
Bab 2
Kepergian Aji untuk berpamitan dan mengatakan perjalanan yang akan ditempuhnya dengan menggunakan pesawat terbang, tidak kurang dari 10 Jam, bahkan lebih.
Ketika disampaikan akan hal itu kepada Fitrie, terlihat rona wajahnya ada perasaan yang terpancar seperti rasa kehilangan, walaupun dia tahu hanya untuk seminggu saja.
"Setiba disana kak Aji pasti tidak punya waktu untuk Fitrie " ujarnya
" Insya Allah, tidak akan seperti itu Fit, aku akan seperti kemarin dan sekarang." Aji menanggapinya
" Semoga kak Aji tidak mengingkari ucapannya." Jawab Fitrie.
" Aamiin ya Rabbal alamiin ." Sambil mengangkat kedua belah telapak tangan,
Sampai disitu percakapan mereka, lantas Aji pamit
dia beranjak meninggalkan rumah Fitrie untuk segera menemui Ibunda tercintanya, karena jarak dari rumah kediaman Fitrie tidak begitu jauh, hanya dengan tidak kurang dari dua puluh helaan nafasnya maka sampailah dia kedepan halaman rumah orang tuanya.
Dengan mengetuk daun pintu utama yang tidak terkunci, hingga tiga kali ketukan, tapi tidak satu orangpun penghuni di rumah itu menanggapinya.
Diapun mengambil inisiatif untuk terus menerobos masuk sambil berteriak walau tidak begitu kencang,
Dia langkahkan kakinya semakin kedalam bahkan hingga mencapai beberapa meter lagi ke pintu masuk dapur yang letaknya paling ujung di.posisi belakang rumah tersebut.
Ketika dia melihat kedalam ruangan dapur, dilihatnya sang Ibunda sedang asyik berdua dengan seorang wanita yang tidak lain dari adik perempuan Aji yang ketiga.
Adiknya sedang berada disana dan membantu Ibunda yang biasa di panggil oleh semua.putra putrinya dengan sebutan Emah, singkatan Mamah.
Mereka berdua sedang membuat makanan ringan sebagai kudapan untuk di konsumsi sendiri. ketimbang Jajan. Makanan yang belum pasti akan kebersihannya.
Untuk kedua kalinya dia mengucapkan salam yang ditujukan kepada keduanya yang belum menjawab sapaannya yang pertama tadi.
Wa Alaikum salam, warahmatullahi wa barokatuhu, Aji, anak Emah..!" Sahut nya, dengan pekik nyaring, dengan siapa kamu datang nak.?!" Sambut Emah.
" Sendirian Mah, tadi ke Rumah Fitrie lebih dahulu Mah, karena searah dengan kemari kan Mah.?" Sela Aji .
" Ya tidak apa-apa, Emah yakin yang kamu lakukan pasti atas pertimbangan matang mu." Sergah Emah.
" Emah, kenapa membuat kue malam-malam begini ?! " Tanya Aji.
" Sengaja nak, adikmu hanya punya sisa waktunya sekarang, untuk membantu Emah." Ungkap Emah
" Ya Kak, bekerja ku kan di sepanjang siang." Ujar sang adik.
" Mau Ada acara apa memangnya Mah ?" Tanya nya
" Acara khusus sih tidak ada, ini untuk membalas Hantaran, kemarin Fitrie datang kemari, sengaja mengantarkan makanan dari Uminya untuk Emah." Paparnya.
" Sekarang Emah membikin Kue ini untuk besok di kirim kesana." paparnya lagi, dengan mimik wajah yang sumringah.
" Kenapa harus di balas lagi Mah,? Mereka mengirim ke Emah penganan, kan tidak mengharapkan balasan." lanjut pertanyaan Aji.
" Kamu tidak akan Tahu Ji.! Ini peninggalan Leluhur Emah tahu dari nenekmu, nenekmu tahu dari Buyutmu.. Buyutmu pun pasti tahu dari orang tuanya. Terus turun-temurun, telah mencontohkan tradisi itu, terlepas dari mereka mengharap ataupun tidak, akan balasan, kami tetap akan mengirim balasan." Tutur Emah.dan sambungnya lagi,
__ADS_1
" Konon tradisi ini bertujuan untuk memelihara dan menjaga keutuhan tali persaudaraan. Emah melanjutkan dan turut menjaganya entahlah kalau sudah ke anak dan cucumu nanti, sekarang saja kamu seperti menyaksikan sebuah kejadian aneh.
Mungkin di waktu yang akan datang, Emah sudah tidak ada.
