Pasrahnya Lelaki Tangguh

Pasrahnya Lelaki Tangguh
* GARIS TANGAN * " Gelora Api Cinta "


__ADS_3

Bab 3


Haruki mengatakan sebenarnya, seperti yang semula dia katakan kepada sohibnya bahwasanya dia tidak bisa ber basa-basi. Istilah yang selalu dia pakai adalah, Tog mol saja, alias langsung ke pokok masalah.


Luh kan mau ngajak anak perempuan orang, dengan hanya ngasih jaminan berupa sumpah, atawa semacam itu.


Punya nilai apa Ji..?! Itu yang di sebut Jaminan, bener dari Luh, tapi hanya sepihak, gak kuat legalitas hukumnya Broo! kalau cewek yang Luh ajak itu adik gua, misalnya ini sih, kagak bakalan juga gua kasih.! Sumpah !!" Haruki bersemangat dalam penyampaiannya.


" Profesional dong Ruki, aku akan membuat surat legalitas didepan Notaris. Ya itu termasuk yang tadi kau bilang khilaf-khilaf begitu, kalau aku tidak salah dengar, he..he..he ya kan? Aku setuju koq, itu ide yang bagus." jawab Aji.


" O..ya dong, Luh kan ngajak nya bukan cuma ke ujung Indonesia, Sabang misalnya, itu masih mending kalau ada apa-apa, masih bisa gua parani.


Nah .ini ? Ke Ujung Berung Broo!. Brazil, cuma dengan jaminan yang Luh bilang " Swear, Luh akan amanah,?...Owh .Tidddaaak !!" siapa juga gini hari mau percaya..Ajii... Aji..jangan naif lah Sohib.!!


Yang begini ini nih...., akibat keseringan patah hati, atau kelamaan hidup membujang, Hemmmmhh, ( Haruki menggumam, tanpa kata ).


" Sudah lah Broo, jangan terlalu Luh pikirkan, nanti gua pertemukan sekaligus gua kenalin Luh ma cewek yang gua yakin, Luh bakalan suka, bukan untuk bakalan bini kan.?" cecar Haruki, tanpa ada maksud memojokkan. Ketika dia berkata seperti itu, dengan gaya khasnya. Dia acungkan jempol tangannya sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Persahabatan sejati seperti mereka berdua jalani, telah terjalin bukan baru hitungan bulan. Hubungan mereka melebihi dari ikatan persaudaraan, layaknya saudara sekandung, entah kapan mulanya, yang mereka ingat, semenjak Aji mulai bekerja di bengkel kepunyaan orang tua Haruki di jalan Pemuda, di kawasan Rawamangun Jakarta Timur.


Aji dan Haruki, menjalani jalinan persahabatan dan tidak lebih dari itu, ketika pertamakali mereka bertemu, saat itu Haruki masih komplet dengan jumlah anggota keluarganya.


Belum lama ini, mendiang istrinya wafat dengan terlebih dahulu menderita sakit yang tidak terobati, akibat terjatuh dari motor yang dikendarainya dalam keadaan dirinya sedang emosi, Haruki berakhir dengan hidup kesendiriannya.


Tidak begitu jauh berbeda dengan nasibnya Haruki, sebelum Aji berkenalan dengan Fitrie, dirinya sempat menjalin hubungan asmara, dengan mojang Bandung, lumayan lama, bahkan mereka sudah sepakat untuk menjalin hidup bersama dalam ikatan pernikahan yang syah dan dengan baik. Saat itu masih sebuah Cita-cita mereka bersama.


Namun, sang pujaan Hati, mungkin sudah tidak dapat lagi untuk menunda berlama-lama Hasrat untuk berumah tangga, mengingat usianya saat itu bagi ukuran dirinya sebagai wanita, yang beranggapan dirinya sudah berada diambang usia senja.


Sang pujaan hati saat itu lebih dahulu berlayar menggunakan Bahtera lain, dengan Nakhoda yang lain pula.

__ADS_1


Bukan Aji yang di pilih sebagai Nakhoda nya, atas alasan apa, hingga saat inipun dia tidak kunjung mengetahui, apalagi mengerti apa alasan pasti penyebabnya.


Benar adanya dahulu Susan pernah berkata, " Kak Aji.., kau tak akan pernah mengerti akan daku, tapi itupun kalau aku kakak masih menganggap aku sebagai wanita.


Ketahuilah kak Aji., Wanita itu ada untuk di cintai, bukan untuk di mengerti."


Ingin rasanya dia bertemu muka dengan Susan, walau hanya untuk mengatakan , " Susan..., apa yang dahulu kau katakan, itu adalah benar, tetapi.kemana menyampaikannya....? Susan telah tiada,.


Aji lebih memilih untuk tidak mengingatnya lagi akan mojang Bandung itu, yang dahulu pernah dinobatkannya sebagai satu-satunya seorang gadis pujaan yang bersemayam di dalam Hatinya.


