
Bab 4
* Kilas Balik......
Shinta di nikahkan pada usia yang masih sangat belia, dengan alasan yang sungguh tidak masuk akal.
Bukan dengan pria pilihannya, tapi dengan pria yang sudah dianggap keluarga oleh kedua orang tuanya, oleh Shinta sendiri dan juga oleh kakak beradiknya keseluruhan.
Klise memang kalau seorang wanita di nikahkan, dengan alasan terpaksa, hingga dia harus melepas masa remajanya yang seyogianya di lalui dengan di warnai oleh banyak cerita, untuk bekal kelak di hari tua.
Air mata sudah tidak terbilang berapa banyak yang terkuras dari kedua kelopak matanya saat itu.
Kalau melihat dan menilai bentuk fisik ataupun wajah rupawan dari Arjen Cornelius Van de Boer.
Shinta harus Jujur mengakui dia pria yang menarik, juga tampan.
Bagi Shinta sendiri, pribadi yang di idamkannya ada pada Arjen, apalagi saat ini dia telah menjadi seorang Mualaf pula, bahkan taat nya melebihi orang yang semenjak kecil sebagai muslim.
Walaupun dia berdarah Eropa, tepatnya Belanda, asli darah dari kakek dan neneknya pemilik yang sebenarnya dari pabrik Tenun tradisional itu.
Dia tidak menampakkan perilaku dari budaya tanah leluhurnya, gaya hidupnya merakyat, berbaur dalam banyak kegiatan lingkungan tempat tinggalnya.
Banyak warga di sekitarnya yang memanggilnya dengan sebutan ' Sep'. Kependekan dari kata 'Asep' panggilan penghargaan bagi anak lelaki yang masih lajang, di dataran tanah Pasundan, atau Priangan. Jawa Barat.
...*****...
Status dan kedudukan ayah Shinta, tidak lebih dari sekadar orang kepercayaan yang telah dianggap oleh majikannya memiliki nilai tambah, setia dan jujur dalam penilaian seorang pemilik pabrik, Henky Van De Boer.
Putra tunggal dari Jimy Quartz De Boer pendiri dan Pemilik tunggal pabrik, dari semasih zaman kolonial berkuasa di Bumi Nusantara.
Untuk kemudian Pabrik itu diwariskan kepada Henky Van De Boer sebagai putra tunggalnya tersebut.
...*****...
Ketika menjelang liburan Natal dan Tahun baru mereka pulang ke Negeri Kincir Angin.
Untuk melewatkan waktu yang sakral bersama sanak saudara dan handai taulan dari fam ' De Boer ' yang masih ada dan tinggal di sana.
"Malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih"
Mereka satu keluarga mengalami sebuah tragedi kecelakaan di jalan raya di sana, dan telah menelan korban.
Henky van De Boer dan istrinya Hellen Arnett van De Kock berikut putra keduanya Ernest Dillon Van De Boer meninggal di tempat kejadian, yaitu adik dari Arjen Cornelius.
Sudah Suratan takdir, saat itu Arjen tidak ikut serta karena penyakit pada Jantung yang di idapnya sejak kecil, sedang kambuh.
Konon sedang dalam therapy pengobatan dan sudah pada tahap penyembuhan.
__ADS_1
Ada satu orang lagi sepupu dari Henky Van De Boer, yang turut pada kejadian laka lantas saat itu, hanya dia seorang yang selamat, itupun mengalami luka yang cukup berat.
Setelah mereka kejadian itu Arjen menyandang status sebagai "'Yatim piatu'.
Semenjak kejadian itu, dia terus berlanjut di bimbing dan dibesarkan di bawah asuhan Juragan Kain tenun yang baru, sebagai pelaksana yang di percaya. Yaitu....Orang tua Shinta.
Yang notabene mengurus seluruh asset peninggalan majikannya, yang telah meninggalkan pesan berupa wasiat tertulis.