Tradisi ini akan sirna dan hanya tinggal berupa kisah yang hanya akan tercatat sebagai bagian dari sejarah." pungkas Emah mengakhiri penuturannya.
Selanjutnya Emah mengajak Aji untuk pergi ke ruang bagian tengah rumah itu, disana Emah berbincang tentang banyak hal, sehingga tidak ada lagi topik yang tersisa untuk di bicarakan.
Kini tiba saatnya Aji berpamitan untuk kembali ke Jakarta, dan terakhir dia memohon do'a restunya dari Emah terutama untuk perjalanan jauh yang akan ditempuhnya esok lusa.
Kepergian anaknya yang satu ini, bagi Emah tidak lagi merupakan sebuah keistimewaan, dalam hal pamit untuk pergi ke tempat yang jauh, kendari bukan untuk satu minggu seperti kali ini.
Jadi dalam melepas kepergian Aji yang hanya satu minggu, bagi Emah, seakan anaknya berpamitan untuk pergi ke luar kota, seperti ke Bandung atau ke Cirebon misalnya. Tidak ada roman sedih atau keberatan di tinggalkan.
Setelah berpamitan, Emah membekali Anaknya dengan dua buah tempat berukuran sedang, yang berisikan hasil buah tangan sebagaimana Aji menyaksikannya, ini murni hasil buah tangan Ibunda yang dicintainya.
Satu bingkisan untuk Anggie sang kakak yang tinggal di Jalan pengayoman, Cipete Jakarta Selatan, dan bingkisan yang satunya lagi untuk Aji.
Ketika dia menerima bingkisan yang Emah beritahu apa isinya.
Terbayang senyuman Haruki, dia hafal kue ini kesukaan sohibnya, berhubung Emah tidak tahu, kalau Aji akan mampir lebih dahulu ke rumah kediaman Haruki, besar kemungkinan akan di berikan satu bingkisan untuknya, Emah tahu kesukaan sahabat anaknya, Haruki.
ΩΩΩΩΩΩΩΩ
Satu diantara dua tempat yang akan dia datangi lebih dahulu, diambilnya keputusan yang mendadak.
Menjelang mobil yang dikendarainya memasuki kawasan Tomang, dia belokkan arah menuju ke Jakarta Utara tempat tingga Haruki.
" Kalau aku datang ke rumah Kak Anggi sudah larut malam begini, tidak mustahil mengganggu tetangga yang bersebelahan, beda dengan rumah Haruki yang punya halaman cukup luas dan ada jarak halaman ke samping kanan dan kirinya, suara yang di timbulkan oleh kedatangannya tidak berakibat mengganggu kelangsungan ketenangan para tetangga.
Yang jadi pemikiran baginya adalah suara knalpot racing pada mobilnya Haruki, memang tidak begitu nyaring, tapi kalau di keheningan malam tidak pelak lagi, tetap bagi pakar Hukum akan menyebutnya bisa terkena pasal Polusi suara dan mengusik ketentraman lingkungan. " Gawat kalau pulang ke rumah kak Anggie, disana pemukiman para praktisi hukum.
Konon ada Praktisi di bidang Hukum pidana, perdata, mungkin Hukum pancung juga kalau memang ada. Disana tempat tinggalnya.he..he.." Batinnya menghibur diri dari kesunyian menyetir mobil sendirian di sepanjang perjalanan.
Ya betul saja, arah mobilnya menuju ke Jakarta Utara, Dia tahu kalau disana tempat tinggalnya Kalong, saat malam begini justru malah, matanya melek seratus persen. Haruki Kalong Gawa, he..he..Sohibku." Pungkas celotehnya , padahal nama aslinya Haruki Hanura Gawa.
Padahal kalau saja Haruki mengatakan dia akan mampir ke rumah Haruki, tidak mustahil akan di titipkannya Untuk Haruki, penganan yang Emah bikin tadi petang sangat di sukai oleh Haruki.
Emah hafal betul dengan kesukaan sahabat anaknya yang satu itu.
Seiring dengan celotehan dalam kesendiriannya selesai, bersamaan dengan ban bagian depannya tepat berada di depan pintu gerbang Rumah Haruki.
Baginya sudah hafal bagaimana membuka pintu pagar yang terkunci dengan Otomatis itu.
Dengan terlebih dahulu diubahnya remote yang dipasang di balik pagar otomatis itu ke mode Manual.dan di pijitnya nomor PIN untuk membuka pintu tersebut. Yang hanya Haruki dengan Melindari termasuk dirinya yang tahu Nomor PIN nya , Mae tidak termasuk yang di percaya untuk tahu PIN tersebut.
Ketika Mobil di masukkan nya ke Halaman bagian dalam Rumah tersebut.
