
Bab 1
Pertemuan pertama diantara mereka telah memberi kesan bagi Aji juga Melindari, Diego adalah bukan hanya sebagai seorang pekerja dari sebuah Biro yang menyediakan jasa dalam bidang pengawalan dan keamanan saja.
Penilaian Mereka berdua yang berkesimpulan akan pria itu lebih tepat kalau di sebut sebagai pemandu wisata yang bekerja pada biro yang membidangi sektor Pariwisata.
Ternyata mereka telah keliru menilai, Diego adalah selain dia bekerja seperti yang sedang di jalaninya sekarang, juga menjalani profesi sebagai Instruktur
di kesatuan Militer di kantor tempat ayahnya Josette mengabdi.
Dia melatih seni keterampilan Bela diri Taekwondo di sana, itulah sebab dan alasan kenapa dia yang terpilih melalui rekomendasi Ayahnya Josette yang sudah tahu percis bagaimana kepiawaian pria tersebut dalam melatih dan memperagakan jurus-jurus seni beladiri yang di kuasainya.
Jadwal latihan yang teratur, disiplin dan tepat waktu, menjadi agenda kesehariannya. Namun tidak merubah sikap santunnya seperti ketika mereka mulai saling memperkenalkan diri masing-masing pun berlangsung dan berjalan natural dengan sendirinya.
Dari obrolan yang berlangsung lancar dan terkendali itu ada selentingan yang terkuak berupa pengakuan yang tidak disadari oleh pembicara, bahwasanya dirinya bukan saja saat ini berstatus sebagai pengawal pribadi dari Josette saja.
Akan tetapi juga bagi sang calon Raja sehari yang akan bertahta di singgasana Raja seharinya dengan di dampingi oleh sang Ratu sehari Josette Maria Cardoso.
Alfonzo sebagai juara sekaligus Raja. Yang harus mengakui telah kalah Start ketika berlomba meraih dan mengambil Tiara Kemahkotaan sang Ratu.
Sang calon Raja sehari kecolongan, Mahkota telah di ambil oleh sang pemenangnya dalam hal ini siapa lagi orangnya kalau bukan Aji sang "Juara tak Sengaja "
Demikian seloroh teman kerja sekapal, yang pasti nya, seluruh orang di atas kapal mengetahui kronologis kejadian yang mereka ibaratkan Aji telah mengalami kejadian yang Fantastic " tertimpa Durian runtuh." Mungkin saja penyebab semua itu adalah karena Musibah.
Itu salah satu dari beberapa tanggapan dan komentar rekannya sepekerjaan, hampir semua celoteh mereka di tanggapi okeh Aji dengan sikap yang biasa-biasa saja, walau ada beberapa dari mereka berkata, " Kenapa nggak gua yang ngalamin kayak si Aji ya?!" yang di sambut galak tawa rekan yang lainnya
__ADS_1
Yang lebih ekstrim lagi adalah komentar mereka tentang Alfonzo, komentar yang asalnya datang dari lisan seorang bernama Rudy bermarga Pangalila asli dari Manado, begitu selalu manakala berkenalan dengan orang yang baru bertemu, dia ucapkan dengan penuh kebanggaan.
" Ji..., luh tahu kan? Gua di Brazil udah kayak pulang ke Tomohon saja, sedikit banyak gua tahu dan faham lebih dari kalian," dan lanjutnya lagi....
" Di sini ada Fam dan keturunan campuran bangsa Portugis dengan penduduk asli Daratan Brazil, dan Fam keduanya di padukan hingga akhirnya menghasilkan nama Fam baru , " Kacian De Lo " nama Fam itu, ujarnya Serius.
" Mungkin si Alfonzo itu bermarga yang gua sebutkan tadi, ha..., ha...ha.!" Antusias menggebu dengan mimik yakin di percaya. Karena yang di ucapkannya begitu meyakinkan, kalau saja tidak di akhiri dengan gelak-tawanya mungkin saja tidak ada yang menyadari kalau itu adalah Bully gaya Rudy yang asli Manado.tersebut.
Tadinya, kerumunan Kru kapal yang sedang Istirahat minum kopi pagi itu semua terdiam , sepi demi mendengarkan penuturan pengalamannya senior yang memang benar dia kebagian kontrak bekerja di kapal yang operasinya di Amerika Latin, khususnya di Brazil.
Demi mendengar akhir dari yang di ucapkannya,
": Kacian De Lo ." Membuat seluruh orang tiada
tersisa yang sedang istirahat minum kopi pagi itu, tertawa terpingkal-pingkal.....Seyogianya seperti itu.
Lempeng saja sikap mereka, Apriori juga tidak.
Pada akhirnya Rudy mengakui semua yang di ucapkannya tadi bukanlah sesuatu yang mutlak harus membuat orang lain tertawa seperti yang dilakukannya.
