
Bab 1
Tuan Hanura Gawa tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya perihal anak yang hubungan emosional dengannya lumayan
Tercermin pertalian bathin yang terjalin oleh benang halus yang tidak dapat dilihat hanya dengan pandangan kasat mata.
"Mamie harus sabar dan jangan tergesa-gesa dalam menyikapi perilaku anak kita si Haruki belakangan ini." Ujar Tuan Hanura.
" Haruki ikut apa kata Papi dan Mamie." Jawabnya
"Bagaimana Mamie tidak depresi Pap!!, dia pergi entah kemana, tanpa kita ketahui keberadaannya, di tanya tidak mau menjawab, pernah satu waktu berapa hari dia tidak pulang, sekalinya datang seperti orang yang hilang ingatan.
Lusuh, semrawut. Yang lebih parahnya lagi, datang- datang langsung dia masuk ke kamarnya, kemudian tidur sampai berhari-hari, macam Ular yang mau berganti kulit saja.
Mau sampai kapan dia berbuat seperti itu?!" Pungkas nyonya Hanura kepada suaminya. Dengan sikap sedikit meradang.
" Mau sampai kapan dia akan bersikap seperti itu..?" Papi kira sampai kesabaran kita sudah tidak tersisa lagi, atau do'a Mamie di kabul." Jawab suaminya dengan bijak. Bukankah Mama selalu berdo'a di setiap usai shalat?" Tanggap tuan Hanura Gawa.
" Aamiin " Jawab sang istri penuh harap ucapan suaminya menjadi kenyataan.
" Mendo'akan wajib tapi berhasilnya yang tidak wajib, itu yang sering Papi dengar di pengeras suara Mesjid yang ada di belakang rumah kita."
" Papi memang suami Mamie yang sebenarnya sudah pantas berperan sebagai Khalifah." Ujar Istrinya.
" Bukan Khalifah tapi Shogun yang seiman dengan istrinya." Bantahnya.
" Ya Shogun... Sok Gundul ya Pap?!" Seloroh nyonya Hanura Gawa. Sang suami bijak itu mendengar, tapi berlaga seakan dia tidak mendengar.
" Sampai kapan ya dia akan seperti itu terus, sedangkan dia bukan anak-anak lagi." Tanggap Hanura Gawa yang tampaknya sudah mulai terpengaruh oleh sikap istrinya yang harus di akui objektif itu.
" Mamie harus manyampaikan keberatan kita akan sikapnya yang seperti itu."
" Ya Mie, papai setuju, tapi tidak sekarang. Bukankah dia baru saja pulang kerumah? Nanti akan percuma saja, dia bukan saja tidak menanggapi, malahan nanti Mamie yang jadi kesal, ujung-ujungnya sakit Mag nya bisa kembali kambuh" Ujar sang suaminya,
yakni tuan Hanura Gawa.
Begitulah pasutri yang lumayan harmonis dan bisa dijadikan cermin sebuah keluarga yang SAMAWA.
Manakala sang suami sedang terperdaya oleh emosi, maka sang istri sebagai pereda, begitu juga kebalikannya, bilamana sang istri ketika tersulut oleh api kemurkaan, maka sang suaminya lah yang berlaku dan berfungsi sebagai penyejuknya.
Yang tadinya nyonya Hanura yang iritan, sekarang justru sang suami yang tersulut emosi, pada akhirnya, atas kesepakatan diantara mereka berdua,
__ADS_1
Nyonya Hanura yang akan menyampaikan hasil kebijakan mereka berdua, kepada sang putra mahkota. Haruki Gawa.
Tuan Hanura hanya bisa mengangkat bahunya tanpa berkomentar sepatah katapun.
ΩΩΩΩΩΩΩΩ
Satu bulan pasca pembicaraan diantara mereka berdua, yang berkenaan dengan perilaku dan tingkah polah Haruki, yang dianggap oleh mereka belum juga memperlihatkan tanda-tanda sikapnya berubah. Dan masih amburadul, namun.....
