Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Luput tanpa Sesal "


__ADS_3

Bab 3


Shinta mempunyai karakter yang kuat dan memegang teguh prinsip, ' nama baik keluarga baginya sebuah tanggung jawab setiap individu'.


Begitu juga tatkala emosi darah mudanya bergejolak, yang hampir membuat luntur dan meleleh untuk kemudian berceceran, nilai kesetiaan seorang wanita yang ada pada dirinya.


Dia berusaha untuk bangun dari keterlenaan yang hampir merusak marwah bahkan merendahkan derajatnya, hanya karena dirinya di takdirkan sebagai wanita.


Berbanding terbalik dengan para lelaki, tidak hanya Aji.


Ketika kekhilafan menggerus akal sehat, dan pelanggaran susila telah dilakukan, namun untuk selanjutnya mereka bisa melenggang bebas tanpa beban oleh sebab tak akan pernah ada akibat yang harus ditanggungnya.


Dia menyadari kekurangannya dalam pemahaman di bidang Agama, berbeda dengan Mety, selain aktif dengan kerap hadir di majlis-majlis yang membahas kajian ragam macam ilmu, di antaranya ;


Tajwid Al-Qur'an, Tauhid juga Akhlak. Bahkan ilmu Tasrif walau taraf masih dasar, di ikutinya.


Belum lagi Suaminya yang taat dan konsisten ikut dalam kegiatan di Mesjid lingkungan tempat tinggalnya.


Semua yang dia ingat itu membuatnya seakan bercermin siapa dirinya saat ini, timbul rasa malu.


Timbul motivasinya di saat ini, untuk berperang menolak bahkan melawan keinginan wajar sebagai makhluk yang standar.


Di sisi lain ingatannya mereview ulang, kejadian di suatu saat, tidak sengaja ketika kang Budi mengajaknya ke sebuah Super Mol yang baru di resmikan penggunaannya di kawasan jalan Soekarno Hatta, Bandung.


Kang Budi mengenakan kacamata warna hitam kebanggaannya merk ' Ray band ' mungkin mirip dengan yang kerap di pergunakan oleh presiden pertama Indonesia. Almarhum Ir. Soekarno sekaligus sebagai ciri khas beliau.


Dia mengenakannya bukan untuk prestise, tapi katanya tadi, di kantor terkena debu asbes dari atap plafon ruang kerjanya yang sedang di bongkar untuk peremajaan, oleh karena itu, maka mata yang sebelah kanan itu di tutup oleh perban.


" Nanti aku dikira orang niru-niru Moshe Dayan.!"


Ujar nya."


" Shinta, Aku kurang pede, kalau jalan ditempat umum seperti Moshe Dayan. Biar saja orang bilang apa, aku akan pakai ini kacamata biar dikira orang, aku pakai kacamata tembus pandang, " Celoteh Budi

__ADS_1


" Kang Budi Sotoy, memangnya ada kacamata hitam Ray band tembus pandang, kang ?" Tanya Shinta, penasaran.


" Katanya sih begitu." jawab Budi singkat, seperti tidak minat untuk membahas lebih jauh lagi, perihal kacamata tembus pandang.


" Aku juga pernah dengar, eee eh... Kacamata kang Budi harus diperiksa tuh, jangan-jangan tembus pandang juga tuh ! Kalau memang betul tuh kang, tembus seperti bagaimana memangnya gitu kang?" .. Tanya Shinta selanjutnya.


Untuk kali ini Budi diam, mungkin dia tidak berminat menanggapinya.


Percakapan mereka berdua terus berlanjut sementara kaki mereka terus melangkah di dalam Mol yang ramai oleh pengunjung yang membludak datang dengan aneka ragam keperluan.


Begitu mereka berdua melewati satu stan yang menjajakan sebuah produk, membuat Shinta teringat akan Produk itu, kang Budi membawa pulang kerumah satu set, tanpa memberi tahu terlebih dahulu, dari mana barang itu dia dapatkan.


" Kang Budi, barang apa itu? Seperti nya berat sekali ."


" yaaa ! Apa boleh buat, sudah kepalang ketahuan, tadinya aku mau kasih sebuah kejutan." Sahut Budi dengan penuh percaya diri.


Tiba-tiba....." Aduh.!!" Budi berteriak kesakitan sambil berjalan terpincang-pincang, selanjutnya berhenti untuk meriksa kondisi kaki nya yang tadi tersandung oleh sudut etalase penjual Produk peralatan untuk membuat kue.


