
Bab 3
Ketika Aji mengulurkan tangan kanannya untuk menyalami Susan, sebagai tanda perpisahan.
Justru Susan menyambutnya dengan memegang erat tangannya, dan mencium punggung telapak tangan lelaki itu sebagai mana layaknya seorang adik atau saudara yang jauh lebih muda usianya bersikap kepada yang lebih tua dari dirinya.
" Dari tadi, Abang tidak melihat di mana Mami Mey?" Tanya Aji yang sudah tidak canggung lagi menyebutkan dirinya Abang, untuk Susan, Sebagaimana Susan memanggil dia seperti itu. Begitu juga dia yang sudah enak menyebut Meyriska dengan sebutan " Mami Mey".
" Tolong ya adikku, sampaikan salamku, katakan Abang berangkat." pesannya.
Lambaian tangan Susan mengiringi bergeraknya kendaraan yang Aji pergunakan, meninggalkan tempat itu, berjalan dan untuk selanjutnya menghilang dari pandangan mata Susan.
Perjalanan kali ini, diarahkannya kendaraannya ke daerah tempat tinggal Fitrie 120 Kilometer jaraknya dari tempat kini dia berada.
Seperginya dia dari area sektor Ekonomi informal industri esek-esek itu, di pacunya laju kendaraan demi tercapainya maksud dan tujuan tiba di sana tepat waktu.
Atas berita dari sumber yang dapat dipercaya, bahwa riungan mengirim Doa bersama, di rumah mendiang K.H. Sahamah, akan di selenggarakan sore hari ini setelah waktu shalat Ashar. Itu artinya dia ," harus tancap gas pol ", teriaknya di kabin mobil itu sambil di acungkan kedua tangannya ke atas dan sejenak di lepaskannya pegangan pada stir mobil. bergaya seperti orang yang sedang Evoria, sementara kecepatan laju kendaraan semakin ditambahnya.
Satu jam kemudian sudah tiba di tugu wates, biasa di sebut oleh penduduk setempat dengan sebutan "Tapal Wates". atau dengan kata lainnya adalah Tugu Batas, itu artinya 5 kilometer lagi menjelang pusat kota.
Tempat tinggal Fitrie Dua kilometer sebelum pusat kota, berarti hanya Tiga kilometer lagi akan sampai ke tempat yang dituju.
Benar saja, begitu tiba di sana, sudah tidak ada lagi tempat parkir untuk mobilnya. petugas keamanan yang bertugas terlihat sibuk mengatur kendaraan para pelayat untuk bisa diparkirkan di pinggir sepanjang jalan raya, saking banyaknya pelayat yang datang dengan menggunakan mobil pribadi. Termasuk mobilnya, mendapat pasilitas untuk di parkirkan di pinggir jalan raya.
Belum lagi sempurna mobilnya terparkir, dari arah depan mobilnya, terlihat seorang laki-laki yang masih muda, menyeruak di kerumunan orang banyak, mendatanginya dan menyapanya ,
__ADS_1
" Kak Aji !" kemudian diapun mengucapkan salam
spontan di jawab oleh Aji dengan salam balasan. lantas di unjukkan dan dihantarkannya Aji untuk parkir di tempat parkir khusus keluarga. Yakni di bagian belakang rumah utama yang posisinya berada percis di halaman depan pesantren.
" Apa khabar mang .? sapa Aji setelah mobilnya di tempat parkiran yang masih bisa untuk parkir beberapa kendaraan lagi, yang seukuran mobilnya.
( Mang, sapaan akrab kepada Santri ).
" Alhamdulillah kak Aji, semoga kak Aji juga demikian adanya". jawab santri itu.
" Aamiin ya rabbal 'aalamiin ," balas Aji. dengan santun, murni apa adanya, " bagaimana Khabar keluarga Almarhum seluruhnya mang ?" Sahut Aji lagi.
" Alhamdulillah Barakallah, semua pada sehat,si Teteh juga" jawab Santri yang dipanggil Aji " Mang" itu. ( Maksudnya Teteh \= Teh Fitrie alias Kak Fitrie ). Dalam bahasa Sunda.
Dengan berdampingan mereka berjalan menuju Rumah duka. membaur dengan orang lain yang datang untuk tujuan yang sama, yaitu mengikuti riungan memanjatkan Doa yang di selenggarakan oleh keluarga besar Almarhum bapak KH.Sahamah
Ditempat kediamannya ini, berkumpul para ulama, pemuka Agama, Santri, Para pemuka Agama, dan tidak sedikit pejabat dari Institusi lembaga Pemerintah juga turut hadir, sudah lazim para tamu tersebut ditempatkan di ruang utama, tempat duduknya para sesepuh di lingkungan Pesantren Tamu lainnya yang dianggap dekat dengan Almarhum semasa hidupnya.
