
Bab 2
" Halo Ji....Aji ! Luh masih kontak dengan gua kan.?! Teriak Haruki dari seberang.
" Masih Ruki, aku tidak akan meninggalkan Sohibku." Jawab Aji.
" Ji...Gua terusin ya ?! Biar si Tante itu sudah STW, tapi penampilannya kagak kalah Ama anak Mahasiswi ya kan ?" Pinggangnya itu Broo.... ama boncengannya ituuu tuh, yang bisa menggugurkan Aiman, sedangkan Aimin gua aja suka ikut-ikut monogang Ji..!" ( mungkin yang Haruki maksudkan, menegang ).
" Ya., memang benar Ruki, tidak aku pungkiri, waktu kita asyik makan, di kursi yang sekarang aku tempati, beberapa anak muda yang melewati tempat kita, pada melirik memperhatikan si Tante." komentar Aji akan Tante Monika.
Yang terakhir gua ingin sampaikan ke luh, " Selamat menikmati makan siang, dengan Adinda Melin ." Dan terdengar suara Klik.
Pertanda Haruki mengakhiri percakapannya.
" God Ver domme Zeg! itu Orang main tutup seenak jidatnya saja," Batin Aji.
Padahal dia mau mengucapkan ," Ruki...ntar dulu..!
Yang pertama dan keduanya apa tuh? Koq tahu-tahu yang terakhir. bikin orang penasaran saja !".
Tapi tidak sempat. Dari sebrang sana, Telepon sudah kadung ditutup dan di non aktifkan, lagi.
...******...
Mereka berdua, sudah merasa puas dengan penyajian makanan dan juga pelayanan yang di berikan oleh penyedia jasa Tata Boga, Restoran " Raja Laut ".
Matahari sudah mulai tergelincir dari Titik Kulminasi. Dan akan beranjak menuju ke waktu sore.
Aji berniat akan menghantarkan Melindari pulang, dan besok pagi ada rencana untuk datang kembali ke Kantor keimigrasian mengantar Melindari guna mengambil hasil pembikinan Paspor dan Visa ijin kunjung ke Negara tujuan.
Tidak banyak yang mereka berdua bicarakan, sambil menyetir, pikirannya merekap ulang, kejadian yang telah berlalu namun meninggalkan kesan mendalam.
" Koq ada kemiripan dalam gaya bicaranya dengan wanita yang pernah dikenalnya bernama Susan, yang waktu itu dia sempat menghadiri wanita tersebut merayakan ulang Tahunnya, yang ke 24.
" Kelihatannya Susan alias Melindari tidak pernah bertemu satu sama lain. Apalagi saling mengenal.
Melindari yang Susan alias Susan yang Melindari, sudah berada di peristirahatannya yang tenang di kampung halaman leluhurnya di Bojonegoro.
Melindari yang kini berada di depannya, sudah pasti orang baik-baik, Jati dirinya jelas bisa di baca di lembaran kertas-kertas penting yang terkumpul ketika kemarin dia menyerahkan nya kepada petugas urusan pasport untuk pembaharuan Buku Pasport nya.
Suaranya yang halus dan lembut mirip tepung yang telah di saring oleh saringan yang rapat hingga menghasilkan tepung yang super halus yang nantinya bisa menjadi Tepung Cinta . He..,he..,he mulai Nakal nih otak, Fitri mau di kemana kan Ji ?!" Batinnya
Dia bicara sendiri, dia yakin tidak akan ada yang tahu. karena tidak terlontar dari lisannya.
Namun dirinya harus Konsekuen dengan ucapan yang pernah diutarakannya di hadapan Haruki.
Melindari akan dia perlakukan sebagai adiknya, ada bisikan kedalam kalbunya, " Adik ketemu gede saja lah." bisikan itu ada di bagian kiri hatinya.
Separuh hatinya lagi, menolak atas nama Setia perlambang kesatria. Dengan berpatokan kepada Segala perbuatan tergantung dari Niatnya.
Hanya pengecut saja yang berniat untuk berkhianat. Itu sudah pasti, bukan dirinya banget.
__ADS_1
" Maafkan aku ya Fit." Batinnya.
...*********...