Sampai kurang memperhatikan jalan yang akan di laluinya." Shinta menggerutu dalam batinnya.


" Tidak tertutup kemungkinan kang Budi belanja di sini. E..ee tadi ketika melewati konter produk jenis yang berbeda, koq bisa-bisanya itu kaki sampai tersandung sudut etalase, itu mata melihat kemana ya..?" masih gerutunya Shinta.


Begitu pulang dan tiba di rumah, Budi membuka perban di mata nya yang sebelah kanan, yang katanya sedang sakit.


Shinta tidak melihat, ada tanda-tanda yang menunjukkan Budi sakit mata atau Indikasi sakit matanya, entah itu berair. Saat tadi perbannya dia buka sendiri.


" Sepertinya kang Budi melirik makhluk halus, kelamaan meliriknya, he...he...he kesandung, rasakan..!" Sumpah Shinta, dan lanjutnya lagi.


" Tuh kan, dia boleh begitu, aku nggak boleh ?" Ujarnya lagi, oleh karena itu..,


Shinta berkhayal jauh, ke alam orang yang sudah berada di fase itu, sedangkan dia ? Jauh dari panggang ke Api, dalam hal urusan orang dewasa.


Baru belakangan ini saja setelah Ayahnya tidak ada,

__ADS_1


Dan berkat usaha yang sekarang dia tekuni, sekaligus telah menjadi tanggung jawab sepenuhnya, karena dia anak yang tertua. Semenjak saat itulah dirinya mulai menjadi dewasa. Lahir dan Batin.


Kalau perkara mengatur di segi keuangan, dirinya sudah bisa di sejajarkan dengan para eksekutif muda yang sebaya dengannya.


Tapi mengenai Asmara ? Waduh...payah !! Teman sekampus yang kenal dia, di waktu perkuliahannya memberi julukan dengan sebutan ' Katrok '. Sampai dirinya merasa nelangsa dan menangis merasa di lecehkan dengan julukan itu.


Ini semua tidak lain, karena dahulu semasa Ayahnya masih ada, kehidupan masa remajanya tersita oleh cara yang serba protokoler yang dijalaninya, dan itu dirancang oleh Ayahnya, terasa tidak nyaman melewati masa remajanya dengan kesibukan yang jauh dari impian remaja seusianya saat itu.


Dirinya merasa tertekan, tapi mutlak kebenarannya peribahasa yang mengatakan, " Berakit-rakit ke hulu, Berenang-renang ketepian, Bersakit -sakit dahulu, Bersenang senang kemudian ,"


Sekarang dia merasakan buah hasil jerih payahnya saat itu. Baginya ucapan sang Pujangga telah terbukti kebenarannya.


Dia kini sedang memetik hasil jerih payahnya, di masa lampau.


Ayahnya yang telah tiada, saat itu. Melihat potensi pada putrinya.


Mata seorang pengusaha sukses di bidang kain tenun tradisional Majalaya.


Kadung sudah dianggap oleh Ayahnya sebagai anak yang cerdas, dan memperlihatkan bakat mewarisi dirinya, di gembleng nya dengan metode, ketika dirinya di cetak untuk menjadi Pengusaha yang sukses oleh Kakeknya Shinta.


Begitulah Shinta di cetak menjadi wanita pengusaha yang berhasil menjalankan usaha warisan turun temurun dan kini berhasil dan dikenal di kalangan para pengusaha dibidang yang sama.


Seringkali bertemu berbagai kalangan, seperti ketika pada sebuah seminar dan dirinya di tunjuk menjadi Narasumber dalam sebuah acara Para pelajar tingkat perguruan tinggi yang mengadakan acara tersebut dengan Thema " Menggali Kekayaan Budaya Nusantara". Tidak terasa sang waktu yang berjalan, telah menjadikan dirinya sebagai wanita yang profesional.


Namun Bergetar lututnya, hampir tidak kuat kakinya menopang badannya untuk berdiri tegak, saat ini mata pria ini memandang langsung ke bola matanya, dan bibir pria itu semakin mendekat ke bibirnya.


Tanpa di pinta, dipejamkan kedua kelopak matanya dengan mulut mulai terbuka perlahan, dan nafasnya mulai memburu tidak beraturan dia gelisah, bimbang bercampur harap dalam tanya.


Apa yang akan di perbuat lelaki nan Jantan perkasa itu kepada dirinya.


Namun apa kenyataan yang terjadi kemudian...?


,

__ADS_1


__ADS_2