Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Spekulasi "


__ADS_3

Bab 3


Semua pemeriksaan yang berlapis telah mereka lalui, sekarang mereka berdua telah berada di ruang tunggu, melewati waktu beberapa saat lagi untuk kemudian masuk ke ruang pesawat.


Hampir separuhnya dari jumlah seluruh penumpang yang telah menduduki kursi yang tersedia disana, tidak ada yang kosong, hampir seluruh dari mereka mengambil sikap menundukkan pandangan yang mereka arahkan ke telapak tangan yang sedang menggenggam Telepon seluler di tangannya masing-masing, termasuk Aji juga Melindari.


Aji dan Melindari walaupun berdua duduk saling berdampingan, namun tidak terdengar percakapan diantara mereka, terlihat lebih sering asyik dengan ponsel dalam genggaman mereka masing-masing.


Masih ada sesekali terjadi percakapan berupa saling bertukar info tentang program yang tengah ditekuninya, itu sudah cukup meninggalkan kesan seakan mereka berdua adalah Pasutri yang akan melawat keluar negri.


Melindari tidak sengaja berbuat untuk berharap agar orang di sekitarnya menyangka seperti itu kepada mereka berdua yang sebenarnya bersikap apa adanya.


Terutama Aji, yang bukan sengaja-sengaja menjaga image, dengan bersikap seolah membatasi diri dalam bersikap terhadap Melindari tapi lebih tepat kalau menghadapi wanita bernama Melindari, cukup satu kali saja, itu terjadinya dulu.


Untuk Melindari yang baru muncul ini, cenderung atas dasar oleh kondisi yang darurat, dengan mengabaikan rasa aneh dan penasaran walaupun kadarnya sedikit sekali rasa yang disebut terakhir itu.


Aji menulis di dalam aplikasi Watch Up nya, di tujukan kepada Melindari, " Mel, Biarkan mereka mengira kita adalah pasangan suami istri, mungkin yang akan berbulan madu. Kita jaga saja sikap kita tidak berubah, tetapi tetap seperti sekarang."


" Siap Bang !, aku ikut saja apa yang terbaik menurut Abang." Tulis Melindari sebagai balasan.


Sekilas pandang maupun dengan pengamatan yang seksama, penampilan phisik dari Melindari tidak akan membuat siapapun pria yang mendampinginya


merasa tidak nyaman, apalagi sampai merasa malu.


Melindari yang berpenampilan Modist dengan ukuran tinggi badan 177 centimeter tanpa bantuan sepatu berhak tinggi, dengan perbandingan berat dan ukuran badan yang ideal, mendekati sempurna dari sisi fisik yang didambakan oleh setiap pria,


Namun tidak bisa di pungkiri juga. Sudah terlalu banyak wanita yang berparas cantik semacam dirinya di abad ini.


Tidak menjadi sebuah keanehan dan tidak juga akan mengundang decak kagum bagi banyak pria yang juga berpenampilan jantan dan ganteng ke arah sempurna sebagai pria idaman kaum Hawa.


Namun wanita yang memperoleh karunia tersebut di atas, di sertai nalar dengan hasil nilai tertinggi melalui psiko test oleh petugas yang ditunjuk untuk melakukan test dibidang tersebut.


Sangatlah langka untuk di dapat. Bahkan bisa dikatakan, jika ada wanita yang mendekati kesempurnaan semacam itu, maka wanita itu tergolong Makhluk langka.


Pendek kata, Makhluk yang masih hidup di planet Bumi ini, semakin kedepan, dan di hitungan sepuluh bahkan mungkin dalam ratusan tahun yang akan datang, perlahan tapi pasti, generasi yang bakal bertahan hidup di hari itu akan sulit di temukan manusia dengan statusnya sebagai wanita dengan wajah yang tidak Cantik dan para prianya yang juga jauh dari sebutan Rupawan.


Melindari lolos saat menjalani test semacam itu ketika mendaftarkan dirinya untuk menjadi siswi di salah satu dari sekian banyak perguruan serupa yang ada di Ibu kota Indonesia. Jakarta.


Bagi Aji, mendapatkan pendamping seperti yang sekarang ada di tempat duduk yang berdampingan dengannya, merupakan sebuah keberuntungan yang sepantasnya dia syukuri.