Halaman depan rumah Haruki sudah dimasuki oleh mobil yang di kendarainya, mobil pun telah parkir di tempat biasa Haruki memarkir mobil kepunyaannya.
Maemunah membukakan pintu rumah untuk orang yang baru datang, setelah itu terlihat dia berbalik badan dan kembali masuk kedalam rumah.
Di saat Melindari akan turun dari Mobil, dengan langkah yang cekatan dan sigap, Aji lebih dahulu turun dan melangkah mengitari bagian depan Mobil, kemudian dia buka pintu sebelah kiri Sopir. Untuk selanjutnya di bukakan nya pintu sebelah kiri tempat Melindari duduk.
Adapun adegan biasa bagi orang yang seperti Aji, yang bertujuan ikut menjunjung harkat dan juga Martabat kaum Hawa.
Tapi tidak demikian bagi orang setaraf Maemunah, adegan tersebut bukan hal yang biasa baginya apalagi demi dilihatnya Pria itu membimbing tangan Melindari saat wanita itu turun dari Jok tempat duduknya.
Tidak keliru Melindari menobatkan nya sebagai Agen Rahasia dengan inisial M-Dua alias Agen rahasia Mae Munah
Di abadikan nya momen itu dengan ponselnya sambil tersenyum, yang hanya dirinya yang tahu arti senyumnya itu.
Kemana M2 melangkah, bisa dipastikan ponselnya selalu dibawanya serta.
Adegan yang baru saja di saksikan nya pun tidak luput dari bidikan kamera ponselnya.
Telah terfikir olehnya, untuk apa dokumentasi itu nantinya, oleh karena itu dia safe, rapi tersimpan di aplikasi Galeri pada ponsel seorang Agen M2.
Maemunah dan Maemanah, bukan anak Desa seperti kebanyakan anak-anak desa pada umumnya.
Mereka keturunan dari seorang Jaro dan mempunyai latar belakang pendidikan yang cukup tinggi, untuk ukuran anak Desa.
Hasil pemilihan dengan melalui seleksi yang lumayan ketat, calon di anjurkan orang yang sudah berkeluarga.
Harus memenuhi Kriteria mengantongi tiga syarat mutlak yang tidak boleh " Tidak dipunyai " walau hanya salah satu unsur dari tiga syarat tersebut.
Ketiga syarat mutlak itu lebih dikenal dengan istilah populer " KABANTENAN " itu dalam logat Sunda Banten. Yang di artikan ke bahasa Indonesia baku,
" KEBANTENAN ".
Yaitu ; Syarat yang pertama, Sarat.
Syarat yang ke dua, Sorot.
Syarat yang ke tiga, Sirit.
* Sarat ; Harus Seorang Laki-laki, keturunan Tubagus atau kata lainnya berdarah Tubagus. Apabila ditarik ke atas silsilah keturunan ke kakek buyutnya, maka akan ditemukan cikal bakalnya bermuara di putra Banten asli yakni Raja Banten Sultan Hasanudin.
* Sorot ; Harus sudah berkeluarga, disamping cukup ilmu. Baik ilmu Agama juga ilmu kedigjayaan, juga harus berilmu pengetahuan, untuk nanti kedepannya di gadang-gadang sebagai sosok yang dapat di jadikan panutan bagi masyarakat yang di pimpinnya di kelak kemudian hari.
Di utamakan sang calon datang dari keturunan yang cikal bakalnya dari kalangan orang-orang terpandang.
* Sirit ; ( Bila di artikan kedalam bahasa Indonesia Alat reproduksi kaum pria).
Lebih diutamakan Laki-laki yang sudah teruji mempunyai keturunan, berarti telah membuktikan dirinya memiliki Kretek Jarum Coklat yang ampuh. seampuh Bisanya Seekor lebah jantan. Ketika terkena sengatnya bisa dipastikan akan bengkak.
__ADS_1
Ini bertujuan untuk menjadikan putra putri nya di cetak menjadi kader putra bangsa, sekaligus pemimpin di kelak kemudian hari.
Maemunah, gadis yang berpenampilan Cantik, cerdik dan energik.
