
Bab 1.
Selimut yang menutupi seluruh badannya terlihat bergetar perlahan dan teratur.
" Apakah pertanda Aji sedang mendapat serangan demam?" demikian pertanyaan didalam hati Shinta.
Dengan pasti dia melangkah semakin mendekat kearah Aji yang seluruh badannya masih di tutupi oleh selimut.
Semakin kuat dugaannya bahwa lelaki itu sedang kurang fit kondisi badannya, mungkin akibat hujan yang lebat kemarin telah membuat lebih basah pakaiannya dari pada baju yang Shinta kenakan.
Itu semata-mata, demi dia yang di hindarkan nya dari siraman air hujan ketika menggunakan satu payung untuk berdua.
Yang semula sekedar dugaannya saja, kini terbukti ketika di rabanya kening lelaki itu dan juga bagian lehernya yang berkeringat, tapi terasa dingin di telapak tangannya.
...***...
Aroma natural dari keringat seorang wanita dewasa yang sudah terbiasa menjaga dan merawat anggota tubuhnya, tercium olehnya semakin menyengat, pertanda pemilik tubuh itu semakin mendekat, dan Aji memejamkan kedua kelopak matanya.
Semakin dekat, dekat.., dan dekat sekali, seukuran jangkauan tangan orang dewasa.
Kamar yang masih dalam kondisi gelap tanpa penerangan dari lampu kamar itu sendiri, selain dari bias sinar cahaya lampu ruangan tempat tadi kakak beradik asyik melepas kerinduan.
Aji yang sebenarnya telah terjaga ketika bunyi nyaring dari jam antik di rumah itu berdentang satu kali, satu jam yang lalu.
Di saat itu pula ingatannya sudah pulih, badannya terasa segar. Karena walaupun tidur yang hanya satu jam saja, namun lumayan nyenyak.
Menurut hasil dari konsultasi dengan Ahli Kesehatan di tempatnya bekerja, kuantitas tidur memang belum tercapai untuk malam ini, tapi kualitas sudah didapatkannya.
Sengaja dia berpura-pura masih tidur, dia ingin tahu untuk tujuan apa Shinta memasuki kamarnya dengan berbusana seperti itu.
__ADS_1
Aroma tubuh wanita yang sintal dan berkulit bening itu semakin mendekat, lantas menjulurkan tangannya mengarah ke wajah Aji bagian atas, dan menempelkan seluruh telapak tangannya dan berkata dalam gumam, " Agak panas ." bernada khawatir.
Setelah itu, dia bergegas menemui adiknya, " Mety, suhu badannya teraba panas, punya alat pengukur suhu, tidak.? Kita coba tes dengan alat, siapa tahu panasnya bukan karena sakit." Suara Shinta terdengar jelas oleh Aji.
Sesaat kemudian di ruangan itu kembali Hening tanpa suara apapun.
Untuk selanjutnya, suara langkah tergesa-gesa terdengar mendatangi kamar tempat Aji tadi berbaring, namun sesuatu telah terjadi, membuatnya terperangah.
Bukan karena alasan ruangan itu gelap, tapi memang yang tadi sedang berbaring dan tertutup oleh selimut, dengan suhu badannya yang didapati melebihi suhu normal, bahkan dilihatnya sedang menggigil, tapi ketika diamatinya dengan seksama, orang yang di duga sakit itu, malah tidak berada di tempatnya.
Shinta kurang memahami kondisi kamar itu, dia raba kesana kemari untuk mencari dimana letak stop kontak lampu kamar itu berada, yang lumrah penempatannya pada tembok di samping pintu masuk kamar.
Ketika tangannya meraba ke tembok di samping pintu, dia kaget bukan alang-kepalang, karena yang teraba olehnya jemari tangan yang terbuka yang kemudian terasa mencengkram erat sepenuhnya jemari tangannya.
Cara meremas yang mungkin sebetulnya biasa-biasa saja, namun yang dirasakan oleh Shinta remasan tangan dari pria kekar ini, walau tidak terlalu menonjolkan pada bagian ototnya-ototnya, tapi mau tidak mau dia harus akui, Aji masuk pada daftar Kriteria Pria pilihan para wanita Jomblo.
Trek.!" Bunyi stop kontak di pijit oleh jari tangan kelaki itu, dan Pray...! Ruangan jadi terang benderang.