" Cukup objektif Papi dan Mamie ku dalam memberi penilaian terhadapku." Gumamnya masih dalam posisi tidur-tidur Ayam.
Sepenggal cerita yang pernah Aji sampaikan kepadanya, konon istilah populer di kalangan pelaut kalau sedang jaga malam, lantas kepergok mengantuk oleh atasan yang orang asing, oknum yang kepergok itu menjawab nya dengan tergagap.
" I am sorry sir...me only sleep-sleep chicken !" Membela diri.
Ternyata dalam kondisi yang di sangka oleh kedua orang tuanya dia sedang tidur panjang bagaikan sedang Hibernasi, padahal kenyataannya dia lebih sering dengan sengaja menguping pembicaraan orang tuanya yang berkisar seputar perangai akan dirinya.
Ada yang membuat dirinya tersanjung atas penilaian
Mereka terhadap dirinya, dengan menanggapi pernyataan Dokter spesialis jiwa, atas hasil Evaluasi nya, " Putra anda tergolong anak yang lumayan tinggi rasa tanggung jawabnya." Papinya mengutip ucapan Dokter spesialis, tempat kedua orangtuanya membawa dia kesana.
Demi mendengar itu, terasa jiwanya terbang tinggi melayang. " cek...cek..cek.. Decak nya, ini membuat dirinya ingin membuktikan kepada mereka, bahwa pernyataan Dokter itu tidak keliru.
Hari itu, Haruki mendapat panggilan dari Papinya. Dia keluar dari kamarnya, tidak berselang lama, pertanda dia seorang anak yang patuh.
Papinya mulai membuka pembicaraan. Dengan gaya asli Jepang, dan memang seperti itu gayanya, Haruki hafal akan hal itu.
" Boleh Pi!" Jawab Haruki, manut.
" Mam, tolong simak pertanyaan Papi kepada anak kita.
" Apakah kamu sudah mempunyai kekasih.? Atau teman wanita sebagai teman dekatmu.?"
" Belum, Pi !" Jawabnya
" Papi dan Mamie mu menginginkan kau menikah lagi, kami ingin di rumah ini ada anak kecil yang bisa membuat suasana menjadi hidup" Ujar kedua orang tua nya itu.
Membuat Haruki terdiam beberapa saat, untuk kemudian.
" Haruki ikut apa kata Papi dan Mamie saja." Jawabnya.
" Oo.. Tidak anakku, ini bukan di Jepang dan bukan pula di zaman Papi waktu masih muda, Kamu bebas punya pilihan ataupun pendapat, tadi Papi bertanya bukan menentukan, Ruki ! ..Ya kan Mie ?" Bantah Tuan Hanura sambil tersenyum, dan mendapat. Respon dari Nyonya Hanura yang tidak kalah ramah, menyejukkan batinnya Haruki.
__ADS_1
Seyogianya Haruki merasa bahagia mempunyai orang tua yang masih lengkap dan bijaksana.
" Ya Pi., sampai saat ini Ruki belum punya teman dekat semenjak kepergian mendiang istriku. Yang membuat aku seperti pobia setiap mendengar kata Pernikahan, membuat kedua orang tuanya terharu.
" Ruki.., kamu percaya akan takdir bukan ? tidak sedikit orang yang mengalami kejadian serupa dengan yang kau alami, malah tidak sedikit pula dari mereka tinggal di tempat yang tidak layak untuk hunian, tapi mereka tetap bertahan hidup bahkan mereka tetap tersenyum.
Kuncinya adalah mereka meyakini dan menerima itu sebagai porsi Takdir yang harus mereka terima.
Percakapan antara orang tua dengan anaknya sudah dianggap selesai, kesimpulannya. Tuan Hanura Gawa dan istri memberikan tenggang waktu dua bulan kedepan kepada putranya, dalam mencari dan mendapatkan calon pasangan, sekaligus untuk pendamping dalam menapaki kehidupan.
