RSU inilah dahulu dia mencari ilmu tambahan kedokteran Umum nya.


Tanpa mendapatkan kesulitan disertai dengan ID Card nya sebagai Dokter, ditambah dengan sebab beberapa rekan yang dahulu bersama saat magang, dan kebetulan beberapa dari mereka sedang masuk Dinas.


Bagi orang lain, akan tidak mudah untuk bisa masuk langsung menemui pasien, yang kondisinya baru saja melalui masa kritisnya. tapi baginya untuk kali ini ada kekecualian.


Di Langkahkan kakinya mendekat ke arah tubuh yang berbaring kemah dan di lengkapi oleh nafas bantu, berupa Oksigen murni melalui slang yang terjuntai pertanda orang tersebut kondisinya sedang Kritis.


Sedih hatinya dia rasakan, demi menyaksikan laki-laki sebaik Aji, dalam penilaiannya seperti itu. Tubuhnya terbujur kaku bagaikan tak bernyawa.

__ADS_1


__ADS_2