Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Raga Ini Masih Bernyawa "


__ADS_3

Bab 4


Bagaimana mungkin jika seorang yang sudah merasa dirinya dewasa, bahkan telah melewatinya masa tersebut, tapi saat bepergian selalu disertai orang tua.


Haruki tidak sependapat dengan cara seperti itu, ketika sang Papi memberi khabar tentang rencana lawatannya ke Medan dan mengajaknya, tanpa pikir panjang lagi, dia menyetujuinya.


Begitu pesawat udara mendaratkan rodanya di pelabuhan udara Polonia Medan, yang terbayang di dalam pikirannya, bukan suasana kota Medan dengan aneka kegiatan anak muda di waktu malam nya, tapi lapok yang menyajikan makanan khas kota Medan dengan Kopi asli produk lokalnya.


Sebagaimana pelanggan jasa servis kendaraan, yang sudah sering pulang-pergi ke Medan, mereka bercerita tentang keunikan cara menghidangkan kopi dan meminumnya, cerita itu membuatnya penasaran bukan kepalang.


Dengan diam-diam tanpa seizin Papinya, yang seharusnya malam itu dia beristirahat, untuk agenda besok yang diperkirakan akan memerlukan konsentrasi pikiran yang maksimal, Papinya menganjurkan untuk dia beristirahat.


Justru dia pergi keluar dan mencari Lapok yang dimaksud. Yakni penganan khas Medan dengan Kopi asli Medannya.


Dengan mudah dia dapatkan berkat panduan dari pengemudi Becak bermotor yang disewanya, dan masih beroperasi di jantung kota Medan sekalipun.


Begitu di hidangkan ke meja di hadapannya, dia perhatikan lebih dahulu bagaimana cara orang Medannya sendiri meminumnya.


Dengan cara mencuri-curi pandang, mulanya dia merasa aneh, " koq cara minum Kopinya seperti itu?


Bubuk yang hampir sebesar biji kacang hijau yang mengapung di permukaan cairan kopi itu pada di kunyahnya, dan di telannya pula ?" Batinnya.


Akan tetapi manakala dia mencobanya sendiri, untuk pertamakali saat itu belum ditemukannya sensasi apalagi keistimewaannya. Meminum kopi dengan cara seperti itu.


Namun ketika keesokan harinya pada acara temu muka dengan pengurus Bengkel resmi Mitsubishi cabang Medan, dia temukan kembali hidangan Kopi dan cara meminum seperti yang ditemuinya tadi malam.


Pada acara minum kopi yang baginya ini adalah kali yang kedua, disinilah dia menemukan keistimewaan dan kenikmatannya minum kopi dengan cara seperti itu.


Cenderung ada semacam rasa ingin meminumnya lagi di waktu yang akan datang.


Dia menyadari dengan apa yang sekarang sedang di alaminya, bisa jadi dirinya sudah mulai di hinggapi rasa ketagihan.


Maemunah datang dengan membawa nampan yang diatasnya ada dua cangkir berukuran sedang yang berisi seduhan kopi, apalagi kalau bukan kopi kesukaan mereka berdua, Kopi asli Medan. Yang masih mengepulkan asap dengan aroma khasnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩ...


Keinginan Aji untuk bertanya kepada Maemunah tentang Maemanah yang konon sedang menuntut ilmu keagamaan di ponpes asuhan Almarhum Ayahnya Fitrie.


Wajah, maupun perawakannya hingga suaranya, dari keduanya, bahkan hampir keseluruhannya tidak ada yang berbeda, mendekati sempurna sama.


Membuat Aji ingin tahu lebih jauh lagi. " Ruki., boleh aku bertanya sesuatu kepada Maemunah langsung ?" Ujarnya


" Boleh saja, sepanjang dia gak merasa terganggu, kenapa tidak boleh." Jawab Haruki


" Terimakasih pak Boss yang Bijaksana dan Bijaksini." Sahut Aji


" Mae., apakah Mae kenal dengan Maemanah ?" Tanya Aji kepada Maemunah


" Dia adik kembarku Om ." Jawabnya lantang.


" Ooh begitu?" Sahut Aji, ingatannya melayang ke saat kejadian ketika dirinya bertamu ke kediaman Fitrie, di sana ada yang melayani suguhan untuk Tamu, dan Fitrie memanggil namanya, Manah, saja.


Akan tetapi saat dirinya bertamu kesana di waktu yang berbeda, Fitrie memanggil orang yang sama dengan panggilan, Mae.


Yang mempunyai saudara kembaran bernama Maemunah.