Sebagaimana yang tercantum dalam Salah satu Surat yang sering dibacanya, yang isinya menyebutkan akan rasa syukur..


" Nikmat apa lagi yang engkau dustakan ?!" adanya di surat Ar-Rahman pada Al- Qur'an." kitab yang dia yakini sepenuh jiwanya.

__ADS_1


Kandungan isi Surat itu, pernah di bacakannya dan dia tujukan untuk Melindari yang mempunyai nama alias " Susan ", bukan tanpa alasan.


Wanita yang tidak di sengaja berjumpa dengannya di sebabkan oleh ulahnya Haruki.


Menurut penilaiannya saat itu, wanita bernama Susan, yang ternyata bernama asli Melindari, yang terakhir diketahuinya, telah raib tanpa jejak, yang dia dapatkan itupun tidak jelas sumber beritanya, Susan alias Melindari tersebut telah berpulang ke Rahmatullah.


Padahal ketika itu, dirinya sudah mempunyai niat ingin mengangkat wanita tersebut dari lembah yang berkubang akan dosa, ke tempat yang terhormat dan di pandang baik oleh lingkungan masyarakat luas, dimana dan kemanapun dia pergi. tidak seperti saat itu cibiran yang diterimanya seakan bagian dari kegiatan kesehariannya, manakala dia pergi keluar dari komplek lingkungannya.


Sekarang, hadir Nama yang sama dengan penampilan pisik tidak jauh berbeda, tapi wanita ini suaranya begitu halus, tidak merokok, juga tidak menkonsumsi minuman beralkohol selain air mineral. Yang paling menarik dari wanita bernama Melindari ini, membalut tubuhnya dengan busana muslimah yang longgar.


Sementara pikiran Aji yang menerawang jauh ke masa lampau tentang Melindari alias Susan.


Terdengar kumandang dari pengeras suara dengan di awali oleh ringtone khas maskapai penerbangan di hampir setiap pelabuhan udara yang pernah di disinggahi nya setiap tiba saat baginya untuk berangkat, dan mulai bekerja di kapal yang rute dan daerah operasi kapalnya di luar negri.


Di susul dengan pengumuman yang disampaikan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan kemudian dengan bahasa Inggris.


Bahwasanya, Pesawat telah siap menerima penumpang, dengan menyebutkan Prosedur cara untuk masuk ke pesawat.


Aji dan Melindari berdiri dari tempat duduknya dan mulai berbaris mengikuti urutan nomor kursi sebagaimana pengarahan dari petugas dari perusahaan penerbangan tersebut.


" Ayo Melin, kau yang di depan " Anjur Aji. Melindari mengikuti anjuran itu.


Bukan kebetulan, pemesanan Tiket atas permintaan Josette ketika melakukan boking, telah dipilihkan tempat yang strategis untuk mendapatkan kenyamanan di sepanjang perjalanan terbangnya pesawat bagi mereka berdua.


Ini semua atas pertimbangan, ketika tiba dan turun dari pesawat di pelabuhan udara tujuan nanti, mereka tidak terlalu lama dalam antrean dan proses keluar dan turun dari dalam pesawatnya.


Kesemua itu atas pertimbangan yang terpikir oleh sang calon mempelai, Josette.


Nomor kursi yang dekat jendela adalah atas nama Aji Swakarsa, namun dengan terlebih dahulu, Aji menawarkannya kepada Melindari.


"Melin, barangkali kau ingin duduk di pinggir dekat jendela.silahkan." ujar Aji.


" Oh.., begitu bang, serius nih ?" Jawabnya spontan.


" Serius dong, asli..!" Sambil mengacungkan jempol tangannya.


" Terima kasih, hanupis bang !" Sela Melindari.


membuat tanda tanya dalam benaknya, tapi sengaja ditundanya karena kondisi dan situasi.


Dia yakin sekali, tadi tidak salah atau keliru sebuah kata yang baru dia dengar seumur hidupnya, dan tadi di ucapkan.oleh wanita itu. " Hanupis ". Itu yang ada dalam batinnya.


