
Bab 1
Pada dasarnya Aji tidak menjadikan janji Haruki yang dianggapnya seloroh dan guyonan itu harus menjadi nyata.
" Biarlah tidak perlu dipersoalkan, lakukan saja apa yang sedang di jalani, hidup ini nikmat koq, asal jangan di buat jadi tidak nikmat." Batinnya.
Di suatu hari, Haruki pernah mengucapkan kalimat yang serupa dengan yang tadi dia ucapkan didalam hati. malahan di akhiri dengan penegasan.
" Yang penting ini prinsip yang gua pegang teguh Ji !"
Ucapan sohibnya itu seakan baru kemarin dia mendengarnya, ini membuatnya tidak habis pikir, kenapa yang diucapkannya itu tidak satu katapun berbeda dengan kalimat yang ada di dalam pikirannya saat ini, sebuah keajaiban yang langka terjadi.
Haruki sedang berada di dalam rumah untuk sebuah pekerjaan, dia biarkan sohibnya sendirian di ruang tamu ditemani oleh HP nya yang sudah mulai bisa mengaktifkan aplikasi Televisi Global nya.
Terdengar kembali suara yang diinginkannya. Sebenarnya dari tadi dia ingin mendengarkannya hingga tuntas, tapi terputus oleh deru suara knalpot Mogenya Haruki.
Namun untuk yang kali ini Aji menyimak lebih dalam lagi, suaranya masih sama dengan yang tadi sebelum terputus oleh bising suara Mogenya Haruki, tapi sekarang, kenapa nada suara membacanya jadi berbeda, cenderung jadi melow ?
Ini membuat Aji terhenyak, larut oleh suara syahdu dalam kemerduan yang mendayu, seakan sengaja untuk menarik simpatik bagi yang kebetulan ikut menyimak.
Begitu terpana dengan pandangan mata kosong kedepan, sesekali matanya merem sebentar untuk kemudian terbuka, begitu berulang kali.
Sikap seperti ini membuatnya tersenyum sendiri teringat akan kakak dari Ayahnya yang lebih dikenal dengan panggilan Wak.
Menyandang status Veteran pada Revolusi keles kedua yaitu Ketika tentara Belanda datang kembali ke Indonesia dengan ikut membonceng kepada tentara Sekutu, yang mengemban tugas sebagai pasukan perdamaian yang dikirim ke Bumi Nusantara, Indonesia. Oleh PBB.
Wak Kulup namanya, hingga hari ini, dia masih bersikap seakan masih ketika dirinya sebagai Tentara pejuang di zaman pra indonesia merdeka, konon beliau membawahi beberapa anggota dari regu yang dipimpinnya.
Aji masih sangat belia, dia duduk di bangku kelas Dua SDN Nomor 3, di kota Pandeglang.
Kunjungan kedatangan sang Wak kerumah orang tuanya, sebatas kunjungan persaudaraan semata.
" Ji., Tolong ambilkan Wak bulu Ayam!" tapi dengan tekanan suara perintah, layaknya seorang komandan Regu kepada anggota pasukannya, walaupun di bubuhi oleh kata Tolong.
" Siap Ndan !" Sahut Aji kecil, khidmat, mencontoh kebiasaan bawahannya.
Dan dia pun mulai berburu bulu Ayam, di mulai dari menangkap Ayamnya, dengan sigap karena terbiasa dalam menangkap Ayam peliharaan Ayahnya.
Dia sudah menguasai berbagai kiat menangkap, yang penting tertangkap, tanpa membuat cedera Ayam buruannya
Begitu didapatnya, dia cabut satu helai bulunya. saking sudah sering, sehingga dia tahu bulu Ayam yang mana yang di maksud oleh si Wak.
__ADS_1
Setelah di dapatkannya, di cucinya dengan sabun, lantas di bilas dengan air panas, untuk kemudian ditiriskan dan di jemur hingga kering, selanjutnya diserahkannya Bulu yang sudah siap pakai itu, sesuai keinginan Komandan yang memberi perintah.
Dengan senyum senang, Wak Kulup menerima persembahan dari kemenakannya, helai bulu yang digenggamnya, di lucutinya bagian bulu yang menempel erat di batang bulu sayap Ayam itu, hanya pada bagian ujung batang bulu Ayam tersebut yang di biarkan tetap tinggal.
Di hiasi senyum di kulum, tanda kepuasan sudah tercermin pada wajah Wak Kulup, selanjutnya,
mulailah sang Wak dengan aksinya.
Di masukkan ke lubang kuping sebelah kanannya dengan penuh perasaan, dia pelintir perlahan ke kiri dan ke kanan.
Ujung tangkai bulu sayap Ayam yang sudah dipastikan bersih itu, karena sudah di bilas dengan air panas.
Seiring dengan masuknya ujung bulu Ayam kedalam lubang kupingnya, Wak Kulup merasakan sebuah sensasi yang hampir sama, atau mungkin sama dengan sewaktu istrinya masih ada, dan yang kini sedang di resapinya ini bukan sebuah ilusi atau bayangan semu. Tapi rasa yang nyata, hanya beda sarana.
Semakin ujung gagang bulu Ayam di genggaman ujung jari jempol dan telunjuknya dia pelintir, semakin nikmat yang dirasakannya, dirinya serasa sedang melayang dan terbang di awang-awang.