Ternyata surat tersebut, sudah di buatnya jauh hari sebelum peristiwa naas itu menimpanya. Terlihat dari tanggal yang tertera, saat pembuatannya, dan ada tambahan tulisan di bagian kiri bawah pada lembaran itu." Dengan catatan, Shinta di jadikan menantunya.
Maka jadilah mereka berbesan, walau kedua orang tua mempelai pria tidak hadir saat resepsi pernikahan berlangsung, namun semua berjalan lancar tanpa kendala.
Keduanya terbilang masih sangat muda untuk meniti kehidupan di jenjang rumah tangga mereka saat itu.
Namun pernikahan harus di langsungkan sesuai permintaan Mendiang, tertulis di dalam surat hibahnya yang telah di bubuhi tanda tangannya di atas lembar materai, resmi di buat di depan Notaris terkemuka di Kota itu..
...ΩΩΩΩΩ...
Salah satu sifat Arjen yang telah membuat tidak sedikit masyarakat di sekitar keluarga Shinta tinggal menaruh simpatik kepadanya.
Dia telah dianggap sanggup menyesuaikan diri untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan masyarakat di sekitarnya.
Yang lebih membuat masyarakat "mengangkat Topi"
terhadap perbuatan yang di anggap terpuji, adalah.
Perbuatan terpuji dari seorang Arjen, yang selalu ingin berbuat mengikuti seluruh perbuatan pendahulunya, ' Tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu '.
Entah sudah berapa tahun perbuatannya yang terpuji itu baru terkuak, ketika prosesi pemakaman nya akan di selenggarakan.
Ketika itu pula, seluruh barang kepunyaan peninggalannya di bereskan untuk nantinya di sedekahkan, di temui dalam lipatan bundel surat-surat miliknya.
Sebuah buku dan selembar sertifikat pengangkatan anak berkelamin perempuan dan sudah berjalan hampir sepuluh tahun berjalan.
Anak perempuan tersebut kini sudah duduk di sebuah sekolah pendidikan atas di Yayasan Perguruan Islam Terpadu di pusat kota Majalaya.
Selembar surat dan sebuah buku tabungan dengan nominal angka yang fantastis tertulis pada halaman buku di lembaran yang bertuliskan ' Saldo akhir '.
Di kalimat akhir hayat meninggalkan raganya, seusai dia melafazkan kalimat Tahlil, dia sempat berwasiat kepada Shinta sebagai istri sahnya, dalam kalimat yang terbata-bata.
" Nad...Nad...dia., Shal...Lat nyaa.". Lantas kepala itu terkulai.
Kuat dugaan Shinta, nama yang di sebut nya itu adalah anak adopsi almarhum.
Oleh kondisi dan situasi buku yang di temuinya itu belum sempat di baca secara keseluruhan.
Hingga nama anak adopsinya saja Shinta belum tahu.
__ADS_1
Ucapan terakhir itu lah yang membuat Shinta sangat terenyuh, dia merasa menyesal akan sikapnya selama mendampingi Arjen yang dia telaah dan dia nilai.
Arjen, dialah suami yang sebenarnya patut disebut 'Imam'.
Banyak spekulasi yang menyebutkan kepergian mendiang dengan berbagai macam versi, mengingat
Dia adalah pewaris tunggal atas asset yang bukan bernilai kecil, namun dalam kondisi berkabung dan kehilangan atas kepergiannya hanya Allah SWT yang maha tahu, dan Shinta yang merasakan.
Bahwa Harta yang di tinggalkannya tidak sebanding dengan Sosok yang telah terbujur kaku di hadapannya.
Kalau saja bisa di pinta untuk jangan dulu wafat, atau di beri kesempatan untuk memilih satu diantara dua, harta atau Arjen. Maka dengan pasti dia akan memilih Arjen.
Berdasarkan bukti otopsi dari team Forensik dari RSUP setempat, menyatakan kematiannya akibat dari serangan penyakit Jantung.
