
Bab 5
Perlahan Aji terus berjalan, semakin mendekat kepada kumpulan orang yang salah satu di antara mereka adalah Fitrie, tertangkap oleh pendengaran Aji, mereka sedang mengucapkan kata,
" Aamiin ya rabbal 'alamiin " berulang kali, pertanda Do'a untuk para Ahli Kubur keseluruhan wa bill khusus untuk Ayahnya Fitrie, akan berakhir.
Aji bertatap muka dengan Fitrie, terlihat olehnya tanda duka yang masih tersisa pada guratan wajah gadis itu belum sirna, padahal sudah satu pekan Ayahanda tercintanya wafat.
Mungkin saja ini disebabkan oleh dirinya merasa belum cukup mendapat kasih sayang dari seorang Ayah, karena hampir lebih dari separuh usianya yang sekarang sudah akan usai masa remajanya, semua di lewatinya di beberapa pesantren yang berbeda.
Di kota kelahirannya saja, saat dia setingkat pendidikan Sekolah dasar, di Garut semasa pendidikan setaraf Sekolah menengah pertama, dan di Jombang pada tingkat yang setaraf Sekolah Menengah Atas.
Kalau bukan karena kendala kesehatan yang mengganggunya, ada kemungkinan Ayahnya menganjurkannya untuk terus melanjutkan putrinya sekolah ke jenjang perguruan tinggi Islam di Darul Ulum, Jombang.
Oleh sebab itu, sekarang Fitrie lebih banyak lagi waktunya dipergunakan untuk ikut memakmurkan kegiatan pengajian anak remaja di lingkungan tempat tinggalnya, yang rutin di adakan setiap hari Minggu di majlis taklimnya Pesantren di bawah asuhan orang tuanya, Kyai Haji Sahamah.
Dalam suasana duka dan masih berkabung, tidak banyak kata yang Aji lontarkan, salah seorang dari keluarga Fitrie menawarkan kepadanya dengan bahasa yang santun, barangkali Aji mau berdo'a secara pribadi untuk ahli kubur yang bersemayam
di sana, Aji menganggukkan kepalanya, tanda membenarkan.
Dimulainya dengan dia membaca salam kepada ahli kubur keseluruhan dan di akhiri dengan uluk salam khusus kepada Almarhum ayahnya Fitrie.
Di bacanya Do'a khusus juga Hadrah, hingga salam Ahir, tidak jauh berbeda, seperti bacaan yang telah di lakukan oleh keluarga Almarhum, ada diantara anggota keluarga yang menyimak bacaan yang sedang di lakukannya itu.
Di saat menyimak, orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya, mungkin saja itu pertanda dia tidak menemukan kekeliruan baik dalam membacanya maupun susunan yang di bacanya, memenuhi syarat pembacaan Mahrojatil huruf.
Sudah menjadi rahasia Umum di daerah tempat tinggal Fitrie,bagi siapapun yang melakukan Ziarah kubur bukanlah merupakan sebuah prestasi bagi yang bisa atau lancar dalam membacakannya, apalagi di kalangan para Santri seperti keluarga Fitrie.
__ADS_1
Namun manakala seorang laki-laki dewasa tidak sanggup karena tidak bisa dalam membacakan Ayat-ayat yang sudah baku susunan redaksinya dan sudah umum. Maka akan turun Marwahnya, di mata orang di sekitarnya.
Aji telah sanggup menjaga harga dirinya sebagai lelaki yang masuk Kriteria benar, bahkan termasuk berani, mendekati seorang gadis putri dari seorang pemuka Agama yang cukup di kenal, di Banten.
Ziarah kubur sudah usai, bagi keluarga Fitrie maupun Aji. Saatnya pulang pun tiba, bukan sekadar basa-basi, beberapa dari mereka mengundang dan menawarkan kepada Aji, untuk singgah dahulu ke rumahnya.
