
Bab 5
Kilas balik telah usai.
Ruki., Aku baru saja menempuh perjalanan, memang tidak jauh, tapi badan agak sedikit penat, kalau di rumah biasa aku dipanggilkan tukang pijat. " Ujar Aji.
" Itu sih makan waktu, belum kalau tukang pijat yang dipanggilnya lagi dapat orderan, tadi ada yang menjemput katanya sih dari Kadu Hejo, hanya Lima kilometer dar sini, itu kata orang rumah rukan pijat yang Luh maksud." Jawab Haruki sambil senyum-senyum santai.
" Sejak kapan di Tanjung Priok ada tukang pijit on line, Ki ?" Tukas Aji.
" Nah ..yang begini ini, yang tinggal di Jakarta Selatan. Tapi Luh itu ketinggalan ama orang yang tinggal permanen di darat." Haruki bersemangat.
" Buktikan dulu, jangan hanya propaganda broo.?" Aji menyahut rada sedikit Nyolot .
" Ini Tanjung Priok, luh faham kan gerbangnya hubungan lewat jalur laut dengan Dunia luar Ji.!? Cengkareng lewat Udara, jadi tempat gua ini yang lewat Lautnya. Nah Luh Jakarta Selatan.?." Pungkas Haruki.
" Segala macam sarana termasuk ilmu pengobatan di Cengkareng dan Tanjung Priok ada berbagai macam cara. Noh..! luh lihat di luar sedang ada kegiatan apa.?" tidak kalah nyolot nya.
" Ya aku lihat, lantas apa hubungannya orang lagi kerja ngaspal jalan, dengan Tanjung Priok gerbang hubungan internasional yang kau katakan barusan ?" Aji bertanya serius
" Luh pernah dengar kagak, kalau pegal-pegal badan di pijat ama Koneng gede, cukup sekali aja, selesai segala penyakit hilang, Ama orang-orangnya."
Untuk kalimat yang terakhir, Haruki seakan sengaja mengejanya dengan suara yang perlahan, hampir tidak terdengar.
" Di jalan raya itu kan sedang kegiatan pengerjaan Jalan Ki..?!" Aji mengulangi jawaban nya sekali lagi dengan antusias.
"Ya.. Di depan kan ada Koneng gede." Sahut Haruki sedikit dikeraskan suaranya, terganggu oleh suara hiruk-pikuk pekerja renovasi jalan umum di depan rumah kediaman Haruki.
" Minta ijin aja Ama yang nyetirnya, bilang Luh mau di pijat, gitu gih sono " anjur Haruki.
" Edan kau sudah bosan minjamin Mobil ya," Sela Aji
Sambil tertawa. Ternyata adegan percakapan itu membuat Haruki tertawa. Hingga sakit kulit perutnya.
( Yang di maksud Haruki dengan Koneng Gede. Itu bukan Kunyit yang besar ), yang umum di gunakan sebagai sarana obat Tradisional untuk pengobatan
paramedis dengan pengetahuan standar. Tapi mesin giling untuk meratakan jalan yang berwarna kuning.
Itulah suasana yang tercipta, di hampir setiap mereka berdua sudah bertemu. Tidak ada perselisihan pendapat yang berujung pertikaian.
...ΩΩΩΩΩΩ...
" Aji., luh kan baru banget sampai, sebaiknya santai, duduk dan menikmati dulu minuman yang enak dan cocok di tenggorokan Luh, sesuai selera Luh dah." Sahut Haruki.
Dengan tawaran baik Haruki, yang tidak baik untuk ditolaknya, dia turut dibelakang tuan rumah yang berjalan melangkah masuk ke ruang Tamu keluarga.
__ADS_1
Lengang suasana di ruangan itu, karena dia seorang " Dude Herlino No Wifo " kalimat seperti itu yang Haruki ucapkan dengan mimik wajah serius,
Saat itu, ketika Aji sengaja mengajaknya ke tempat pertemuan anggota yang hampir keseluruhan dari mereka Haruki memperkenalkannya dengan anggota komunitas pecinta olahraga beladiri cabang silat di Serang, Banten.
