Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Kemenangan Sebenarnya "


__ADS_3

Bab 1.


Di dalam temaram sinar lampu tidur yang sengaja oleh sopir Bus di nyalakan sebagai bentuk pelayanan maksimal kepada penumpangnya.


Bus PO.Maju Lancar. berjalan di atas jalan aspal dengan kecepatan penuh. Kesempatan untuk memanfaatkan kondisi jalanan yang kondusif untuk para pengemudi memacu kendaraannya, di saat seperti itu.


Bus "PO Maju Lancar." sesuai nama dan pelayanannya. Lancar dalam perjalanan, bisa jadi beberapa faktor penunjang telah dipenuhi oleh pengelola Bus Omprengan ini, diantaranya ;


Upah karyawan yang di bayar tepat waktu, dengan jumlah yang sesuai dengan bunyi kontrak kerja.


Faktor lainnya. Armadanya selalu mendapat perawatan berkala secara intensif, dan peremajaan pada suku cadangnya.


Yang paling utama dari semua yang di sebut di atas, adalah Keselamatan Penumpang menjadi prioritas utama dengan Semboyan pada Logo yang terpampang di koridor depan tempat duduk sopir. " Anda Tenang, Kami Senang ".


Shanti tidak merasakan lagi guncangan maupun oleng pada badan Bus ketika menyusul kendaraan lainnya.


Dengan gerakan yang sangat lembut Aji mencoba untuk melepaskan pelukannya pada tubuh Shinta, untuk di kembalikan ke posisi semula, yakni sepenuhnya bersandar pada sandaran jok mobil.


Namun ketika dia mulai melepaskan dan mendudukkan Shinta agar sebagaimana sikap orang yang tidur dalam posisi duduk, malahan dia terbangun dengan membuka sedikit matanya kemudian kembali tidur, kali ini dia memeluk badan Aji lebih erat dari semula.


Badan bagian depan mereka menjadi semakin rapat berhimpitan, sehingga Aji merasakan debaran jantung Shinta yang menempel pada dadanya.


Yang lebih membuat Aji merasakan imbasnya, fitrah sebagai laki-laki yang normal, maka dongkrak antiknya yang Auto menunjuk ke arah yang benar dan tidak keliru.


Kembali dia menahan hasrat menggebu yang telah bangkit oleh suasana, apalagi sepintas dia melihat Wajah Shinta yang tengadah dengan mulut sedikit terbuka seakan menantang.


Sekali lagi untuk kali ini dia teringat Shinta terdengar merintih saat ditangani oleh ibu Sarinah di desa Cimanuk.


" Teh Shinta sedang punya keluhan yang tidak diperlihatkan kepada siapapun, termasuk kepadaku, sungguh tidak berbudi kalau aku berbuat atas azas manfaat," Batin Aji " Tidak !... bukan dengan cara seperti ini, kalaupun dia mau.


Aji tidak sekejap pun tidur sepanjang perjalanan itu. Bahkan dia menjaga Shinta hingga sinar dari fajar yang terbit dan menembus jendela kaca persis di bagian kiri badan Bus.


Shinta terbangun oleh sinar lembut itu. Bersamaan dengan sesuatu yang Aji berikan kepadanya, seraya menegurnya.

__ADS_1


" Selamat pagi teteh ku," di sambung dengan ucapan uluk salam, sapa Aji dengan senyum.


" Selamat pagi juga Aji, Tissue basah ? " jawabnya, sedikit heran dengan yang Aji berikan, namun tidak membuatnya lupa untuk menjawab uluk salam, sebagai jawaban kepada yang lelaki itu ucapkan, tadi.


" Ngomong - ngomong, tissue ini ? seingat ku dari Jakarta, lantas ke tempat Ibu Sarinah, dan sampai disini kita bareng terus, lantas tissue ini ?" Tanya Shinta lagi.


" Dapat nyolong, begitu kah ? He..he..he " Sahut Aji .


" Aku selalu membawa serta di tas kecil Dora Emon Ku." Jawabnya, sambil menepuk-nepuk Body Pack yang menempel di bagian perutnya seperti kantung kanguru


" Aji., maafkan ya.., akan semua ini," Ucap Shinta.


" Maaf atas apa ya..? Atas mimpi indah mu ?" Aji tidak melanjutkan ucapannya.


" Maaf atas telah menyita waktu mu, dan aku belum bisa membalasnya, atau mungkin nggak bisa, membalas kebaikanmu ini," suaranya perlahan walau masih terdengar jelas oleh Aji.


" Tidak mengapa Teh Shinta, kau sehat saja. Itu sudah merupakan sebuah hadiah dan kebahagiaan bagiku." Jawab Aji mantap, membuat Shinta terdiam.


