Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Gagal Total "


__ADS_3

Bab 2


Salam, kami yang berbahagia tertanda Alfonzo dan Josette .M.Cardoso, nya itu berada di dalam tanda baca kurung kecil.


Di ulanginya lagi membaca LMS itu beberapa kali sambil merenung, " Ini Hoax atau April move ya ?" Batinnya, dan lanjutnya lagi...


" Tapi, hari itu bukan di bulan April, sekarang kan bulan November."


Sejauh yang dia tahu, tidak pernah dia mendengar ada November move.


Mau rasanya dia klarifikasi sekarang juga, kepada Josette yang telah mengirim berita melalui pesan yang panjang itu, tetapi dia berfikir lagi, di Brazil saat ini masih pukul 02;00 Dini hari.


" So ...What can i do..?" gumamnya. Ditelusurinya di music play store di laman You Tube, judul sebuah lagu lawas dari group Band bernama The Smokey.


" Di putar ah !!" celotehnya sendirian.


Maka berkumandang lah di ruangan kamarnya, sebuah lagu nostalgia dari grup Band Smokey," What Can I do " membuat ingatannya jauh menerawang ke sebuah kamar di sebuah Hotel di kota pesisir Santos, ya... yang berakhir dengan terdengarnya lantunan lagu ini,


Entah dari kamar sebelah mana datangnya suara itu yang diantarkan oleh hembusan angin hingga sampai ke pendengarannya.


...ΩΩΩΩΩ...


"Josette, aku akan datang, " kalimat itu terlontar dari bibirnya, sementara matanya sudah merasa berat ingin mengatup, dan diapun menjatuhkan tubuhnya ke pembaringan.


Hingga di situ alam sadarnya mengulang masa lalu, dan di lanjutkannya lembaran kenangan indah itu di dalam tidur lelapnya.


...*******...


Undangan resmi dari keluarga terhormat, di Brazil.


Tidak mungkinlah kalau dia datang kesana sendirian tanpa pendamping, untuk menghadiri perhelatan akbar itu, sedangkan yang mengundangnya, tidak tanggung-tanggung, langsung calon kedua mempelai.


Termasuk keperluan sarana untuk bisa hadir di sana pada waktunya nya, berupa Tiket pesawat dengan tarif kelas Luxury, di fasilitasi.


Penerbangan yang langsung tanpa transit di beberapa Bandara. Tidak sebagaimana penerbangan kelas biasa.


Dua opsi di bawah ini adalah sebuah alternatif.


* Hadir dengan membawa pasangan, itu mengangkat martabat dan menjaga nilai prestise.

__ADS_1


* Hadir tanpa pasangan, itu hal yang tidak terjangkau oleh fikiran sehatnya , sebagai makhluk yang bermartabat.


Tidak ada kekecualian, untuk pilihan yang manapun kedua-duanya memerlukan " Penopang."


Statusnya saat ini, bagi kedua mempelai sudah mengetahui siapa dirinya, yang notabene bekerja di kapal asing sebagai perwira di bagian mesin.


Terdengar begitu bergengsi, tidak keliru kalau saat ini dia di ibaratkan sebuah pistol yang jelas tergolong mahal, tetapi tidak ada amunisinya. Penopangnya pun ( 3 poid ) tidak di milikinya.


Padahal dengan penopang tersebut, sasaran tembak dari senapan jenis apapun akan bisa di pastikan akurat, alias tepat bidik, tidak jauh berbeda shooting Film dengan ponsel pun akan demikian hasilnya.


Tidak terbayangkan olehnya, Jika ketika dia hadir di sana di tengah suasana glamor.


Seharusnya dia tampil elegan, seirama dengan kondisi dan suasana yang sedang berlangsung.


Dengan mengenakan setelan pakaian dari sebuah rumah mode ternama tanah air, akan tetap nihil tanpa seorang pendamping di sampingnya, sebagaimana para tamu undangan lainnya.


Terbayang olehnya dengan spontan." Fitrie kah gadis Cinderella itu ?. Yang untuk di bawa pergi keluar rumah saja, yang berjarak tidak lebih dari 25 kilometer, tidak bisa.


Lantas siapa gadis Cinderella yang akan mendapat kehormatan mendampinginya untuk hadir di sana. Di luar dari negri kita. Brazil.


Shinta ..? Sebuah kejadian yang mustahil, kalau sampai seorang wanita, siapapun dia. Yang sudah di gadang-gadang untuk di jadikan seorang istri dari seorang pria dengan kesanggupan finansial yang memadai, patut kah jika di selingkuhi ?


Sementara kepergian jauh tersebut, untuk kepentingan orang yang belum wajib baginya untuk manut melaksanakannya.


Susan kah ? Ya .!! Ini sosok wanita yang besar kemungkinannya untuk bisa di jadikan putri Cinderella nya walau hanya untuk sementara dan untuk kepura-puraan saja. Seakan dialah pasangan idealnya.


Ucapan adalah Doa. Di suatu hari yang dia tidak ingat kapan persisnya, tapi yakin dirinya pernah berucap kata kepada Susan seperti begini ;


" Susan, seandainya di satu saat nanti, kau pergi ke sana ( Brazil ), bukan untuk urusan pusar kebawah, tapi asli pergi untuk sekedar wisata, ketika ini benar-benar terjadi, jika disana ada yang bertanya kepadamu.


" Dari mana asalmu ? Kau jawab saja ." Dari Columbia ". Saran Aji.


Aji spontan saja melontarkan perkataan seperti itu, memang tidak salah juga, karena bentuk fisik Susan, seperti pada umumnya orang dari sana.