Dalam hal ini kelihatannya kedua orang tua Haruki terutama Papinya, begitu serius mengharapkan sekali generasi penerus dari anak laki-laki nya ini, yang mereka canangkan nanti memberikan anak laki-laki sebagai cucunya.
Penerus yang menyandang nama Hanura Gawa.
Anak yang dihasilkan dari pernikahan terdahulu, seorang anak wanita yang dia beri nama " Honey Masya " ( mungkin maksudnya Hanimasa ).
Oleh Haruki nama itu di modifikasi layaknya mobil-mobil di bengkelnya, itulah kreatifnya Haruki.
Kalau batas waktu yang dua bulan tersebut tidak terpenuhi, maka Haruki Harus mau untuk di sandingkan dengan wanita pilihan kedua orang tuanya
Secara diam-diam, ternyata Tuan Hanura Gawa, sudah mempunyai calon yang menurut mereka masuk kriteria menantu yang ideal. versi mereka.
Itu semua akan tetap mereka simpan sebagai rahasia mereka berdua, hingga nanti saatnya tiba.
Anaknya menemukan pilihannya, atau bila tiba pada limit waktu yang di sepakati Haruki belum juga menemukan, dan menyerah dalam pencariannya, maka mereka akan menyampaikannya, bahkan mungkin di susul dengan diselenggarakan Ta'aruf. Yaitu tindakan mempertemukan kedua calon pasangan yang akan di gadang-gadang menjadi pasangan Syah sebagai suami istri.
Untuk sementara ini, mereka membiarkan putranya untuk mencari sendiri, sebagai bentuk kebebasan dan mendidik dalam berupaya merubah cara hidup ke arah yang lebih baik, sehingga hidup lebih bermakna, ketimbang hidup sendiri, melawan takdir dari Sunatullah makhluk hidup telah Allah SWT ciptakan berpasang-pasangan.
Calon yang Orangtua pilihkan bukan sekadar calon pasangan yang akan mendampinginya, tapi lebih di utamakan adalah ladang Amal bagi putranya, dalam
Menghidupi keluarga yang akan di bangunnya.
Calon yang sudah di pastikan menyanggupi untuk di jadikan pasangan bagi Haruki, yang berstatus masih duduk di bangku sebuah universitas di Kota Hujan Bogor, Tidak serta Merta harus jadi dan di nikahkan di dua bulan yang akan datang, karena di tahun yang akan datang baru lulus dari perguruan tinggi tempatnya sekarang menimba ilmu.
Gadis tersebut menyatakan bersedia, andaikata Ketika Haruki di pertemukan dengannya, sang Arjuna tidak berkenan akan dia, atau dengan kata lain, tidak ada Chemistry. Dia tidak akan menjadikan hal itu sebuah masalah.
Gadis itu bukan datang.dari lingkungan yang berkecukupan Harta Dunia, dia gadis dari lingkungan sederhana, namun pengetahuan akan Agamanya lah berkecukupan,
Gadis ini hasil dari pencarian Tuan Hanura Gawa. Murni tanpa campur tangan keluarga.
Entahlah, atas dasar pertimbangan dan alasan apa Tuan Hanura Gawa, menjatuhkan pilihan kepada gadis tersebut. Ketika pertanyaan itu di ajukan oleh istrinya kepadanya, dia menjawab dengan datar hampir tanpa Ekspresi.
__ADS_1
" Papi kan orang jepang yang tumbuh besar dewasa oleh dominasi pasokan ikan laut segar yang seakan menjadi sebuah kewajiban bagi masyarakat di sana ( Jepang ). apakah Mamie masih meragukan kemampuan Papi dalam pertimbangan mencari yang terbaik untuk anak kita.?" Jawab Tuan Hanura dengan sebuah pertanyaan, yang tidak sanggup istrinya untuk menjawabnya.
":