******* dari bibir Wak Kulup terdengar mulai mengencang, padahal tadinya hanya berupa helaan nafas, semakin di putarnya lebih kerap seperti baling-baling dengan terkadang di tekan sedikit masuk kedalam dengan penuh perasaan.
Disaat itulah Wak Kulup mulai mengambil posisi berbaring di sofa yang awal mulanya duduknya seorang komandan regu.
Mata sang Wak, mulai tampak terpejam, lain kali terbuka, kalau di cari dengan membuka halaman demi halaman, maka akan di temukan pada Kamus bahasa Indonesia lengkap dan mutakhir yang sudah di sempurnakan ejaannya, pada kolom M.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali kepada Aji, yang tengah bersikap hampir sama seperti Waknya, hanya berbeda sarana penyebabnya.
Dia larut dalam menikmati dan terhanyut dalam alunan suara yang sedang mengaji Ayat demi Ayat, membuat semakin greget dan ingin cepat di pertemukan langsung dengan Yang punya suara itu.
Haruki keluar dari dalam rumah, mendapatkan Aji yang sedang terlena mendengarkan dan mengamati lantunan Murotal yang mengundang decak nya dan kepalanya manggut-manggut, sementara matanya terpejam.
" Yang mengaji ini, paling tidak,.dia pernah belajar khusus cara membaca Al-Qur'an, karena selain cara melantunkannya enak untuk di dengar, juga benar dalam melafazkan Mahrojatil Hurufnya dengan baik dan fasih.": Gumamnya.
Di luar pengetahuan Aji, wanita ini pernah bertanya kepada Haruki, sejauh mana pemahaman Aji tentang ilmu Quro atau Qiraatnya ?
" Emangnya kenapa Mel, luh keder ma dia ?".. Tanya Haruki.
" Bukan keder Bang, tapi khawatir dia faham dan menemukan kesalahan yang ku perbuat dalam pengejaan hurufnya, atau salah dalam pembacaan.
Karena selain aku yakin kak Aji punya kemampuan membaca dengan Fasih dan penguasaan ilmu Tajwidnya melebihi pengetahuanku.": ujarnya yakin.'
Sebaliknya.... Aji percaya, wanita yang tengah membaca huruf demi huruf, Al-Qur'an dengan fasih dan benar itu, saudara misan Haruki dari Serang, Banten.
__ADS_1
Kemampuannya lebih dari itupun, hal yang lumrah bagi penduduk di kampung maminya Haruki. Disana memang kantungnya penghafal Al-Qur'an.
Melindari pernah mendapat penghargaan sebagai pembaca sekaligus penghafal Al-Qur'an. Terbanyak tingkat Tsanawiyah sekabupaten Serang.
Hafalan yang dia dapatkan dengan banyak bermunajat memohon kemudahan dalam menjalankannya.
Dipeliharanya surat-surat yang sudah dia hafal itu dengan tetap membacanya berulang-ulang, satu Juz di setiap selesai shalat lima waktunya.
Dengan konsisten hingga dia lulus dari tingkat Aliyah ( setaraf tingkat Sekolah Menengah Atas ) pada sekolah Nasional.
Ada satu kejadian yang sampai saat ini masih di ingat nya. Kejadian yang tidak pernah akan terlupakan.
Yaitu, ketika dia mendengar langsung dengan Kupingnya, teman satu kamar ketika dia masih berstatus salah satu santri di Madrasah pada pesantren Salafi bernama Turus di kota Pandeglang, Banten.
Teman sekamar tersebut, mengidap kebiasaan Latah. Ketika kakinya tersandung oleh sesuatu, yang menyebabkan hampir dia terjatuh.
Spontan penyakit kebiasaan latahnya kambuh, dan
Bibirnya mengucapkan dengan melontarkan kata-kata yang tidak pantas terucap melalui lisan seorang wanita. Terlebih-lebih wanita tersebut berada di sana sebagai Santriwati.
Dengan tidak pakai lama berselang, ketika dia memulai melakukan kebiasaan rutinnya membaca hafalan yang sudah dikuasainya.
Namun, sesuatu terjadi dengan begitu tiba-tiba, membuat dia merasa kaget bercampur panik.
Diapun mencoba mengulang dari awal sebuah susunan Firman Allah SWT Yang dikenal dengan sebutan Surat.
Beberapa bagian dari surat yang populer di sebut Ayat. Sama sekali hilang dari ingatannya, perasaan Sesal yang hebat telah melandanya.
Sebuah hal yang begitu Ajaib. Oleh Lisan yang telah mengucapkan kalimat yang tidak di sukai oleh Allah SWT, beberapa Ayat. Tidak bisa terucapkan walau pun dia berusaha untuk membacanya dengan cara mengingat-ingat.
Namun tidak kunjung membuahkan hasil..
Ketika kejadian itu disampaikan kepada bapak Kyai yang tidak silau oleh gemerlapnya Dunia. sebagai Penasihat di Pesantren tersebut karena
Bapak Kasepuhan yang duduk sebagai ketua dewan Penasihat di Ponpes Turus tersebut memberi satu solusi dan memberi tahukan kepada Santri yang kehilangan beberapa Ayat dalam ingatannya.
" Anak ku.....!". Kata sang penasihat...lanjutkan........
( Di episode yang akan datang, sang penasihat akan mengucapkan sesuatu...apaan itu ya ?
L
__ADS_1