Mirip para pemeran wanita yang sering ditayangkan di layar televisi swasta, yaitu film Opera sabun dari negara Amerika Latin.


Hari ini bukan saatnya untuk berleha-leha, dengan gerakan yang tidak kalah oleh pasukan Damkar saat mempersiapkan keberangkatan untuk menanggulangi sebuah kejadian, seperti itulah kira-kira dia bersikap.


Dengan melambaikan tangan kepada Anggi, dia berangkat dengan tujuan kota Pandeglang, sebagaimana niatnya semula, tidak ada sedikitpun rasa takut atau malu, di dalam hatinya telah bulat tekad untuk membersihkan nama baik keluarganya. Terutama nama baik orang tuanya.

__ADS_1


Setiba di luar kota Jakarta, sengaja dia belokkan kendaraannya untuk mengisi bahan bakar dan sekalian menikmati minum kesukaannya yaitu kopi Torabika dengan niat untuk menghubungi sahabat terdekatnya, Haruki Bin Gawa, yang suka tertawa terkekeh saat Aji menyebut sahabatnya bila di sertakan Bin Gawa.


" Kagak pantes banget pake Bin..he..he..he Aji Luh kagak bermaksud melecehkan gua kan ?" Tapi sambil tertawa terkekeh-kekeh.


" Tidak Sohibku, samasekali tidak Ruki." Bantah Aji di barengi senyuman.


Suara nada panggil tersambung ke ponsel yang ditujunya. Dan terdengar klik pertanda orang yang di tuju meresponnya.dan..., Halo ( Uluk salam ) di ucapkan oleh Aji dengan mendapat jawaban salam yang sama dari seberang.


" Wei... Aji si Playboy akhirnya telepon gua juga, lagi dimana Luh Ji !"


" Aku sedang di rest area Ki ! Tujuan mau menemui yayang Fitrie." Jawab Aji, berapi-api.


" Aji, emangnya Luh belum tahu atau Luh berlagak gak tahu ? Kan gua udah bilang, Luh lagi kagak aman pulang ke sono Ji..!"


" maksud gak aman nya ditunggu oleh Polisi Untuk di tangkap, begitu ? Aku sih malah berdoa yang nangkapnya Polwan, kalau di Banten bahasanya bukan di tangkap Ki..! Tapi di Tangkeup ( bahasa Sunda yang artinya di peluk ). He..he..he." seloroh nya.


" Maksud gua , Luh kagak aman, bukan di tangkap, apalagi di Tangkeup, itu mah yang luh mau ! Itu Ji, Luh di beritakan. Bla...bla .bla. " ( haruki mencoba memaparkan kepada sahabatnya lumayan panjang lebar dan detail ).


" Di Copy manis Pangeran Matahariku, dan aku mengucapkan Arigato Gojai masta atas seluruh yang paduka infokan, tapi paduka tidak tanya kepada hamba, kenapa hamba berani juga datang kesana ?" Jawab Aji di sertai selorohnya, ini sempat membuat Haruki terheran-heran.


" Hey panjul ! Gua serius kapan pala luh kebentur batunya Ji , way !!"


" Oke ..baiklah serius, aku telepon kau Ruki, pertama aku akan ceritakan kenapa aku berani juga datang ke sana, tapi nanti sesudah urusan disana beres, karena panjang ceritanya. Ini pasti menarik. Aku janji itu juga akan aku jelaskan kepadamu Ruki.


Yang Kedua, aku akan mengembalikan kendaraan yang sudah terlalu lama ku pinjam. Dan yang ketiga ini terakhir, aku mau nanya kau, dimana saat ini Susan berada, setiap aku hubungi ke nomor ponselnya, selalu operator Telkomsel yang menjawab." Papar Aji.


" Ji untuk yang luh bilang yang kedua, luh taro aja di urutan ke sepuluh juga kagak apa-apa. Sepanjang mobil gua luh isi BBM, luh pake aja. Justru gua mau bilang ama luh, tentang urutan nomor akhir yang luh mau tanyakan ke Gua ." Haruki tiba-tiba diam seperti ada yang dirasakannya berat untuk di sampaikannya.


" Lanjut bro Ruki." Himbau Aji.


" Semenjak terakhir luh ketemu dia, beberapa hari setelahnya, dia tidak pernah mau keluar kamar seperti biasanya. Padahal dia di kenal di lingkungannya sebagai seorang yang periang, dia mendadak jadi pendiam, yang terakhir gua dapat dari Mami Mey dia sudah tidak mau menerima tamu lagi," terdengar oleh Aji, Haruki menghela nafas panjang. Untuk selanjutnya dengan suara parau terhalang sedak di dadanya, selanjutnya....


" Susan sudah pergi Ji "


" Hah..! Pergi kemana Ruki, dimana alamatnya Ruki !" tanya Aji dengan suara hampir berteriak.


" Ditempat kelahirannya Ji, di Jawa tengah, malah dia berpesan ke si Mami Mey ketika dia sakit untuk tidak kasih tahu Luh, dimana tempat peristirahatan terakhirnya. Biarkan dia tenang Ji !" Pesan Haruki di akhiri dengan di tutupnya sambungan ponselnya.


Aji terenyuh amat dalam, " ini semua salahku, dia butuh perhatian dan dorongan dalam mencoba mengembalikan miliknya yang berharga, yaitu harga dirinya yang hilang. Aku khilaf kenapa saat itu tidak ku sampaikan kepadanya, dengan tidak tinggal di sana pun dia bisa hidup sejahtera ." Batinnya seakan menyesali semua yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2