Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Khuldi yang Menghampiri "


__ADS_3

Bab 3


Dalam kondisi seperti itu, Aji tidak mau kalau bajunya Shinta sampai basah, kalau pun harus, dia lebih memilih bajunya saja yang basah.


Diraihnya Shinta lebih rapat lagi ke tubuhnya, sehingga hanya sedikit saja yang terkena curahan air hujan yang jatuh dari permukaan payung itu ke lengan atas masing-masing.


Shinta mengerti tujuan dari tindakan Aji seperti itu. Hingga ketika langkah mereka sudah sampai ke teras depan dari rumah tempat tinggal orang tua Aji, hanya sebagian kecil dari lengan kiri ke pundak, yang basah terkena air hujan.


...********...


Dengan ketukan yang tidak begitu keras pada daun pintu, dalam tempo yang tidak berselang lama, terdengar suara anak kunci pada pintu itu, " Trek... Cetrek ," suara anak kunci diputar oleh seseorang dari balik pintu bagian dalam rumah kemudian pintu pun terbuka.


" Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarokaatuh."


Ucap Aji.


" Wa Alaikum Salaam warahmatullaahi wa barokaatuh." balas ucapan salam dari yang membuka pintu, yang tidak lain dari adik perempuannya Aji.


" Aa Aji geuningan,? Mamah, ada A Aji nih..!" ternyata adiknya Aji yang perempuan, sedang ada di sana, mungkin sedang berkunjung menengok orang tua. ( Geuningan \= Ternyata ). terjemah ke bahasa Indonesia.


Dia berteriak memberi tahu Ibu mereka akan kedatangan Aji, sebagai anak laki-lakinya yang urutan ke enam dari tiga belas bersaudara.


Kemudian percakapan berlanjut, seraya mereka berjalan masuk menuju ke ruang tengah, yang biasanya dipergunakan untuk anggota keluarga melepas lelah atau bercengkrama.


" Dik..., kenalkan, ini teh Shinta namanya, dari Bandung. Teh..., ini salah satu adik perempuanku." Ujar Aji.


Mereka saling berjabat tangan, dan saling bertukar senyum seraya menganggukkan kepalanya, Tanda saling menghormati.


"Dik, Mah sehat ?" tanya Aji, ( 'Mah', adalah panggilan sayang anak-anaknya kepada Ibu mereka).


Sementara Aji mencari posisi dimana dia akan duduk, sambil menunggu Ibunya keluar dari kamar pribadinya, dia mengambilkan kursi untuk duduk Shinta.


" Alhamdulillah Kak Aji, Mah sehat-sehat saja, dan tidak kurang sesuatu apa, sekarang beliau masih sedang salat." Jawab adiknya.


Pertemuan yang begitu jarang terjadi, antara Aji dengan adiknya, sehingga mereka merasakan kangen satu sama lainnya, tapi situasi seperti saat ini tidak memungkinkan bagi mereka untuk bercengkrama seperti waktu-waktu kemarin.


Adik perempuan Aji yang satu ini bukan lagi anak remaja yang baru gede, dia sudah duduk di semester akhir di sebuah perguruan tinggi di Serang, dengan mengambil jurusan ilmu Pendidikan.

__ADS_1


Jadi dia bisa menempatkan dirinya untuk tidak mengikuti keinginan, dengan pertimbangan kakaknya yang datang kali ini tidak sendirian.


Dengan dasar pertimbangan untuk menghormati Private dari kakaknya, maka dia tidak banyak berkata-kata, hanya bola matanya saja yang terlihat naik-turun ke sekitar anggota tubuh dari Shinta.


Sementara batinnya berceloteh; " Shinta..., serasi dengan rupa dan perawakannya yang secantik Dewi Sinta.


Yang terdapat di dalam kisah pewayangan,


dimana, konon ada salah satu tokohnya bernama Hanoman manusia kera jelmaan dari salah satu Dewa, yang menjadi kesatria berwujud kera tersebut.


Alkisah, saking cantik rupawan tiada bandingan, dari sang Dewi, sehingga membuat seorang Maha Raja


dari kerajaan Alengka bernama Rahwana yang di sematkan atasnya gelar, " Dasa Muka", karena sang Baginda yang telah kesengsem oleh kecantikan Dewi Sinta itu, sehingga membuat sang Baginda Raja tidak dapat tidur dan tidak enak makan. Yang hadir di pelupuk mata tidak lain juga tidak bukan selain Dewi Sinta.


Hmmmm..., Apakah Kak Aji juga salah satu dari yang sering banyak orang menceritakan tentang pelaut ?" Demikian monolog di dalam batin sang Adik.


Sang Adik wanita yang satu ini, sedang bertamu ke orang tua mereka, sembari menyampaikan kepada '****Ma******h**' , sebuah amanat berupa pemberitahuan dari keluarga Fitrie. Untuk di sampaikan ke 'Mah'.


Yaitu berita merangkap sekalian sebagai undangan melalui lisan, akan di adakan Riungan kirim Doa, untuk Ayahanda Fitrie. K.H. Sahamah bin K.H.Nana Onan.