Adapun dalam kematian ini Shinta yang sangat merasa berdosa.
Sebagaimana lazimnya pengantin baru yang mendambakan memadu kasih di malam pertama, itu sudah rahasia umum, setiap pasangan yang menjalani proses yang di awali dengan baik maka akan berbuah baik pula, yakni menikmati buah perkawinan berupa pelampiasan hasrat terpendam.
Itu bukanlah sebuah perbuatan nista. justru malah perbuatan yang di anjurkan sebagai tindakan menghindari perbuatan Zina yang tercela dan itu adalah perbuatan HalalanToyiban.
Namun berbeda kasus dengan Shinta, yang telah lama hidup seatap dengan Arjen sebagai layaknya saudara, yang dia anggap sudah sebagai kakak sendiri, sementara Shinta yang tiga bersaudara, seluruhnya perempuan.
Kini berstatus sebagai istri dari lelaki yang cenderung timbul perasaan risi, karena tiba-tiba dia harus sekamar, bahkan harus berbuat layaknya suami-istri dengan yang sudah dianggap nya sebagai kakak yang dia dambakan, bukan sebagai Suami.
Ada juga rasa Jijik, dia membayangkan bagaimana jika orang lain, seorang Wanita yang bukan dirinya harus tidur dengan kakak kandung laki-laki nya.
Sementara Arjen sebagai lelaki normal, yang memakai akal sehatnya sebagai lelaki, dari semula berjumpa dengan Shinta, memang ada perasaan yang terpendam, tapi saat itu dia masih anak-anak jadi dia pribadi menganggapnya Cinta Monyet.
Tapi dengan berjalannya sang waktu, cintanya bukannya malah berkurang atau pupus dengan status barunya sebagai anggota keluarga yang telah dianggap oleh Shinta sebagai kakaknya.
Justru cinta dan kekagumannya terhadap Shinta semakin tumbuh subur dan semakin berkembang.
Di satu fihak Shinta yang menganggap Arjen sebagai kakak, sementara di fihak lain Arjen yang bertolak belakang dengan pemikiran Shinta.
Sehingga setiap saat malam pengantin yang awalnya akan berlangsung dengan akhir yang indah, selalu berakhir dengan kegagalan, dan kejadian itu berulang-ulang dan berlanjut hingga tidak terasa usia pernikahan mereka menjelang hampir setahun.
Kedewasaan pasutri itu mulai bersemi pada diri Shinta, oleh waktu dan bertambahnya pengetahuan.
Hingga di suatu hari yang mereka rencanakan dengan penuh kesadaran, dan dengan rencana untuk memadu kasih, dan terbang melayang ke alam yang selama ini hanyalah ada di dalam angan dan bayangan semata terutama khusus bagi Arjen. Ini merupakan siang yang terasa amat panjang dalam penantian berganti malam.
Mereka merencanakan untuk memadu Cinta dan bergelut menikmati kepuasan hasrat yang terpendam sudah hampir setahun lamanya. bukanlah waktu yang sebentar.
Kerongkongan Arjen terasa kering, dan jakun pada lehernya begitu seringnya naik turun pertanda jumlah frekuensi menelan ludahnya sudah di atas standar normal.
Gerakan seperti denyut yang berulang-ulang pada bagian ujung pangkal kedua belah paha Arjen sudah hampir tidak terkontrol, di katakan ingin pipis, bukan. Tapi perasaan ingin pipis begitu meningkat.
Jam menunjukkan pukul 16:00 saat itu. Mereka berdua merencanakan akan melaksanakannya setelah menunaikan Salat wajib Isya. Yakni berkisar pukul 19:00 pergumulan akan memakan waktu yang panjang dan memuaskan karena akan mereka selenggarakan hingga waktu shalat wajib Subuh sekitar pukul 04:30. seperti itu rencana mereka berdua.......
__ADS_1