
Bab 4
Di gadang-gadang sebentar lagi dimana saat nya memadu kasih, mereguk madu kenikmatan pun akan tiba, selepas mereka berdua melaksanakan shalat Isya berjamaah nanti. Sebagaimana mereka berdua rencanakan.
Arjen yang mengambil inisiatif dengan tindakan yang seakan tidak akan ada lagi waktu dan kesempatan baginya.
Sehingga hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Dia sudah dalam keadaan tanpa satu potong pun pakaian yang melekat pada tubuhnya.
" Wow !" pekik Shinta tanpa sadar, dia kaget bercampur heran, ada juga rasa kagum, demi melihat di hadapannya sebuah pemandangan yang hanya pernah di lihatnya sekali seumur hidupnya.
yaitu pun di dalam adegan film untuk orang dewasa, yang dia temukan tidak sengaja dari sebuah flash disk yang dia temukan tersimpan di dalam laci meja salah satu pegawai staff di pabrik, bagian Administrasi.
Sepengetahuannya belum ada kasus korupsi 'waktu' di bagian Administrasi pabrik, apalagi di lapangan.
Kecil kemungkinan pekerja operator mesin tenun kain tertangkap oleh pengawas sedang bermain HP misalnya.
Resiko untuk itu terlalu tinggi, kalau hanya untuk bermain HP.
Mereka paham, akan berakibat fatal. Paling tidak bagian tangan tertusuk jarum tenun, atau Jarum tenunnya yang patah, dan itu akan mengakibatkan kerugian waktu yang sangat berharga.
Sedangkan untuk mereset mesin, akan memakan waktu tidak kurang dari 30 hingga 40 menit.
karena untuk kapasitas mesin produksi yang di miliki, hitungan hasilnya per menit bahkan perdetik. Yang bisa menghasilkan lembar kain tenun khas Majalaya dalam jumlah puluhan meter. Itu merupakan kerugian.
Tapi Shinta tidak ingin mempertanyakan siapa pemilik flash disk itu, dia tidak ingin ribet.
Dia mengambil hikmahnya saja, ketidak tahuan akan hal yang baginya tabu selama ini, kali ini malah membuatnya jadi melebihi teman-temannya yang konon banyak tahu ketimbang dirinya.
Namun dia yakini kalau yang teman-temannya temukan dan mereka menikmatinya, hanya sebatas ukuran cacing gelang saja. Kalau yang dia temui saat ini ukuran Garaga. kobra piaraan Panji si Petualang.
__ADS_1
Arjen bukan ciri kawula muda yang gaptek, apalagi hubungan pertemanan dengan saudara maupun teman masa kecilnya di Amsterdam, Belanda.Tetap dipeliharanya dan tetap berlangsung interaksi diantara mereka, hingga saat ini.
Dari hal info kehidupan remaja di tanah leluhurnya hingga kemajuan teknologi disana dia pantau bukan melalui sarana YouTube atau Tiktok. Tapi dari sumber yang dia yakini kebenarannya, yaitu komunitas anak remaja Netherland, baik yang berada di Indonesia maupun di negara-negara tetangga, atau di Belanda sendiri.
Begitu juga dalam hal tehnik ataupun ritme permainan yang variatif, secara teori sudah tersimpan di dalam pikirannya, hanya tinggal mempraktekkannya saja.
Dengan gerakan yang gentle sebagaimana anjuran dalam teori yang telah dipelajarinya, pemanasan awal sudah berlangsung dengan lawan main masih terlilit busana lengkap, itu langkah pertama.
Langkah selanjutnya pemanasan awal dengan melepas pakaian bagian atas lawan main tidak dengan jemari sebagaimana dalam kondisi biasa.
Akan tetapi menggunakan gigitan gigi depan di sertai dengan hembusan nafasnya yang menelusuri permukaan leher dan perlahan turun ke bagian belakang dada.
Dihembuskan nafasnya yang telah memburu, sehingga mengeluarkan angin yang terasa hangat oleh Shinta, membuatnya merasa geli, menggelinjang dan merasakan sensasi yang belum pernah dirasakan semenjak dia menapaki biduk rumah tangga dengan Arjen, yang sudah berjalan hampir setahun.
Untuk saat ini mereka berdua sudah tidak perduli lagi kondisi dan situasi di sekitarnya.
