
Bab 3
Ruki., kenapa kau lebih tahu dariku tentang Gurah?" Tanya Aji, santai.
" Karena gua pernah di Gurah, oleh pak Ustadz Jumadi, beliau senior dari para Ustadz yang ada di Ponpes Al - Qobriyah, dekat rumah ortu waktu kami masih tinggal di Serang.
Beliau berpesan , yang lebih bagus lagi, Gurah itu di lakukannya di setiap hari Jum'at dini hari, dan tujuh kali Jum'at jangan sampai putus.
Tapi sangat di sayangkan baru enam kali Jum'at, tertunda oleh kegiatan ekstra di Bengkel, mendadak gua harus ke Jakarta pas hari Kamis malam, selesai pekerjaan hampir tengah malam." Ujar nya, terlihat pada raut wajahnya rasa sesal.
" Pantesan Bro, kalau kau ngomong di ponsel, suaramu amat merdu, bikin aku mengantuk mendengar kau ngomong." Ujar Aji tanpa maksud menyanjung.
Maksud sebenarnya sih, kelamaan kalau Haruki ngomong di ponsel, walau tidak di pungkiri nya, suara Haruki memang lebih lembut, pasca Gurah.
" Bener nih emang begitu ? Bagaimana kalau gua di gurah sampai tujuh kali ?" Sahut Haruki, sambil pasang aksi mengambil dompet dari saku belakang celananya, tetapi di cegah oleh Aji.
" Jangan bro..! Aku bukan tipe orang yang kemaruk, sangu transferan dari Brazil masih sisa banyak belum tentu habis dalam setahun," lantas dia terdiam beberapa saat, kemudian.' Itupun kalau tidak di pakai untuk keperluan harian ku Ruki, he. he. he " Seloroh Aji
Konyol Luh Ji ! gua udah serius dengarnya, tadinya mau gua pinjam, gak jadi lah kalau begitu." Timpal Haruki
" Dih..., orang Jepang mau pinjam uang sama orang pribumi, menurunkan martabat bangsa bro !" Timpal Aji berseloroh.
" Ah ..itu sih dasar Luh aja yang pelit, pake bawa martabat bangsa segala, yang bener bukan martabat bangsa, tapi martabat Ortu. He..he..he. Bisaan luh Ji, aman deh duit luh!" Sahutnya santai.
" BTW gua mau konfirmasi nih soal tujuan gua tempuh therapy gurah, itu bukan untuk membuat suara jadi bagus, tapi karena gua kan mengidap Sinusitis yang akut, papi gua waktu ke Jepang ngajak gua untuk sekalian berobat, tapi nyatanya penyakit nya betah banget diam di dalam tubuh gua Ji.!" Papar nya
" Kenyataannya sekarang tidak pernah aku dengar kau berbangkis seperti pertama kita bertemu." Tanggap Aji.
" Alhamdulillah, mungkin kotoran yang dulu mengendap di saluran THT gua terkuras habis, tapi gua gak berani promosi lagi, itu tetangga gua yang suaranya sampai sekarang jadi Sember serak begitu,
Kagak sih kalau sampai komplain ke gua. Kan udah gua bilangin ke dia sebelumnya, seperti gua jelasin ke Luh." Papar Haruki.
...ΩΩΩΩΩΩΩ...
" Dari tadi kita ngomong terus, sampai kapan aku dikasih janji-janji terus! Kau mau kenalkan aku dengan siapa tuh yang kau janjikan kemarin lusa." Sergah Aji.
__ADS_1
" Ya Ji.... Itu pasti, tapi ada yang gua ingin tanyakan Ama Luh bro, Luh serius mau ngajak dia ke acara resepsi yang luh bilang akbar di Brazil sana? Boleh dong gua tanya sesuatu ke Luh ?!" Tanya Haruki serius
" Ya boleh dong.., memangnya mau tanya apaan sih, serius amat Ruki !, tahu nggak ? kalau kau sudah Pasang muka serius seperti itu, mirip pendekar di film-film Jepang yang bersenjatakan pedang Katana dan mau mengeksekusi musuhnya, coba kau lihat di cermin, wajahmu seperti itu, tengok!" Sahut Aji tak kalah serius.
