
Bab 3
Pasar yang populer di semua kalangan, khususnya di Kawasan Jakarta Utara. Telah Melindari rambah hingga ke sudut-sudut nya.
Seharusnya berujung dengan perasaan bahagia atau yang serupa dengannya.
Namun, alih-alih dia bahagia, justru bencana yang didapatkannya. Perasaan malu yang tidak terkira, kecewa yang tidak terduga.
Tindakan yang mustahil juga, kalau dia harus menjelaskan kepada beberapa orang pembeli yang antri menunggu di belakangnya.
Sementara kasir menghitung berapa belanjaannya yang harus dia bayar, untuk sejumlah barang yang lumayan banyak jumlahnya.
Tiba saat giliran membayar, kedua kartu yang syah sebagai alat bayarnya, di nyatakan oleh kasir, kedua kartunya "bermasalah".
Seperti itulah kejadiannya yang di ketahui oleh orang-orang yang berada disekitarnya, hingga mengundang celetuk salah satu dari mereka.
" Kartu kredit, wiiih gaya!..American Express. Kartu ATM Mandiri Visa platinum pula ! he.he. Tapi isinya Melompong, lama nih kita ngantri, tahu begitu sih, ngantrinya jangan paling depan dong !! ." Ujarnya
Orang tersebut berkomentar seperti itu, saking lama dan merasa kesal menunggu giliran lima orang di depan nya termasuk Melindari.
Keringat dingin muncul serupa dengan butir-butir kristal kecil, semakin banyak bermunculan di hampir seluruh wajahnya, di mulai dari bagian dahi dan leher.
Manakala menoleh ke belakang, tidak ada Aji yang tadi dia yakini ada, berdiri dibelakangnya.
"Sompret tuh si Bang Aji !!, kemana menghilangnya ya? lagi di butuhkan begini malah raib." Gerutunya, sambil menoleh ke belakang. dengan memutar leher berikut matanya menyapu ke setiap sudut ruangan, namun tidak di temukannya, seolah lelaki itu menghilang.
Aji bukan sengaja untuk pergi meninggalkan Melindari begitu saja tanpa maksud.
Justru ketika dia melihat pembeli lain memegang sebuah barang penting untuk travel yang serupa miliknya yang belum lama hilang.
Setiap mau membeli yang baru, sebagai gantinya, selalu saja dia lupa.
Kali ini mumpung dia ingat, lantaran melihat, lalu terinspirasi untuk mencari dan akan membelinya.
Nampaknya dia telah menemukan barang yang di maksudnya. Terlihat di tangannya menggenggam sesuatu.
Setelah berselang beberapa saat, terlihat dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke arah Kasir toko, dimana Melindari terlihat olehnya masih berdiri di depan loket pembayaran, di hampir nya dan di tegurnya.
" Melin, kenapa masih berdiri disitu ?. Apa masih ada lagi yang mau kau beli ?" Tanya nya
" Ini Bang, kartu ATM ku, dua-dua nya tidak bisa di debit." jawabnya dengan mimik wajah miris.
" Oo itu penyebabnya, maaf aku juga lupa memberi tahukan, kartu yang kau punya tidak akan berfungsi seberapa banyak pun jumlah saldonya, Melin."
" Kenapa bisa begitu Bang ?" Tanya Melindari heran.
" Karena aku sudah bayar semua belanjaan kita dan itu atas namamu."
" Eeey ..., Bang Aji Jail..!! Aku nggak mau ah.. Koq begitu sih Bang Aji ?! Nakal tahu.!" Gerutu Melindari dengan wajah cemberut, bukan pura-pura, lantaran dirinya sempat di buat malu.
" Maaf beribu maaf Melin. Swear, aku bukan sengaja-sengaja pergi begitu saja.( maka di jelaskannya duduk persoalannya.
__ADS_1
Pada antrian di depan Kasir, masih ada dua orang yang tersisa dan setia mengantri untuk bayar belanjaannya.
