
Bab 1
" Aji.., sudah aku terima kiriman soft Copy pasport Melindari, sebentar lagi aku akan kirimkan kepadamu E - Tiket pulang pergi, untukmu dan kekasihmu Melindari Ok Aji? , kau sehat saja bukan?.
Aku juga sehat." Suara dari seberang dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, namun bisa di mengerti oleh Aji
" Kabar Ku juga Melindari, sehat-sehat saja Jose.
Aku akan berangkat secepatnya, sesuai dengan tanggal keberangkatan yang tertera di tiket yang kau kirim nanti, Jose.!" Jawab nya
Itulah sekelumit kejadian yang mustahil menurut tanggapan akal Manusia pada umumnya.
Tapi bagi Tuhan Yang di yakini nya, tidak ada yang Mustahil baginya.
Jangankan baru kejadian yang di alaminya, kejadian terhadap seorang yang dianggap hina dina oleh orang di sekitarnya, tak ada atap menahan terik nya sinar mentari dan juga derasnya air hujan yang menerpa tubuhnya.
Ketika Allah SWT angkat derajat hidupnya, setinggi Allah SWT kehendaki.
Dia yang semula tidak ada apapun yang bisa dibanggakan pada dirinya, akan sulit untuk orang akan percaya, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Dia sekarang telah menjadi seorang yang bergelimang akan Harta.
Kejadian yang Aji alami, belumlah seberapa di banding dengan kisah pada orang hina dina tadi.
Itulah Roda kehidupan, tidak ada orang yang tahu akan jadi apa dirinya di Lima tahun, Sepuluh Tahun.
Atau lima belas Tahun yang akan datang.
Mungkin saja, pemikiran Aji yang terlahir 10 Tahun lebih awal dari Wanita itu, membuat pola berpikirnya
Jauh lebih rasional, ketimbang Melindari.
Curiga adalah pertanda kehati-hatian, boleh-boleh saja. yang tidak boleh itu bila Curiga yang kadarnya berlebihan.
Atau, curiga yang kurang beralasan atau berlebihan itu, juga akan berdampak kita senantiasa di hantui oleh rasa takut yang berakibat berpenampilan seakan seperti menjauh dari berbagai aktivitas baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar.
Padahal sebagai Makhluk sosial yang pasti butuh mobilitas yang hampir mendominasi di segala bidang dalam berkarya maupun kehidupan bertetangga.
Walau itu hanya terbatas pada kegiatan kerukun Wargaan semata.
Akhirnya Melindari faham bahkan semakin mengerti,
bahwa lelaki yang kini berada di dekatnya, adalah lelaki yang layak untuk di jadikan pendamping bagi wanita yang sedang mencari dan mendambakan.
Atau mungkinkah ini adalah sosok Suami idaman yang masuk kategori " Lelaki Sejati ?".
__ADS_1
Tetapi dirinya yang sebenarnya masih menyandang status Jomblowati dan pernah penyandang nama Susan.
Yang mengerti terlampau jauh, akan berbagai karakter Manusia berjenis kelamin Laki-laki.
Tidak sedikit dari mereka yang mengaku seorang suami yang katanya Setia hanya kepada seorang Istri saja, bertanggung jawab kepada keluarga, namun ketika sempat masuk ke kamar yang terpampang gambar Susan dengan bingkai figura menawan. Dengan busana yang kurang bahan.
Laki-laki itulah yang justru begitu agresif meminta dan mengajaknya, untuk Bercinta Kilat.
Bukan Susan yang memulai untuk " bercinta satu malam saja ", itu.
Sangat wajar bagi akal nalar Susan, kalau wanita yang bernama Josette Maria Cardoso, sampai terkesan terhadapnya, sehingga pernikahan yang konon dengan seorang putra tunggal dari seorang pengusaha Tajir Melintir saja. Masih meminta kehadiran lelaki bernama Aji, sungguh ini adalah hal diluar nalar.
Sebegitu hebatnya kah daya tarik lelaki bernama Aji Swakarsa ini di matanya, ada misteri apa di balik ini semua ?
Pertanyaan demi pertanyaan belum dia temukan jawabannya.
semakin hari, kerap dia bertemu dengan lelaki ini, mulailah sedikit demi sedikit, tampak hal-hal baru yang terjadi dan tidak terjangkau oleh akal sehatnya.
Tetapi dia mulai merasa tertarik untuk terus mengikuti kemana alur cerita dari episode kehidupan lelaki ini.
" Melin., persiapan untuk keberangkatan kita ke Brazil Berupa dokumen, sudah terpenuhi keseluruhannya. kalau aku, sudah siap semua termasuk peralatan untuk tinggal disana selama satu Minggu bahkan lebih pun.
Udara di sana Tropik lho!, tapi kalau kau mau membawa juga mantel atau semacam baju hangat, tidak masalah, untuk nanti di pesawat, perjalanan terbang yang bukan sebentar pasti akan di butuhkan." Ujar Aji.
" Aku sudah siap sebelum Bang Aji mengajakku ke kantor Imigrasi." Timpal melindari, yang membuat Aji terheran.
" Serius ...! Massak tidak? Ntar gak di ajak pergi ."
" Darimana bisa punya kepastian kalau Aku akan mengajak kau, Mel ?"
