
Bab 4
Shinta yang meminta Aji untuk tidak melakukan pembayaran ongkos perjalanan mereka, dengan usahanya menahan dompet yang dalam genggaman lelaki itu, agar dimasukkan kembali ke kantung celananya.
Sementara Aji bersikukuh tidak ingin niatnya untuk membayar, di halang-halangi.
Padahal dompet yang masih dalam genggamannya itu sudah dalam keadaan terbuka.
Disebabkan oleh rebutan mereka berdua, beberapa isi dari dompetnya berhamburan dan jatuh berserakan ke Jok tempat duduknya dan lantai Bus di sekitar mereka.
Diantara benda yang jatuh tercecer itu terdapat dua buah kartu yang sekilas pandang hampir samua orang tahu, bahwa kartu itu adalah kartu NPWP. Sedangkan yang satunya lagi, kartu keanggotaannya di KPI ( Kesatuan Pelaut Indonesia).
Kartu Tanda penduduk jatuh ke lantai Bus, sedangkan yang kartu keanggotaan KPI jatuhnya percis ke haribaan Shinta, dengan sigap dia lihat dan dibacanya, kemudian dimasukkannya kartu itu kedalam tas jinjingnya sekilas senyum penuh arti tersungging di bibirnya.
Perbuatannya itu tanpa sepengetahuan Aji yang sedang sibuk mengambil benda lainnya berupa uang koin pecahan seribu rupiah juga lainnya yang belum diketahui benda apa itu.
Aji merasa tidak lagi dihalangi oleh Shinta untuk melanjutkan yang sudah jadi niatnya semula, yakni membayar ongkos perjalanan untuk mereka berdua.
Sedangkan Kondektur yang dari tadi setia menunggu, untuk mengambil ongkos dua orang penumpangnya yang sudah diketahuinya kemana tujuannya.
Dengan cekatan dia bubuhi nilai nominal Rupiah pada karcis yang di berikannya kepada Aji, berapa jumlah Rupiah yang harus di bayar.
" Ini Om, Karcisnya ." Sahut kondektur sambil memberikan lembaran karcis kepada Aji. Dia terima dan langsung di bayarnya dengan jumlah uang yang sudah dipersiapkan dari sejak awal.
" Terima kasih Om."
" Sama-sama." Jawab Aji singkat.
⚓⚓⚓
" Coy....! penumpang yang kayak begiiiini nih yang gua demen, mau bayar saja berebut." Seru Kondektur itu ditujukan kepada kernetnya.
" Sering-sering saja ketemu yang kayak begini ya Boss !" Kernetnya menimpali.
Mereka berdua tertawa berbarengan, tidak sedikit diantara penumpang yang lainnya juga ikut tertawa merasa telah mendapat pertunjukan gratis.
" Adegan serupa ini langka terjadi !" Sahut salah seorang penumpang yang memperhatikan kejadian itu dari sejak awal. Rasa herannya itu dia sampaikan kepada penumpang yang duduk di sebelahnya.
Ada kemungkinan, bagi penumpang yang lainnya juga, kejadian itu bagi mereka, memang sebuah kejadian langka dan baru kali ini terjadi, sehingga yang tadinya hanya sebagian kecil saja yang melihat langsung dan tahu kejadian dari sejak awal, berbisik kepada penumpang yang sebelahnya.
Begitu juga yang tadi mendapat bisikan, dia bisikkan lagi kepada orang yang duduk di sebelahnya, hingga hanya dalam waktu yang relatif singkat, di dalam Bus itu terdengar suara seperti layaknya sekawanan Tawon Madu yang sedang bergerombol ketika mendapati bunga yang sedang merekah dan banyak mengandung sari Madu..
Suara berdengung seperti kumpulan banyak orang yang sedang melakukan Zikir berjamaah di sebuah Mesjid, atau suara sekelompok orang yang berbelanja di pasar tradisional.
