
Bab 2
Aji melihat Haruki sedang bersiap-siap untuk menghantarkan wanita yang di akuinya saudara dari Kampung, dari mana lagi kalau bukan dari Serang, Banten.
Karena, Haruki tidak punya kampung selain Kota Serang, yang setiap hari raya idul Fitri maupun Idul Adha, dijadikannya sasaran atau tujuan utama untuk dia datangi.
Di samping untuk kepentingan bersilaturahim dengan saudara yang pertaliannya dekat, kedua hari besar Islam tersebut, juga untuk dia istirahat total, lepas dari semua bentuk kegiatan rutinnya yang hampir setiap hari penuh jadwal bekerja di setiap Tahunnya.
Kesempatan pada dua hari Raya itulah, dia pergunakan peluang waktu yang ada, untuk menemui sanak saudara, handai taulan dari fihak Maminya, yang asli orang Serang.
Kebiasaan rutin seperti itulah yang membuahkan Hikmah bagi Haruki, membuatnya bertemu dengan saudara-saudara dari Mami nya, diantaranya Susan yang pada saat pertamakali berjumpa, wanita itu masih menggunakan nama asli pemberian kedua orang tua sejak dia lahir yakni Wulandari.
Setalah di urut dari garis keturunan, kakek nya Wulan dari sisi bapaknya, ternyata kakak beradik dengan kakek Haruki dari Sisi Ibu.( Mami ).
Penampilan eksklusif dari wanita yang hingga saat ini belum ada waktu memperkenalkan atau berkenalan dengan Aji, membuat Aji merasa harus menahan rasa penasarannya, " apakah wanita yang sekelebat sempat Aku lihat tadi malam ketika aku baru tiba dari perjalanannya ke Pandeglang.adalah wanita yang sekarang akan Haruki antar ke pengajian taklim rutinnya.?" Batin Aji, bertanya
...ΩΩΩΩΩΩ...
Haruki sudah siap menghantar Wanita yang hanya kedua matanya saja terlihat, itupun tidak begitu jelas karena tertutup Kaca mata yang dikenakannya, dangan Kaca progresif, bagian wajahnya juga tertutup oleh helai cadar dari bahan yang senada dengan gamisnya.
Sedangkan Seluruh anggota tubuh selebihnya, terbungkus oleh busana muslimah yang sedikit longgar pada bagian bawahnya.
" Aji gua tinggal dulu ya!.. kalau luh perlu apa-apa tinggal pencet Bell khusus untuk memanggil Mae, sambil menunjukkan letak bell yang dia maksudkan.
Lantang suara Haruki, sembari menjalankan Motor Gedenya, untuk kemudian berbelok dan menghilang dari penglihatan Aji. Karena terhalang oleh dinding bagian pojok rumahnya.
Kebiasaan Haruki kalau kepergiannya masih disekitar lingkungan Wilayah Jakarta Utara, cenderung dia menggunakan kendaraan roda duanya.
Dia pernah mengatakan, kalau saja kegiatan di bengkelnya tidak selalu berhubungan dengan membawa suku cadang kendaraan, yang hampir rata-rata tidak akan bisa kalau di bawa dengan berkendaraan sepeda motor, walau dengan Moge nya sekalipun.
Inginnya sih pakai motor, tidak perlu memikirkan dimana parkir, dan tidak menghadapi kemacetan
Juga lebih luas ruang pandangnya..
Yang paling utama baginya adalah, dia bisa menikmati yang Bohay-bohay percis di depan mata, saat motor di depannya membonceng pemilik pinggul Bohay itu, He..he..he...
Ternyata Haruki dengan Aji sama-sama pecinta dan penikmat keindahan. Begitu sanggahan versi mereka berdua ketika ada yang bertanya kepada mereka akan hal itu.
Aji berasumsi sendiri terhadap sosok wanita yang berpenampilan begitu anggun dan mempesona.
__ADS_1
Bukan wanita dengan busana sekadarnya. Akan tetapi, sudah Taraf Fashion atau Boutique, begitu serasi dengan postur tubuh yang mengenakannya.