Demi melihat mimik dari orang yang bicara kepadanya tadi, Aji menyetujuinya. Dia ikut bersama mereka, tidak berselang lama mereka tiba di Rumah dengan cepat, karena pemakaman itu tidak seberapa jauh jaraknya dari rumah tempat tinggal mereka.
Aji merasa sangat bersyukur bisa berjumpa dengan keluarga yang ramah dan menghargai tamunya, walau pun datang ke sana sebagai Tamu yang tidak diharapkan kedatangannya setidaknya di luar dugaan, untuk bisa datang.
Beberapa saat berlalu, dia diterima oleh tuan rumah di ruang Tamu keluarga, setelah beberapa saat berjalan sang waktu, di sini Aji tidak kunjung melihat kehadiran Fitrie berbaur dengan anggota keluarga lainnya yang terlihat berlalu-lalang tampak sibuk.
Kemana Fitrie ya?, tidak terlihat setelah pulang dari pekuburan, tanya di dalam hatinya.
Sikap mereka yang menemani Aji sepulang dari makam, mirip suasananya seperti waktu dulu dia bertamu kesini, padahal sudah lebih dari satu tahun yang lalu, namun sikap mereka tetap ramah seperti waktu itu.
Bukan karena dirinya sedang bertamu di rumah seorang pemuka Agama, dia pamit untuk ikut shalat berjamaah di Mesjid Baiturrahman nama Mesjid tersebut. Konon lebih di kenal dengan sebutan Mesjid AS-SAHAMAH, mengambil nama Almarhum K.H.Sahamah.
Masyarakat menganggap jasa beliau, yang telah mengajarkan ilmu Agamanya tanpa pamrih.
Kepada anak remaja, namun ada satu obyek niaga amal yang merangkap Shodaqoh bagi Fitrie, adalah mengajarkan para Santri juga Santriwati membuat makanan Kuliner. Berupa ilmu tambahan sebagai pembekalan untuk kelak mereka mungkin akan membutuhkannya.
Seusai dirinya ikut shalat Dhuhur berjamaah, di Mesjid As-Sahamah, dengan di dampingi oleh salah satu dari anggota keluarga Fitrie, Aji kembali ke tempat semula dia duduk.
Tidak lama berselang, Fitrie muncul dari serambi tengah menuju tempat Aji dan laki-laki yang tadi menyertainya shalat Dhuhur, terakhir di ketahui dia adalah adik sepupu Fitrie.
Uluk salam terlontar dari lisan Fitrie, dengan di jawab oleh Aji." Wa Alaikum salaam, Warahmatullahi wa barokah tuh." untuk beberapa saat suasana tanpa kata, berlangsung.
__ADS_1
Selanjutnya saling sapa di antara merekapun mulai terjadi. Berawal dari saling menanyakan kabar, hingga saling bertanya tentang kegiatan masing-masing, selama mereka tidak saling berjumpa.
Suasana mulai terasa nyaman, terlihat senyum yang mengembang dan intonasi nada suara bicara yang terlontar dari bibir wanita itu, terdengar oleh Aji seperti tidak ada beban apapun baginya, datar... natural, namun ada sesuatu yang hilang pada diri gadis itu, ya ...kini jauh berbeda, sorot matanya sudah tidak ada lagi binar yang tersisa.
" Benar., dia sudah menganggap ku bukan siapa-siapa lagi, atau mungkin aku tidak pernah jadi siapapun dalam hidupnya " pertanyaan di dalam hatinya.
Ingat akan tujuan kedatangannya kali ini tidak untuk urusan asmara, biarlah kehidupan berjalan sesuai takdir, berpikir positif boleh saja, Tak akan lari gunung di kejar, itu optimisme orang muda yang hidup di zaman Ayahnya masih muda, tida kalah oleh anak muda era Milenial.