Kini mereka berdua sudah tidak ada selembar benangpun yang menghalangi kulit badan seutuhnya, saling bersentuhan dan semakin merapat lagi satu sama lain.
Arjen baru kali ini, melihat betapa kulit bersih berkilau baik di bagian depan badan istrinya, maupun pada bagian belakangnya. Dia ingin memastikan lagi dengan membiarkan lampu di ruangan tetap menyala.
Di bawah sinar lampu neon yang lumayan terang. Arjen ingin memanjakan matanya untuk menikmati pemandangan yang dianggapnya terindah dari yang indah yang ada di Kolong langit jagat raya ini.
Arjen yang sudah hilang kesabarannya. Ingin segera memulai dan menuntaskan kewajiban sebagai suami yang syah atas tubuh molek dan dada yang kenyal nan padat menantang Itu, di pegangnya dengan erat perabot andalan kepunyaannya, sambil di elusnya perlahan kepala Garaga sudah meregang bak kepala ular kobra yang telah siap akan mematuk dan sudah siap untuk menyemburkan bisanya.
Sementara Shinta yang sudah sama-sama merasa darahnya mengalir deras, terasa Ser..ser...ser darah yang deras mengalir sementara jantungnya berdebar kencang. peluh di pelipisnya mulai terlihat bintik- bintik air di setiap pori-pori wajahnya.
Namun ketika akan melakukan tindakan Penetrasi ujung kepala sang kobra Garaga yang baru mengetuk pintu goa yang dindingnya sudah mulai licin oleh cairan selamat datang kepada tamunya yang sudah didepan pintu.
hanya tinggal satu dorongan dari pinggul Arjen maka akan terjadi adegan yang sebenarnya Shinta juga sudah terpancing oleh birahi sehingga dia lupa betapa yang semula dia merasa takut membayangkan betapa Garaga yang tampil dengan ukuran di luar dugaannya. Saat ini malah dia sangat berhasrat dan menginginkannya. Agar Arjen segera memulainya.
__ADS_1
Terasa benda hangat mulai menempel dan syaraf halus pada pintu Gua mulai menghantarkan sinyal rasa nikmat ini ke pusat fikiran nya.
Pusat pengolah syaraf meresponnya dengan terbukti suara mendesah dan mengerang dari bibir Shinta pertanda dia sangat menikmatinya.
Sungguh berbeda jauh dari yang pernah dialaminya ketika puber, dia mengalami adegan seperti ini hanya ditemukan dalam mimpi pertamanya.
Namun kenikmatan nyata saat ini luar biasa, diapun mulai mendesah dan memeluk erat tubuh suaminya yang menindih diatas tubuhnya..
Begitu gagahnya dan sempurnanya Arjen yang melakukan kewajiban sebagai seorang suami.
Walau belum tuntas tugas seorang Suami yang sedang dilakukannya ini.
Tiba-tiba tubuh Arjen menggeliat dan dia memegang dada sebelah kirinya dengan mimik wajah memancarkan kesakitan yang luar biasa.
Shinta menjerit dan panik ketika melihat Arjen dengan bibir menyeringai pertanda dia sedang merasakan kesakitan itu.
Hilang seluruh rasa yang tadi sempat mendominasi pikiran Shinta, kini berganti dengan perasaan khawatir yang mencekam jiwanya.
Dipenuhi oleh rasa panik, namun masih di sertai tindakan yang terarah, dengan sigapnya dia kenakan pakaian yang dianggapnya pantas, kemudian dia kenakan kepada suaminya pakaian yang semula di kenakannya.
Dia segera memanggil anggota keluarga yang ada di rumah, untuk dia pinta pertolongannya, dengan menjerit sebisanya sambil berteriak meminta tolong.
Sementara Arjen terlihat sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, dan tubuhnya terkulai lemas.
Serta Merta Shinta membukakan pintu untuk menanggapi suara ketukan yang berulang-ulang pada pintu kamarnya.
Begitu daun pintu kamar terbuka, beberapa orang anggota keluarga berhamburan masuk dan mereka menghampiri tubuh Arjen yang terkulai lemas, namun masih terlihat nafasnya yang teratur, membuat mereka merasa sedikit lega.
Tidak berselang lama kemudian, sebuah Ambulan yang sengaja mereka panggil dari rumah sakit terdekat telah tiba dengan suara sirene khasnya.
__ADS_1