Sementara, Melindari pun memendam rasa penasaran dan terbetik kedalam celoteh yang tidak terekspresi melalui lisan, " Koq bang Aji seperti tahu isi hati orang lain ya.? Jangan-jangan, dia juga tahu.?

__ADS_1


Tidak diteruskan celoteh dalam hatinya, tetapi pipinya berubah merona merah, untungnya dia mengenakan hijab pada wajahnya walau dari bahan yang agak tipis, namun masih bisa menyembunyikan ekspresi di wajahnya atas perasaan peka seorang wanita.


Dengan perasaan yang tidak dapat dilukiskan oleh kata, bahagia dan senang bercampur menjadi satu.


Reflek tangannya meraih dan merengkuh lengan Aji yang sebelah kanan, seraya berkata dengan mimik wajah polosnya.


" Sekali lagi, terimakasih ya bang!" Ujarnya.


Terenyuh Aji, atas sikap Melindari seperti itu, yang membuatnya teringat akan adik perempuannya yang masih aktif di bangku kuliahnya di yogjakarta.


Hampir setiap bertemu dengannya, mirip kejadiannya seperti yang baru saja Melindari lakukan tadi.


Oleh karena itu, dibiarkannya wanita ini dengan sikapnya yang seperti itu.


Mungkin saja Melindari sedang teringat akan kakak lelaki satu-satunya yang pernah di punyainya, namun kini sudah tiada. Akibat sebuah tragedi Lakalantas pada sebuah Bus Traveling yang ditumpanginya.


Kronologi kejadian itu yang dipaparkan oleh Haruki dengan gamblang kepada Aji. Hampir satu tahun telah berlalu.


Kejadian lakalantas yang menimpa sang kakak lumayan fatal, dia salah satu dari beberapa penumpang lainnya yang tidak bisa tertolong jiwanya, wafat di tempat kejadian.


" Pantesan, dia begitu dekat hubungan persaudaraannya dengan Haruki, memang pantas lelaki yang pada penampilannya terlihat nyeleneh itu, namun layak untuk di jadikan pengganti kakaknya yang telah pergi dari kehidupannya, sedangkan dia masih merindukannya.


Dia wanita yang membutuhkan figur seorang kakak, patut di kasihani." Batin Aji, seraya dipandanginya wajah yang terlihat seperti sedang menanggung derita hidup yang dalam.


Bukan terhadap fisiknya, tapi lebih ke Batinnya. Sekarang wanita itu tengah lelap dalam tidurnya, sementara tangannya memegang erat lengan Aji, yang di biarkannya itu berlangsung.


Kapten pesawat berbicara mewakili Maskapai penerbangan Emirat Air Service, menyapa seluruh penumpang dengan mengucapkan selamat datang di pesawat yang akan di dikemudikannya.


Dengan tidak ketinggalan di perkenalkan nya juga seluruh awak kapal yang menyertai penerbangan kali ini, dan banyak lagi informasi yang di berikan oleh Pilot tersebut, di antaranya;


Jenis pesawat, kemampuan jelajah terbangnya, hingga perkiraan tiba di Bandara tujuan dengan korelasi prakiraan cuaca di area cakrawala yang akan dilalui oleh pesawat yang dioperasikannya ini.


Pesawat mulai bergerak perlahan, untuk sesaat kemudian, kecepatan nya mulai bertambah walau masih terasa rodanya masih menapak di landasan menuju landasan pacu.


Awak Kabin pun mulai memberikan pengarahannya berupa penjelasan tentang cara menggunakan peralatan keselamatan seperti pelampung untuk berenang di air, jalan menuju pintu darurat, bilamana dalam kondisi yang memaksa untuk meninggalkan pesawat, dengan terlebih dahulu membuka pintu darurat untuk menuju keluar dari badan pesawat.


Sementara pramugari juga pramugaranya berjalan mengelilingi para penumpang, untuk memeriksa para penumpang, barangkali di antara mereka ada yang lupa atau belum memakai sabuk pengaman.


Mereka siap untuk memasangkannya, karena mereka lakukan demi untuk keselamatan para


penumpang pesawat, tidak terkecuali juga dirinya.


Melindari masih dalam posisi tidur lelapnya....

__ADS_1


__ADS_2