"Jangan-jangan ..? wanita itu adalah calon pendamping Haruki, yang berbusana Muslimah komplit dengan cadar menutupi wajah, luar biasa Haruki dalam mencari dan memilih pengganti dari yang dahulu telah kembali ke haribaan Pemiliknya yang mutlak, yang ini memang pantas untuk bersanding dan mendampingi Haruki " celoteh batinnya.
Aji berdecak sambil berjalan berbalik kembali menuju arah ruang tamu, setelah menghantar kepergian Haruki dan sekalian dia menutup pagar rumah.
Dia memutuskan untuk istirahat sambil menikmati keheningan suasana rumah Haruki, yang menurut hematnya, keputusannya akan lebih baik, daripada dia ikut yang belum tentu ajakan Haruki itu adalah sungguhan.
Dimatanya mereka terlihat begitu serasi dan terlihat mesra, saat menaiki Moge dan berboncengan oleh karena itu, Aji memutuskan untuk tidak ikut.
Menurut penuturan Haruki sebelum berangkat dan mengajaknya, memberi info tentang keramaian yang akan di lihat disana nanti bisa sangat menarik, karena selain suasana ramai oleh banyaknya para jamaah, juga di halaman pelataran mesjid diramaikan oleh kehadiran para PKL yang selain memeriahkan suasana keramaian yang ada menjadi dengan menggelar barang jualannya, ada yang berteriak-teriak dalam menawarkan barang dagangannya.
Mereka ikut memeriahkan suasana keramaian hingga menjelang waktu Subuh.
Penduduk di sekitar Islamic Centre merasa beruntung dengan adanya kegiatan seperti itu, karena tidak perlu lagi pergi jauh-jauh ke Jakarta Fair di Kemayoran, hanya untuk mencari tempat hiburan, terutama untuk menikmati acara bermalam mingguan.
Panitia pengelola kegiatan di Islamic Centre yang menyelenggarakan kegiatan itu, tujuan utamanya, adalah untuk mengangkat dan juga mendorong perekonomian pedagang kecil.
Yang lebih di prioritaskan adalah pedagang pemegang KTP di seputar tempat itu, bilamana masih ada sisa lahan, baru, sisa tersebut di berikan kepada pedagang yang datang dari luar lingkungan Mesjid.
Pengurus Dewan Kesejahteraan Mesjid dengan berkoordinasi terlebih dahulu dengan petugas dari Pemerintah daerah setempat yang membidangi urusan perniagaan Informal, telah menghasilkan rasa nyaman bagi Pedagang Kaki Lima yang semula belum memiliki tempat berjualan yang tetap, sekarang mereka mendapatkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tapi kalau untuk urusan kepergiannya ke Brazil untuk memenuhi undangan resepsi pernikahan Josette dengan Alfonzo, dia rela menunggu Sohibnya kembali jam berapapun, dia tidak peduli, akan dia tunggu.
Tapi Haruki memang pantas di jadikan seorang Sohib yang sulit ditemukan duanya.
Belum habis satu cangkir kopi yang dia buat sendiri tanpa meminta bantuan dari ART nya Haruki, yang ditunggu sudah berada di halaman rumahnya sendiri.
Sengaja Aji tidak mengunci pagar setinggi Tiga perempat berdiri orang dewasa itu dengan tujuan, biar mudah bagi Haruki Untuk bisa masuk.
Dia hafal dengan kebiasaan Sohibnya yang menurut nya istimewa itu.
Yang lebih suka membuka pintu pagar rumahnya sendiri, ketimbang di bukakan, sekalipun itu oleh ART nya.
Kedatangannya kali inipun, berjalan seperti kebiasaannya, namun Aji sengaja menyambutnya di teras, tidak sampai hitungan detik berselang, ART bernama Maemunah pun sudah berada di depan rumah, untuk tujuan menutup pintu gerbang yang telah di lewati oleh motor majikannya itu.
" Broo kesal menunggu ?". Haruki membuka percakapan, sambil membuka jaket dan aksesori pengendara motor lainnya seperti sarung tangan dan rompi pelindung dada.
__ADS_1
" Tidak Ruki, malah aku yang mau bilang, cepat sekali perjalanan ke Kramat Tunggak..eh sorry, maksudku Islamic Centre." tanpa Aji sengaja atau buat-buat berkata keliru.dan Haruki pun kelihatannya berlagak tidak mendengar.
