
Bab 3
Hati yang terenyuh dan turut prihatin mendengar berita tentang wanita yang pernah singgah di album hidupnya, walau hanya sebatas kenal biasa, tapi ada momen yang tidak bisa dia tepis.
Ikut menyayangkan wanita secantik dan berperangai begitu baik, kenapa bisa berada di tempat yang tidak pantas berada disana.
Namun dia ingin kalau bisa terus konsisten berpikir realistis berfikir dengan bertindak harus seimbang sesuai takaran.
Gaspol.!! Dan dia stout Semua mobil lemot yang ada di depannya. " Aaah bikin sepet mata saja tuh mobil, massak di jalan Tol kecepatan 60 km/ jam.?" Aji menggerutu dalam kesendiriannya.
Tangerang sudah dilewatinya, papan petunjuk Balaraja pun sedang berada di depan pandangannya.
Di depan nanti Cikande, untuk kemudian akan ditempuhnya beberapa saat lagi Serang.
Lantas Baros, Gayam kemudian Cadasari. Untuk selanjutnya Kadumerak dan jumpa deh dengan yayang Fitrie, dia terhenyak dan lompat dari benaknya semua yang tadi sedang asyik di nikmatnya, ketika Sebuah Mobil berlebel Tiga Berlian meluncur dari samping kanannya. " Pajero....Anjrit ! ! lanjut Broo...! " Teriak nya dari dalam kabin Kendaraan yang tentu saja tindakan nya itu tidak ada orang yang bisa mendengarkannya.
" Yang nyetir Pajero tadi sudah kebelet ingin segera tiba ke Rest area, mungkin mulas perutnya, he..he..he ." Menghibur diri, dia tahu kalau dilayaninya juga akan percuma.
Mencret mobil Haruki, minimal batuk-batuk. Dia hanya Van Suzuki Vitara, CC nya saja jauh dibawah si Pajero.
Dengan gaya Sersan nya ( serius tapi santai ), Aji melanjutkan perjalanan dengan kecepatan yang sedang-sedang saja.
Paling cepat dia tancap gas berkisar 110 Km/jam atau lebih sedikit dari itu di hitung rata-rata kecepatan menjadi 100km/jam.
Sebenarnya bukan tidak sanggup mobilnya dia geber lebih dari kecepatan tadi, apalagi mesinnya sering di " Kilik" oleh pak Suwaji sang montir andalan bengkel Nagasaki motor Servis.
Tapi Aji lebih memilih untuk tidak mengebut di jalan raya.
" Yang penting gak kecepatan Aki-aki banget." begitu kira-kira jawabannya ketika melalui telepon genggam, sohibnya bertanya, " sudah sampai look dimana luh Ji .?"
" Selamat datang di kota sejuta santri, Serang" tulisan itu terlihat jelas pada Gapura gerbang kota Serang.
" Sudah di Gapura kota Serang, Ruki, sudah melewati lampu merah dekat Stadion Ciceri. Belok kanan ke tempat tinggal mamie mu dulu. sebelum kau ada..Ki, he..he..he ." Selorohnya.
" Kalau Luh udah ada ya ..Mbah ?" Haruki menanggapinya.
Nyonya Gawa terlahir sebagai seorang putri dari Orang Tua yang mengenyam pendidikan formal, lulusan sekolah I.T. Al-ihsan di Kota Serang ..hingga jenjang Aliyah, dan berijazah.
Pernah juga duduk sebagai pengurus di kegiatan Majlis kajian kitab Al-Qur'anul Karim, sebagai ketua pada seksi pendidikan.
Hampir setiap hari Ahad ( Minggu ) pagi ba'da Shalat Subuh berjamaah. Beliau selalu berusaha menyempatkan untuk bisa hadir.
" Ji...., sekarang Luh sudah di Serang, tinggal 23 Kilometer lagi luh ketemu Fitrie, siap-siap aja luh kalau ditanyain macem-macem." Saran Haruki.
