
Bab 1
Aji ingat betul isi tausyiah yang pernah dia dengar ketika menghadiri taklim rutin mingguan di majlis. Pesantren As-Salam Serang, Banten. Isi kajiannya membahas tentang kedudukan atau kadar kebaikan pada perbuatan orang yang "meminta maaf", di bandingkan dengan orang yang ' memaafkan".
Menurut isi kitab yang sedang di bahas kala itu, Filosofi dari memaafkan itu lah yang lebih tinggi nilai amalannya, karena oknum yang bersangkutan ada di posisi tidak bersalah.
Jadi sangat logis bilamana sebaliknya bagi yang meminta maaf yang praktis oknum bersangkutan adalah di posisi yang bersalah, oleh sebab itu tingkat nilai ibadahnya berada di bawahnya.
Memaafkan kesalahan orang lain jauh lebih berat ketimbang meminta maaf kepada orang lain, karena kita bersalah. Sampai di situ Aji merenung dan mengkaji riwayat kehidupannya, lantas bertanya kepada dirinya sendiri,
" Pernahkan dirinya mengalami, memaafkan seseorang yang bersalah kepadanya ?"
โโโ
" Subhanallah kak Aji bisa hadir disini, aku kira kakak sudah lupa jalan kesini." Ucap Fitrie.
Belum lagi Aji menjawab pertanyaan wanita itu, nada panggil pada telepon genggam nya berbunyi.
Ketika di lihatnya, o..oh kakaknya yang sering dia sambangi.
" Halo Aji. Assalamu 'alaikum warahmatullaahi wa barokatuhu ." Kata penelepon memulai percakapan.
" Halo., ( uluk salam )." Aku sedang berada di rumah orang tuanya Fitrie tunanganku kak." sengaja volume suaranya dia tambah dan di stel ke mode speaker, agar Fitrie mendengarkannya.
" Ya sudah, Alhamdulilah robbil ' Aalamiin.Tanggap Anggi, kapan kau adakan resepsinya itu Ji ?, tapi gak masalah koq, yang penting kalian sehat-sehat saja. Salam saja untuk calon adik ipar ku ya Ji." seloroh Anggi.
terdengar oleh Fitrie membuatnya tersipu. Namun ternyata pembicaraan tidak sampai disitu, karena dari sebrang ada suara yang nadanya mengandung penasaran yang tinggi.
" E .eh Aji, benar kau sudah bertunangan? Koq keluarga tidak ada yang tahu, memangnya harus sampai seperti itu ada sebab yang darurat kah Ji? " sergah Anggi, yang rasa herannya semakin menjadi. ' Ada apa denganmu Ji ?" dia ulangi lagi pertanyaan yang belum.lama berselang sudah di ajukan nya tadi kepada adiknya itu.
" Oke kak Anggi, salamnya pasti aku sampaikan," jawabnya.
Sementara dia asyik bincang di telepon, di hadapannya ada sepasang mata memandang dengan sorot matanya seperti memendam kesal.
__ADS_1
" Kakak, tadi sudah berbohong, apapun alasannya, bohong itu salah satu perbuatan yang tidak Allah SWT, sukai." Ucap Fitrie bernada teguran tanpa tedeng aling-aling.
" Sebenarnya tidak ada niatku untuk berbuat bohong Fit. Tapi berhubung kakakku yang satu ini, seperti menginginkan sekali aku segera mencari pendamping, aku kan pernah cerita ke dia tentang kau Fit, dia terlihat begitu antusias menanggapinya." Sanggah Aji.
E .eh dia telepon tadi, kebetulan aku di sini. Tadi itu aku bingung, kalau aku katakan aku sedang tidak di sini, bukankah aku telah berbuat bohong ?" tadi aku bilang ke dia, aku di sini. Dan.. Apa yang terjadi kemudian, oleh karenanya tadi sengaja aku setting ke mode Speaker. Dan ku katakan kepadanya kita sudah bertunangan. Jikalau tindakanku tadi kau anggap salah, aku mohon maaf," Timpal nya.
Dan Aji menjelaskan lebih rinci dengan harapan Fitrie tidak menganggap dia tidak bisa menempatkan diri, sementara keluarganya masih dalam kondisi berkabung. Satu sisi dia tidak ingin membuat Anggi kecewa dengan pupus harapannya akan Fitrie menjadi bagian dari keluarganya. Itu Obsesinya.
Maafkan aku dan Kakakku ya Fit dia berucap seperti tadi, dia tidak tahu, dikiranya kita masih seperti dulu.
Memang aku tidak pernah menceritakan kepadanya. apapun yang akan membuatnya tidak berbahagia.
Dia kakak ku yang sangat perduli ketika dulu dia masih bekerja dan aku masih belum sanggup menyelenggarakan kehidupan mandiri ku.
Biarlah aku membuat hatinya bahagia, walau satu saat dia bakal tahu yang sebenarnya, tapi bukan aku yang menyampaikannya.