Semua menjadi jelas baginya sekarang, " Pantesan Haruki ini koq seperti tahu percis, karena hampir setiap kegiatan atau kejadian yang istimewa di lingkungan Ponpes asuhan Ayahnya Fitrie, seakan dia sedang berada disana, ini rupanya sebab alasannya." Batin Aji.


...********...


Haruki sudah teruji olehnya, sebagai sohib yang sudah langka bisa ditemui kesetaraannya dengan sohib-sohib lainnya yang pernah ada dan mengisi album hidupnya.


Khusus untuk Hari ini Haruki bereskan pekerjaan di bengkel dalam setengah hari, dan berpesan kepada teman sekerja untuk menanggulanginya apabila pekerjaannya itu masih bisa di tanggulangi, dan dia minta izin langsung kepada kepala manager operasi di Bengkel untuk setengah hari ini dia tidak akan masuk bekerja.


Ini Semua di lakukannya, tidak lain, demi janji yang belum dipenuhinya, untuk mempertemukan Sohibnya dengan seseorang yang samasekali Aji belum tahu siapa dia.


Aji merasa tersanjung hari ini dia mendapat prioritas, dari seorang sahabat sejatinya, Haruki Gawa.

__ADS_1


Tidak berselang lama, terlihat Haruki menghubungi seseorang dengan ponselnya.


Hanya dalam hitungan menit setelahnya, terlihat sebuah Mobil Taxi berhenti di pinggir jalan, di depan Rumahnya, kedatangan Taxi yang kelihatannya sengaja beberapa meter menjelang tujuan, mesin mobil itu sudah di matikan, itu atas permintaan penumpangnya dengan memberi Tip sebagai imbalan bagi sang Sopir.


Sesaat kemudian, dari dalam kendaraan tersebut, keluar seorang wanita dewasa dengan penampilan tidak biasa, dia mengenakan busana bukan untuk mengunjungi tempat umum, ini seakan untuk datang menghadiri acara penting, resmi dan bergengsi.


Wanita itu tampil tidak dengan busana dari bahan yang mewah namun terlihat elegant, bernuansa dominan kain bercorak Batik kontemporer dan tampaknya keluaran dari Boutique.


Atau karena yang mengenakannya setaraf kapstok berjalan, yang biasa di lihat di layar televisi dalam acara Mode Fashion.


Kejadian langka yang membuat Aji terpana, di keremangan redupnya cahaya mentari yang menyinari tubuhnya dengan di latar belakangi temaramnya senja.


Seorang wanita yang begitu menawan entah dari mana datangnya, berjalan kian mendekat menuju ke arah mereka berdua, Aji dan Haruki yang sedang duduk di beranda rumah, mengarahkan pandangan mereka ke pekarangan sambil menikmati hidangan yang belum lama Maemunah sajikan.


Kedatangan Wanita ini di luar dugaan dari keduanya, terutama Haruki yang hampir samasekali tidak mengenali siapa wanita yang berjalan kearahnya, dengan busana muslimah lengkap berikut cadar tipis berwarna gelap senada warna gaun bagian bawahnya, menutupi separuh wajahnya.


Yang sedang di tunggu Haruki, biasa datang setiap hari dengan pakaian kerja harian seragam klinik kecantikan namun tidak di waktu sekarang, dia biasa pulang bekerja hampir selalu tepat pukul sembilan belas.


Sebagaimana jawaban dari pertanyaan yang tadi di ajukannya.


" Emangnya gak bisa pulang lebih cepat, hanya untuk hari ini saja ?"


" Nggak bisa bang, karena kebetulan pasien yang datang ini Customer tetap dan istri pejabat yang katanya mau menghadiri pertemuan khusus." Jawab dari seberang, membuat Haruki mengangkat bahu.


Namun yang datang dan tidak satupun dari mereka mengenalnya, apalagi Aji, Haruki saja tidak ngeh kalau itu sebenarnya adik misannya yang tadi bicara dengannya di telepon.


Wanita dengan postur tubuh tinggi semampai, mendekati kurus namun berisi, justru penampilannya yang seperti itulah malah jadi lebih serasi dengan busana yang di kenakannya.


Haruki sebagai yang empunya rumah, serta merta berdiri dari duduknya demi alasan sebagai tuan rumah yang santun dan menghormati dalam menyambut kedatangan seorang tamu.


Wanita itu terus melangkah menuju kearah mereka berdua, yang sedang duduk dan berbincang-bincang sembari menikmati kudapan dalam suasana pergantian udara siang yang terik menyengat, ke suasana sejuk di senja hari itu.


Begitu wanita yang datang semakin mendekat ke tempat dimana Haruki berdiri.

__ADS_1


Haruki bermaksud menanyakan kepada wanita tersebut, " Mau bertemu siapa?"


__ADS_2