Mereka menyimak pembicaraan diantara Aji dan Melindari. Terjadilah fenomena Burung pelatuk, yang suka mengangguk-anggukkan kepalanya
Begitulah yang telah terjadi dengan kedua orang yang tadi bersuara cukup pedas, diantara mereka berdua yang ditujukan kepada Melindari, namun Melindari tidak menanggapinya, dan menganggap kejadian itu tidak pernah ada.
" Mbak saya ingin klarifikasi, mana supervicer toko ini, kenapa Kartu debit saya sampai tidak bisa difungsikan, saya ingin kejelasannya, kejadian seperti ini kan termasuk bagian dari pelayanan yang kurang maksimal." Sergah Melindari, sengit.
" Mohon maaf mbak, untuk lebih jelasnya, mbak tanyakan saja kepada Masnya." jawab kasir sambil menunjuk ke arah Aji.
" Maafkan Mbak atas ketidaknyamanan ini. Tadinya Saya sengaja memberi kejutan untuk adik bontot saya di hari Ulang tahunnya, hari ini." Jawab Aji menjelaskan duduk persoalan sebenarnya.
" Oooowh,... Masya Allah,! aku sendiri gak ngeh kalau sekarang, hari ini adalah hari kelahiran ku.
Spontan, tanpa di sadarinya, dipeluknya tubuh Aji, dan di ciumnya kedua belah pipi lelaki itu di hadapan orang banyak, tanpa rasa sungkan.
Dan Aji pun membalasnya hanya dengan mengulurkan tangannya sebagai ucapan selamat berulang tahun.
Perbuatannya itu di ikuti oleh dua orang yang tadi berkata tidak santun kepada Melindari, yang kali ini membalasnya dengan menyambut uluran tangan mereka dengan senyum yang renyah
.
Itulah bentuk kebaikan yang telah di perbuat oleh Melindari yang langsung berbuah kebaikan, mungkin itu sebagai bentuk balasan.
Seusai urusan pembayaran yang kenyataannya Aji yang membayarnya dengan kartu kredit yang sama dengan Melindari miliki. American Express.
Ketika tadi pertama kali masuk ke loss pakaian berbagai macam model dan peruntukannya, Melindari larut, asyik memilih apa yang kira-kira dibutuhkannya.
" Subhanallah !, berapa tahun tuh kasir, sampai bisa menduga dan menilai berapa banyak Melindari akan menghabiskan uang untuk belanja untuk yang pertamakali di sana."
Bukan lagi acungan dua jempol yang pantas di berikan kepada Kasir itu.
Hanya selisih Tiga puluh lima ribu rupiah saja, antara dugaannya dengan harga barang yang Melindari ambil sebagai barang belanjanya, itu berarti sejumlah itu uang Aji yang harus di kembalikan oleh kasir tersebut, ya Rp 35.000,- itu.
" Sebagai pertanda Salut dari saya ya mbak ?! juga sehubungan dengan kebahagiaan kami berkenaan dengan adik saya yang sedang berulang tahun.
Maka kelebihan uang itu saya berikan kepada mbak sebagai Hadiah." Ucap Aji sungguh-sungguh.
" O Allah... Benar nih Mas...?! " Seru sang Kasir, hampir tidak percaya dengan yang di dengarnya.
" Benar dong, masa main-main ? mempermainkan dong itu namanya, kalau sampai saya nggak benar." Ujar Aji lagi.
" Hemm .bagaimana cewek nggak klepek- klepek, ketemu ama cowok kayak Bang Aji." Gumam Melindari lirih.
...*********...
Acara belanja sudai usai termasuk urusan pembayaran di Kasir yang cewek dan cantik pula, sempat membuat Hati Melindari tersulut ujung api.
"Cemburu Kah aku ini ?" Batin Melindari.
Mereka berdua jalan berdampingan menuju ke arah tempat parkir kendaraan.
__ADS_1
Terdengar suara mesin mobil di hidupkan dan kendaraan pun mulai bergerak maju perlahan, tiba-tiba., ting...🎼Ting ting ..🎶 HP di saku atas baju yang dikenakannya berbunyi ..sesaat setelah di pijit tombol jawaban. Terdengar suara merdu seorang wanita.
