Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Awal Pencarian "


__ADS_3

Bab 3


Tidak terbayang olehnya kalau malam itu dia yang di takdirkan naas, apes dan kalah, betapa akan selesai nama Haruki disana.


Padahal tempat itu baginya sebuah solusi penyegaran pikiran yang kedua setelah Bengkel, sementara belum dia temukan lagi wanita pengganti mendiang istrinya yang dia hafal betul mempunyai kesabarannya di luar nalar.


Pelarian disaat hatinya galau, White Horse adalah Solusi.


Hingga suatu hari, ada kejadian di luar dugaan, Jagoannya telah menang dalam adu laga, bak seorang Gladiator.


memang tidak percuma sang Sohib diajaknya ikut serta kesana.


Aji telah berlaku sebagai Gladiator yang tidak bersertifikasi, tidak seperti kisah yang telah terukir di dalam sejarah Kerajaan Roma dengan peradaban Heroiknya, sabung Manusia untuk menghibur Manusia.


Seorang Gladiator yang berjaya menyingkirkan lawan tarungnya, akan di sambut dengan sorak sorai gegap gempita, yang membuat dinding stadion bergetar seakan hendak runtuh.


Di sebuah stadion tempat arena adu laga, konon tempat sang Kaisar menikmati tontonan Manusia melawan manusia terkadang dengan Hewan, untuk bertarung mempertahankan nyawa.


Sang Juara mendapatkan tempik sorak tidak saja dari khalayak ramai para penonton, tapi dari sang Kaisar dan Permaisuri, beserta seluruh para pembesar istana yang ada. Walau hanya itu yang Sang Juara peroleh, bahkan tidak lebih .


Sebuah kebanggaan yang taruhannya adalah nyawa.


Namun itu masih mempunyai nilai Hadiah.


Berbeda dengan dirinya kemarin, jelas - jelas dia yang keluar sebagai pemenang, melawan dua orang yang berbadan cukup kekar, namun tidak satu orang pun yang berada disana memberikan tepuk tangan atau komentar, sebagai manifestasi rasa salut, dari mereka yang telah puas menikmati adegan tersebut.


Demi mengingat kejadian tersebut, tanpa di sadarinya, dia tertawa, menertawai dirinya, sementara wanita yang duduk di hadapannya dan sejak lama dengan diam-diam, memperhatikannya.


"Bang Aji tertawa sendiri, ayo ngetawain aku ya?! Sergahnya.


" Bukan, bukan, Melin.., tidak samasekali!. Masak cewek se sempurna kau di tertawakan ? dari sisi mananya yang pantas untuk di tertawakan?" Jawab Aji serius


" Iyh...,! Bang Aji pengalaman ya merayu perempuan, aku jadi tersanjung lho ini !" Ucap Melindari dengan sikap manja.


" Aku bukan tipe perayu koq Mel, lagian untuk tujuan apa juga, seandainya benar aku merayumu."


Lantas kalau buka merayu, ucapan Abang yang tadi apa, hayo?" Desak Melindari.


" Melin, kau tidak perlu di sanjung apalagi di rayu, kau memang cantik. Kalau tidak?, aku tidak akan mau mengajak kau untuk menyertaiku menempuh perjalanan yang jauh, bikin sempit tempat duduk saja." Sahut Aji, yang membuat wanita itu tersipu.


" Benar-benar konyol nih orang, tapi asyik untuk di ajak ngobrolnya, hi .hi.hi." dalam batinnya.


" Tuh kan...., dari tadi kita ngobrol terus, sampai lupa tujuan kita semula. Ayo kita order makanan, kau mau pesan apa Mel?" Tanya Aji.


" Aku kan di ajak Abang, terserah yang ngajak dong, aku sih setuju saja." Sahut Melindari


Aji tersenyum, pertanda sepakat dengan apa yang Melindari katakan.


Walaupun, seandainya Melinda punya pilihan menu yang di pesannya berbeda dengan keinginannya, tapi dengan keyakinan yang pasti, dia akan mengikuti yang wanita itu pilih.


" Lady First ." Gumamnya perlahan, yang ternyata tertangkap oleh pendengaran wanita itu.

__ADS_1


" Widdiiy..., Lain ya kalau pelaut Ocean Going, banyak melihat dan mendengar ya Bang..?" ujar Melindari.


" Bisa, dari dua faktor itu. Tapi yang aku rasakan dan kuingat, dari contoh yang sering kulihat dan aku dengar, yang berada dilingkungan, itu yang lebih dominan Mel." Papar Aji.


Ketika makanan yang di pesan sudah terhidang di atas meja di hadapan mereka.Aji teringat akan sang Sohib, Haruki.


Mendorong hasratnya untuk menawarkan undangan melalui layanan Medsosnya.


"Halo, ( dengan Uluk Salam ). Sohib, Hidangan sudah diatas meja nih.! Apakah untuk yang kali ini saja, tidak mengapa walau terlambat kami tunggu, bisa datang dan duduk bersama dengan kami ?" Tanyanya dalam tulisan yang di ketiknya, di layanan WA.


Haruki langsung menjawab, bahwa dirinya sedang sibuk, " Selamat menikmati hidangan istimewa yang kalian berdua sudah pesan, menyesal sekali, gua gak bisa memenuhi undangan Luh Ji." Jawabnya.


" ya, tidak apa-apa Ruki, selamat bekerja juga semoga sukses selalu, sehat selalu." Balas Aji.


" Makasih." Jawab Haruki singkat, pertanda dia sedang sibuk.