Pada dasarnya Fitrie mengakui kebenaran atas semua yang di tuturkan lelaki itu tadi, tetapi entahlah mengapa mulutnya belum mau mengakuinya. Tercermin dari roman mukanya yang kurang, tersentuh oleh simpatik terhadap Aji yang terkena musibah tersebut
Itu semua murni sebuah tragedi. Seandainya kejadian itu bukan pada Aji, apakah aku harus tidak suka juga kepada orang tersebut." Bertanya Fitrie kepada dirinya sendiri di dalam batinnya.
Disini Aji tidak ingin melakukan sebuah tindakan yang serupa dengan pencitraan, di biarkannya Fitrie bergelut dengan argumennya sendiri tentang dia.
Kalau memang dirinya adalah lelaki pilihan bagi wanita itu. Ada pepatah lama yang mengatakan,
" Tak akan lari gunung di kejar ".
Sambil tersenyum simpul, lantas dia nyanyikan walau dengan suara yang hanya dirinya yang bisa mendengarkan, penggalan bait dari lagunya Iwan Fals , ":Aku bukannya Lelaki pilihan yang๐ต membuatmu kecewa...๐ถ.( dan seterusnya ).
" Fitrie, aku sangat berterima kasih kepada keluargamu di sini, tanpa kecuali. Sudah mau menerima kehadiranku, terutama khusus kepadamu. padahal aku hanyalah sebagai pengacara, baru beberapa hari yang lalu prosesi pelantikan sebagai pengacara nya." tutur Aji.Membuat gadis itu tercenung dalam ketidak mengertian.
Dan bertanya dalam hatinya," Pengacara ?... bukankah Kak Aji itu Seorang Pelaut ,? atau pengacara di bidang kepelautan, memangnya ada Profesi itu ?" Tanya nya dengan tanda tanya yang besar. Dan Itu Terlontar juga.
" Memangnya kak Aji Alih profesi .? Kak..."
__ADS_1
" Tidak Fit, Pelaut kan, kalau aku sedang bekerja di atas Kapal. Kalau sedang tidak, ya jadi Pengacara."
Jawab Aji dengan mimik wajahnya yang lempeng itu
" Ooh , begitu ya kak," jawabannya sambil tidak bisa dia Sembunyikan. Keraguan akan yang Aji katakan.
Aji tidak ahli dalam bidang Bully mem bully orang lain, apalagi yang sedang berada di hadapannya, seorang yang spesial baginya, juga dalam situasi yang kurang pas untuk bergurau.
" Anu Fit , tadi kau mendengar sendiri bukan, kakakku memanggil melalui telepon genggamnya minta aku untuk segera pulang, ada tugas menungguku, itu baru kakak Perempuanku yang tinggal di Jakarta, belum lagi nanti yang di Depok.
" Aji..iiii !" lagi sibuk apa tidak,"
" Hari ini lagi nggak sibuk, kak !"
" Ada tugas khusus, kelihatannya sih hanya kau yang bisa Ji !" Sahut kakaknya yang tinggal di Bekasi.
" memangnya tugas macam apa ya?. Sampai-sampai orang lain diragukan untuk melaksanakannya ," Sungut Aji.
" Nantinya tuh Fit, belum selesai aku mengerjakan yang tadi kakakku katakan tidak bisa di kerjakan oleh orang lain itu, kakakku yang di Kebayoran lama telepon, " Ji, bagaimana Khabar kau sekarang dan posisi, dimana posisi,? Bisa merapat dong ke Kebayoran lama, masih ingat kan jalannya ?" kata kakak perempuanku yang tinggal di Kebayoran Lama." ujarnya
" Nah., itulah kegiatanku sekarang sebagai Pengangguran banyak acara. Yang disingkat
' Pengacara ', pungkasnya. Membuat Fitrie tersenyum di kulum.
" Nah., atas dasar alasan-alasan tadi, dan bukan di cari-cari, maka aku akan pamit secepatnya, untuk segera kembali ke kantor pengacara." mungkin maksud nya melucu, tapi memang membuat Fitrie tersenyum sedikit lebih lebar dari ketika Ajie menceritakan betapa super sibuknya dirinya menjalani profesi sampingannya itu.
Itulah pertemuan kembali di antara mereka berdua, semenjak kejadian yang sudah mereka lupakan, nampaknya tidak akan di ungkit-ungkit lagi.
Fitrie telah memaafkannya, dan saat ini Aji bisa menyaksikan ada sinar kehidupan di wajah Fitrie begitu cerahnya. Dia pun merasa ringan tanpa beban, pamit untuk memenuhi undangan kakaknya, konon ada tugas yang orang lain belum tentu bisa melaksanakannya.
kalau saya tidak ada telepon yang menyuruhnya datang sesegera mungkin, dan itu terdengar oleh Fitrie, " Agak cepat ya ! ART kakak pamit minta pulang dan nggak janji mau pulang kembali, untuk nanti beberapa pekan kedepan .kondisi rumah akan seperti apa ?" dengan nada memelas.
Itulah keperdulian seorang pengacara seperti dirinya saat ini...
__ADS_1