" Siap Ndan..! !". Jawabnya.
Keheningan kembali mengisi ke tengah pembicaraan mereka berdua, dan...........
__ADS_1
" Bro Ajii, jangan terlalu Luh pikirkan yang gua barusan bilang, semua Manusia punya jalan hidupnya masing-masing.
Opa gua di Jepang suka ngomong begitu tuh ke gua, itu dulu gua aja masih ABG." Paparnya bak orang bijak.
Aji terdiam agak merenung dan tidak percaya kalau yang bicara di telepon itu adalah Haruki sahabatnya.
Haruki tumbuh besar hingga dewasa di bawah asuhan seorang ibu yang paham akan batas-batas susila, hanya karena lingkungan di Tanjung Priok Jakarta Utara, membuatnya seperti anak jalanan dalam ucapan.
Tapi hati dan nuraninya terarah, dan tidak membabi buta dalam setiap tindakan, terutama dalam hal menjaga sikap terhadap kaum Hawa.
Hidup berkecukupan tidak membuat dirinya menjadi Angkuh, atau sewenang-wenang
Dia adalah sang pangeran Matahari Terbit yang berjiwa Nusantara.
Mungkin karena dia di didik dan di besarkan dalam pengawasan mamie nya yang menyayangi dengan dasar dan tuntunan sesuai ilmu agama yang diyakininya.
Hasilnya bisa di nilai siapa Haruki. Lelaki yang lebih memilih tangannya tengkurap ketimbang terlentang
...******...
Susan memang bukan siapa-siapa baginya, kalau saja dia tidak melihat pada sosok wanita bernama Susan dia temukan masih ada nilai kebaikan pada dirinya.
Ketika Aji sampaikan tentang bagaimana Allah SWT yang mengancam kepada kaum Wanita yang dengan sengaja mencari kehidupan dengan menghinakan dirinya menjual yang pada hakikat nya bukan miliknya atau dengan kata lain bukan kepunyaannya.
Hanya sampai di kalimat itu, Aji berkata, Susan meminta kepada Aji untuk menghentikan rangkaian kata yang baginya itu bentuk mengingatkan.
Adegan itulah yang membuat Aji selalu teringat akan Susan yang telah di pilih olah Allah SWT. Yang kuasanya tidak terbatas.
Hari itu telah memberikan kepada Susan sebuah Hadiah yang luar biasa, yang belum tentu orang lain mendapatkannya itu lah yang di sebut Hidayah ....
Aji masih dalam lamunan, walau tanpa mengganggu aktifitasnya dalam mengemudikan kendaraannya saat itu. terdengar dari sebrang.
" Wei ... Pelaut,! Samudra yang Luh harus arungi masih luas terbentang dan menantang.
Luh laki-laki sejati. Bukan Luh banget dah..! Kalau oleh sebab ini, luh berubah jadi bukan Aji sahabat gue.... Akan gua tutup telepon nya nih !" Ancam Haruki.
" Tapi memang mau gua tutup koq, sampai ketemu lagi ya Bro..! Keep in though ya Ji...!!" dan benar saja telepon pun langsung tidak ada suara, Haruki mengakhiri percakapannya dan hubungan pun terputus.sebelum terputus Aji sempat menyampaikan jawabannya atas harapan Haruki lewat ucapan berupa doa semoga Aji lancar dalam urusan yang akan dihadapinya.
" Thanks Bro Ruki !" Balas Aji dan telepon pun di putuskan nya.
" Benar Haruki, menapaki jalur kehidupan ini, memang harus santai ." Gumamnya., lagi-lagi dalam kesendirian.
...********...
"Mengendarai kendaraan di jalan raya, banyak Faktor penyebab terjadinya Lakalantas di jalan raya, saudara.., kami sarankan ;" berhati - hatilah dalam berkendaraan, itu salah satu kiat untuk mengurangi jumlah Angka yang cukup signifikan mengalami kenaikan.jumlah laka lantas di jalan raya. Dan itu telah
Tercatat di dalam data resmi di Kantor pengendalian
__ADS_1
Lalu - lintas di Ibu Kota Jakarta keseluruhan." Suara wanita yang menyiarkannya.
