
Bab 2
Indikator Kadar akhlak seseorang siapapun dia, bisa dilihat dari bagaimana sikapnya ketika di tempat tinggalnya kedatangan tamu, padahal dia tidak mengundang siapapun untuk datang hari ini.
Demikian yang terjadi sore itu. Berhubung Fitrie telah sampai di Maqom ( level ) dimana uraian diatas adalah sikap kesehariannya.
Jangankan kebendaan kepunyaannya yang berada di luar raganya. Jiwanya sekalipun, bukan miliknya, yang menjadi mutlak miliknya, adalah seluruh hasil amal perbuatannya, rangkaian kata bermakna yang telah tertanam di dalam Nuraninya.
Tamu adalah makhluk Allah SWT. Yang datang diperjalan kan oleh pemilik yang mutlak atas Jiwa maupun raganya, di langkahkan kakinya menuju rumah kita untuk menjemput Rezekinya yang Allah SWT titipkan kepada kita di rumah.
Untuk nantinya di berikan kepada yang berhak, yakni sang tamu tadi.
Andaikan sore itu yang datang kerumah Fitrie adalah seorang lelaki bernama Fulan, tidak ayal lagi
kudapan yang Maemanah suguhkan, dan yang kini terletak dia atas meja tamu dihadapannya, adalah rezekinya si Fulan. Bukan Aji.
Begitu juga Ilmu dan pengetahuan mutlak milik yang maha Pintar, yang dia titipkan kepada siapa saja yang mau menuntut atau menimbanya.
Adapun sikapnya yang kurang luwes untuk kedua kalinya dia menemui Pria ini, setelah sekian saat masuk kebagian dalam rumah dan sempat berbincang-bincang dengan Maemanah, disana.
Apakah perubahan sikap Fitrie tadi disebabkan oleh dampak dari sesuatu yang Maemanah sampaikan kepadanya, menjadi pemicu.
Terpampang nya kembali bayangan yang sedang dia coba untuk melupakannya berupa rentetan adegan demi adegan bagaikan tayangan dalam sebuah Sinetron, tapi ini nyata dan dirinya sebagai pemeran utamanya.
Slide demi slide, file yang sudah rapi tersimpan di tempat sampah Kace, kini seakan dengan sengaja di pertontonkan di hadapannya.
Pedih hatinya, tapi dia tidak ingin untuk menangis untuk keduakalinya. " Aku tak ingin di kasihani " Batinnya.
Maemanah sangat erat pertalian batinnya dengan saudara kembarnya Maemanah.
Raga mereka berjauhan satu dengan lainnya, tetapi jiwa mereka saling melekat erat seperti tidak dapat terpisahkan.
Apapun yang Maemunah alami, tidak sampai hitungan menit, Maemanah akan mengetahuinya, begitu juga sebaliknya.
Tumbuh satu jerawat di ujung Hidungnya, saudara kembarnya langsung tahu, semua ini terjadi berkat canggihnya teknologi.
Mereka memanfaatkan teknologi untuk hal yang positif, diantaranya sarana medsos. Watch Up.
__ADS_1
Karena sebab itulah, keseluruhan adegan ketika Aji membimbing tangan Melindari di saat akan turun dari Mobil sepulang mereka dari Kantor Imigrasi Tanjung Priok.
Adegan yang menunjukkan seutuhnya Momen yang romantis, berupa cuplikan video telah seseorang kirimkan melalui Aplikasi WA di Ponselnya. Tanpa identitas pengirim membuatnya tidak kunjung mengerti untuk tujuan apa orang itu mengirimkan
Kepadanya.
Dirinya bukan Tipe orang yang langsung percaya begitu saja
" Apakah untuk tujuan mengganggu hubungan yang terjalin dengan baik bahkan tidak mustahil kalau memang ada Ridha Dari yang Maha Penentu nasib, maka Cita-cita Kak Aji akan terwujud." Gumamnya dengan suara lirih.
Memang tidak di pungkirinya pria yang kadung merebut hatinya ini sudah pernah berani berkata Jujur, walau kejujurannya itu membuatnya Kecewa yang tidak dapat terlukiskan.
" Kenapa dong Kita bertemu setelah Kak Aji mengalami tragedi lebih dahulu.?" pertanyaan yang keluar dari Keimanan atas Qadha dan qadar. terhadap dirinya yang tidak mungkin boleh ditawar.
Merinding rambut di kuduknya, karena dia tahu dia telah berpaling dari ketentuan yang maha Memutuskan. Serta merta dia Beristighfar. Untuk kekhilafan yang baru saja telah dilakukannya.
Fitrie bukan type wanita gampang langsung percaya begitu saja hanya dari ucapan.krnfati ucapan itu di dukung oleh bukti digital sekalipun Karena menurut nalar nya, , tidak mustahil pada Zaman teknologi di bidang ET telah merambah ke pelosok desa terpencil sekalipun.
Teknik pembuatan gambar photo dengan edit yang
Apik, seorang pegawai biasa bisa memasang gambar dirinya sedang bersalaman dengan Presiden dari Negara mana pun sesuai dengan keinginan si pemesan gambar kepada seorang programmer komputer.