Karena, walaupun dia lahir di lingkungan pedesaan, dengan postur tubuh kecil, tumbuh kembang dalam nuansa pedesaan, kecerdasannya melebihi kondisi perawakannya.
Oleh karena itu dia lebih di kenal di lingkungan keluarganya sebagai Pemberontak.
Dia akan berontak manakala menyaksikan ketidak adilan terjadi di depan matanya.
Salah satunya, beda perlakuan dari kedua orang tuanya terhadap anak laki-laki sebagai kakaknya dengan dirinya, yang dia anggap tidak adil.
Adapun Maemanah, cenderung bersikap manut dan penurut, dia lebih memilih diam dan patuh terhadap segala bentuk keputusan orang tuanya, oleh sebab itu, dia sekarang berada di sebuah Pesantren khusus untuk Putri, padahal bukan atas kemauannya.
Pesantren di bawah asuhan Almarhum Bapak Kyai Haji Sahamah bin Kyai Haji Nana Onan. Beliau adalah Ayah dari Fitrie. Pesantren itu sekarang di bawah asuhan adik lelaki dari fihak Ayahnya Fitrie.
Sikap baik Maemunah telah mengundang simpati keluarga Fitrie. sehingga dia lebih sering tinggal di rumah keluarga Kyai nya. Ketimbang di Kobong.( kamar tidur versi pesantren ) sementara penghuni
pesantren tidur berjubel dengan para Santriwati lainnya.
Dia tinggal disana dengan mendapat perlakuan sebagaimana Santriwati lainnya yang setiap saat siap sedia untuk dimintai bantuan berupa tenaga oleh keluarga Kyai pengasuh Pondok Pesantren.
...*******...
Sementara pemilihan pejabat lurah yang baru akan di hadapi, masyarakat setempat menunggu saatnya yang hanya dalam hitungan hari saja.
Masyarakat yang menyukai cara beliau menjalankan kekuasaannya sebagai kepala Dusun. Mendorong sang Lurah untuk bersedia kembali di calonkan.
Sebuah kejadian yang mengenaskan menimpanya, sang Lurah di temukan di peraduannya sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Menurut hasil yang di dapat dari bagian Forensik. Yang kemudian mengeluarkan surat kematian dengan di sertai hasil Visum at revertum. Almarhum meninggal akibat serangan Jantung.
Beberapa anggota keluarga menilai bahwa itu kematian yang tidak wajar, namun pada akhirnya mereka merelakannya dan menerima itu sebagai Takdir, dari akhir hayat sang Lurah.
Seiring dengan kematian orangtuanya. Maemunah dan Maemanah. Hidup dengan kondisi keuangan yang kurang menguntungkan, karena Ayahnya adalah seorang Abdi Negara yang taat menjalankan amanah Rakyatnya.
Ada rasa kecewa dengan kematian Ayah.mereka. Ayahnya sewaktu menjabat sebagai Lurah telah memberi kepercayaan kepada anak didiknya ketika sang anak didik itu baru saja lulus dari sebuah perguruan tinggi Ilmu Pemerintahan di Bandung, dan magang di kantor sang ayah sebagai tenaga honor.
Ayahnya begitu menyayangi orang itu, karena di nilainya selain sabar juga cekatan, di samping itu.
dia bukan orang lain bagi keluarga Maemunah dan Maemanah.
Sayang sekali tidak semua orang yang mendapat hadiah kebaikan dari orang lain, lantas mengembalikan dengan membalas kebaikan tersebut dengan kebaikan yang nilainya sama.dalam takaran nilai jasa yang pernah di terimanya.
Maka di sini, berlakulah peribahasa yang berbunyi
" Air Susu di balas dengan Air Tuba ".
Ternyata Pejabat yang menggantikan mendiang Lurah Ayah Mae Twin adalah sang anak didiknya tersebut.
Juga menurut pengamatan oleh beberapa Ahli ilmu non Medis. Di tengarai, bahwa salah satu penyebab wafatnya Almarhum, yang di anggap tidak wajar itu. Yang punya ada andil besar adalah oknum yang sama.
__ADS_1
Wallahu alam bissawab. Semua kejadian di atas telah membuat..Mae Twin sulit untuk percaya kepada orang yang baru mereka kenal.