
Bab 1
Tidak pernah tersirat dalam benaknya untuk masuk terlalu jauh kedalam kehidupan pribadi Sohibnya, itu salah satu sifat dan gaya dari Aji yang paling disukai oleh Haruki.
Dalam hal Haruki mau berlagak bagaimanapun Aji tidak pernah mengusiknya, paling kalau sekedar mengingatkan untuk sebuah perbuatan yang di nilai olehnya, kurang pas pada penempatannya, baru Aji memberi komentar, itupun dengan caranya yang dirasakan olehnya Haruki, tidak menggurui.
Kelihatannya itu salah satu kiat mereka untuk awet dalam ikatan pertemanannya.
Waktu shalat Maghrib telah berlalu percakapan disambung lagi sepulangnya Aji dari mesjid terdekat yang ada di lingkungan perumahan itu.
Waktu terus beranjak dan kembali terdengar suara kumandang adzan untuk Shalat Isya.
Aji kembali pergi menuju mesjid yang sama.
Dengan bergegas, Aji pergi ke mesjid terdekat di permukiman itu, sementara Haruki masih sibuk dengan mengotak-atik ponsel kesayangannya.
Sementara Suara Adzan masih terdengar dan akan berakhir, bersamaan dengan itu Haruki menulis sesuatu yang di tujukan kepada seseorang.
Pesan yang panjang dan lebar, telah di tulisnya dengan mendapat jawaban ," Note Bang!, insha Allah setelah aku Shalat." Balas tulisan dari orang tersebut.
Tidak kurang dari dua puluh menit berselang, Aji datang kembali dari mesjid seusai shalat Isya berjamaah di sana.
Dia kembali menuju ketempat duduknya semula, berhadapan dengan Haruki yang masih asyik dengan Telepon genggamnya. Belum ada percakapan diantara mereka,
Dari ruangan dalam keluar Wanita yang mengaku bernama Riska dengan di ikuti oleh Maemunah di belakangnya.
Wanita yang datang untuk menemui Melindari, itu dugaan yang ada dalam benak Aji, walau bercampur aduk dengan rasa heran yang belum berujung.
Wanita yang mengaku bernama Riska itu membuka sebuah percakapan kepada Haruki.
" Bang Har, aku ada keperluan mendadak, dan tadi aku sudah bilang ke Dari, aku akan pulang." Ujarnya
" gak ditunggu aja Ris ! sebentar lagi juga dia pulang." Sahut Haruki.
" Mama di rumah minta aku segera pulang, gak bilang ada apa, tapi minta aku segera pulang "
" kalau Dari datang, dia tanya Abang, kenapa gak ditahan untuk kamu gak pulang?" sahut Haruki
" Gak Akan Bang, tadi aku sudah ngomong sama dia di telepon panjang lebar, lagian kalau sampai kami ketemu, gak cukup waktu satu atau dua Jam." Papar Riska lagi.
" Baik lah kalau itu keputusanmu, nanti akan Abang sampaikan." Sahut Haruki.
Dengan mengucap salam takzimnya, wanita itu berlalu seiring dengan Taxi Grab yang di pesannya datang, menyongsong.
Maemunah yang menghantarkannya hingga ke pintu pagar depan, telah kembali menuju rumah melalui jalan di halaman samping rumah.
Aji tidak memberikan komentar apapun dengan penampilan yang eksklusif dari wanita bernama Riska yang baru saja berlalu.
Haruki faham akan perangai dari Sohibnya ini, dia tidak termasuk golongan pria dengan matanya yang jelalatan.
__ADS_1
Cenderung ke model cowok yang bergaya cool dalam menghadapi lawan Jenis. Justru sikap seperti itu yang konon banyak di gandrungi oleh kaum hawa.
Kejadian yang pernah dia jalani, ketika belum ada panggilan dari perusahaan pelayaran untuk berlayar.
Ketimbang nganggur, punya motor lumayan bagus, kalau untuk di sewakan untuk di Ojek Kan sayang, mendingan dia sendiri yang meng Ojek.
Mana kantong kelontangan tidak berisi cukup uang,
" Iseng ah., cari rezeki yang Halalan toyiban ". Batinnya.
Rezeki memang ada, Allah SWT tebarkan untuk makhluknya, tapi akan lebih berkah lagi baik jumlah ataupun kemanfaatannya kalau rezeki itu di jemput.
Dia pergi ke perempatan jalan dan ngobrol dengan pengojek konvensional lainnya yang sedang mangkal di ujung jalan kelas tiga itu, dengan tidak lupa meminta izin lebih dahulu pada mereka
Entah karena cara dan waktunya yang pas, mereka menyambut kehadirannya bukan sebagai pesaing, tapi mereka menyambutnya, dengan suka cita.
Profesi sampingan dan iseng bermanfaat itupun berjalan dari hari ke hari tanpa kendala, mulus bak jalan tol yang baru di buat oleh kontraktor handal.
Entah bagaimana awal ceritanya , diantara penumpang Ojek konvensional yang menjadi langganan tetap nya. Ada, satu pelanggan yang konon dia adalah istri kedua dari seorang pengusaha tajir yang berkantor pusat di Bandung.
" Bu..., ini uang kembalinya."
" Ambil saja untuk Abang."
" Lho....Ini banyak banget Bu.!"
Bantah wanita yang belum menginjak usia di angka empat puluh tahunan itu, menurut taksiran Aji.
" O..ya kalau begitu, saya terima ya Bu, terimakasih." Timpal Aji.
" Terimakasih kembali. Tapi jangan panggil Ibu dong, kesannya, aku sudah tua banget ." bantah wanita muda itu.