Kebisingan itu berlangsung cukup lama, untuk kemudian mereda setelah beberapa orang anggota Zikir itu satu persatu terlihat menyandarkan kepalanya di tempat duduknya masing-masing, dan terlihat mulutnya terbuka dengan mata tertutup.
__ADS_1
Sedangkan Aji dan Shinta meneruskan kembali kesibukan masing-masing sebagaimana mereka lakukan sebelum percikan kecil itu terjadi.
⚓⚓⚓
Kali ini Aji yang menetralisir suasana yang sempat terasa kaku oleh mereka berdua, sepertinya masing-masing sungkan untuk membuka percakapan.
Disini Aji memperlihatkan, bagaimana seharusnya seorang laki-laki dewasa, Bersikap.
" Ehmm ...., Teh Shinta ," Sapanya dengan mengulurkan tangan, sebagai isyarat bahwa Aji mengibarkan bendera putihnya.
Di sisi lain, Shinta yang pernah menjalani hidup hingga ke jenjang berumahtangga, dan berpisah dengan cara yang baik, hanya saja keutuhan itu sudah tidak bisa di pertahankan nya.
Pengalaman terdahulu membuatnya lebih memilih bersikap terbuka, untuk sebuah kejadian kecil yang tidak perlu di besar-besarkan, disambutnya tangan yang terulur itu dengan senyum tipis yang tulus.
" Maafkan atas sikapku yang membuat teteh jadi tidak nyaman. Aku tuan rumah yang hampir saja berbuat tidak adab terhadap teteh sebagai Tamu, yang seharusnya Tamu Itu di muliakan, mengutip kandungan isi ceramah almarhum Ustadz Uje.
" Aaah ., tidak perlu di bahas, aku kira itu hanya salah faham saja di antara kita." Jawab Shinta.
" Boleh nggak aku tanya sesuatu ke teteh ." ujar Aji
" Sepanjang pertanyaanmu itu perlu untuk ku jawab kenapa tidak boleh .? Jawab Shinta.
" Kenapa tadi teteh begitu bersikeras ingin membayar ongkos Bus ?"
"Alasannya ?"
" Alasannya kau laki-laki sudah dewasa, seyogianya tahu alasannya, atau mungkin karena kau terlalu kebanyakan duit ya?, sehingga kau mau menunjukkan kepadaku. Atau karena gengsi sebagai laki-laki kalau sampai di bayari oleh wanita ?"
" Aku jawab jujur atau tidak?"
" Aku lebih memilih kau untuk jujur"
" Jujur.., jawabanku adalah, alasan yang terakhir yang ada di dalam Asumsimu itu teh."
Shinta mengacungkan kedua jempol tangannya kepada Aji. Dan menghadiahkan sebotol Minuman berupa air mineral bermerk Aqua berukuran 650 ml.
yang di sambut oleh lelaki itu dengan penuh sukacita.
Tanpa basa-basi, dia buka tutupnya. Dengan membaca Basmallah, dia sempatkan untuk berkata sebelum meminumnya." Nanti ya teh !" katanya, lantas.
Di teguknya air mineral itu hingga tinggal separuhnya yang tersisa." Terima kasih Teteh Shinta yang baik hati, tadi aku lupa nggak bekal minum.
Karena kupikir, biasanya di terminal, suka naik pedagang asongan.
Tumben tadi tidak seorangpun dari mereka yang datang naik ke Bus.
__ADS_1
" Sudahlah jangan pakai basa-basi segala."
" Bukan basa-basi sih Teh, hanya Jadi wenak nih.!"
" Kok begitu sih ?, orang biasanya bilang ," Jadi nggak enak nih !"
" Itu kan orang lain, yang asli suka basa-basi. Aku nggak suka begitu, jujur saja kenapa jadi nggak enak ? padahal enak kan ?" Sambung Aji. Yang membuat keduanya tertawa lepas.