Waktu itu bersamaan waktunya Haruki pas kebetulan pulang ke Serang untuk menyambangi kakek dan Neneknya dari keluarga Mami.
Disana sedang ada ekshibisi persaudaraan keluarga besar pesilat sewilayah Banten.
Haruki dengan gaya bahasa yang konon, itu bahasa Italy yang biasa digunakan oleh remaja gaul dipusat kota Milan.
"Emangnya, ketika dulu kau pergi dengan papi Gawa, ke Italy berapa lama Ruki?" Tegur Aji serius
" Itu lidah Italy nya pas banget, " Selak Aji, kendati dia menangkap keanehan pada ucapan Sohibnya," Dude Herlino No Wifo ?" dan itu dipertanyakan nya kepada Sohib kentalnya itu.
Waktu itu, sempat membuat suasana gelak tawa para mojang seusianya, hampir kebanyakan dari mereka yang terdaftar sebagai anggota pesilat perwakilan dari cabang kota, Tangerang, juga dai Cilegon, termasuk perwakilan dari kota lain yang masih di wilayah Banten juga.
Rata-rata peserta ekshibisi itu masih berstatus lajang. Sedangkan Haruki, Seorang Duda ditinggal wafat oleh istrinya dengan meninggalkan seorang anak, perempuan.
Hingga sekarang anak Haruki, ikut neneknya, bahkan sekolah Paud nya pun disana.
Haruki sendiri, adalah model seorang Ayah yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup menyeluruh anaknya tersebut.
Sementara seluruh keperluan dirinya dalam hal kebutuhan urusan Rumahnya di tangani oleh seorang ART , ( Asisten Rumah Tangga ).
Haruki menjelaskan kepada Aji tentang; Di negri Nenek Moyangnya dari fihak Ayah, konon tidak boleh, atau tabu menyebut pekerja di sektor itu dengan kata, PRT.
sudah cukup lama, ikut serta semula.ikut Mami Gawa, bahkan sudah di anggap sebagai anggota keluarga sendiri.
Keberadaannya di rumah Haruki, hanya untuk Semen Taun saja, sementara begitu Haruki berstatus Dude Herlino No Wifo tadi. Maminya tidak tega untuk tidak mengizinkannya, untuk menangani suasana berantakan dirumah anaknya.
Dia bernama Maemunah, adalah Mae panggilan sehari-hari nya, dia berasal dari keluarga yang sederhana, kakak beradik beserta orang tua nya yang tinggal tidak begitu jauh dari rumah neneknya Haruki di lingkungan kediamannya. Di Serang. Banten.
" Mae., Airnya jangan dari Dispenser ! di rebus ya!." Pinta Haruki kepada Mae.
" Baik ., Den ." Jawab Mae
" Mas Broo masih hafal saja pada kesukaan Sohib nya." Tanggap Aji.
" Memory gua masih bekerja dengan baik Ji ! meskipun kebutuhan Biologis gua kagak terpenuhi. Dan catat ya ama Luh..., Gua kagak doyan ber Halo-halo Bandung ,! atau Bengawan Solo karier ya Ji. Catat dong itu !". Sahut Haruki.
" Kenapa harus di catat Ruki ?"
" Buat di kasih ke yang kemarin ketemu di Ekshibisi Pencak silat itu Ji..he..he..he.." Ujarnya.
" Kau kan sudah merasakan cukup lama, biasanya suka ketagihan, itu yang namanya Kebutuhan Biologis, masak sih kau nggak Ruki? Serius tidak ?" Ujar Aji
__ADS_1
" Gua sih tersalurkan dengan kegiatan yang intensitas nya lumayan tinggi, kegiatan di Bengkel kayak apa, Luh tahu sendiri kan ?" Papar Haruki.
" Aku percaya, kau mobilitasnya lumayan sibuk, apalagi menjelang akhir tahun bengkel jadi rame dan sibuk pastinya juga." Imbuh Aji.
" Ya begitulah., bagi orang yang waktunya luang, cenderung dan berpotensi, untuk berimajinasi membayangkan Bintang film jadi pacarnya lah, atau istrinya ujung-ujungnya tangan bekerja terjadi lah
" Halo-Halo Bandung , ha..ha..ha. Dengan gelak tawanya yang cetar membahana ( meminjam istilah Syahrini ).