Aji merasa heran, di samping rumahnya yang lumayan bagus, di atas rata-rata rumah di kiri kanannya, disana terparkir sebuah kendaraan roda empat dan bukan mobil biasa-biasa.
Singkat cerita, penyedia jasa angkutan Ojek itupun tidak diteruskannya, karena di dengarnya dari pengojek lainnya, konon wanita muda itu, di boyong pindah oleh suaminya, entah apa alasannya. Aji tidak tahu pokok permasalahannya.
Ada sebuah pesan ucapan kepada pengojek di pangkalan dan sebuah amplop yang berisikan secarik kertas bertuliskan nama dan sebuah alamat.
Konon nama tersebut adalah nama wanita muda pelanggan tetap Ojek nya, alamat yang tertulis di kertas berlogo lope...lope itu kemungkinan alamat barunya.
Pernah di satu saat wanita itu mengutarakan alasannya, kenapa sebabnya dia lebih suka menggunakan jasa ojek ketimbang nyetir sendiri mobilnya.
Tidak sampai di situ saja masalah berhenti, dia kena damprat seorang lelaki yang mengaku Ayah dari seorang anak siswa sebuah sekolah menengah atas.
" Mas, tolong Jauhi anak saya," pinta seorang bapak, awalnya dengan nada santun.
" Putri bapak yang mana ya pak ? yang saya antarkan pergi ke sekolah bukan satu atau dua pak." sahutnya.
Panjang pemaparan kasus diatas, pendek cerita, dia tinggalkan, kegiatan mengisi waktu kosong tersebut, tidak terfikir olehnya untuk meneruskannya lagi.
__ADS_1
Kembali ke Haruki yang tercenung dalam menghadapi sikap Sohibnya yang sedang diusahakannya untuk berangkat memenuhi sebuah undangan yang dia anggap tidak biasa ini.
Satu bangsa satu tanah air, harkat dan martabat harus di junjung tinggi.
Dia tidak Rela kalau Sohibnya sebagai duta bangsa, kalau sampai disana lantas di permalukan, biarlah kepalang basah ya sudah mandi sekali. Batinnya berkata.
" Aji sohib gua yang super baik, maafkan atas skenario kebohongan yang gua dan Melindari sedang lakukan ini, Sohib ...Sekali lagi maafkan, ini Demi kebaikan luh " Batin Haruki sambil menatap wajah Sohibnya dalam-dalam.
walau dia sudah faham betul bawaan Sohibnya ini, tapi ada rasa penasaran, " Wanita yang seperti apa sih yang bisa meleleh cairkan gunung es yang ada di hadapannya ini ." Batin Haruki
" Ji., menurut Luh, cewek yang baru saja pulang, berapa angka yang pantas di kasih buat dia ?" Pancingnya
" Pisiknya saja ya ? ... delapan setengah." Jawabnya singkat.
" Widi....! Bener nih ?" sergah Haruki
" Kenapa harus tidak benar ?"
" lantas., yang layak untuk mendampingi Luh harus yang nilai berapa Bro.?" Tanya Haruki antusias.
" Ya segitu sudah Alhamdulillah, aku juga di rumah punya cermin, dan cermin yang bening terlihat siapa dan seperti apa diriku, massak aku minta Marissa Haque yang mendampingiku Ruki ?!"
" Ya nggak bisa juga dong..bisa kena gampar Ikang Fauzy Luh nanti., tapi gua makin salut aja ama Luh Ji.... Ini yang di sebut sohib sejati gua.". Sambut Haruki dengan mata yang berbinar-binar, tiba-tiba
" Assalamu Alaikum warahmatullahi wa barokatuhu"
Suara seseorang mengucap salam lengkapnya.
Dengan di jawab oleh keduanya, salam balasan yang sebagaimana diucapkan oleh orang yang baru saja datang, yang tidak lain dari Melindari.
" Melindari yang mana kah ini ?" Batin Aji. Karena dari nama, tidak pelak lagi ini Melindari yang pernah dia kenal lebih dari Haruki mengenalnya.
Ada dua ciri yang menunjukkan wanita cantik ini benar mutlak Melindari yang pernah menyandang nama Susan.
Ciri yang bisa di lihat kasat mata, di bawah mata kirinya sedikit ke arah pipi, ada tahi lalat yang ukurannya begitu ideal bahkan bisa menambah nilai tampilan cantiknya.
Adapun satunya lagi adalah sebuah lingkaran kecil berdiameter satu Centimeter saja, yang populer dengan sebutan tompel, yaitu warna hitam juga. tidak terlalu besar, namun permanen.
Letaknya di bawah lingkar Payudara bagian kirinya, dekat ke posisi ulu hati.
Wanita ini bernama Melindari namun menggugurkan sangkaannya akan Melindari yang pernah dikenalnya dahulu di sanggar White Horse milik seorang wanita yang di kenal dengan sebutan Mamie Meyriska.
Karena wanita yang tidak kalah cantiknya di bandingkan dengan Riska dan juga Melindari alias Susan. yang ini tidak mempunyai tahi Lalat di bawah mata kirinya., dengan balutan pada tubuhnya, berupa seragam seorang abdi medis.
Terpana Aji demi melihat tampilan sederhana namun tidak mengurangi nilai kecantikannya, tidak terasa olehnya, dia goyang-goyangkan kepalanya.
Adegan itu tidak lepas dari pengawasan sang Sohib, Haruki Gawa. Yang merasa telah berhasil mempertemukan Sohibnya dengan seseorang yang besar kemungkinan Aji tidak menolaknya, untuk di dampingi oleh Melindari.
Lantas siapa sebenarnya wanita yang menyandang nama Melindari ini yang tidak ada Ciri-Ciri sebagaimana yang telah di sebutkan di atas.?
__ADS_1