Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Transisi "


__ADS_3

Bab 4


Orang Jepang yang nama aslinya Hanura Gawa Kobayashi itu berganti nama menjadi Hasan, sudah menjadi WNI, dengan panggilan lengkap Tuan Hasan, dia menikahi wanita dari kota Serang, Banten.


Keluarga yang menemukan kehidupannya yang tentram, beranak Pinak, di karuniai tiga orang anak laki-laki dan dua wanita. Satu anak laki-laki nya di beri nama Haruki.


Tuan Hasan sendiri duduk sebagai Komisaris di perusahaan yang di dirikannya dengan menggandeng Mitra seorang pengusaha dari negeri Matahari terbit yang duduk sebagai Direktur Utama di PT. Nagasaki Service. bergerak di bidang servis kendaraan semua merek, tapi yang di diprioritaskan di bengkel ini, kendaraan dengan merek Mitsubishi.


PT. Nagasaki Servis adalah mitra bagi Pabrik pembuatan / Perakitan kendaraan merk Mitsubishi di Indonesia, yang telah menunjuknya sebagai Bengkel resmi mobil keluarannya.


Masih obrolan berkisar di seputar wacana dan rencana kegiatan di waktu yang akan datang dengan Faizal.


" Bokap sih tidak menganjurkan apalagi menyuruh aku untuk menerima tawaran itu ."


" memangnya lowongan kerja untuk posisi apa kau disana Ji ?" Tanya Faizal.


"Pegang Gudang, Khabar sementara seperti itu."


" Waw .Tempat basah dong, bengkel resmi Mitsubishi pemiliknya orang Jepang, pegang gudang, lagi !"


" Sudah jadiin saja Ji , jangan banyak pikir lagi, nanti keburu di ambil orang lain." Sergah Fauzi berapi-api.


Selang tidak lebih dari sepekan terhitung dari percakapan kedua sahabat ini, Faizal mendapat berita, Aji sudah mulai bekerja di bengkel resmi Mitsubishi, sebagaimana yang mereka perbincangkan sepekan yang telah berlalu.


Hari silih berganti, pekan yang berlalu berganti ke pekan yang datang, tanpa terasa lagi lima Bulan Aji bekerja di tempat yang tidak sedikitpun terbayang olehnya, dirinya lulusan dari sebuah perguruan tinggi di jurusan pelayaran, sekarang berada dan bekerja di bengkel Automotif sebagai pemegang gudang.


Dia sudah lupa, entah yang ke berapa kali, mungkin sudah puluhan kali, dia menggelengkan kepalanya saat teringat akan, siapa dia dan mengapa ada disana.


Hingga di suatu hari Ayahnya sengaja datang ke Jakarta selain untuk urusan masa pra pensiun bagi kedinasannya, juga menyambangi anaknya, baik yang tinggal di Jakarta Selatan, juga dia yang tinggal sendirian di tempat kontrakan.

__ADS_1


" Aji, apakah kau sudah tahu Khabar tentang bapak KH.Sahamah telah wafat? konon hari ini, akan di adakan Tahlilan yang ke 7 harinya, ditempat kediamannya. di kampung Kadumerak." ujar Ayahnya Aji.


" Belum pak, Inna lillahi wa Inna ilaihi roozi uun", Aji membacakan nya dengan Hidmat.


" Bapak pikir tidak ada salahnya, kalau kau datang kesana untuk takziah, ikut belasungkawa, berdo'a sebagai bentuk rasa empati untuk yang di tinggalkan," Kata sang Ayah.


" Inshaa Allah pak" Jawab Aji singkat.


Percakapan antara anak dan Ayah berlangsung cukup lama, hingga waktunya bagi sang Ayah untuk Pamit pulang, kembali kerumahnya di luar kota Jakarta.


Tidak pakai pikir lama-lama, keesokan harinya diapun. berangkat menuju Terminal Bus, Jakarta saat itu masih di Grogol. Dengan menggunakan moda transport Bus antar kota, dari terminal Bus Grogol dia naiki Bus tujuan Labuan untuk nanti minta di turunkan di kilometer dua, Pandeglang.


Niatnya kali ini untuk melayat kepada keluarga yang sedang berduka, keluarga Fitrie, terutama Fitrie walaupun dia masih ada perasaan belum layak untuk datang lagi ke tempat dimana dulu dia mendengar ucapan seorang yang dia dambakannya untuk duduk disampingnya sebagai Ratu di kerajaan rumah tangganya.


Namun apa mau dikata, sang Ratu berucap," Jangan pernah datang lagi ." ada bisikan ke lubuk hatinya,


" kedatangan kali ini kan untuk tujuan yang lebih mulia dari kepentingan Asmara.


