Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Nuansa Berbeda "


__ADS_3

Bab 1


Melindari tidak melanjutkan lebih jauh lagi dugaan-dugaannya atas Pria yang didalam penilaiannya pria itu seperti sedang menghadapi sebuah masalah berat yang dipikulnya.


Bunyi dering telepon kembali terdengar Aji bersegera mengangkat dan menanggapi panggilan yang tidak lain dari Josette.


" Aji., tadi aku lupa untuk memberitahukan ciri-ciri orang yang akan menjemputmu ." Seru Josette.


" Apakah itu hal yang teramat penting Jose.?" Sahut Aji.


" Penting sekali Aji !, di Brazil banyak kejadian di luar perkiraan, dan kejadian itu bukan perkara kecil. Engkau bukan sekali berkunjung ke sini, jadi tidak perlu aku bahas lebih jauh lagi seperti apa kondisi di Brazil apalagi kalian berdua orang asing di sini " Jawab Josette lagi.


" Di mengerti Jose, terimakasih.."


" Well,. Kalau begitu aku lanjutkan, Diego berbadan kekar, dengan kepala plontos. Lebih sering dia mengenakan pakaian Jacket kulit, harap maklum, dia sedikit sulit untuk diajak bicara, bukan karena cacat, tapi dia pendiam." Josette pun langsung mengakhiri percakapannya dengan Aji.


Karena mode speaker pada ponselnya di aktifkan, maka Melindari mendengar isi percakapan Aji dengan Josette, dari awal hingga akhir percakapan mereka.


Suara Josette yang terdengar merdu dalam pendengarannya timbul rasa kagum akan Aji yang tidak pelak lagi, " selera bang Aji lumayan tinggi". Seperti itu penilaiannya dan terlontar di lisannya walau hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩ...


Masih terngiang suara merdu Josette dalam percakapan yang belum lama berselang. Dia begitu perhatian akan keselamatannya, Aji tidak lantas "Gede Rasa" atas ucapan Josette seperti itu.


Bisa saja perhatian tersebut lebih condong ke sebuah rencana yang Aji sendiri belum bisa menerka apalagi menduga akan sikap Josette seperti itu.

__ADS_1


Bisa saja semata-mata karena ada kepentingan yang sangat bahkan mungkin super penting bagi pribadi Josette, sehingga keselamatan, kesehatan Aji adalah prioritas baginya. Setidaknya untuk saat ini.


Diantara beberapa kalimat yang sempat di simaknya saat berlangsung komunikasi melalui ponsel mereka. " Mohon maaf ya Aji, bukan aku dan Alfonzo yang menjemputmu, harap maklum ya?."


Justru kalimat terakhir itulah yang memicu hingga tanpa disadari terlontar dari lisan Melindari kalimat sebagai berikut." Merdu suaranya ya Bang?, tentu secantik orangnya.!" Senyum tipis menghiasi kalimat yang terucapkan.


Aji bukan tidak mendengar celoteh Melindari, namun dirinya faham sikap seorang wanita di dalam kondisi seperti yang sedang dia alami saat ini. Dia jomblo begitu jaga dirinya.


Aji tidak naif dalam menghadapi situasi dan kondisi demikian, karena kakak dan adiknya yang enam orang keseluruhannya di dalam keluarga besar..membuat sedikit banyaknya dia bisa mempelajari, dengan melihat, mendengar bahkan sesekali mereka berbagi pengalaman bagaimana dunia wanita dengan berbagai pernak-pernik sikap, perilaku dan lain-lain sebagainya yang tidak akan pernah ditemukan pada dunia Pria nya.


Sementara itu yang melontarkan kalimat yang maknanya seakan kecemburuan seorang wanita terhadap pria pasangannya. Mengarahkan lurus pandangannya kedepan, memperhatikan dengan antusias bak seorang pemerhati akan lingkungan dimana saat ini dia berada.


Dia memperhatikan berseliwerannya berbagai macam etnis manusia dari beragam bangsa, melintas dari arah yang saling berlawanan dengan tanpa henti.


Yang paling menarik baginya. Mereka tampil dengan gaya pakaian beraneka ragam bak Peragawan dan Peragawati yang sedang memamerkan pakaian dari prodak hasil buah tangan dari seorang Designer ternama dan sedang diperagakan oleh para modelnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keberangkatan Aji keluar negri untuk yang kali ini, baginya bukankah sebuah perjalanan yang membuat jiwanya bergairah sebagaimana setiap dia menjelang berangkat untuk bekerja di kapal yang menjadi tujuannya setiap dirinya pergi.