" benar-benar Haruki sedang sibuk, bisa saja malah sedang super sibuk." Ujar Aji ditujukan pada Melindari.


Lagi-lagi Melindari tidak menjawab dengan ucapan atau komentar.


Dia menanggapinya hanya dengan mengangkat kedua bahunya, dengan sedikit bibir sebelah kirinya terangkat, dan tersungging senyum tipisnya.


...*********...


Ada lagi suara pesan yang datang ke ponselnya, setelah dia buka ada sebaris kata-kata disana.


" Selamat menikmati kebersamaan berdua Luh pada !, have a nice lunch, he., he..., he." Kalimat yang tidak Aji tanggapi dengan asumsi-asumsi.


Melindari yang sedang asyik mengotak-atik ponselnya, dari tadi sewaktu Aji membaca kiriman WA dari Haruki.


Beberapa saat telah berlalu, mereka terlihat mulai menikmati dengan menyantap hidangan khas Sea Food Restoran RAJA LAUT, di Mall Kelapa Gading.


Hari itu jatuh pada hari kerja, jadi tidak terlalu padat oleh pengunjung, menurut info dari Haruki.


" Luh beruntung tanpa nanya gua lebih dulu, kalo luh kesitu nya hari libur, jangan heran kalau pesanan makan Luh baru datang paling cepatnya aja, tiga puluh menit kemudian." Tulis Haruki di WA.


Kring....kring . ! Suara nada panggil pada ponsel Aji.


" Halo Ji...Luh masih ingat dulu kita makan di tempat itu?" Suara Haruki, dari ponselnya.


" Koq...nelepon, katanya sedang sibuk.?"


" Udah, baru aja selesai pekerjaan."


" Bisa dong Gabung."


" Masih belom bisa Ji..!"


" Sekarang Luh sudah ingat ya?"


" Iya..., aku masih ingat, sudah hampir setahun yang lalu, ketika itu hari Minggu, kita di traktir oleh Tante Mo, pelanggan bengkel yang kau bilang STW, tapi masih sintal itu kan ? Aya Aya wae kau tuh Ruki......

__ADS_1


( Bahasa Sunda \= ada-ada saja ).


Orang sudah tua, masih juga kau kelesin juga.!" Ujar nya.


" Tenang saja Broo...gua belum berprinsip kayak si Ceppy Capilano...Semua yang bersisik itu Ikan ," gua tidak akan seperti itu.!! ,dia kan Relasi tetap, Bengkel gua ." Jawabnya


" Semoga saja seperti itu Ruki ! ."


" Sensor gua masih kerja Broo..!, Do not wolly laah.. My fleng ! " Sahutnya ( menirukan logat Cina Singapore pedagang di Peoples park. Singapore ).


Atau Boss ikan Cakalang di pelabuhan ikan Muara Angke, pemilik beberapa mobil brand New dari merk Mitsubishi. konsumen setia di Bengkel Nagasaki Motor Servis.


Saat itu, hampir setahun telah berlalu.


" Tante !, koq Traktir kita, makan di tempat mahal ini." Ujar Haruki, dengan sikap terheran-heran.


" Nanti Tante cerita, mengapa kalian Tante ajak makan di sini, sekarang makan dan nikmati saja lebih dahulu. hidangan lezat ini, nanti ceritanya."


Setelah setengah perjalanan hidangan di hadapan mereka di makan dan di nikmati sebagaimana anjuran Tante Monika.


" Emangnya ada acara apa sih Tan. Ultah Tante?! Sergah Aji, yang dari tadi lebih banyak diam, dan lebih banyak jadi pendengar.


" Negatif..., negative., yang benar adalah, si Om tadi malam passed away, serangan jantung mendadak.


Klepek.., klepek .., krelesss!" ujarnya sembari telapak tangannya memperagakan, seakan ikan yang baru diangkat dari kolam, dan didiamkan di darat.


Penuturan yang membuat Aji juga Haruki terpana dan bercampur Kaget.


" Inna lillahi wa Inna ilaihi Roziuun " Spontan Mereka berdua mengucapkan kalimat itu. Serempak seperti ada yang mengomando.


" Tante, kami atas nama segenap Personil bengkel Kendaraan roda empat, langganan almarhum om Bongky, mengucapkan turut berduka cita ." Ucap Haruki dan Aji. Takzim ..


" Terimakasih Haruki dan juga Aji, Om contoh suami Tante yang baik." Ujar nya.


" Aje gile.., suami meninggal di pestain ?. He..he..he."


Tanggap Haruki berbisik ke kuping Aji. Saat di Tante Monika permisi kepada mereka untuk pergi ke Toilet.


" Ssssttt..." Telunjuk Aji dintempelkan ke bibirnya. Pertanda jangan komentar lanjutnya.." bisa saja Ini bentuk belasungkawa versi Tante Monika mungkin Ruki !" Ujar Aji.


Tante Monika menyampaikan kepada mereka berdua, kronologis kematian suaminya, tanpa terlihat di wajahnya ekspresi sedih atau kehilangan.


Terlihat biasa saja, sambil menarik satu batang rokok jenis Mentol slim, dari bungkusnya yang terlihat baru saja di bukanya.


Menyerahkan pemantik apinya kepada Haruki, minta untuk di nyalakan, dan di sulutkan Rokok yang sudah terselip di bibirnya.


Dia tawarkan kepada Aji, yang serta merta menolak nya dengan cara sopan dan santun.


" Kamu cowok Macho, tidak merokok ? , he.. , he,..he,


Dunia memang sudah terbalik. Cewek malah merokok." Celotehnya.

__ADS_1


__ADS_2