" Halo Aji...di sini Josette, Sorry aku ganggu engkau punya waktu... " dengan terbata-bata, Lidah kaku melafazkan bahasa Indonesia seperti pada umumnya orang-orang asing.
" Ya Halo juga, ya Jose.. Ada berita penting kah ?" jawab Aji.
" Ya ..bisa juga di katakan penting, Aji..E-Tiket untuk dua orang dari Jakarta ke Brazil and pulang Jakarta lagi. sudah aku kirim via engkau punya email. And juga Engkau baik-baik saja juga Melin engkau punya sayang ya Aji...oke ?"
" Ya oke Josette..sampai jumpa di Brazil beberapa hari lagi, Bye bye !" Jawab Aji. Dan telepon pun di tutupnya.
Aji maklum, Josette yang sedang tidak banyak bicara, mungkin saja persiapan menjelang hari H yang tinggal hitungan hari, membuatnya sangat sibuk.
Aji tidak ingin menunda sebuah urusan apapun termasuk urusan isi e-mail tadi, begitu keluar dari pelataran parkir di Pasar Ular dekat kawasan Plumpang, dia balikkan arah mobilnya menuju arah Permai, guna memindahkan E-tiket yang ada di file Fdp HP nya, ke lembaran kertas dengan proses oleh mesin printer.
Ketika ditemukannya Kios Internet dan print-out, di hentikan nya laju mobilnya untuk kemudian dia turun dan masuk ke ruang print di kios internet itu.
Setelah Tiket yang Josette kirim ke alamat e-mail nya, dan lembaran tersebut telah dalam genggaman tangannya diberikannya lembar soft Copy yang satu lagi untuk Melindari kepada yang bersangkutan. Mereka kembali berangkat untuk pulang menuju Rumah tempat tinggal Haruki.
" Coba di periksa dengan benar, ada kesalahan penulisan nama atau tidak? Juga tolong diperiksa. Nomor Kursi kita berdampingan kah?, mudah-mudahan seperti itu.." ujar Aji.
Serta Merta Melindari memeriksanya. Dan jawabnya
":sekarang tanggal 17 Desember kan Bang, di sini tertulis jadwal keberangkatan kita tanggal 19 Desember Bang!" Sahut Melindari antusias.
Untuk suara Melindari yang di dengarnya begitu gembira. Aji menangkap momen tersebut, diapun tersenyum turut merasa bahagia.
Seorang Makhluk Allah SWT, Tuhan yang disembahnya, telah menemukan jalan kebenaran dan sedang merasakan karunia berupa kebahagiaannya hari ini.
Baru hari ini pertamakali Aji melihat Melinda segembira dan sebahagia itu.
Aji...., di dalam batinnya berkata bahwa dia tidak akan mempersoalkan Melindari yang sekarang sedang duduk di sampingnya ini apakah Melindari yang dulu dia pernah dekat dengannya atau bukan.?
Sebenarnya tidak perlu untuk dirinya memikirkan atau mempermasalahkannya lebih jauh lagi.
Toh dulu juga perasaan kasihan dan prihatin yang pernah dirasakannya itu hanyalah spontan semata.
Tetapi kenapa sekarang muncul kembali?.
Padahal wanita ini sudah jelas bukan wanita yang dulu membuat dirinya timbul perasaan kasihan dan prihatin...Kenapa ? Dia hanya menggeleng- gelengkan kepalanya tanpa menemukan jawabannya. Adegan yang hanya terjadi beberapa detik saja itu ternyata tidak luput dari pengamatan Melindari.
" Bang Aji, merasa pusing kepala kah?! Berhenti dulu Bang, tuh didepan ada Apotik Permai, kita beli obat, jangan dipaksakan nyetir Bang, bahaya" Tanya Melindari khawatir
" Tidak Melin, bukan itu..!" Jawab Aji sambil matanya fokus lurus ke arah depan..
" Kalau bukan itu, apa dong.?"
" Ada Aja .!"
" Boleh aku tahu Bang ?!" Tanya Melindari seakan mendesak...
"
__ADS_1