Dengan kebijakan yang telah diambilnya sendiri tanpa kompromi lebih dahulu dengan Aji, dia telah beralih ke lain Hati.


Kejadian yang sempat membuat Aji merasa terpukul, ketika dia tahu dari sumber yang dapat di percaya, Mojang nan gemulai dan cantik itu akan menjalani pernikahannya di sebabkan oleh MBA.


Tanpa Tedeng aling-aling.peristiwa yang tidak bisa di tutupi itu, karena bentuk tubuh pada calon mempelai wanita sudah mengalami perubahan yang mencolok.


Takdir menentukan sebuah kejadian yang di luar kuasa manusia, padahal keluarga yang ada keterkaitan telah mengusahakan semaksimal mungkin untuk menutupinya.


Kejadian resepsi pernikahan dadakan yang terpaksa diambil atas kesepakatan kedua belah pihak keluarga calon pasangan mempelai.


Upacara pernikahan di gelar, secepatnya begitu calon pengantin pria pulih dari cederanya.


...*******...


Lain ceritanya dengan Aji yang sengaja menunda keinginan untuk membangun mahligai keluarga yang Sakinah, Mawadah, Wa Rohmah, dengan pujaan hatinya kala itu, bukan oleh sebab yang di cari-cari.


Tetapi karena sang Ayah yang memberi pandangan Hidup kepada seluruh anak laki-lakinya, bahwasanya bilamana satu saat nanti telah datang keberanian untuk menikah, maka seiring dengan itu, harus ada juga keberanian bertanggung jawab sepenuhnya dalam hal mencari dan memberi nafkah lahir batinnya untuk istri dan keturunan.


Statemen itu sudah berulangkali di sampaikan oleh sang Ayah dalam setiap kesempatan, konon sebagai wujud upaya Ayahnya dalam membentuk Manusia yang bertanggung jawab penuh terhadap makhluk Allah SWT, yang telah menjadi tanggungan seorang kepala Rumah Tangga yang wajib mengayomi dan memberi jalan kehidupan yang layak, sesuai kemampuan maksimal dari semua anak laki-lakinya.

__ADS_1


Itulah figur orang tua dari ayahnya Aji, yang sampai saat ini Aji merasa bangga mempunyai seorang Ayah semacam itu.


Malam itu juga seusai mereka merasa sudah cukup dalam bertukar info dan sedikit membahas langkah yang terbaik nanti, dalam memenuhi undangan perhelatan Akbar Josette dengan Alfonzo.


Haruki ikut memikirkan Sohibnya, jangan sampai datang kesana dengan menempuh perjalanan yang cukup jauh, tapi sendirian tanpa seorang pendamping.


"Tidak Broo... Gua kagak rela Luh jadi bahan Bulian nanti disana, Luh sohib gua datang dan hadir disana harus sebagai seorang pangeran yang di dampingi putri Cinderella." ujar Haruki.


" Ruki., aku mau pamit dahulu ya? Ada amanat dari Emah yang harus ku sampaikan secepatnya kepada kak Anggi,"


Sampai disitu Aji pamit kepada Sohib yang senantiasa membuatnya terharu atas perhatiannya yang begitu besar, tanpa di pinta.


" Terbuat dari apa hatimu wahai sahabatku ?" bisik Aji ketika dia menghidupkan mesin Mobil, yang niat semula akan dikembalikannya kepada pemiliknya, yakni Haruki.


" Luh kan masih butuh, buat besok atawa lusa ngurus surat-surat perjalanan pendamping luh Ji !"


" Ruki..., macam sudah yakin saja, ada calon pendamping untukku, kulihat gelagatnya seperti itu dari sikapmu, atau kau mau bikin teka-teki buatku ya Ruki ?!" Awas, kalau sampai aku bisa menebak teka-teki mu itu Sohib..!" Sahut Aji.


" Silahkan..., selamat menebaknya kalau luh sampai bisa menebaknya. Gua bakalan kasih Luh Door prize..!


Udah jalan entar kemalaman," sembari ditepuk nya beberapa kali kap Mobil dengan telapak tangannya, Buk...Buk..Buk ! persis di atas tempat duduk sopir, diatas kepala Aji, . Titip salam gua buat kak Anggi ya Ji..?!"...


Haruki tahu suami Anggi sedang keluar Jawa untuk satu keperluan yang katanya tidak bisa di tunda, itu sebabnya dia tidak menyinggung sedikitpun akan suami Anggi.


"Siapa ya.., kira-kira wanita yang Haruki akan pertemukan dengan dirinya ?"... siapapun dia, nampaknya tidak membuat dirinya terobsesi karena nya.


Toh kalaupun ada, wanita itu bukan untuk di gadang-gadang menjadi istrinya atau dengan kata lain, untuk menjadi pasangan yang diharapkannya langgeng mendampingi hingga akhir menutup mata.


Aji tahu , " Hanya untuk sementara "

__ADS_1


__ADS_2