Godaan yang berniat meruntuhkan nilai kebaikan yang sudah di niatkan nya dan akan dia lakukan murni tanpa pamrih terkandung di dalamnya.


Dari sisi lain lagi timbul sebuah kalimat tanya bernada cemooh, " Apa bukan bermaksud mencari simpatik ?" galau Aji di buatnya, karena kalau mau jujur dalam bertutur kata, dia ingin menyampaikan sebentar waktu ketemu kali ini, menyampaikan kepada wanita itu, sebuah pertanyaan.


" Mengapa saat itu kau ambil hatiku, kalau pada akhirnya kau tidak berkenan menempatkan untuk hati kita berdampingan."


Di sepanjang perjalanannya Aji membayangkan bagaimana nanti, saat dirinya melangkah masuk ke pekarangan rumah yang sudah hampir setahun lebih tidak pernah lagi dia menginjakkan kakinya di sana.


Lamunannya buyar, manakala kondektur Bus yang dia tumpangi, kernetnya meneriakkan nama sebuah tempat, justru tempat itu yang akan didatanginya.


Bus itu pun berhenti, hanya dia penumpang satu-satunya yang turun di tempat itu.

__ADS_1


Setelah dia menginjakkan kakinya di jalan beraspal


jalan raya menuju pusat kota dari tempat itu, tidak lebih dari dua Kilometer untuk mencapainya ke sana.


Beberapa langkah dari tempat tadi Bus berhenti, terbentang jalan kelas tiga, menuju sebuah pedesaan dengan melewati halaman depan rumah tempat tinggal keluarga Almarhum KH.Sahamah. Yakni Ayahanda Fitrie.


Dengan tanpa keraguan sedikitpun, dia masuki halaman depan rumah tersebut, yang tampak lengang bagai rumah tak bertuan, di dihampirinya.


pintu utama rumah itu, dan di carinya lagi dengan seksama, barangkali ada alat panggil, setelah di pastikannya tidak ada, diketuknya daun pintu dengan ketukan yang tidak begitu keras.


Setelah di ulanginya hingga beberapakali mengetuk, tapi belum juga ada tanggapan dari penghuninya, untuk beberapa saat dia berhenti mengetuk untuk memberi jeda waktu, dengan maksud akan di cobanya lagi mengetuk untuk yang terakhir kalinya, bilamana masih seperti tadi tidak ada tanggapan, ada kemungkinan penghuninya sedang tidak ada di tempat, maka dia berniat untuk pergi.


Baru saja dia menjulurkan tangannya untuk mengulangi ketukannya pada daun pintu di hadapannya, terdengar suara cukup nyaring, dari arah jendela rumah sebelah kirinya.


" Orangnya sedang pada pergi, ziarah kubur,!" dengan suara yang terdengar jelas, tampaknya suara seorang wanita dewasa, terdengar di kuping Aji.


" kalau boleh tahu, kearah mana ya Bu, kalau saya mau menyusul ke sana." tanya Aji.


" Ke arah jurusan Jakarta Mas." jawab wanita yang oleh Aji di panggil Ibu.


" Kalau si Mas naik kendaraan umum, bilang saja ke sopirnya kuburan Almarhum Kyai Sahamah." inshaa Allah mereka tahu, disana juga nanti akan ada yang menunjukkan ." Sahutnya.


Aji.pun mengucapkan terima kasih . Tanpa menunda waktu lebih lama lagi, cepat di langkahkan kakinya untuk pergi menuju ke tempat yang di sebutkan oleh ibu tadi.


Dengan tidak mendapat kesulitan, ditemukannya Taman pemakaman, sebagai tempat peristirahatan yang terakhir bagi mereka yang jasadnya sudah terkubur di Taman Pemakaman itu.


Dengan mudah Aji menemukan letak kuburan yang di maksudkan. dilihatnya disana, masih cukup banyak orang yang ikut menghantarkan jasad yang kini telah terkubur tanah, dengan onggokan tanah merah di atasnya bertebar bunga rampe.


Dia mendekati kerumunan orang yang masih mengelilingi kuburan itu, diantara beberapa orang yang di duga mereka adalah keluarga terdekat dari almarhum. terlihat seorang yang tidak asing baginya, seorang wanita yang sedang menundukkan pandangannya ke tanah bagian atas pusara sambil menaburkan sisa bunga rampai kelihatannya dia seorang yang tampak merasa duka teramat dalam dibanding yang lainnya..

__ADS_1


Penglihatan Aji tidak keliru,......


.


__ADS_2