Bertolak belakang dengan Melindari yang dengan kepergiannya kali ini, hati nya berbunga-bunga, seakan pergi liburan kerja gratis.


Di janjikan pula oleh Aji, bahwa dia akan memperoleh bayaran dari Aji atas kesediaannya pergi sebagai pendampingnya, sejumlah dua kali lipat dari gaji yang dia terima bekerja di klinik kecantikan, padahal kliniknya berlokasi di tempat bergengsi.


Kebanyakan dari pengguna Jasa Ahli kecantikan di sana, adalah para nyonya petinggi Negri ini atau para pengusaha dengan transaksi USD sebagai alat bayarnya, tidak sedikit para Artis ternama menjadi langganan klinik tempatnya bekerja.

__ADS_1


Ada suatu pertanyaan di dalam hatinya, namun tidak begitu kencang hasrat bertanya yang dirasakannya itu.


Bisnis atau urusan apa sih, yang Bang Aji akan jalankan? Hingga berani bayar aku dua kali lipat gaji ku sebagai asisten Dokter Ahli kecantikan, di tempat yang sudah menjadi rahasia umum, mana ada yang berani datang kesana untuk minta dirawat kalau saldo di rekening pribadinya minim jumlah NOL nya.


Tapi batinnya tidak merasakan sedikitpun keganjilan, atau melihat kejanggalan yang mengarah ke tindakan yang melanggar hukum, atau semacam tindakan perdagangan Manusia misalnya, padahal dewasa ini tidak sedikit Manusia menipu sesama.


Akan tetapi dia percaya sepenuhnya kepada Haruki yang telah mempercayakan dirinya untuk di ajak serta pergi ke negri yang samasekali belum pernah sekalipun di kunjunginya.


Kalau mengingat sejauh itu, ada perasaan ciut nyalinya.


Melindari sudah pernah mengalami hidup yang tergetir, belum tentu seorang wanita se usianya saat itu akan sanggup menjalaninya, tinggal kematian saja yang belum dia alami.


Ketika itu justru dia mendambakannya, namun ada seorang yang membuatnya batal untuk melakukan perbuatan yang saat ini, dia anggap sikapnya saat itu adalah sebuah kebodohan bahkan Tolol pun belum cukup untuk sebutan terhadap dirinya.


Dewi penyelamatnya adalah Meyriska, seorang wanita yang memiliki kemampuan Supra Natural, dan kelebihan yang tidak terlihat namun terasa terutama oleh Melindari.


Di suatu hari Meyriska mengatakan dengan mimik serius, " Satu hari nanti kau akan mendatangi tempat yang jauh oleh sebuah kepentingan seorang yang berhati tulus, kalau saat ini engkau mengambil jalan pintas hanya karena sebuah kekecewaan, kau lah orang paling Tolol yang pernah Mami temukan ."


Ucapan seorang Mucikari yang mengandung falsafah bak Pandita.


Membuatnya malu bukan alang - kepalang. Demi mendengar untaian kata yang terucap dengan nada santun dari seorang yang tidak terhormat kedudukan maupun status sosialnya di mata Masyarakat namun mampu merubah sebuah keputusan yang telah bulat, menjadi batal untuk dia melakukannya.


Udara Tropis Brazil di padu dengan kudapan khas nya yang asing di lidahnya, namun membuatnya tidak mau berhenti untuk mengunyahnya. Kalau di Indonesia semacam Cilok alias Aci di Colok. Yang sensasinya ada pada rasa pedas yang di bedakan dengan sebutan Level.


Pada level satu, anak usia sepuluh tahun yang bukan dari lingkungan yang terbiasa mengonsumsi lombok, akan sanggup untuk memakannya tanpa resiko tersiksa oleh rasa pedas.

__ADS_1


Sedangkan untuk level Dua, anak yang sanggup di Level satu tadi, dia akan menyerah untuk mengonsumsi makanan yang berkadar lombok berkadar Level ini.


Melindari yang faham akan hal itu spontan berucap disebabkan oleh rasa. pedas di luar kapasitas kesanggupannya." Wiiiiy.., ini sih Level tiga.!., orang sini doyan juga pedas ya Bang,? Macam orang Padang saja mereka tuh ya ?!" Celoteh Melindari, yang semakin merasakan panasnya udara Tropis disana yang tidak jauh berbeda dengan udara di Jakarta.


__ADS_2