Sekarang suasana benar-benar pulih seperti semula mereka pertama bertemu dan duduk berdampingan di dalam Bus " PO ASLI PRIMA".
Kalau tadi saat suasana yang sempat kurang kondusif untuk bercakap-cakap seperti sekarang, terasa perjalanan dari Jakarta yang hanya 120 Kilometer seperti menjadi dua kali lipat jaraknya, kenapa belum juga kunjung tiba saja ke desa Rumingkang yang dituju, baik oleh Shinta maupun Aji.
Tapi sekarang tempat demi tempat yang di lalui oleh Bus itu seperti berlalu begitu cepat. Tidak terasa oleh mereka kota Serang telah dilalui oleh Bus yang mereka tumpangi, bahkan tapal batas Kota Serang dengan Pandeglang pun baru saja dilalui.
Sekarang Bus PO. ASLI PRIMA sudah berada tepat di bawah Gapura bertuliskan "Selamat Datang di Kota Beriman Pandeglang, Kota Sejuta Santri ".
Itu artinya tidak akan lama lagi Shinta dan Aji akan tiba di tempat tujuannya, untuk lebih memastikan maka Shinta bertanya.
" Aa Kondektur, kira-kira berapa jam lagi Bus akan tiba di Rumingkang nya ya ?"
" Tidak akan lebih dari satu Jam, Teh. Kalau kondisi lalulintasnya seperti ini, kita tidak akan ngetem lagi kok, sudah syarat Muatan ." Jawab Kondektur, membuat Shinta menarik nafas, rasa lega memenuhi lubuk hatinya.
Memang tadi di terminal Serang banyak penumpang yang turun, yang semula muatannya sewaktu berangkat dari terminal Kampung Rambutan pas kursi penumpang hampir penuh, dan yang turun di Terminal Serang hampir separuhnya.
Akan tetapi terjadi penambahan penumpang di perempatan jalan Baros, ujung kota Serang menuju arah Pandeglang, entah dari mana dan mau kemana, begitu banyak penumpang yang naik. Sehingga jumlah muatannya melebihi muatan sewaktu berangkat dari terminal Kampung Rambutan.
Yang berdiri saja saat itu tidak kurang dari 15 orang penumpang. Sehingga Bus terasa menjadi begitu sesak, terutama di rasakan oleh penumpang yang berdiri.
Memang Janji dari mulut seorang Kondektur sebuah Perusahaan Bus Omprengan yang sudah cukup di kenal seperti PO.ASLI PRIMA ini, bisa di percaya.
Setelah lepas dari jantung kota Pandeglang, Sopir Bus menunjukkan kepiawaiannya dalam mengemudi kan kendaraannya, diinjaknya gas, mungkin sampai nempel di pelat Dek.
Karena kecepatan dari Bus itu bagai truk Tiga perempat box angkutan barang, yang suka kajar target untuk ambil dan antar muatan, dengan pengemudi yang menjalankan mobilnya seperti dikejar Setan. Seperti itulah istilah yang di sematkan oleh masyarakat di sekitar Pandeglang kepada para pengemudi Bus PO. ASLI PRIMA.
Sesuai target, sang Sopir dan janji Kondekturnya. Memang benar terbukti, PO.ASLI PRIMA , memang Prima, sahut Aji, sambil menunjukkan rasa puas di wajahnya, mereka kini tiba di tempat tujuannya.
Terbukti., dengan suara seorang wanita, yang ternyata dia adalah Shinta yang berteriak dengan suara yang Lantang.
" Pak Sopir !, saya turun di Rumah makan " Goyang Lidah, ya Pak ."
" Siap !" lantang suara Sopir.
Mengger sudah terlewati, beberapa menit lagi Batu Bantar akan segera dilalui, dan Penumpang tujuan Rumingkang pasti di anjurkan oleh Kernet untuk segera bersiap-siap.
"
__ADS_1