Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Farewell maybe Forever "


__ADS_3

Bab 1.


Hati yang gundah gulana, mewarnai hari minggu yang seharusnya di lalui dengan suasana gembira.


Josette Maria Cardoso, yang semula berniat untuk sesegera mungkin pergi meninggalkan pesisir pantai Santos, untuk menemui Tuan Don Bosco Gonzales, guna meminta masukannya dan juga merumuskan langkah apa yang sebaiknya ditempuh dalam menindaklanjuti perkara yang akan, dan sedang dihadapinya..


Dibalikkan nya arah kendaraannya kembali menuju ke tempat semula, tempat tadi dia melepas Aji pergi,


dia hubungi orang yang dimaksud dengan telepon selulernya. Terdengar nada sambung, pertanda nomor yang di tuju sedang aktif, hanya beberapa kali saja nada panggil itu berdering, untuk selanjutnya..,


" Halo.," terdengar suara seorang laki-laki, dari sebrang sana.


" Halo," jawab Josette


" Dengan siapa, dan ada apa ya ?" sahut laki-laki tersebut dengan suara datar.


" Halo Om, aku Josette Maria Cardoso, Om masih ingat aku?" tanya nya, sengaja dia sebut nama Cardoso, yakni nama Ayahnya.


" Oh., kamu toh Jose., maaf sudah lama sekali ya ! kita tidak kontak, bagaimana kabarmu, Ayahmu dan keluarga semua sehat-sehat saja?" dengan ramahnya, dari nada bicaranya, yang Josette panggil Om itu.


" Puji Tuhan, sehat wal afiat Om, sebaliknya, semoga keluarga Om disini juga demikian." Timpal Josette.


Cukup lama mereka bicara di telepon, sesekali Josette melepas pandang ke arah Laut, di kejauhan terlihat noktah hitam bergerak perlahan, mendekati bentuk benda terapung, noktah itu semakin mendekat, untuk kemudian merapat ke benda terapung tadi, yang tidak lain itu adalah Kapal yang di tuju oleh Motor But yang ditugaskan oleh perusahaan pemilik kapal itu untuk mengantar jemput para anak buah Kapal saat memerlukan pesiar ke daratan. adegan yang Josette lihat tadi merupakan pertanda, mereka telah sampai ke tujuan dengan selamat.


Sementara itu, percakapan antara Josette dengan Don pun terus berlanjut hingga.,


" Jadi .. Hari ini aku bisa datang ke rumah?" ucap Josette, minta kepastian.

__ADS_1


" Untuk anak dari sahabatku, tidak ada yang tidak bisa, dan kau masih ingat Tantemu yang jago masak ? dia masih ingat makanan kesukaanmu Jose, selamat datang di rumah kami, kedatanganmu pas waktu makan Siang, sungguh hari Minggu yang sangat indah bagi kami atas kedatanganmu." Tegas Don, begitu antusiasnya mengundang Josette, untuk datang ke kediamannya.


Terbayang dalam ingatannya, tadi dia melihat dan yakin Aji dan teman-temannya telah tiba di Kapal dengan selamat, setelah usai percakapannya dengan Don, seiring dengan dimatikannya kontak telepon dalam genggamannya, diputar baliknya ke arah 180 derajat menuju pintu gerbang pelabuhan laut, untuk selanjutnya keluar dari kawasan pelabuhan menuju ke jalan raya pelabuhan, di pacunya kecepatan mobilnya lebih cepat dari biasanya setiap saat dia mengemudi kendaraannya.


( Tidak dikisahkan sepanjang perjalanannya ke rumah Don ).


Tiba di halaman depan rumah yang masih kental di dalam ingatannya, rumah sederhana, tapi dengan penataan eksterior yang asri, semakin bertambah indah untuk dipandang, dengan terlihatnya tanaman bunga hidup yang beragam macam jenis.


Hampir tidak ada yang berubah, kecuali cat temboknya yang dulu berwarna cerah berani, sekarang berubah dengan warna lembut dan sejuk saat di pandang, kendati saat ini sinar mentari yang terik, yang terasa teramat menyengat di kulit.


Rumah ini, tidak menunjukkan kalau pemiliknya adalah seorang pejabat yang berwenang sebagai penguasa Pelabuhan Laut di sana. Josette pun langsung memasukkan kendaraannya ke halaman bagian depan langsung dengan mudah, karena tampaknya, Tuan rumah, sengaja membuka pintu pagar gerbang utama.


" Rumah sederhana, jauh dari kesan mewah," gumamnya.


Dengan inisiatif sendiri, Josette menutupkan pintu pagar yang semula di dapatkannya dalam keadaan terbuka, oleh suara pintu gerbang yang lumayan nyaring, serta merta sang empunya rumah pun muncul , demi di lihatnya sosok yang memang sedang ditunggu kedatangannya, Don berseru ,


" Fantastik ! Jose akhirnya kamu datang juga. sergah Don.