Aji belum begitu paham dengan adat istiadat di tempat itu, ketika Santri yang mendampinginya menghantarkannya ke ruangan tersebut, dia hanya mengikuti anjuran Santri senior yang pada akhirnya di ketahui dia bernama Udi, dengan panggilan sehari-harinya, 'Mang Udi'.
Beberapa waktu berselang, satu persatu yang datang menghadiri dan menempati ruang kosong di sebelah kiri juga kanan tempat duduk nya. hingga tidak ada lagi celah untuk di duduki oleh orang yang baru datang, seandainya masih ada. Dia perhatikan satu persatu yang duduk di ruangan itu dengan pandangannya berkeliling, berakhir pada dirinya.
" Mereka bukan dari kalangan orang biasa seperti dirinya ." gumamnya.perlahan, dari yang mengenakan baju Koko dengan bawahannya Sarung yang bukan umum pula hampir seluruh yang ada di ruangan yang dia duduki mengenakan Sarung ber merk " BHS" itupun dengan indikasi ketika duduk
beberapa saat ketika mereka bertemu dan bersalaman satu sama lain, tidak dengan posisi tetap duduk, tapi bangkit setengah berjongkok, pada bagian sarung yang di duduki.tidak terlihat kerutan tanda-tanda kusut.
__ADS_1
" Ini bukan sarung harga satu atau dua Juta ." gumam Aji perlahan.
Hanya beberapa gelintir saja yang memakai sarung selain BHS termasuk dirinya, tapi yang lain itu bukan sarung-sarung yang biasa, bisa ditemui di Mall atau di tempat Kaki Lima.
Dengan di lengkapi oleh aksesori Surban, sementara yang sisanya memakai Jubah Gamis. Dengan Udeng di kepala seperti yang biasa dikenakan oleh para Habib. Nah, dirinya berada di tempat tu tidak memakai sarung, walau ke atasnya memakai baju Koko dan menggunakan Pici.
Kalau baju Koko, memang dia sengaja membelinya di Toko khusus busana Muslim di perjalanan. Dia beli khusus untuk menghadiri acara itu. Tetapi tetap dia merasa keder juga walau hanya sesaat ketika baru duduk di ruangan itu setelah waktu berjalan, dan di temuinya. Jawaban yang membuat hatinya tentram.
Mereka yang datang dan ditempatkan oleh Tuan rumah, di ruangan khusus itu, untuk para pemuka Agama mereka sudah sampai ke Tahap, dimana tidak sempat untuk memperhatikan kekurangan orang lain sekecil apapun. mereka lebih fokus untuk memperhatikan kekurangan pada dirinya sendiri.
Dari mukadimah hingga acara pokok dan di akhiri oleh doa penutup, telah berjalan dengan tertib dan berakhir dengan baik, para tamu sudah mulai satu persatu pergi pamit dan meninggalkan rumah itu.
hanya tinggal Aji dan mang Udi saja yang tersisa di ruangan tersebut.
Mereka berdua mengobrol di ruangan itu , sementara santri yang lainnya sebagai panitia penyelenggara panjat Doa, merangkap sebagai tuan rumah. yaitu para Santri beserta keluarga,sibuk bekerja membereskan peralatan sarana acara, seperti menggulung karpet dan melipat tikar. di antaranya.
Mang Udi sambil bicara dengan Aji, tangannya sambil mengerjakan melipat karpet di ruang itu. tengah mereka asyiknya ngobrol kesana-kemari,
Ada sepasang telinga yang menangkap suara yang tidak asing bagi pendengarannya. Di dorong oleh rasa ingin tahu dan penasarannya, di datanginya ruang utama rumah tersebut, Dan sesaat membuatnya merasa kaget. namun ada rasa senang, terpancar lewat raut wajahnya yang Sumringah.
" Kak Aji ?" dengan berseru dan menyapa dengan salam khas seorang Muslimah, di jawab oleh Aji dengan Salam balasannya. komplit dari Wassalamu'alaikum....hingga wa barokatuhu.
Standar ukuran orang yang baik itu, menurut versi Aji, yang pernah dia dapatkan dari Guru Agama pada mata pelajaran " Akhlak ". di sebutkan oleh Ustadz pengajarnya.
" Bahwasanya, saat seseorang berbuat kesalahan kepada orang lain, dan dia menyegerakan untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah di perbuat nya, maka orang tersebut Allah SWT masukkan kedalam golongan orang yang Baik. Akan tetapi di saat seseorang meminta maaf kepadanya atas perbuatan salahnya dan dia memaafkannya. Maka dia termasuk golongan orang yang lebih baik.
__ADS_1