" Sudah..., sudah gua tengok nih di layar Ponsel.gua, massak segini gantengnya dikatai serem, Luh mah sirik !" Bantah Haruki.
" Iya ..Bro, yang seram itu bukan tidak ganteng, akan lebih komplit lagi, sudah ganteng, baik, dan tidak suka menunda-nunda urusan piutang, seperti janji, itu utang ." Sergah Aji.
" Oke ..Ji...Oke, gua ngerti, seperti yang gua bilang tadi, gua mau nanya ma Luh lebih dulu.
Anggap lah Luh kan mau pergi ke tempat yang lumayan jauh, berduaan tanpa ikatan, lantas dari Luh pribadi, katakanlah Luh suka ma dia, atau simpati atau apalah namanya ma cewek yang akan gua pertemukan ma Luh nih.
Atau anggaplah Luh gak ada perasaan apa pun ma dia. Yang ingin gua tanya ma Luh, ketika kalian berdua sudah berada disana, ada yang bertanya ma Luh nih Ji, siapa cewek di sebelah Luh ? , apa jawaban Luh atas pertanyaan orang itu ?" Tanya Haruki sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Haruki., siapapun dia , yang telah bersedia mendampingi ku pergi ke resepsi Josette yang bukan mantan kekasihku seperti yang kau bilang beberapakali, sekarang sekalian aku klarifikasi, " Dia Bukan mantan kekasih dan tidak pernah jadi kekasihku " Sahut Aji.
" Dalam hal seseorang yang bersedia untuk mendampingiku. Pertama, aku akan memberi kompensasi berupa perjalanan piknik yang menyenangkannya, yaa entertainment lah bagi orang itu, siapapun dia.." Papar Aji.
" Kalau itu cewek biasa-biasa saja. Kalau cuwakepnya bikin Luh kesengsem bagaimana ?" Sahut Haruki bernada memancing.
" Aku tidak akan menggodanya, mengganggunya, apalagi merayunya itu yang ke dua.
Karena orang disana gak akan tanya seperti yang kau katakan, " siapa tuh cewek di samping mu? Itu tidak membuatku risau.
Itu mah Melayu banget Ruki, ini Brazil Ki....Brazil !" Timpal Aji.
Yang ke tiga, ini yang terakhir, aku akan menjawab kepada setiap yang bertanya siapa cewek yang mendampingiku itu, dia adikku." Aji menjawab sambil mengangkat kedua bahunya, pertanda. Jadi apa yang di permasalahkan ?
" Wah .. Ternyata sohib gua genius, malah ada tanda-tanda berkemampuan Indigo." Tanggap Haruki.
" Indigo?, memangnya kenapa rupanya, sampai kau punya kesimpulan seperti itu ?" Tanya Aji.
" Kau tahu orang yang Luh kira mengaji di program TV swasta, Sang Indigo ? Luh meleset, karena itu Life Ji, life. Dia sodara gua dari Serang.
" Dia naksir Luh Ji, tapi dia bilang ke gua, kalau sampai gak jadi calon istrinya pun, ya jadi adik angkatnya juga mau lah Bang ! Tuh dia bilang seperti itu ke gua Ji !" papar Haruki.
__ADS_1
Terkesiap Aji dengan paparan Sohibnya itu, padahal , dirinya merasa tidak pernah menebar pesona dimanapun, kepada siapapun dan kapanpun.
Kalau sampai ada orang yang ketemu saja belum pernah, koq bisa-bisanya naksir, mau tidak percaya kepada sohib ini yang di jamin, kalau mulutnya, terbuka dan mulai bersuara.