" Jalanan sedikit lengang, mungkin saja orang sedang kurang berminat untuk pergi keluar rumah walau hujan rintik-kecil seperti ini, sambil di tunjukkan kepada Aji, Jaketnya yang terlihat basah oleh bintik-bintik air hujan.
" Luh hafal bawaan sifat gua kan Ji?" Tanya Haruki kepada Aji, yang belum faham arah pembicaraan Sohibnya itu.
" Yoih !! Emangnya kau mau kalau aku menanyakan mana pendampingku belum , apakah ada ide kau mau berbuat apa Ki .?" Tanya Aji.
" Gua ada saran, bagaimana kalau seandainya, gua ada kenal satu Cewek, lantas dia bersedia untuk pergi mendampingi Luh ?". Haruki berkata serius.
" Ruki.., itu sudah ada dalam ingatanku, hanya., di jaman yang serba Uang bukan segalanya, tapi segalanya dengan Uang ini, apa masih ada perempuan yang kau maksud itu ?!" Tanya Aji bersemangat.
" Ya, gua akui tidak gampang, tapi kalau tujuan Luh tidak ada niat yang kagak baik. Gua yakin akan ada.." Timpal Haruki.
" Seandainya gua ketemu, dan gua bawa kemari tuh Cewek, Luh tanya atau ceritakan ke dia maksud luh tuh apa. Ee eh Lantas dia bilang Sanggup ! .
Kalau dia mengatakan sanggup, lantas dia balik nanya ke Luh sebagai timbal balik atas kesiapan dia tuh apa Ji ? Kan tadi Luh bilang , sudah ada di dalam fikiran ." Tanya Haruki.
" Aku akan tanyakan, kalau dia seorang wanita yang berkarier, tentunya dia bakalan nanya atau mengatakan bahwa dia kalau tidak bepergian hingga harus ambil cuti bekerjanya, dia akan dapat gaji perhari sekian, misalnya.
Tidak masalah tinggal hitung saja, tapi sebaliknya. Dia juga jangan nuntut nanti setelah berakhir perjalanan ke sana, misalnya, dia minta jadian " jelas Aji
" Disana kan nginap, lama lagi..!.. gak akan Luh apa-apain dia kan ?" Timpal Haruki.
Aji mengangkat dua jarinya, pertanda Sumpah, dan
" Berangkat utuh, kembali utuh tidak akan aku tambah, apalagi di kurangi, tapi kalau waktu berangkat tidak utuh. Waktunya pulang Jangan minta utuh dong !" Timpal Aji.
" Oke...Aji. Oke... Gua setuju banget Ama ide.luh itu."
" Untuk wanita itu sendiri tidak akan di rugikan, malah beruntung, dia bisa menikmati liburan gratis, di Brazil pula Ruki ! Juga Asalnya begini ya Ruki.... pulang gak akan jadi begitu !" ,Tegas Aji.
" Begitu gimana tuh contohnya? Bisa aja luh Ji.!..ha..ha..ha, udah lah, percaya gua ma luh ." Pungkas Haruki. Sambil terkekeh mereka berdua.
" Ji..pantes nya Luh tuh ikut stand up Comedy Cuy! , Luh ada bahan dapet Juara pertama." Saran Haruki. Dan lanjutnya lagi.
" Ji...! Kalau ceweknya mau Luh jadiin begini, karena luh khilaf, terus cewek itu jadi beneran begini." Sambil kedua jemari tangannya mengisyaratkan perut buncit." Ujar Haruki.
" Insya Allah Ruki, Aku adalah laki-laki yang bisa menjaga amanah, dan menjaga nama baik dan martabat seorang wanita yang telah bersedia menutupi kekuranganku di mata Josette beserta keluarga dan handai tolan nya. Tapi kalau boleh aku bertanya, apakah sudah ada wanitanya yang kau sebut-sebut itu ?!" tukas Aji.
__ADS_1
" Haruki putra negeri Matahari Terbit, pantang untuk berkata tanpa fakta." Jawabnya lantang.
Haruki tidak merasa itu pertanyaan yang berat, pikirannya menerawang kesatu tempat, Dia membayangkan bagaimana kalau sampai kejadian upayanya untuk Sohibnya itu berhasil..? Atau sebaliknya..... Tidak membuahkan hasil