Itulah Pelaut dengan Dunianya yang teramat sibuk, bukan karena olah pengabdian yang berlebihan, tapi lebih condong ke memprioritaskan tindakan Preventif, dengan asumsi, jangan pernah Kapal tempat sumber mereka mendulang rejeki sampai mengalami mogok mesin di tengah perjalanan.
Di tengah perjalanan di malam hari, itu artinya, bisa di tengah lautan luas bisa juga di tengah Samudra yang tidak kalah luasnya.
Oleh karena alasan itu semua, bagi para pelaut yang telah kepalang tekan kontrak kerja , dan kepalang sudah berada di atas kapal dan kapalnya sedang berlayar melintasi Samudra yang seakan tidak berujung.
__ADS_1
Mogok mesin disana adalah " Mimpi Buruk " yang tidak di harapkan.
Slogan yang yang sudah umum terpampang di beberapa tempat di atas kapal, " Bekerja dengan Selamat ". Mengandung makna yang luas.
Kesibukan yang super padat para Pelaut sejati Boro-boro sempat untuk ngopeni urusan orang lain, di saat Kapal di hantam ombak yang tingginya bisa sejajar deck saja yang bisa membuat perut serasa melilit. Dan rasa mual yang hebat. Sementara pekerjaan mau tidak mau harus tetap di selesaikan seperti pemeliharaan suku cadang untuk penggantian manakala di perlukan dalam kondisi mendadak.
" Pelaut yang Sinting apa? Kalau masih sempat ngopeni urusan orang lain ?!, komentar Mandor mesin bernama Bonang yang sudah di kenal dengan kegigihannya dalam bekerja 30 Tahun di Kapal. Sejak jamannya Pelaut legendaris Gun Supardi.
Pengawal pribadi keluarga Josette Maria Cardoso dengan nama Diego Morales itu, tampil begitu sempurna di lihat dengan kasat mata., apakah memang seperti itu..?
Setengah jam pertama mereka bersama di dalam kendaraan yang di kemudikan nya, hingga saat itu belum terlihat satu pun ketidak baikan pada sikap maupun tutur kata dari sosok Diego Morales.
Justru Aji yang merasa jengah dengan sikap Diego saat akan menaiki Mobil untuk berangkat meninggalkan lobby Bandara.
Menurut taksiran Aji, lima kali kontrak kerja di kapal yang enam bulan lama bekerja setiap kontraknya. Dengan asumsi gajinya saat ini saja, belum tentu bisa terbeli mobil yang tadi Diego tawarkan kepadanya untuk menyetirnya.
" Untung tadi aku menolaknya....weleh kalau aku terima itu kunci kontan, malu ku macam apa? Kulihat rumit amat itu tombol-tombol seperti Dash Board nya Pesawat terbang, kalau sekadar nyetir saja sih gak masalah, tapi mau start mesin dan fungsi tombol yang begitu rumit, untung...untung!!." Batin Aji.
Kuat dugaannya tindakan Diego menyerahkan kunci kontak kepadanya tadi, atas anjuran Josette, untuk apa, dia tidak punya gambaran untuk tujuan apa Josette berbuat seperti itu, karena seandainya dia tahu dan bisa pun. Tetap dia akan menolak untuk mengemudikan Mobil yang tidak asal harganya itu.
Walau begitu Diego mengatakan perjalanan menuju tempat tujuan sudah separuhnya di tempuh. Diapun mengatakan kepada Aji tujuannya tadi menyerahkan Kunci kontak Mobil Mewah tersebut atas Anjuran pemilik mobil tersebut, yang tidak lain dari Josette dan Alfonzo, bukan tanpa maksud.
Konon agar Aji dan melindari bisa menikmati dengan maksimal keindahan sepanjang perjalanan dengan duduk berdua berdampingan di jok bagian depan. Tanpa siapapun mengganggu atau terganggu. karena mobil itu di diperlengkapi dengan pengaturan sekat ruangan kemudi dengan ruangan tengah maupun belakang kendaraan. Termasuk Mode peredam suara. Sehingga Diego atau siapapun yang berada di ruang duduk di bagian tengah, tidak bisa mendengar suara pembicaraan mereka berdua di ruang kemudi alias Jok depan.
Yang jadi masalah bagi Aji, bagaimana mengoperasikan semua perangkat tersebut jangankan alatnya, di sebelah mana tempat tombol yang harus di sentuhnya saja pun dia tidak tahu. untuk mengaktifkan semua alat-alat yang di sebutkan oleh Josette melalui aplikasi WA bahkan berikut gambar berupa kondisi di dalam ruang mobil keseluruhannya, melalui sarana Watch Aut atau WA.
__ADS_1
Dia menata sikap nya dalam menolak dengan mengutarakan alasan yang bisa diterima oleh Diego Morales., " Sorry takut tidak bisa fokus perjalanan tadi terbang lumayan jauh sangat melelahkan," Dan diapun berkomentar dalam batinnya.
" Untung tadi aku menolaknya,!"..................