Isi suaranya itu tidak diragukan akan kebenarannya.
Dia type sahabat yang bisa dipercaya, dalam hal janji sampai saat ini bisa dipegang.
Hanya saja, sepeninggal mendiang istrinya, sikapnya mengalami sedikit perubahan. Sedikit Koplak, begitu istilah anak kekinian menyebutnya.
" Ji., yang gua pernah dengar, terburu-buru itu pekerjaan Syetan, Luh jangan terburu-buru ya? Sodara gua itu, siang hari begini sedang bekerja, yang luh dengar kemarin memang dia, tapi tadi itu rekaman suara dia dan gua stel dari Flash disc." Pungkas Haruki menutup pemaparannya.
" Aku tidak mempermasalahkan mau kapan kau pertemukan aku dengan dia, yang jadi bahan renungan ku waktu yang semakin mepet, untuk mengurus dokumen-dokumen keberangkatan bagi pendampingku." Papar Aji.
" Seharusnya sih seperti itu, tapi dia pulangnya jam tujuh malam, itupun kalau dia langsung pulang, kalau Luh mau menunggu, ya tunggu saja. " Tanggap Haruki
" Tidak apa-apa Ruki, akan ku tunggu, mudah-mudahan dia tidak ada keperluan untuk tidak langsung pulang." Hibur Aji pada dirinya.
Demi mengisi keheningan di antara mereka berdua, yang terlihat mulai kehabisan topik pembicaraan, Haruki berinisiatif meminta Maemunah untuk membuatkan Kopi kesukaan mereka berdua, yaitu Kopi asli dari Medan.
Di satu saat beberapa tahun yang telah berlalu, Haruki ikut melawat ke kota Medan, tempat Bengkel resmi Kendaraan merk Mitsubishi masih kepunyaan Tuan Shintaro pemilik Nagasaki Motor Service yang ada di Jakarta.
Ketika seorang sekertaris di Bengkel cabang Medan, menyuguhkan seduhan kopi kental untuk pertamakali bagi Haruki melihat, bagaimana Seduhan Kopi dengan bubuk yang masih kasar terapung di permukaannya.
Sepintas seduhan kopi itu mirip air keruh, malah teramat keruh dengan sedikit busa berwarna putih kecoklatan dan gumpalan kopi yang tidak digiling dengan sempurna, tidak menimbulkan selera untuk segera meminumnya.
Akan tetapi ketika dia melihat Papi nya menyeruput kopi yang kata sang Sekertaris " Ini kopi Medan ", yang disuguhkan. dengan penuh kenikmatan, setelah itu dilihatnya Ayahnya mengunyah sesuatu seperti layaknya sedang makan.
Dirinya masih belum faham akan adegan yang dilihatnya itu. Oleh karenanya kopi yang masih mengepulkan asap dengan aroma khas nya, belum disentuhnya.
Ketika Papinya mengatakan, "Ayo Ruki, di minum nanti keburu dingin, hilang rasa nikmat kopinya."
Demi menghargai anjuran Papinya, dia ikuti anjuran tersebut. Ketika lidahnya mulai menyentuh cairan yang katanya Kopi Medan itu, terasa ada sensasi yang belum pernah di temuinya, untuk kemudian...
Di teguknya lagi lagi dan lagi, hingga tetes terakhir isi gelas itu, hanya tinggal ampasnya yang tersisa. di ambilnya dengan sendok yang tersedia, dan dia masukkan ke mulutnya, lantas dia kunyah ampas kasar kopi tersebut..
__ADS_1
Tiba-tiba. Bray.!! Pandangan matanya dia rasakan menjadi terang benderang seperti bebas tanpa terhalang oleh apapun..
" Orang Medan.....!! " tidak tahu apa yang dimaksud oleh Haruki sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Papinya Haruki tersenyum melihat ulah putranya itu.