" Aku mah tidak dong Mbak.!" jawab Aji.Sambil menyetir, dia ngomong sendiri.
Barusaja dia menjawab suara dari seorang penyiar sebuah siaran Radio swasta di gelombang FM 1 channel 109.2 salah satu stasiun radio di ibu kota Jakarta.
Untung Haruki memasang kaca film pada kaca kendaraannya, dengan kepekatan 90 %, mau berlagu seperti yang barusaja Aji lakukan pun, tidak ada yang meng openi.
Coba kalau kaca jendela mobilnya Bening mirip Aquarium.Aji akan terlihat seperti ikan Koki yang sedang megap-megap kehabisan air. Orang yang melihat akan menyangka nya seperti itu.
Aji lumayan mahir dalam berkendaraan, standar untuk orang seusianya, jarak Jakarta ke Pandeglang dia telah tempuh dalam waktu lumayan cepat yaitu dua jam lebih beberapa menit saja. Kalau jalan sedikit saja tersendat di sebabkan oleh macet yang suka datang tanpa bisa di duga. pasti akan lebih lama lagi di perjalanan.
Langsung di masukkan nya mobilnya ke halaman depan rumah Fitrie, yang kebetulan pagarnya sedang tidak ditutup.
Dengan tidak menemui kesulitan dia bisa menemui Fitrie yang kebetulan sedang ada di Rumah.
Aji jadi bisa bertemu langsung dengan orang yang di maksud.
Setelah mengucapkan salam jumpa, Aji di persilahkan untuk masuk ke ruangan yang hampir
Dua Tahun berlalu, dia pernah menduduki kursi di ruangan itu. Ada sebuah perbedaan yang hampir tidak bisa di lihat.
Fitrie, kali ini sikapnya berubah menjadi luwes, memenuhi kriteria tuan rumah yang menghargai Tamunya. walau tidak atau mungkin belum bisa dipastikan akankah berulang kembali peristiwa yang hampir dua tahun dulu di tempat ini, hatinya pernah merasa tergores karena oleh guncangan hebat.
Sekarang baru juga duduk, Fitrie menebar senyumnya sambil menawarkan kudapan yang sengaja disuguhkannya untuk Tamu jelang sore kerumahnya..." Begitu ramahnya tuan rumah". Batin Aji.
Ternyata penilaiannya yang terlalu dini, adalah penilaian yang Keliru.
Terbukti Fitrie seperti bersikap mengurangi bicara.
Lebih banyak meng "Ya" kan pembicaraan Aji.
Seakan dia hanya sekadar bersikap sebagai tuan Rumah yang faham akan : Memuliakan Tamu adalah sebuah kebaikan yang di golongkan kedalam amalan yang masuk catatannya para malaikat.
Manakala seseorang berbuat kebaikan dengan niat
yang ikhlas , bukan karena ingin di sebut baik.
Maka kebaikan yang ingin kita dapatkan, pasti akan kita peroleh, itulah yang Aji rasakan saat ini, karena di awali oleh niat baik tadi.
" Fitrie.., entah kali yang ke berapa aku datang ke sini, tetapi untuk yang kali ini aku berniat untuk mengajakmu bertemu dengan orang tuaku, Itu pun kalau kau berkenan. Dan tentu saja seijin Umi ( Ibunda Fitrie ). kata-kata yang terlontar begitu tersusun, yang semula tidak ada dalam benaknya. Namun tiba-tiba meluncur keluar begitu lancar dengan derasnya.
Entah karena faktor keberuntungan, atau memang telah menjadi kepastian takdir yang menentukan.
Fitrie menganggukkan Kepalanya.
,
__ADS_1
.