" Aji.., ternyata kau telah membuktikan kebenaran ucapan Wulan di Bandara Halim PK. Saat pertama kita bertemu." Batinnya, dia merasa


Dia menginginkan pertemuan ini jangan sampai berakhir, masih banyak yang ingin dia tanyakan kepada lelaki ini.


Kalau saja dia kenal lelaki ini bukan dalam hitungan hari, dan itupun kalau memang dia bisa menolong untuk lelaki sebaik ini, mengapa tidak ?


Ketika Aji menerima panggilan melalui telepon selulernya, dan dia lupa atau terkesima padahal Teleponnya masih dalam Mode speaker, hingga Shinta mendengar tanpa maksud menguping pembicaraan dari awal hingga kalimat yang di ucapkan dari suara seorang wanita.


Suara itu sempat membuat Aji seperti terperangah walau sesaat, namun Shinta menangkap dengan panca Indra netranya dan mengerti bahasa tubuh.


Apalagi ketika suara dari sebrang telepon genggang di tangan Aji, jelas ada nada tekanan pada suaranya,


" Aku hamil Aji..., ini anak kita !" jelas suara wanita yang mengaku dirinya telah berbadan dua oleh akibat perbuatan lelaki yang sangat baik di dalam pandangannya.


" Mustahil lelaki sebaik ini telah berbuat seperti itu ! bisa saja wanita itu membuat fitnah, demi mencari lelaki yang mau untuk bertanggung jawab atas kelahiran Calon jabang bayi di dalam rahimnya." Demikian menurut pemikiran Shinta.

__ADS_1


Dengan kasat mata saja, orang lain bisa menilai betapa telah terjalin keakraban diantara keduanya, Shinta sudah tidak canggung lagi memanggil nama lelaki itu.


...ΩΩΩΩΩ...


Berbarengan dengan terbitnya mentari pagi, Bus


PO. MAJU LANCAR sudah mulai memasuki kawasan Tomang.


Bus pun terus melaju ke arah Pancoran, sedangkan rencana mereka akan minta di turunkan di perempatan Cawang.


" Dari sini kita bisa sewa Taksi ke Bandara Halim Perdana Kusuma," sahut Shinta.


Aji hanya menganggukkan kepalanya, meng iya kan ucapan yang Shinta lontarkan.


...*****...


' PO MAJU LANCAR ' berhenti di perempatan Cawang, Jakarta Timur, untuk menurunkan beberapa penumpangnya, di antara nya , Aji dan Shinta.


Mereka tidak serta-merta pergi langsung ke tujuan utama untuk menjumpai Budi, yang kemarin batal berangkat dengan pesawat yang akan membawanya terbang dengan tujuan Pelabuhan udara ' Ngurah Rai' Bali. Oleh karena hambatan cuaca yang tidak memungkinkan pesawat untuk melanjutkan penerbangannya.


Budi sendiri menginfokan kepada Shinta dia masih di penginapan yang di fasilitasi oleh perusahaan Penerbangan, sebagai bentuk tanggung jawab dan kompensasi keterlambatan penumpangnya untuk tiba di tujuan.


" Aku akan berada di Loby Air port pukul 09:00 karena pukul 11.00 wib jadwal keberangkatannya." Ungkap Budi.


Yang pertama terpikir oleh kedua orang itu, terutama oleh Shinta. Adalah membersihkan badan dari keringat akibat sejak dari kemarin pagi.


Atas informasinya Budi bahwasanya dia sendiri akan berangkat dari penginapan ke Loby Airport, dengan mobil pasilitas dari perusahaan Penerbangan


Tidak keliru kalau mereka mengambil keputusan dari Cawang, langsung menyewa Taksi dengan tujuan ke jalan Pengayoman Cipete. Jakarta Selatan, ke rumah Anggi.


Adapun tujuan utama Aji ialah, menyampaikan ucapan Ibunda mereka tercinta kepada Anggi, berikut sebuah bingkisan untuk di sampaikan kepada Anggi, sesuatu entah Apa isinya.


Memang lelaki seperti Aji, dia telah terprogram dalam pemikirannya untuk senantiasa berbuat memudahkan urusan orang lain, maka Allah SWT akan memudahkan urusan yang sedang dia hadapi.

__ADS_1


"Mutiara kata" bukan ucapan manusia biasa, akan tetapi dari lisan insan pilihan, yakni Muhammad Rasulullah SAW.


Di jalani oleh banyak orang, terutama mereka yang suka dan telah menjadi sebuah kebiasaan, yang tanpa mengharap pujian maupun imbalan dari Manusia.


__ADS_2