Terasa oleh Shinta, pada piranti pribadinya ada yang menyentuh di bagian itu dan berdenyut beberapa kali, terasa olehnya karena CD yang dikenakannya terbuat dari bahan yang sangat tipis dan halus.
Akan tetapi nalarnya mengirimkan signal ke otak motoriknya untuk berontak, yang kemudian
menghasilkan gerakan, ditolaknya badan kekar lelaki itu untuk merenggang, walau usahanya tersebut tidak banyak membuahkan hasil untuk niatnya tersebut.
Demi terlihat olehnya dengan jelas wajah dan badan bagian atas dari Aji yang telanjang, dengan dada yang bidang dipenuhi oleh Rambut lebat tidak tertutup oleh pakaian.
Dengan gerakan reflek terdorong oleh
rasa penasaran ingin tahu, dia menolehkan kepalanya ke bagian bawah badan lelaki itu.
__ADS_1
Belum sempat matanya melihat apakah lelaki itu juga tidak mengenakan pakaian penutup bagian bawahnya ? Demikian celoteh di benaknya.
Tanpa dia bisa menolaknya, matanya yang mulai meredup seakan merasa ngantuk berat, bak sinar lampu 5 Watt, yang sesaat kemudian matanya sudah tidak bisa lagi dia kuasai, dia tutup kedua kelopak matanya. Di susul dengan bibirnya terbuka seakan menantang, untuk Aji berbuat lebih jauh lagi dari sekedar meremas tangannya.
Aji pria yang sehat jasmani maupun rohaninya, demi melihat dari dekat, Shinta dengan busana tidur berwarna putih tulang dengan bra separuh lingkar menyangga isinya dan CD minim bahan sehingga nampak terlihat rambut halus pada bagian atas dan pinggiran kiri dan kanan kewanitaannya.
Kedua penutup dua perangkat lunaknya hanya di ikat oleh tali kecil yang sangat mudah untuk di lepas.
Andaikan Aji mau, cukup hanya dengan sekali hentakan jari tangannya saja, itupun dengan jari kelingking, maka semuanya akan terlepas.
Saat itu Aji sedang tidak mengenakan seluruh pakaian atasnya.
Bukan tanpa alasan, fasilitas AC di kamar itu sedang bermasalah dan belum di perbaiki, itu kata tuan rumah Mety, tadi saat mereka baru saja tiba.
Yang ada saat itu, kipas angin sebagai pengganti AC, dalam kondisi darurat seperti sekarang.
" Habisnya Teh Shinta tanpa kasih Tahu kita lebih dahulu kalau mau datang, mana si Aa baru kemarin pergi ke Bandung untuk ikut pelatihan keterampilan memadamkan kebakaran." Ujar Mety dengan intonasi sungguh-sungguh. ( yang di maksud si Aa di sini, adalah suaminya ).
" Enggak apa-apa Mety adik Teteh, macam kedatangan tamu agung saja, jangan merasa menyesal, bagi Teteh, penerimaan mu ini sudah lebih dari cukup " Timpal Shinta.
Serang bukan kota yang ramah bagi Tamu yang datang dari lingkungannya seperti Bandung, Malang atau tempat-tempat lainnya yang udaranya relatif sejuk, walau tidak selalu demikian, ada kalanya cuaca yang membawa udara sejuk dengan Angin yang bertiup sepoi-sepoi.
Atau mungkin kedatangan Shinta yang kali ini kurang beruntung.
...*****...
Sudah tidak pantas lagi bagi orang seusianya kalau sampai tiduran di lantai, untuk mendapat solusi dalam meredam cuaca kota Serang yang dikenal dengan udara panasnya, yang hanya sedikit saja dibawah level panasnya Jakarta.
Ketika dia masuki kamar itu, yang konon kata tuan rumah, " ruang kamar Tamu senantiasa dinomor satukan, atau dengan kata lain, Mety bersikap senantiasa berusaha untuk selalu menyambut Tamu yang datang kerumahnya dengan baik, siapapun mereka.
__ADS_1
Tanpa melihat status, dia dan suami nya sepakat meyakini bahwa setiap tamu yang datang, wajib untuk di muliakan.
Suaminya tergolong jemaah yang rajin dalam menjalankan Shalat wajib lima waktu, dengan berjamaah di Mesjid yang terdekat dari rumah tempat mereka tinggal. Juga sebagai Jemaah majlis taklim di Mesjid tersebut.