Aji menyadari mereka berdua telah di pisahkan oleh sebab yang sangat sulit untuk di carikan solusinya. jadi mirip Buah Simalakama, di makan ibu yang wafat, tidak di makan, Bapak yang wafat.
Begitu juga halnya Mereka, Kalau Aji yang di tolerir, Fitrie yang berkorban. kalau Tidak ada toleransi samasekali, Aji yang akan Nelangsa dan harus siap untuk mengubur dalam-dalam, jangan lagi mengharapkan kehadiran Fitrie untuk menjadi pendamping hidupnya.
Singkat cerita, dia sudah kembali ke Jakarta, di bengkel resmi Mitsubishi dengan spanduk dan juga papan nama dengan ukuran yang cukup besar terbaca jelas, bertuliskan " PT. NAGASAKI SERVICE"
berdiri kokoh dengan huruf berwarna cerah, tempatnya beraktifitas rutin , yang tidak lebih dari sebatas : Mendata keseluruhan suku cadang kendaraan yang ada, dari berbagai merk kendaraan, hingga beraneka macam Oli pelumas dari merek Rored dalam Drum hingga Castrol dan merk lainnya dalam kemasan kaleng ukuran 1 liter, hingga yang 5 liter dengan berbagai macam kekhususan dan peruntukannya, semua sudah tertanam di kepalanya tidak perlu lagi dengan Daftar spek yang di berikan distributor berupa Tabloid saat pengiriman dari Distributor ke gudang Bengkel yang bertebaran di seluruh wilayah DKI Jakarta, termasuk bengkel tempatnya bekerja.
Di Bengkel ini, Aji samasekali tidak pernah ikut menangani pekerjaan perbaikan maupun perawatan mesin mobil, baik untuk konsumen tetap ataupun bagi yang hanya numpang lewat saja, menurut kepala divisi ketenagakerjaan seluruh karyawan di sana yang pernah mengatakan kepada Aji, memang tidak di izinkan bagi karyawan, untuk mengerjakan bidang yang bukan spek kerjanya sebagaimana disebut di dalam kontrak perjanjian kerjanya, hal ini untuk tujuan mengantisipasi bilamana terjadi kecelakaan dalam bekerja, maka pihak Asuransi akan menanggapi dan bertanggung jawab tanpa kesulitan dalam memproses pencairan dana bagi yang sedang membutuhkan uluran dana tersebut, untuk biaya pengobatan maupun perawatan kesehatannya, akan mendapat kemudahan.
Padahal bidang Mekanik, sudah menjadi bagian dari kegiatan sehari-harinya sebagai ahli mesin kapal yang bekerja di Kapal. Tangan nya suka merasa gatal ingin ikut bekerja, ketika melihat Montir yang sedang asyik bekerja menanggulangi sebuah masalah.
Bukan dia orangnya kalau sepanjang hari duduk dan menghitung suku cadang yang masuk dan keluar dari Gudang yang jadi tanggung jawabnya. Rasanya dia mulai Jenuh, hal itu disampaikannya kepada Haruki, dengan harapan dia bisa pindah ke bagian lapangan.
" Wah., kalau urusan kepindahan yang Luh mau, harus seizin babe gua Ji .! gak bisa pindah begitu saja, Luh sudah kepalang di percaya pegang gudang, Babe gua bisa pusing tujuh keliling kalau harus cari orang lain untuk gantiin Luh Ji...!
Tapi dugaan gua nih ya ?...Luh perlu penyegaran... biar otak Luh kagak Sumpek , bagiamana kalau malam minggu depan , pergi ma gua." tanya Haruki Sambil mengangkat naik dan turun alias matanya, yah sudah di kenal di kalangan pegawai itulah ciri gayanya anak Boss bernama Haruki .....
* Bertahan kah Aji menjalani rutinitas pekerjaan yang menurut pemikirannya tidak ada tantangannya sama sekali, lantas cara apa yang bisa memberikan solusi baginya ?
__ADS_1
.