Adiknya Aji yang satu ini, adalah adik ke enam dalam urutan keluarga, Allah SWT telah berikan kepadanya, berupa kemampuan untuk membeli sebuah Rumah hunian.


Aji seorang anak yang patuh kepada orang tuanya, dia konsisten melaksanakannya, menghormati Ibunya dengan sapaan, " Assalaamu Alaikum.a Warahmatullaah wabarokaatuh, Mah.!"


Sejurus kemudian dia perkenalkan Shinta kepada Ibunya, dengan tidak lupa dia ceritakan kepadanya bagaimana sampai dia bertemu, dan juga di antarnya Shinta, dengan tanpa bertanya lebih dahulu untuk tujuan apa, dan kenapa.


Karena yang dia tahu dan telah di Ajarkan Ayahnya.


" Bagi orang yang meminta pertolongan, dan di saat kita mampu untuk memberikannya, kenapa harus bertanya seperti itu ?"


Ibundanya Aji percaya bahwa anaknya berkata benar, dan berbuat benar, dengan tidak banyak mengajukan pertanyaan, Ibunda yang sebenarnya ingin menyarankan Aji untuk tidak tergesa-gesa pulang, dengan harapan sang Ibu bisa bertatap muka sambil bertanya banyak hal yang ingin di sampaikannya Kepada putranya tersebut. Namun beliau pun sama seperti adiknya, oleh kondisi dan juga situasi, maka di tahannya keinginan tersebut, untuk tidak bicara banyak hal tapi kurang bermakna.


Setelah dirasakannya sudah cukup, pertemuan yang inti bahasannya sudah tersampaikan, juga tidak lupa pesanan berupa amanat, mungkin saja itu bukan sekedar Amplop kosong, apalagi teraba oleh Indra peraba tangannya, bahwasanya bukan hanya amplop yang di titipkan kepadanya itu bernilai tidak sekadar, tapi Jumlah yang tidak sedikit.


Suami Anggie belum lama ini berhasil menggoal kan Pembebasan lahan berupa tanah darat yang lumayan luas. Peruntukan sebuah proyek pengembangan perumahan kelas menengah ke atas.


Sejauh itulah keperdulian anak-anak Almarhum Haji Imanudin terhadap Ibu yang mengandung, melahirkan, dan mengasuh mereka.

__ADS_1


Ajie memberi harapan kepada Ibundanya, berupa janji bahwasanya dia akan datang lagi besok, setelah mengantar Shanti untuk bertemu kembali dengan calon Suaminya.


Tiba saatnya mereka harus pergi, mengingat hari yang semakin beranjak malam.


Mereka pun berpamitan, seiring dengan redanya hujan.


" Dik, aku kan terburu-buru untuk urusan yang belum selesai, nanti kamu minta ke bang Alam, petugas parkir yang kendaraan di depan rumah kita, diminta pertolongannya untuk mengembalikan Payung kepunyaan keluarga pak Saliman. Sambil memberikan kepada adiknya, sekadar ongkos untuk Bang Alam.


Dengan perhitungan waktu, untuk menemui Fitrie dan keluarganya, jangan nanti datang terlalu malam, dengan harapan agar mendapat izin orang tuanya Fitrie agar Fitrie bisa di ajak pergi ke Serang menemani mereka.


Kendaraan Angkot menuju kota Serang, rutenya melalui jaran raya di depan rumah orang tuanya Aji.


Dengan mudahnya mereka dapat mobil tumpangan yang menuju Serang.


" Mah... Aji pamit." katanya seraya masuk ke dalam angkot yang baru saja mereka stop.


Shinta pun mengucapkan kata yang sam yaitu 'Pamit' kepada mereka yang ada di rumah itu.


Tidak susah untuk mendapat mobil omprengan di waktu yang belum larut. Jatuh di malam ini, adalah malam Ahad.


Kalau hari biasa jam segini sudah sepi penumpang, Angkot pun sudah susah di temui. Mereka berangkat dengan tujuan rumah kediaman Fitrie.


...ΩΩΩΩΩΩ...


Begitu tiba disana, mereka diterima dengan baik oleh keluarga Fitrie, juga oleh yang bersangkutan.


Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada tuan rumah, mengingat perjalanan yang masih panjang.


" Begini maksudnya Fit, tadinya aku pun bingung, kemana dan kepada siapa yang bisa aku pintakan pertolongan, mendadak dan malam-malam begini lagi ya ?"


Terhenyak Aji ketika terlihat mimik wajah Fitrie mendadak membeku. dan hilang senyum renyahnya , seperti biasanya dalam setiap menerima kedatangan Tamunya, siapapun Tamu itu.


" Nanti ya Kak Aji, aku harus minta izin Umi terlebih dahulu." Jawab Fitrie.


" Tadi juga kami berdua, sudah menanyakan ini kepada Mah, terlebih dahulu, ini Tante Shinta sodara dari Mah yang tinggal di Bandung, habis berobat Alternatif di Rumingkang. Jelas Aji tanpa di pinta oleh Fitrie.


Demi mendengar Aji menyebut dia ' Ante ' dari Ibunya.

__ADS_1


" Permainan apalagi ini Bocah ?" Rengut Shinta dalam batinnya.


__ADS_2