...Dulu Margareth datang ke Brazil untuk tujuan melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi disana, di saat itulah mereka bertiga bertemu. Ayahnya Josette yang bernama Frederik Armando Guterres lah yang mengenal Margareth lebih dulu, bahkan di isukan ada hubungan khusus diantara mereka berdua, tapi bagaimana ceritanya ( tidak di kisahkan di sini )....


...Don sendiri yang langsung menyambut kedatangan putri dari sahabatnya itu, seraya berkata ," Tante mu juga merasa amat bahagia ketika mendengar kau akan datang kemari Jose !, " dengan menyebut nama panggilan kesayangan bagi Josette semasa kecil. Dan, Josette pun tampak tidak keberatan dengan panggilan akrab itu, membuatnya menjadi nyaman seperti diperlakukan di rumahnya sendiri....


Josette mendatangi Margareth yang dilihatnya sedang sibuk di dapur, memang mereka sengaja menyiapkan makanan yang dibuatnya sendiri, untuk menyambut kedatangan Josette yang telah mereka anggap lebih dari sekedar putri dari seorang sahabat.


" Tante !, maaf ya, baru sempat sekarang aku datang kemari." sahut Josette.


" Tidak masalah Jose, toh kau juga punya kegiatan yang cukup menyita waktu, ngomong-ngomong, Ayahmu tahu kau datang kemari, menginap pula, beberapa bulan yang lalu kau datang kemari dengan tunanganmu, bagaimana kabar dia, baik-baik saja bukan." sahut Margareth.

__ADS_1


" Sehat, dan kabarnya baik Tante , Mami juga kakak ku yang sekarang tinggal di Guatemala mereka semua baik-baik, puji Tuhan Tante ."


" Syukur kalau begitu keadaannya, kami juga tidak jauh berbeda kondisinya. Anak Tante yang pertama, dinasnya di La Salina, di bidang yang tidak jauh berbeda dengan Papanya, hanya saja dia di Dunas Kelautan dan Perikanan. Bukan di bidang administrasi, ya.. Tante beri dia kebebasan memilih,


sama dengan Papi mu, sementara dia tinggal dan berdinas di sini, kau di Rio De Janeiro." sambung Margareth.


Suasana kekeluargaan mewarnai perjumpaan yang tanpa di rencanakan nya terlebih dahulu, terjadi begitu saja, " bisa jadi kalau tidak oleh sebab kejadian yang erat kaitannya dengan Aji, aku yakin saat ini diriku tidak akan berada di tempat ini," gumamnya.


Ramah tamah dan kebaikan dari keluarga Don, yang tanpa basa-basi berlanjut lancar, hampir segala topik di bicarakan dan di bahas ulang, dan di akhiri dengan tawaran kepada Josette, untuk menginap di rumah mereka, dan dijawab Josette dengan kata ,


" Ya baik Tante ".


" Anak Tante, Adeline, sebentar lagi juga datang Jose, bilang ke Tante sih hanya sebentar, hanya untuk setor Muka, sudah biasa itu, setelah ikut acara makan, dia janji mau langsung pulang, dia tahu kau sudah datang.


Josette lebih memilih tinggal di rumah, kebetulan Don juga bermaksud untuk membahas lebih lanjut pembicaraannya dengan Josette, menyambung yang tadi pagi melalui telepon, " Sementara menunggu putrinya pulang dari acara gathering di kampusnya.


Inti dari keseluruhan dari masalah, sudah Josette sampaikan, tampaknya Don sudah paham. Strategi yang akan di jalankan pun sudah Don sampaikan dengan lugas dan terperinci.


" Strategi ini, hampir bisa di pastikan tidak akan gagal, Jose!" ucap Don meyakinkan, sambungnya lagi , " Kasus semacam ini, bukan pertamakali terjadi hanya beda tipis dengan yang pernah Om temui, kalau pihak maskapai perkapalannya mau lepas tanggung jawab, itu lagu lama."


" Lantas, apa kiat Om dalam menangani kasus seperti itu ?" tanya Josette terheran heran, " koq ada seorang Kapten jelas-jelas anak buahnya berbuat pelanggaran, koq mau lepas tanggung jawab ?"


" Om paham kalau kau merasa amat heran, kita lihat nanti, mereka akan berkilah dan berani menyewa pengacara, berapa besarpun bayarannya." jelas Don kepada Josette.


" kenapa seberani itu Om?, demi apa tuh." tanya Josette lebih lanjut.


" Untuk sementara, bukan saatnya bagi mereka berpikir untung rugi, tapi nilai prestise dari perusahaan Jose, yang akan sangat berpengaruh terhadap animo pengguna jasa angkutan minyak," papar Don antusias.

__ADS_1


" Jangan ragu akan keberhasilan kita, Jose. Mereka akan terkena kasus penggunaan obat keras yang seharusnya, dengan memakai resep Dokter dalam penggunaannya, itu baru satu bukti pelanggaran yang akan kita gunakan nanti di persidangan, manakala sidang di gelar." .tutur Don meyakinkan.


* Untuk lebih jelasnya penyelesaian kasus ini, pastinya teman-teman harus terus membaca di Bab ke dua di " episode Farewell maybe Forever."


__ADS_2