
Bab 2
Meti bukan saja seorang istri yang bersikap Sami'na Wa Atho'na ( mendengar dan mengikuti ) apa kata suami. Sebagai imam di dalam istana rumah tangganya.
Tapi juga dalam hal menanggapi keputusan sang Suami, sepanjang tidak keluar dari tuntunan keyakinan, maka dirinya tidak akan pernah mempunyai keinginan untuk membantahnya.
Bukan lantaran apatis dalam menyikapi semua kebijakan pasangan, tapi lebih dia utamakan, adalah 'Esensi ' dari bantah-bantahan, menurut hemat dia yang pernah ikut kursus di sekolah kepribadian John Robert Power di Jakarta.
Juga banyak masukan dari materi pada setiap pengajian Taklim rutin di Mesjid-Mesjid yang terkenal dengan kajian ilmu tentang Akhlakul karimah, seperti di Mesjid Adz - Zikra Sentul, Bogor.
Atau di Mesjid Agung Istiqlal. Dan di mesjid Sunda kelapa, yang sengaja dia datangi untuk menimba ilmu keagamaan, di bawah bimbingan Narasumber yang cukup mumpuni keilmuannya.
Kesimpulan dari bertadzabur disana, ' perbuatan semacam itu bisa jadi ada manfaat nya, karena tidak menghilangkan hak seorang istri untuk bersuara.
Akan tetapi, lebih banyak madarat nya. Di banding manfaatnya.
Apabila yang di temukan seperti itu, maka anjuran para Narasumber,
" Tinggalkanlah perbuatan tersebut, dengan kata lain, ' Jangan pernah di lakukan'.
Madarat yang di maksudkan oleh Narasumber saat itu ; Yaitu, perbuatan itu akan di Contoh oleh anak yang menyaksikan langsung, dan akan di serap lalu disimpan di dalam memorinya, untuk dikemudian hari, cenderung membentuk karakter mereka menjadi seperti itu.
Ternyata berbanding selaras apa yang Mety dapatkan dari kedua narasumber yang berbeda status itu.
baik yang di dapatkannya dari Sekolah kepribadian John Robert Power maupun dari para tokoh Agama di beberapa Mesjid yang jumlah jamaahnya mencapai hingga di angka hampir satu juta orang, bahkan di Istiqlal bisa melebihi dari angka itu.
Kesimpulannya adalah, keluarga yang utuh akan di dapat dari penampilan seorang wanita sebagai pendamping yang mempunyai karakter yang bisa di jadikan Suri tauladan bagi generasi selanjutnya.
Dan sebagai pasangannya yaitu suami, juga harus yang memiliki kepribadian yang teguh dan mandiri.
Selanjutnya Mety menjelaskan kepada Shinta lebih jauh lagi, akan beragam tambahan ilmu dari hasil pencariannya itu.
Dan lebih rinci lagi yang didapatkannya dari kedua Narasumber di tempat yang berbeda, namun materi nya serupa, mereka seperti sepakat satu dengan yang lain, keduanya memberi statement sebagai berikut ;
" Yang lebih celaka lagi, kalau sampai terbawa ke alam dewasanya, bahkan hingga ke jenjang Nikah.
__ADS_1
Syukur-syukur kalau suaminya bisa menerima pendampingnya itu, sebagai seorang wanita berkarakter doyan membantah dan berbantah-bantahan, kalau tidak ?., Dengan seksama Mety mengikuti penuturan mereka.
Ini yang jadi bahan pertimbangan Mety untuk manut kepada Suami.Sehingga......
Suaminya yang begitu apik dalam memprediksi, segala kemungkinan yang terburuk jangan pernah sampai terjadi, dalam memberi pelayanan kepada sang tamu.
Terdengar seakan berlebihan, potensi kemungkinan akan gangguan aliran listrik dari pusat yang di sebabkan Fenomena Alam.
Seperti baru saja terjadi kemarin di rumahnya, mendadak AC nya tidak mau di hidupkan, terjadinya pas ketika dia mau berangkat untuk sebuah keperluan kedinasan.
Memang betul, terhitung masih beruntung masih ada solusi, walau kondisi seperti itu tidak bisa di samakan dengan kalau tidak ada masalah.
Rancangan yang dianggapnya sudah mendekati sempurna, yaitu dengan di tempelkan nya tegel yang pada umumnya di pasang di lantai.
Dia memasang tegel yang terbuat dari batu Granit itu, di tembok kamar Tamu, dengan ukuran setinggi standar orang Indonesia.
Tujuannya tidak lain untuk menyerap suhu panas benda berbentuk apapun yang menempel pada batu Granit Tersebut.