Dikira Aji, orasinya Haruki selesai hingga disitu, ternyata masih tersisa ...
" Tetapi , jujur gua bilang, gua gak mau munafik, berat buat laki kayak gua nih, soalnya sudah terbiasa ada teman bobok, Nah .. Luh, kapan Broo ? Ngerasain di layani segala kebutuhan Luh !" ujarnya.
" Siapa juga yang kagak mau Ruki, kalau belum ketemu,? yang gampangan sih ada, akunya yang kagak mau kalau yang seperti itu." Ujar Aji.
" Benar juga Ji, apa yang luh bilang itu, pinter Luh Ji !" Timpal Haruki, " Ngomong - ngomong bagaimana Khabar Emah, sehat-sehat saja kah ?"
" Alhamdulillah Sehat dan beliau ada titip salam buat kau Ruki, dan nanya kapan kau ke sana?" ujar Aji
" Ji.., tadi gua yang sudah banyak ngomong dan cerita. Sekarang gantian. Luh yang ngomong dan cerita buat gua,
Di WA, luh lagi bingung dapet undangan untuk menghadiri resepsi nikah dari mantan di Brazil. Hebat luh Ji ! Gua ngaku kalah dah!!, mantan aja di Brazil..wiiiiyyy keren Aji...Gua kagak tuh dapet undangan dari Jepang ? Padahal mantan pacar gua di Jepang ada Tiga..?" Ujar Haruki lagi.
" Ah .kau Ruki paling Bokis...! Kau kan tidak suka cerita yang bertele-tele.? Bagaimana aku tidak bingung Ruki., dengan siapa aku pergi ke sono nya? Teman Wanita gak ada, Kekasih apalagi ?! Hik..hik..hik ( Nangis an action ).. Membuat sang sohib terlihat merenung, mungkin merasa Iba dan ikut prihatin.
" Aji., luh terlalu baik sih buat teman-teman Cewek gua, mestinya pendamping luh tuh, yang semacam Fitrie atau Shinta, yang luh ceritakan pergi ke Pandeglang ma di, Itupun kagak Luh apa-apain.
Luh tuh jujur apa bodok sih Ji.? Masak kagak luh apa-apain tuh cewek ?...
" Emangnya harus aku apain itu cewek Ruki?" Timpal Aji.
" Nah .tuh... Bodok lu muncul, ya minimal Chee Ko Tink dong Ji !... Itu bukan pamrih namanya, tapi berbagi, tawuuu..?!
" ChiKoTing ? Apaa an tuh Ruki.?"
" Hey Anton.. Pelaut Tujuh Samudera !, ( iklan obat mabuk di sekitar tahun 1975 ).
" Cheepok. Kobok, Tinggal !" tegas Haruki..." E..eh tapi jangan ding, ntar gua ikut dosa. Luh yang enak, gua ke bawa ikut nanggung..he..he..kagak .kagak jangan Ji ! mending kalau gua kebagian.. He..he..he." Tawa Haruki hingga badannya ikut berguncang.
Sementara Aji yang mendengar, celoteh Haruki, merasa tidak perlu ikut tertawa, apalagi harus ikut sampai badan berguncang- guncang seperti itu. owwwh.. Tidak..!!! ":Batin Aji.
Haruki hafal Sohibnya, dia bukan tipe ABS. ( Asal Biss Senang )......
Suguhan yang di pesan ke ART bernama Mae pun datang di bawa diatas nampan, dengan asap yang mengepul dan menghantarkan aroma khas Kopi Medan Asli.
Seyogianya Aji bereaksi seperti biasa, seperti setiap Haruki menyediakan Kopi kesukaannya tersebut. Namun kali ini Haruki menangkap sesuatu yang tidak lazim pada mimik Sohibnya, seperti ada rasa kaget bercampur aneh.. Terekspresi melalui bahasa tubuhnya, mata terbelalak dengan mulut menganga seperti melihat Kehadiran sosok makhluk Ghaib hadir di hadapannya ...... Ada apa gerangan..?
__ADS_1
.