" Bang Haruki yang mengatakan ; " Melin!., your dream become true " , tadinya aku tidak mengerti, apa maksudnya dia bilang seperti itu kepadaku." Papar Melindari.
Malahan aku sempat mengomentari ucapannya itu sebagai judul sebuah lagi, bahkan aku sebutkan pula penyanyi yang membuat populer lagu tersebut." Ujar Melindari sambil melepas senyum di sudut bibirnya saja.
" Tadinya kau tidak percaya, begitukah.?" sahut Aji.
" Ya ., begitu. Apa jalan penyebabnya, ujug-ujug aku pergi melancong ke Brazil,? Emang ada ceritanya?.
Seorang suporter fanatik kesebelasan Timnas sepak bola Brazil, mendapat Door Price lantaran dia pendukung terlama kesebelasan itu ? !!" Jawab Melindari dalam tanya.
" Ya juga..., justru kebingunganku terjawab oleh Haruki, aku tidak tahu.kalau di ujung penantianku, adalah kau Mel !"
" Jujur Bang, Brazil itu sebuah Negara Obsesi ku sejak aku mulai menyukai permainan Sepak Bola."
Pungkas cerita Melindari.
__ADS_1
" Bersyukurlah kau Mel, karena bukan aku yang mengajakmu," Jawab Aji jujur.
" Koq bukan Bang Aji,? Tapi kita pergi bareng kan? Lantas....? Oh Allah... Bagaimana ini..?. Bang Ruki
Juga nggak menyinggung tentang ongkos perjalanan termasuk akomodasi selama disana, atas tanggungan siapa, sedikitpun dia tidak menyinggungnya, dia hanya bilang : " Luh tahu duduk manis saja, dan nyampe.." Papar Melindari.
" Panjang ceritanya, nanti setelah kita tiba disana, dengan sendirinya kau akan tahu." Timpal Aji.
"Untuk perbekalan pakaian yang lumayan berkelas, itu di Pasar Ular." Aji menyarankan.
" Tidak kemahalan Bang, kalau belanja disana ?" Tanya Melindari
" Akan mahal jadinya bagi orang yang tidak pernah samasekali belanja di sana, tidak akan ada orang yang belanja di sana kemudian merasa tertipu apalagi di tipu." Aji bernada promo.
" Asli tuh Bang, promonya akan sesuai dengan nilai barang komoditi nya ?" Tanya Melindari lagi
" Gak akan merasa ditipu.., kalau yang menyesal itu banyak, malah banyak sekali." Begitu semangat, Aji dalam menuturkan nya.
" Wah sampai menyesal, sumpah Bang Aji ?.., berani apa coba aku kepingin Abang membuktikannya." Ujar Melindari, seperti penasaran.
" Berani selamat lah Mel....! yang menyesal itu lagu lama, maksudku Kenapa nggak dari dulu nggak belanja kesana ?" Timpal Aji berseloroh.
" Widdiiy ... asyik juga tuh bang! Mau dong kesana." Sahut Melindari penuh semangat.
" Oke., sementara kita nunggu kiriman E-tiket penerbangannya, yok kita ke tempat penjualan kelengkapan busana, barangkali ada pakaian yang belum atau lupa terbeli, kita coba ke Pasar Ular." Jelas Aji lagi........
" Dulu aku pernah belanja disana, asal pintar menawar, kita akan puas dengan barang yang kita suka dan kita beli." Pungkas Aji.
" Berbagai macam barang ada disana ya Bang?.. Wow ..Amazing !" pekiknya sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.
" Ya Mel., mau beli apa disana. Jam tangan Rolex ? Jam Kaki ?... Yang senilai kepunyaan pengacara beken Hotman Paris Hutapea pun ada di sana.
Atau punya nya mang Embong, penjaga kebun tetangga sebelah rumahnya Haruki.? ..ada disana ya ..itu Jam Tangan merk Rolex Kawe-kawe, tergantung selera dan minat yang akan membeli." Jelas Aji.
Mereka berdua menuju Pasar Ular, sepanjang perjalanan, mereka asyik tenggelam dalam pikirannya masing-masing
Suasana hening mendominasi kabin kendaraan di sepanjang perjalanan yang singkat itu.
Karena, dari kantor Imigrasi menuju lokasi Pasar Ular, hanya menelusuri jalan yang berseberangan dengan jalan Raya Yos Sudarso, terus menelusuri di sepanjang kali Sunter yang kemudian bertemu belokan jalan kearah Semper, maka tibalah mereka di sana.
Melindari, walau dia tahu Jakarta dan sekitarnya.
ketika dirinya tinggal di Asrama dan terdaftar sebagai salah seorang siswa Perawat dari sekolah Akademi Keperawatan di DKI, Jakarta. Tepatnya berseberangan dengan Bendungan Hilir, berdampingan dengan Universitas Kristen ATMA JAYA.
Memang dirinya pernah bepergian di saat ada kesempatan libur, atau saat ada jadwal kunjungan.
__ADS_1
Di saat itulah dipergunakannya waktu yang sempit itu, untuk pergi ke luar Asrama.
Itupun harus atas izin kepala Asrama terlebih dahulu walaun terbataa oleh waktu yang diperolehnya, sehingga. Pasar Ular, Baginya hanyalah sebuah Cerita.