Seperti saat Shinta melihat dengan tidak sengaja, Aji tengah bertelanjang dada dan sedang bersandar di lempengan batu granit yang menempel pada tembok kamar itu.
Anak Balita berbuat sesuatu atas dasar Nalurinya. Dirinya.., tentu saja berdasarkan Nalarnya.
...*****...
Kamar Khusus disediakan untuk Tamu yang datang berkunjung ke tempat tinggal mereka, tidak saja akan mendapat pelayanan sebagai pendatang yang dimuliakannya, dari segi perlakuan, pengakuan dan akomodasi berikut makanan yang setara dengan yang Tuan rumah konsumsi.
Begitu juga perihal tempat peraduan, telah dirancang dengan begitu matang oleh suaminya dengan menggunakan jasa konsultan di bidang Interior.
Seperti tidak masuk akal, tapi kenyataannya memang seperti itu.
Dalam pemahaman orang yang disebut telah sampai ke ' Strata Pandai bersyukur ', yaitu menginginkan orang lain juga merasakan seperti yang dia rasakan dalam hal menikmati Keberadaan yang telah di capainya, itulah sosok suaminya Mety.
...ΩΩΩΩΩ...
Aji kedapatan oleh Shinta sedang bertelanjang dada dan bersandar ke tembok yang berlapiskan Tegel dari bahan Granit.
__ADS_1
Sementara Shinta yang mengenakan busana tidur yang bisa menggoda iman.
Mety yang mengemukakan tidak ada niatan untuk berkilah, " Shinta yang berkunjung tanpa konfirmasi terlebih dahulu."
Semua serba darurat. Seluruh pakaian untuk tidur yang dimilikinya termasuk Baju Daster, sedang di Laundry kan baru tadi siang , akan selesai pada 24 jam kemudian.
Adapun yang kebetulan tidak di ikut sertakan masuk ke Laundry, adalah gaun tidur yang dia kenakan di malam pengantinnya, yang selalu tersimpan rapi di lemari pakaiannya dan tidak pernah dia pakai.
...*****...
Karena memang tidak ada lagi stok untuk di pinjamkan kepada Shinta, jadi lah Shinta seperti sekarang. Sedang berada di kamar tidur Tamu.
" Kota Serang panas ya Teh ?" bisik Aji ke telinga Shinta, membuatnya merinding oleh rasa geli.
Leher jenjangnya tersentuh rambut halus pada dagu Aji yang tanpa sengaja, sekilas menggeseknya.
" Ya panas, tapi jangan pakai main petak umpet segala kali aah.." Desah suara Shinta yang niatnya semula tidak ingin mendesah seperi itu.
" Teh.., kau punya hutang kepadaku yang harus kau bayar," bisik Aji lagi ke telinga Shinta, sementara telapak tangan mereka masih saling merekat erat.
Shinta seperti sedang menikmati cengkraman erat jemari kekar anak muda itu. Sementara batinnya berkata ," koq nikmat ya...? Tangan lelaki ini yang meremasnya...?! Apakah perbuatanku ini termasuk bentuk khianat Cintanya kang Budi kepadaku ?"
Batinnya terus berceloteh dalam kebimbangan, antara ingin terus merasakan sensasi keperkasaan seorang pelaut, yang konon tahan goncangan terhadap amukan Samudra Hindia maupun Pasifik, yang terkenal sanggup menenggelamkan sebuah Kapal Tanker yang berukuran Jumbo sekalipun.
Di dalam batinnya berkecamuk antara hasrat birahinya yang sudah mulai meningkat dengan kesetiaan Cinta yang ingin di jaganya.
Kalau mau jujur dalam hasil membandingkan antara Kang Budhi yang perokok berat dengan Aji yang ketika ujung bibirnya hampir bersentuhan dengan bibirnya.
Tercium hembusan nafasnya yang tawar tidak ada aroma yang kurang sedap saat terhirup. Ingin rasanya berlama-lama untuk berdekatan dan terus menghirup aroma nafas lelaki ini.
Ada nuansa yang mungkin sulit untuk di temuinya lagi walau sengaja di cari, apalagi tanpa sengaja seperti saat ini.
Mungkin tidak pernah akan di temuinya lagi. Karena sepanjang ingatannya sulit menemukan pria dewasa
berwajah ganteng dengan perawakan yang bukan rata-rata orang Indonesia.
__ADS_1
Berkulit kening kecoklatan, dan yang paling utama dia bukan perokok. Lengkap dengan senyum nya yang menampakkan deretan gigi putih bersihnya. Dengan bibir yang membuatnya gemas, ingin dia menggigit nya.