Dengan sikap dewasa yang ditunjukkan kepada Aji, dia sebagai Tuan rumah yang santun dan berakhlak baik.
Di temaninya pria itu, dirinya berperilaku sebagai pendengar hingga ketika Pria itu mulai berkata ; " Fitrie.,, kemungkinan besok lusa, aku akan pergi ke tempat yang lumayan jauh kalau di ukur dari sini." Ujar Aji.
" Memangnya Kak Aji mau pergi kemana, dan untuk keperluan apaan tuh.? kalau aku boleh tahu." Tanya nya
" Boleh dong... Massak gak boleh ?" sahut Aji lebih lanjut. Maka di ceritakan nya lah perjalanan yang akan ditempuhnya, tujuan dan maksudnya, segala yang ada hubungannya dengan kepergiannya, Di ceritakannya kecuali satu yang tidak akan pernah dia katakan yaitu " Dengan siapa dia pergi."
" Kak Aji melakukan perjalanan ke tempat yang cukup jauh sendirian?" Tanya Fitrie seakan meminta penjelasan.
" Nggak dong, banyak teman-teman yang kebetulan satu tujuan." jawabnya, tanpa bermaksud untuk berbohong.
Padahal maksud yang bertanya dengan maksud yang menjawab bisa nyambung kalau di sambung sambungkan.
Mungkin yang di maksud pria ini, penumpang lain dari Indonesia dan tujuan kepergiannya sama dengan dirinya yaitu ke Brazil.
__ADS_1
Sedangkan Maksud pertanyaan Fitrie. Bukan seperti itu isi jawabannya.
Tapi mereka berdua tidak membahas lebih jauh tentang itu.
" O ya..Fit, rencanaku semula, aku mau mengajakmu, tapi dugaanku begitu kuat, dan dugaanku itu sudah tidak akan aku tanyakan, kepadamu. Dan engkau pun tidak usah meyebutkan nya." Ujar Aji.
Fitrie terdiam, mendengar penuturan pria yang sepanjang dia ketahui, tidak bisa dia berbuat Bohong.
Walaupun akibat perbuatan jujurannya itu, pria ini harus mengalami, pengalaman yang lumayan telah mengguncang mental dan juga jiwanya.
Dia masih bisa bertahan, dan menjalankan kegiatan rutinnya sebagai yang diakuinya, " Pengacara" sebuah kalimat tempo doeloe, namun masih relevan di pergunakan di Abad ini. Yaitu Pengangguran banyak acara. Di waktu sedang tidak berangkat untuk Berlayar.
Jadwal rutinnya setiap berangkat untuk bekerja dengan skedul, Enam : Tiga.
Artinya Enam bulan bekerja dan Tiga bulan liburan alias nganggur, justru di saat liburan inilah banyak kegiatan positif Yang di lakukannya, diantaranya mengantarkan dan menjemput anak- anak dari kakaknya ke Sekolah
Pertanyaan Fitrie tentang kepergiannya menempuh jarak yang lumayan jauh, terlontar spontan begitu saja, bukan tanpa sebab atau alasan.
Bisa jadi mulanya berawal dari Prediksi walau tanpa emosi, yang diharapkannya nanti bisa terbukti.
Karena kalau untuk menyangka hingga Aji pergi dengan seorang wanita yang bukan Muhrimnya sekalipun, masih belum ada hak dia untuk melarangnya.
Kalau sekadar untuk memberi masukan atau mengingatkan sebagai sesama pemegang satu Akidah baik dirinya juga pria dihadapannya ini
Pada hakekatnya, dia melihat dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.
Kedatangan pria itu kerumahnya, pasti membawa berkah, itu keyakinannya, hingga.... " Kak Aji, Fitrie doakan, semoga nanti saat tiba, berangkat dengan selamat, kembalinya nanti juga selamat, Aamiin ya Allah ya rabbal alamiin ." Ucapnya, seraya mengangkat kedua belah telapak tangannya ke atas sebagai bentuk permohonan.
"Aamiin ya Rabbal alamiin." Balas Aji
Fitrie melepas Aji untuk pergi, di dalam hatinya mulai bersemi rasa simpati, dia percaya bahwa pria itu pergi menempuh jarak teramat jauh, untuk sebuah kemaslahatan baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.
Tiba saat untuk Aji pamit, seperti rencana semula.
Dia akan mengunjungi Ibunda tercintanya, bukan sisa waktu, tapi supaya waktunya lebih leluasa, untuk meminta dia restu darinya.
" Fitrie, aku mau pamit ya? Salam hormat untuk Umi." Ucapnya
__ADS_1
" Ya Kak, nanti aku sampaikan ke Umi, beliau belum pulang dari pengajian Taklim rutinnya di tetangga kampung, selamat jalan dan hati-hati di perjalanan ya kak.!" Jawab Fitrie.
Segera dia beranjak dari rumah kediaman Fitrie, dan melaju pesat kendaraan yang dikemudikannya menuju rumah kediaman Ibunda yang fia hormati dan sayangi nya.