Tidak sampai hitungan menit, dalam waktu yang hampir bersamaan, Lampu di ruangan Tamu yang letaknya di bagian depan rumah pun di nyalakan oleh seseorang.
Pertanda tuan rumah itu sudah tahu, ditambah oleh suara knalpot kendaraan yang mereka hafal suaranya seperti apa.
Mobilnya sudah diparkirkan nya di tempat yang biasa Haruki memarkirkannya, langsung Aji turun dengan bergegas melangkah menuju pintu rumah itu untuk memijit tombol bell.
__ADS_1
Baru satu kali dipencet nya tombol bell itu. terdengar olehnya suara " Klik " dan terdengar suara seseorang bertanya, suara itu tidak asing baginya.
" Bang Aji baru datang, kemalaman ya Bang ?" seraya membukakan pintu.
Melindari berdiri di tengah pintu yang telah dibukanya lebar-lebar, mengenakan bawahan piyama di kombinasi dengan bagian atasnya kimono.
Dengan wajah putih seperti pocong sebagaimana yang pernah dilihatnya pada tayangan Film horor pada setiap tayangan malam Jum'at di salah satu stasiun Televisi swasta, di Tanah air.
Aji terperanjat, tetapi hanya sesaat, karena sudah terbiasa melihat Kakaknya, Anggi suka berbuat seperti itu.
Wanita kalau sedang merawat wajahnya dengan maskara, entah di sengaja atau tidak, mungkin oleh rasa kantuk yang tidak tertahankan, sehingga untuk
Mencuci dan membilas wajahnya saja pun sudah tidak sempat, kejadian pada wanita inilah contoh konkretnya.
Dengan terlebih dahulu mengucapkan Salam, diapun masuk setelah Melindari membalas dengan salam jawaban.
" Melin, Haruki kemana, kelihatannya sepi.?" Tanya Aji, keheranan.
" Bang Haruki tadi sore pergi mendadak ke Serang, setelah mendapat berita kakek Sumantri Kambuh sakit yang di idapnya " Sahut Melindari, tanpa menyebutkan apa sakit sang Kakek.
" Oo begitu....? berangkat dengan Mamienya juga perginya Mel?" Tanya Aji.
" Ya Bang, si Mae juga di ajaknya serta." Timpal Melindari.
" Tadi waktu berangkat, bilang kapan balik nya lagi ke Jakarta?"
" Belum bisa di pastikan kapan balik lagi ke Jakarta, lihat sikon saja," Begitu Bang info sementaranya.
"Sebentar, Aku akan bikinkan Kopi untukmu ya bang ?"
" Nggak usah Mel ! Kau sambung lagi saja tidurmu yang tadi sempat terganggu kan ?" Tanya Aji.
" Tadi aku ketiduran Bang, aku mau mencuci muka. kebetulan Bang Aji datang.
Alhamdulillah, Abang datang seakan agar membangunkan ku untuk membersihkan Maskara ini, he..., he.., ." Jawab Melindari yang merasa bersyukur.
Malam adalah gambaran hitam kelam, bukan sekali atau dua kali kejadian tindak kejahatan apapun motiv dari perbuatan kriminal itu.
Dikarenakan dari suasana Hitam kelam yang membuat berkurangnya rasa Malu.atau mungkin malah Hilangnya rasa itu.
.Faktor penyebab lainnya adalah, karena adanya keleluasaan.
Keleluasaan ini tercipta manakala ada peluang, seperti malam ini , mereka hanya berdua. Tidak ada orang lain.
Entah karena merasa dia sendirian, Melindari tatkala tertidur, hanya mengenakan pakaian luar saja tanpa mengenakan pakaian dalam secara keseluruhan. Sebagaimana kebiasaanya, kalau sudah masuk ke kamar dan tidak ada niat untuk keluar lagi.
Segala fasilitas tersedia di kamar, dari kamar mandi, lemari es, apalagi Televisi atau barang elektrik lainnya seperti alat listrik pembakar roti.
Akan halnya dia tidak mengenakan piranti wanita bagian dalam, bagian atas maupun bawahnya.
Menurut ilmu yang pernah dipelajarinya di bangku kuliah ketika dirinya berstatus sebagai salah satu siswi di Akademi Kebidanan. Itu salah satu kiat untuk menstabilkan kesehatan tubuh.
Terburu- buru oleh suara mobil yang datang, dan telah masuk ke halaman, tanpa disadarinya tali pada bagian dada kimono yang di kenakannya mengendur. Dan Jreng..!!! Menyembul keluar miniatur kelapa Gading yang berontak , seakan ingin meronta dan.....
__ADS_1